KONVERSI KEJIWAAN

Saya belum pernah pergi ke kutub utara. Tapi saya yakin kutub utara itu ada. Begitu juga saya rasa kawan-kawan sekalian yang sama belum pernahnya menjejak kaki di kutub, seperti saya, kita sama-sama yakin bahwa kutub utara pasti ada.

Begitulah kurang lebih. Guru-guru kearifan menganalogikan bahwa memang keyakinan itu ada level-levelnya.

Keyakinan orang yang percaya bahwa kutub utara itu ada tetapi sebenarnya belum pernah kesana secara langsung, pastilah tidak bisa tidak akan kalah mantap dibanding keyakinan orang yang pernah betul-betul menjejakkan kaki di kutub utara. Baik keyakinan cita-rasanya, keyakinan mengenai ekstase dinginnya, keyakinan rasa memandang selaput putih salju yang menghampar dan menutup hampir sejauh pandangnya, dan segala sensasi yang dicecap oleh indera dan jiwa itu membuat keyakinan tentang sesuatu itu lebih maknyus. Pokoknya yang mengalami pasti jadi lebih yakin.

Masalahnya, saya baru sadar, bahwa jika ditarik dalam kehidupan keberagamaan sehari-hari, level keyakinan kita ini selalu masih berkisut di tangga levelan bawah. Susah sekali untuk mencapai keyakinan yang lebih menyesap. Seakan-akan tingkat keyakinan seperti itu hanya ada dalam legenda orang-orang suci tempo dulu.

Saya masih optimis untuk tidak percaya dengan teorema bahwa keyakinan setingkat itu mutlak milik orang-orang terdahulu saja,saya meyakini bahwa yang salah adalah metoda kita dalam menghayati tata nilai keberagamaan kita membuat kita tidak naik-naik levelnya.

Saya diberitahu oleh seseorang yang arif, bahwa perumpamaan ini seperti misalnya kita makan duren. Sensasi manisnya, kita tahu. Aromanya kita tahu. Sensasi lembut buahnya dan rasa panas di dalam badan kalau kebanyakan makannya, kita tahu persis. Tapi ada gap yang sulit diseberangi bagi orang yang sudah pernah makan duren, untuk menyampaikan keseluruhan rasa duren itu dengan pas dan tepat saji kepada orang lain. Tidak mungkin orang lain bisa paham apa yang orang itu rasakan, kecuali orang lain itu mencoba makan duren sendiri.

Itu di tataran rasa lho ya. Bukan tataran pengetahuannya. Kalau gambaran pengetahuannya ya bisa dijabarkan tentu. Tapi tetap penuh dengan jebakan kesalah pahaman.

Dikabarkan bahwa rasa duren itu manis, ya manisnya bukan seperti manis gula. Diceritakan aroma, ya aromanya beda sama buah yang lain. Pokoknya njlimet. Semakin diceritakan semakinlah orang lain salah persepsi.

Bisa jadi orang lain merasa sudah tahu, tapi begitu orang lain yang belum pernah sama sekali mencoba durian lalu memakannya, maka dia baru tahu bahwa persepsi dia selama ini tentang duren salah amburadul.

Nah… rupanya itu salah saya selama ini. Ketika saya sibuk membaca sana-sini dan mengoleksi buku-buku kearifan keagamaan dari orang-orang sholeh jaman dulu, lalu merasa sudah menjelma soleh dan memiliki tingkat level keyakinan yang hampir-hampir senggolan dengan levelnya guru-guru itu. Rupanya saya baru sampai tataran keilmuan, belum sebenar-benarnya rasa.

Padahal, mereka-mereka itu urutannya begini: mendapatkan dulu situasi kejiwaan keruhaniannya lalu baru dibahasakan dalam sebuah tulisan.

Sedangkan saya dan kebanyakan kita ini begini: membaca segala hal dalam tataran wacana pengetahuannya, tapi tak pernah mencoba menjadikan bacaan itu makjleb ke dalam kondisi keruhanian kita. Ini keliru-keliru sekali.

Katakanlah contoh sederhana tentang persandaran kepada Tuhan. Cerita punya cerita, saya hobi sekali membaca buku-buku tentang kearifan hidup. Dan benang merah segala tema buku kearifan itu adalah agar kita bisa berdamai dengan takdir maka kita harus menyandarkan segalanya pada Tuhan. Sederhana bukan?

Saking seringnya saya membaca buku dengan tema begitu, saya sempat mengira saya sudah paham tentang ini. Tempo-tempo, hidup saya bisa begitu haru bukan buatan, akibat mengira bahwa persandaran saya kepada Tuhan sudah benar. Tapi sekali waktu diberikan drama hidup yang agak cepat dan mencekamsedikit ritmenya, saya sudah gelagapan.

Seperti waktu ada masalah sedikit dalam dunia pekerjaan, hati langsung terbolak-balik, fikiran langsung mencari-cari solusi dan mengumpulkan database siapa saja yang bisa saya hubungi untuk dimintai pertolongan. Tak ada Tuhan disana, dan setelah itu saya baru sadar bahwa “tahu banyak tentang teorema keagamaan tidak membuat kita otomatis menjadi spiritualis”. Boleh jadi ada orang yang tingkat keilmuan keagamaannya jauh dibawah pengetahuan kita tentang wacana-wacana, tapi saat ada masalah orang ini langsung seketika itu juga di hatinya ada alarm pengingat kepada Tuhan. Orang ini, sudah berada pada level keyakinan yang diatas wacana semata.

Bagaimana cara meng-convert-nya? Dari wacana menjadi realitas spritual kejiwaan kita?

Kata guru-guru tidak lain tiada bukan caranya adalah dengan dzikrullah. Mengingat Allah dalam setiap jenak kehidupan kita. MengingatNya sekuat tenaga terus menerus, terus menerus. Awalnya pelik memang, tapi tak ada cara lain untuk mengkonversi wacana menjadi realita kejiwaan agar kita paham sensasinya, selain dari berdzikir dan minta dituntun oleh Allah sendiri.

Karena rupanya dengan konsisten menjaga ‘koneksi’ kita pada Tuhan, maka seketika itu juga kita seperti membuat sebuah tema besar dalam hidup kita. Temanya adalah “minta dituntun”. Minta diajari, supaya kita mengerti apa yang sebenarnya dirasakan orang-orang sholeh guru-guru kita itu. Dan dengan berdzikir dan menghayati hidup, maka nilai-nilai yang tadinya wacana semata itu, pelan-pelan menjadi bagian dari karakter kita. Pelan-pelan dan tanpa kita sadar. Lama memang, tapi setidaknya kita bergerak ke arah situ.

Kalau kawan-kawan sudah kadung kebanyakan informasi keberagamaan yang silang sengketa satu sama lain, makin dibaca makin membuat kita penuh sesak dengan segala logika debat-mendebat tapi kok rasanya tidak membuat kita semakin dekat dan gimaanaaaa gitu kepada Tuhan, mungkin ini saatnya kita tarik nafas dulu, dan menjaga ‘koneksi’ padaNya dengan mengingatNya. Supaya tidak keliru-keliru menapaki hidup. Jangan-jangan, kita memang belum beriman yang sebenarnya.

Seperti sebuah kisah yang masyhur kala Rasulullah SAW ditemui seorang arab badui yang mengaku telah beriman, maka Sang Nabi mengatakan bahwa orang itu belum beriman. Karena iman itu belum menyesap ke dalam dadanya.

Kata Rasulullah, levelan begitu itu namanya kita baru ‘tunduk’. Karena Iman yang sebenarnya belum masuk ke dalam dada kita. Karena kita belum sampai pada ‘penyaksian’ yang sebenarnya. Karena kita kerjanya menumpuk-numpuk wacana debat ilmiah agama semata, tidak pernah mengkonversinya menjadi realita kejiwaan kita. Tidak pernah. Tidak pernah.

 
 
———-
“ Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al-Hujurat [49]:14) ”
 
 

One thought on “KONVERSI KEJIWAAN

  1. Masya Allah, Subhanallah, Astaghfirullah, alhamdulillahirabil ‘alamiin…
    Rupanya tulisan ini yang mewakili apa yang saya cari-cari selama ini…
    Dulu ketika SMA saya sering berfantasi membayangkan kekhusyu’an sayyidina Ali yakni ketika beliau mencari jalan agar bisa menahan rasa sakit ketika akan dicabut anak panah yang menancap di betisnya, yakni dengan cara sholat, kira2 yang dirasakan sayyidina Ali sewaktu sholat itu seperti apa ya ?, atau membayangkan level keyakinan seperti yang dimiliki syech Abdul Qodir Jailani. Rasanya seperti apa ?…….
    Anyway, harus pelan-pelan, walau saya sering jatuh bangun….setidaknya arahnya bergerak menuju ke sana, walau penglihatan saya sebenarnya juga masih samar2..he he.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *