KENYANG SEHARI, LAPAR SEHARI

eatHidup bertaburkan kemewahan, tetapi dekat dengan Tuhan. Saya sih mau hidup begitu, hehehe…. Enaknya. Tetapi yang mendapatkan peran bertabur kemewahan dan gelimang harta yang berkah dan jadi jalan kesyukuran, sudah ada Nabi Sulaiman a.s.

Masing-masing kita mengikuti laju kereta takdir kita masing-masing. Kita menjadi penumpang di dalam perjalanan takdir. Yang kebanyakan tema-nya adalah kadan enak, dan seringnya tak enak.

Rasulullah SAW dalam kebersahajaan beliau,tatkala padang pasir hendak dijadikan emas untuk beliau, maka beliau katakan beliau hanya ingin hidup sehari kenyang- sehari lapar.

Saat kenyang memujiNya, saat lapar merendah padaNya.[1]

Dalam menyikapi lapar ini, saya sering mengelirukan antara sabar dan ridho.

Saya mengira, bahwa kesabaran adalah ketiadaan emosi duka-lara saat ditimpa ujian. Maka saya sering kesal sendiri pada diri saya, saat ada ujian kok masih ada sedih dan duka lara? Kok bukannya santai kaya di pantai??

Padahal,  kondisi dimana saat ada ujian malah santai kaya di pantai, alias ridho, atau seratus persen lapang dan bebasnya hati dari rasa sedih dan duka, adalah level yang lebih tinggi dari sabar, ridho itu diatas sabar.

Umpamanya, saat seseorang tidak makan, maka impuls listrik dari lambung mengirim sinyal ke dalam otak yang diterjemahkan sebagai “rasa lapar”.

“Rasa lapar” ini tidak mengenal kasta spiritual. Orang arif dan rampok, sama-sama mengenali “rasa lapar” apabila lambungnya lama tak terisi.

Akan tetapi, “rasa lapar” menghantarkan pada suasana merendah dan butuh pada pertolongan Tuhan dalam usahanya, lewat kacamata orang arif. Itu sabar.

Sebaliknya, “rasa lapar” menyebabkan misuh-misuh, dan lalu menghantarkan pada hasrat merampas milik orang lain dalam kacamata seorang rampok. Itu tak sabar.

Sebagaimana rasa lapar akan terbit secara natural. Begitupun rasa sedih, dan rasa takut. Sedih dan takut, adalah alarm psikologis. Takut, adalah alarm bahwa ada sesuatu yang tak kita mengerti, sebagaimana lapar adalah alarm bahwa lambung belum terisi.

Di dalam kesulitan, rasa sedih dan takut, muncul secara natural sebagai alarm bagi psikologis kita. Tetapi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sedih dan takut adalah umpama “lapar sehari” yang menghantarkan kita merendah kepadaNya.

Kesabaran kita, tidak menjadi cacat dengan hadirnya rasa sedih dan takut dalam jiwa kita, selama sedih dan takut itu menghantar kita padaNya. Karena, manusia umumnya yang awam, membutuhkan konteks untuk mengakrabiNya. Sebagaimana Ali r.a katakan, karena mendapati dirinya sebagai yang fakir, maka dikenalilah Tuhan sebagai Yang Maha Kaya.

Seorang arif mengajarkan, bahwa dengan mentalitas yang tepat, kita bisa “meletakkan” rasa sedih dan takut, – juga rasa yang lain- di luar jiwa kita. Kedudukan kita terhadap rasa-rasa yang seliweran datang dan pergi itu umpama dokter dan pasien.

Kita –yang sadar dan mengamati- itu adalah dokternya, dan pasiennya adalah rasa-rasa yang seliweran itu. Kenapa mereka datang? Apa yang keliru? Karena setiap perasaan yang datang, bukan datang begitu saja, tetapi menunaikan fungsi mereka masing-masing sebagai alarm bagi jiwa.

Kedudukan spiritual dii atasnya lagi, dari maqom mensabari rasa-rasa yang seliweran itu, adalah “terlepas”nya kita dari rasa-rasa itu sama sekali. Itu ridho.

Kondisi plong karena lewat macam-macam rasa itu, selalu kita kembali pada Tuhan. maka seperti ada jarak mental antara kita dan rasa. Benar-benar rasa hanya dimaknai sebagai alarm saja bagi jiwa.

Ternyata flow-nya begitu. Tetapi kita, utamanya saya, rasanya begitu jauh dari capaian itu. Seringnya sih rasa itu nempel di hati kaya perangko, hahaha.

Tetapi langkah awalnya sederhana ternyata, jika kenyang kita memujiNya, jika lapar kita merendah padaNya. Orang tak bisa mencapai “ridho” tanpa melewati gelombang rasa sabar dan syukur itu.


[1] H.R. Ahmad 21166

*) image sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *