KENIKMATAN MENONTON HIDUP

1Ada satu “kenikmatan” lain yang saya baru mengerti, ketimbang kenikmatan untuk “tampil” dan menjadi menara gading di tengah khalayak, kenikmatan itu adalah asyik menjadi “pengamat” dan belajar dari kehidupan.

Dalam sebuah sesi pelatihan di salah satu kantor Client di Duri, Riau berapa tahun lalu. Ada materi mengenal diri secara psikologi. Pelatihannya dari kantor client sih, cuma saya beruntung untuk telah ikut dan bagi saya itu menambah wawasan.

Satu fakta disebutkan disana bahwa kecenderungan psikologi manusia bisa bergeser dari yang misalnya dominan koleris atau pengatur, menjadi lebih dominan sebagai orang yang kompromistis. Jadi karakter seseorang itu tidak rigid alias kaku. Bisa bergeser. Begitu kata para psikolog.

Salah satu yang membuat bergesernya karakter seseorang itu adalah karena “ilmu” yang dia dapat. Entah lewat belajar atau lewat pengalaman hidup. Berubah cara pandang, maka berubah pula karakter seseorang.

Saya sih bukan psikolog, tetapi dengan niteni diri sendiri saya jadi paham bahwa benar juga kata para ahli, secara nampak luar kecenderungan psikologi manusia memang bisa bergeser. Dari sifat-sifat tertentu, menjadi sifat-sifat yang lain. Dalam literatur tasawuf, perubahan yang kontras sekali dari level paling rendah menjadi level sangat tinggi itu disebut abdal (pertukaran). itulah maksudnya istilah wali abdal yang begitu masyhur itu. Seseorang yang bertukar paradigma hidupnya.

Tapi tak usah jauh-jauh abdal deh, kita dapat sedikit kesadaran saja sudah syukur. Karena jalan pertukaran itu tentulah penuh onak duri. Dan kata Syeikh Abdul Qadir jailani, berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu!

Dulu, secara subjektif saya rasakan saya adalah seorang dengan karakter yang begitu koleris. Suka mengatur, dan cenderung ingin tampil selalu dalam kerumunan. Setelah belajar spiritualitas islam sedikit-sedikit, maka kecenderungan itu pudar. Terutama setelah mengetahui bahwa kehidupan ini adalah pelajaran itu sendiri, bahwa hidup adalah af’al-Nya, maka pudarlah keinginan untuk tampil dan menjadi pusat perhatian.

Lama-lama ternyata menikmati juga untuk “diam” dan larut dalam aktivitas menonton.

Menonton ini, tak juga berarti pasif. Justru semakin ingin berkontribusi aktif dalam kehidupan, tetapi tak perlu untuk tampil.

Sekarang ini saya mengagumi saat saya lihat betapa banyak di sekitar saya orang-orang yang kontributif sekali pada masyarakat, tetapi tanpa perlu menjadi pusat pesona. Dan itu membuat saya malu sekaligus belajar.

Kemarin sore, ada pertemuan di komplek perumahan saya. Dalam diam saya mengamati jenak dimana ada drama orang-orang bercanda, tak perlu tampil tetapi dengan menjadi seseorang yang lucu saja sudah bisa membuat sesama makhluk jadi bahagia. Ada juga seseorang yang membantu dengan sebisa mungkin meminjamkan karpet yang dia punya, meminjamkan meja yang dia punya, menyumbang makanan, mendirikan tenda, mengangkat kursi, dan hal-hal lainnya yang sama sekali luput dari perhatian massa, tidak elegan dalam frame kamera, tetapi saya amati detailnya begitu membahagiakan.

Orang-orang yang aktif dalam kontribusi tanpa keinginan untuk larut dalam elu-elu itulah yang saya lihat begitu indah.

Mungkin begitulah seorang guru pernah mengatakan, tengok awan berarak….tengok burung-burung terbang! Dalam sikap “menengok” seperti itu kita terasa sedikit terasing dari keramaian yang riuh itu, tetapi pelajarannya sangat jelas.


*) Image sources taken from here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *