KETENANGAN SEMU VS KETENANGAN HAKIKI

sunsetDua orang sedang menunggu di halte bus. Kondisi siang hari panas terik. Orang yang pertama begitu kesalnya dengan situasi. orang yang kedua nampaknya santai dan biasa saja. Usut punya usut, orang pertama rupanya sedang memikirkan tunggakan cicilan. orang kedua rupanya pengantin baru, sedang menunggu istrinya datang ke halte bus.

Simpulannya adalah simpulan klise yang kita sudah hapal. Kebahagiaan itu bukan terletak pada situasi, atau yang lebih tepat lagi adalah “kondisi kejiwaan kita; bahagia atau duka, sedih atau gembira, lapang sempit, adalah sangat berkaitan dengan apa yang kita fokuskan”.

Berangkat dari sini, orang-orang mengembangkan banyak cara untuk mencapai kebahagiaan. Misalnya kita lagi jenuh, lagi galau, ada banyak cara yang menawarkan untuk merubah situasi kejiwaan menjadi terlihat bahagia.

Cara pertama adalah cara yang mirip dengan ilustrasi tadi: mengalihkan fokus kesadaran kita. Misalnya kita lagi gundah gulana, agar terhibur maka kita mendengar musik. Saat kita mendengar musik, kesadaran kejiwaan kita pindah fokus, dari masalah kita kepada musik, maka gundah kita hilang. Ide mengalihkan fokus kesadaran ini bisa dibuat sesuai selera sih. Ada yang nonton bioskop, ada yang pengalihnya ialah jalan-jalan. Intinya adalah bagaimana dia mengalihkan fokusnya, dari galau menuju sesuatu yang menyenangkan hati.

Tanpa bermaksud ofensif, para instruktur terapi kebahagiaan banyak yang menerapkan metoda ini, membawa kesadaran kita pindah fokus. Kepada bunyi, kepada gambaran benda-benda. Praktis memang, galau kita hilang, tapi sejatinya kita hanya memindahkan perhatian saja. Cara ini memang bisa membuat kita tidak galau. Tapi cara ini tidak permanen, begitu kita kehilangan fokus pada pengalih perhatian atau kita kembali kepada masalah, kita galau lagi. Dan yang lebih penting, cara meraih kebahagiaan model seperti ini tidak bernilai secara ibadah. Kata para guru, ini yang harus kita paham.

Cara yang lebih bernilai bukanlah memindahkan fokus kesadaran, melainkan menghilangkan galau dengan berdialog kepada Tuhan. memasrahkan kepada Tuhan. Minta tolong kepada Tuhan.

Ada efek yang sebenarnya agak-agak kurang pas, tapi kita sering mengira sudah mantap. Misalnya, kita mendengar murottal lalu menangis. Tentu bagus mendengar murottal dibudayakan. Tapi sebagai renungan pribadi, patut pula kita menilik hati apakah kita menangis karena terhanyut oleh nada-nada murottal yang syahdu. bukan karna tersentuh oleh kesadaran keTuhanan? ini pada “ide”nya, adalah sama juga, mengalihkan fokus kesadaran. Dari masalah yang kita hadapi ke tangga nada minor yang dilagukan pas murottal dibaca. Bukan salah, hanya sebagai renungan pribadi apakah gelisah kita yang hilang; memang hilang karena rasa kedekatan pada Tuhan, atau fokus kejiwaan kita sementara bergeser dari masalah pada alunan indah nada lagu?

Galau memang hilang, tapi bukan galau yang dimaksud dengan “Allah menurunkan ketenangan kepada hati orang mukmin”, melainkan galau hilang sementara karna kita menjadi fokus pada kegiatan membaca, akibatnya perhatian kita pada masalah hidup kita sirna sementara.

Guru-guru mengatakan, kita harus sering-sering berdialog kepada Tuhan. Belajar membenarkan arah “menghadapnya” perhatian kita. Seperti awal doa iftitah, Inni wajjahtu wajhiya….(dengan ini aku hadapkan “wajahku” kepada pencipta langit dan bumi).

Artinya, kita bukan mengalihkan fokus dari masalah kepada hal lain yang bisa membuat kita lupa, entah bacaan, entah lagu, entah aktivitas, apa saja itu. Melainkan kita hadapkan “wajah” kita kepada Pemilik Langit dan Bumi.

Semata saya tuliskan ini menyampaikan ilmu dari orang-orang arif.

Yang harus kita sama-sama coba, selepas sholat, atau ketika ada lowong, adalah berdzikir, terserah, mau dzikir apa saja tapi panggillah Allah dengan merendah. Bukan kita mengalihkan perhatian kita atau menyibukkan fikiran kita dengan aktivitas peribadatan, melainkan sikap mental kita curhat,  benar-benar memanggil Allah…. pasrah, pelan, dan meminta tolong. Nantinya jika sikap mental yang seperti ini sudah kita dapat, mudah-mudahan bisa kita bawa dalam segala aspek peribadatan kita lainnya. Juga aspek keduniawian kita.

Guru-guru mengatakan, jika arah “menghadap”nya hati kita sudah benar, Nantinya ketenangan yang datang adalah betul-betul ketenangan yang diturunkan. Bukan ketenangan semu karna kita berpindah fokus. Kalaulah ingin dikatakan mengganti fokusnya, maka fokus kita tidak berhenti di bentuk peribadatan atau aktivitasnya, tapi kepada Siapa Yang Dibalik peribadatan itu kita seru, yang kita mintai tolong.

Wallahu’alam

——-

*) gambar dipinjam dari sini

One thought on “KETENANGAN SEMU VS KETENANGAN HAKIKI

  1. Pingback: SNAPSHOT POSTING DI WWW.DEBUTERBANG.COM |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *