KHARISMA DAN SI MAJNUN

Ada sebagian orang, yang ketika kali pertama bertemu saja kita langsung merasakan kharisma yang luar biasa. Saya punya beberapa orang teman yang memiliki kharisma yang membuat orang respect kepada mereka. Meski pertama kali bertemu.

Dalam sejarah, contoh kharisma seperti ini pun banyak. Salah satu diantaranya adalah Abdul Muthallib, yang membuat Abrahah pemimpin tentara bergajah yang hendak menghancurkan Ka’bah; menjadi terkesima.

Ceritanya, sebelum sampai di Ka’bah, Abrahah dihadang oleh Abdul Muthallib. Begitu melihat Abdul Muthallib, Abrahah yang memimpin pasukan bergajah langsung mengetahui bahwa orang dihadapannya ini adalah seorang pemimpin; demi melihat kharisma pada diri Abdul Muthallib. Abdul Muthallib kemudian disambut oleh Abrahah, yang turun dari kendaraannya. Nyatanya Abdul Muthallib “hanya” meminta untanya yang dirampas oleh Abrahah.

Sebuah ungkapan yang masyhur kita dengar, “saya adalah pemilik unta itu,” ujar Abrahah. “Sedangkan Ka’bah itu ada Pemiliknya sendiri, yang akan mengurusnya”. Dan memang kita tahu pada akhirnya Abrahah dihancurkan oleh segerombolan burung yang menjatuhkan batu-batu panas.

Saya tergelitik menulis tentang kharisma, karena berkesempatan mewawancarai banyak kandidat yang melamar masuk ke perusahaan tempat saya sekarang bekerja, dan saya asyik sekali mengamati macam-macam tipikal orang. Dan kagumlah saya demi melihat beberapa orang-orang yang punya kharisma begitu wibawa.

Di dalam dunia pekerjaan, seringkali kita dikerubuti orang-orang yang kharismatik. Entah karena wibawanya secara personal. Atau karena skill teknikal dan penguasaannya akan ilmu.

Terus terang, melihat orang-orang seperti itu seringkali saya merasa kecil. Tetapi, wejangan seorang arif kembali menyadarkan saya bahwa berbagai-bagai macam manusia, dengan macam-macam perbawa dan tingkah polah mereka, sebenarnya adalah karena Tuhan membuatnya begitu. Karena Allah menuliskan mereka begitu maka mereka begitu.

Dibalik keragaman sifat-sifat, sejatinya yang wujud adalah dzat-Nya semata-mata. Semua keragaman sifat-sifat hanya untuk menceritakan Sang Pemiliknya.

Maka kekaguman akan sifat-sifat, sekarang perlahan menemukan kedewasaannya.

Kalau dulu, kekaguman pada kharisma dan orang-orang cerdas, hanya sebatas sebentuk rasa iri dan tertinggal semata-mata.

Kalau sekarang, kekaguman pada kharisma dan orang-orang cerdik pandai mengingatkan kita akan beragamnya kreasi-Nya. Betapa DIA begitu mampu memuliakan siapa yang DIA mau, meninggikan yang DIA mau, merendahkan yang DIA mau.

Perumpamaan menarik tentang ini, dari kisah terkenal Laila Majnun. Saking cintanya pada Laila, Majnun melihat dinding kota Laila, membuatnya teringat Laila. Melihat sungai, karena sungai itu datang dari arah desa Laila, maka dia mengingat Laila. Melihat anjing, karena anjing itu datang dari desa Laila, maka dia teringat Laila.

Bagi Majnun, apapun yang bersinggungan dengan Laila, mengingatkannya pada Laila. Kharisma para makhluk, hanya jadi penghantar mengingati Penciptanya.

Betapa kita kecil di hamparan keagungan yang Allah gelar. Betapa DIA mudah sekali membuat pesona semau-mau DIA. Memberi ilmu pada yang DIA mau. Menahan ilmu dari yang DIA mau.

Bahasanya seorang arif, keragaman sifat-sifat ini hanya setitik dibandingkan DIA.

image sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *