LABELLING, DAN NIKMAT PEMAHAMAN

Sepanjang hidup, mengiringi aktivitas lahiriah, yang manusia lakukan secara batiniah adalah memberi makna pada sesuatu atau “labelling“.

Sebuah kondisi hujan, adalah netral. Tetapi pada seorang ojek payung dilabelli sebagai berkah, sedangkan pada seorang pedagang es buah dinilai sebagai musibah.

Manusialah yang melabeli kejadian, sesuai dengan paradigma dan ilmu yang disingkapkan pada mereka.

Pada sisi Tuhan, segala sesuatu adalah fa’al semata. Perbuatan semata.

Pada sisi pandang manusia, sebagian dari fa’al itu; DIA ajari kita untuk menilainya dengan “ini baik”, “ini buruk”.

Akan tetapi, sejatinya pada sisiNya semua hanyalah ejawantah DzatNya semata.

Karena sepanjang hidup manusia melakukan “labelling” terhadap kejadian-kejadian dalam hidup mereka, barulah sekarang kita mengerti bahwa sebaik-baik “labelling“, sebaik-baik pemaknaan adalah mengetahui bahwa setiap kejadian adalah citra dari Asma-Nya yang Husna. Pasti mewakili cerita itu.

Dan sebaik-baik sikap, respon, terhadap kejadian-kejadian itu adalah dualitas sabar dan syukur. Berbuat yang terbaik, dalam bingkai sabar setiap terpapar JALAL-Nya dan syukur pada saat terpapar JAMAL-Nya.

Dan melintasi itu semua, seorang guru mengajarkan, bahwa segala dualitas baik-buruk, sabar-syukur, atau ejawantah JALAL-JAMAL, semuanya hanyalah “wajah“, sifat-sifat, yang DIA ukir di atas Dzat-Nya semata.

Dengan meleburkan pandangan terhadap dualitas, maka “wajah” kita -secara lurus- dihadapkan pada “wajah” Pencipta langit dan bumi. The Owner. HIM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *