KHALIFAH DAN ZUHUD YANG DEWASA

Lumayan, kemarin siang makan gratis di rumah tetangga yang sedang mengadakan tasyakuran atas kehamilan istrinya. Kehamilan 4 bulan. Sebagai wujud syukur, diundanglah para tetangga dan ditraktir makan prasmanan di rumahnya.

Sudah beberapa kali tetangga di komplek mengundang acara makan-makan. Saya perhatikan ini menjadi semacam tradisi baik di tetangga-tetangga. Yaitu berbagi dalam kesyukuran atas moment-moment indah dalam hidup mereka.

Saya sendiri, sangat jarang, untuk dikatakan hampir tidak pernah mengundang-undang tetangga untuk hal-hal semacam ini. Tetapi dari niatan baik para tetangga yang selalu berbagi dalam banyak jenak kesyukuran itu; membuat saya belajar.

Yang saya pelajari adalah diri saya sendiri.

Database tentang “sedikit-sedikit ngundang syukuran” itu tak ada dalam literatur keluarga saya. Karena memang kami hidup dalam ekonomi yang marjinal. Boro-boro tasyakuran, buat sehari-hari saja kembang kempis.

Setelah saya bekerja, berkeluarga, dan hidup dalam jalan saya sendiri-pun, “rasa hati” bahwa saya bukanlah seseorang yang berkecukupan itu seringkali masih ada. Sehingga, kadang-kadang muncul rasa rikuh terhadap harta.

Antara diri saya, dan harta, seperti ada jarak mental yang jauh.

Dalam satu sisi, boleh jadi hal ini adalah bukti dari khasanah spiritual islam bahwa diri kita dan harta yang kita miliki adalah berbeda. Memang diri kita berjarak dengan harta yang kita miliki, untuk tidak terlalu larut dengan harta kita.

Akan tetapi, dalam pandangan yang lain, saya menyadari bahwa rasa rikuh terhadap harta, ini menimbulkan kesan bahwa “saya tak layak” untuk memanajemen harta. Betapapun harta itu sudah ada pada kita. Kesan seperti ini yang saya sadari keliru. Karena betapapun…… kita adalah khalifah, dan pada khalifah-lah bumi langit dan seisinya tunduk. Agar kita berdayakan di jalan yang baik. Rikuh terhadap harta; dalam arti minder pada harta dan kuasa, alih-alih perbawa dan mampu mengelolanya; adalah mental yang keliru.

Saya menyadari, sebuah ungkapan yang masyhur, agar harta berada di genggaman, tetapi tidak berada di hati.

Akan tetapi, sebuah kebijakan lainnya menyambangi saya, dan membuat saya sadar untuk mengupgrade mentalitas diri saya sendiri. Bahwa untuk memberdayakan harta yang ada di genggaman, maka “sejatinya diri kita” harus menyadari bahwa manusia itu lebih mulia ketimbang hartanya itu sendiri. Dengan itu tak ada rasa rikuh untuk memberdayakan harta. Tak ada rasa seperti “saya tidak layak”, atau “saya tidak level”.

Hal seperti inilah yang saya sadari, bisa dilatih dengan sikap yang terbiasa berbagi. Kalahkan rasa rikuh pada harta, dengan memberdayakan harta itu. Mengaturnya, agar harta itu tunduk pada khalifahnya. Atau menyedekahkannya. Sampai rasa rikuh di hati terhadap harta itu menjadi hilang.

Dan tak Cuma harta, saya akhirnya menyadari bahwa “kekuasaan” pun adalah sesuatu yang mesti tunduk pada khalifah yang memanfaatkan kekuasaan itu untuk kebaikan. Ini menjawab kebingungan saya sendiri, saat baru saja memegang jabatan baru di kantor, lalu saya merasa rikuh dan tak enak karena tidak terbiasa memanage, tak terbiasa mengatur.

Fungsi pengaturan, tak bisa saya jalankan, karena bentrok dengan rasa ewuh pakewuh saya sendiri. Merasa bahwa kekuasaan tidaklah layak untuk dipegang oleh saya.

Inilah yang saya sadari. Mengembalikan mentalitas diri sebagai khalifah. Zuhud dalam artian yang lebih dewasa. Bahwa zuhud bukanlah tidak punya harta, melainkan dirinya menjadi lepas dan lebih mulia dari harta itu sendiri, dari kekuasaan itu sendiri.

Tidak ada rikuh pada dirinya atas harta dan kuasa, baik harta atau kuasa itu sedang digenggamannya, atau tak ada di genggamannya. Dirinya tetap mulia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *