KECERDASAN YANG TIADA

Ada satu kecerdasan yang sangat sulit dilatih, kata saya kepada rekan saya sewaktu kuliah dulu. “Kecerdasan apa itu?” tanya rekan saya. Kecerdasan facial, alias seseorang yang terlahir dengan bakat ganteng bawaan, jawab saya sembari tertawa.

Tentu tidak ada istilah kecerdasan facial dalam teori manapun saja. Yang ada adalah kecerdasan intelektual dan emosional.

Kenapa kami membahas itu? karena kami waktu itu sedang berdebat larat sebenarnya, tentang teori mengapakah rekan kami –seorang rekan yang lain lagi- bisa memiliki pengaruh pesona yang luar biasa. Padahal, dalam teori kecerdasan facial ala kami, rekan ini bukan termasuk yang cerdas facial, tapi kenapa bisa begitu supel, dan dikenang dimana-mana, padahal secara kemampuan olah bahasa juga tak terlalu retoris, tetapi namanya dikenal dimana-mana seantero Jatinangor, tempat kampus kami berada.

Belasan tahun kemudian, sekarang-sekarang ini, saya baru menyadari bahwa dalam dunia perkantoran apalagi kantor-kantor swasta, ada “tempat” yang sangat relevan bagi orang semodel kawan saya itu tadi. Yaitu kumpulan orang dengan pesonanya yang unik, bisa membangun begitu banyak jejaring relasi dengan orang lain. Dalam istilah di dunia perkantoran biasa dikenal mereka sebagai orang-orang BD alias Business Development.

Tak mesti menawan secara fisik, tetapi haruslah orang yang punya kemampuan membangun jaringan.

Secara jujur saya katakan, saya begitu lemah dalam hal tersebut. Dan saya belum pernah benar-benar menyempatkan diri belajar menjadi lebih pandai dalam membangun jejaring.

Dulunya, saya mengira bahwa dengan mempelajari hal-hal semacam itu, membangun koneksi, menjadi supel dalam bergaul, adalah menyelisihi siapa “saya” sebenarnya. Sehingga secara resisten ada semacam mental block didalam diri saya saat hendak mempelajari soft skill semisal itu…….”Ah… itu bukan saya”, begitu saya membantah diri sendiri, dulunya.

Hal ini berubah, setidaknya dalam wacana saya pribadi, setelah saya amati dua hal ini. Yang pertama perubahan pemahaman akan siapa sih sebenarnya “saya” itu. Yang kedua adalah contoh-contoh di sekeliling yang sering saya temukan.

Saya cerita-cerita mengenai yang kedua dulu. Mengenai contoh orang-orang yang belajar.

Ada seorang pucuk pimpinan di kantor saya, dia seorang yang konon dulunya adalah orang yang terlihat kaku di mata bawahannya. Karena dia bukan orang yang begitu supel. Tapi…. Kemudian dia mencoba mengubah kebiasaan dirinya. Dia memperbanyak menegur orang-orang. Dia memperbanyak persapaan dengan khalayak. Memperbanyak senyum. Sampai akhirnya lambat laun citra bahwa dia sebagai seorang pimpinan yang “kaku” mulai pudar, dan orang-orang mengenal dia sebagai seorang yang ramah. Karena sesuatu yang dia biasakan.

Tentu sebagian kita akan menjawab, ah…. Kan itu berarti tidak natural, bukan dia yang sebenarnya, itu hanya pembiasaan. Topeng istilahnya.

Tapi disinilah kemudian saya menemukan jawabannya dengan analisa pertama saya tadi. Yaitu tentang hal yang lebih spiritual mengenai “siapa ‘saya’ atau ‘kita’ ini sebenarnya?”

Saya temukan dalam bahasan para arifin, spiritualitas islam, bahwa yang sejatinya disebut manusia itu adalah ruhaninya. Untuk lebih memudahkan, saya bahasakan saja bahwa sejatinya manusia itu adalah “kesadaran”nya.

Di dalam diri manusia, ada yang sadar, ada yang hidup, dalam istilah islam disebut bashirah, atau imam Ghazali menyamakan hal ini dengan istilah Al-Aql. Consciusness, kata orang barat.

Apa sih kesadaran itu?

Kesadaran manusia itu, adalah sesuatu yang memiliki kemampuan menyerap ilmu, memahami, menyimpan pengetahuan dan data-data. Sehingga kumpulan data-data itulah yang membentuk kepribadian manusia.

Contohnya begini. Umpamakan ada dua orang kembar. Sama persis secara fisik. Yang satu sejak kecil dibesarkan di kehidupan desa yang dekat pesantren. Yang kedua dibesarkan di kehidupan kota yang hingar bingar. Setelah dewasa, keduanya dipertemukan. Maka keduanya akan sama sekali berbeda kepribadian. Karena, kesadaran keduanya menyerap ilmu dan data-data yang berbeda.

Si A menjadi begini, si B menjadi begitu. Meskipun casing fisikal sama, tapi yang suka si A tentu tak mau diberikan si B. casing boleh sama, tapi kesadarannya sudah menyerap ilmu dan data yang berbeda, yang membentuk pribadi yang beda.

Jadi… seandainya keduanya diberikan exposure alias paparan data yang sama persis, barangkali akan lebih banyak kemiripan secara kepribadian. Meskipun untuk mirip persis tidak mungkin juga.

Jadi…. Yang kita sebut “kita” atau yang kita rujuk dengan “saya” itu sebenarnya kesadaran yang didalam diri itu. Bukan fisiknya.

Tetapi masalahnya, kesadaran itu kadangkali lengket dengan segala paket pengetahuan yang sudah kita punya sejak lahir. Membentuk kepribadian dan karakter. Orang sering keliru, mengira bahwa dirinya adalah sekumpulan ilmunya. Atau dirinya adalah memorinya. Padahal beda sekali.

Maka….dalam contoh seperti di atas tadi, umpamakan saya sendiri, saat saya menolak secara mental psikologi untuk mempelajari hal-hal yang saya anggap tak begitu mirip dengan saya, sebenarnya saat itu juga saya telah keliru mengira bahwa “saya” itu adalah “sepaket pengetahuan yang saya miliki”. Padahal, “saya” itu adalah kesadaran dibalik pengetahuan itu. Bukan pengetahuannya itu sendiri.

Mudah-mudahan tidak mbulet.

Baiklah. Apa kepentingan praktisnya? Kegunaan praktisnya adalah kurang lebih begini, saat kita mengetahui bahwa kepribadian dan karakter kita, sejatinya adalah bentukan dari rekam jejak ilmu dan data-data yang “kesadaran” kita kumpulkan sejak lahir. Maka kita akan menjadi lebih terbuka dalam belajar. Karena, anda, dan saya adalah kesadaran yang sebenarnya sama, tetapi kita diperjalankan melalui beragam cerita hidup yang kemudian membentuk selubung kepribadian sebagai diri kita, sebagai anda, sebagai dia.

Kalau anda, menjalani kehidupan dan merekam pengetahuan yang sama persis tak ada bedanya dengan saya, maka anda akan menjadi saya, meskipun fisiknya beda, tapi secara kesadaran anda akan menjadi saya. Tapi kan ya tidak mungkin juga bisa begitu.

Disinilah kita memahami kemudian betapa kecilnya manusia. Ayok kita runut satu-satu.

Pertama, pengetahuan kita parsial. Anda dan saya adalah kesadaran yang sama, tetapi merekam ilmu dan pengalaman yang beda-beda, maka selalu perlu kita terbuka dan mendengarkan input orang lain, belajar melihat bagaimana orang lain melihat. Saya baru mengerti sekarang, bahwa empati itu akan tumbuh jika dimulai dari asupan data yang benar.

Kemudian kedua, kita tidak bisa mengetahui data-data secara komprehensif. Dalam sekian puluh tahun kita hidup, rekaman ilmu dalam perjalanan hidup kita sudah membentuk satu kepribadian manusia yang kita kenal dengan diri kita itu. Sedangkan, coba kita jujur, seberapa jauh sih perjalanan kita yang pernah kita tempuh? Dibanding luasnya keseluruhan dunia ini? Jika kita diberi data seluas bumi ini, maka kita akan menjadi diri kita sendiri yang sama sekali lain.

Yang ketiga barangkali, tidak setiap ilmu yang kita miliki membuat kita bisa mengambil pertimbangan tindakan dengan baik. Jika merujuk pada Asmaul Husna, Asma Al-Alim (Maha mengetahui) biasanya digandeng dengan Asma Al-Hakim (Maha bijaksana). Allah SWT tahu segala ilmu (Alim), dan sekaligus juga Maha bijak, wise, mempunyai wisdom (Hakim) dimana mengerti hubung-kait antara data-data dan korelasi antar data.

Karena, banyak data atau ilmu, tak selalunya membuat kita bisa mengerti hubung-kait antara data-data itu. Ada orang-orang yang semakin banyak data malah semakin banyak bingung, karena tak dianugerahi kemampuan melihat korelasi dan kesimpulan antara data-data atau ilmu pengetahuan itu.

Pada akhirnya, Ilmu (ilm / knowledge) dan Hikmat kebijaksanaan (Hikmah / wisdom), dua-duanya adalah milik Tuhan. Adalah sebuah anugerah, bagi diri kita, untuk telah diberikan kesempatan “sadar” dalam dunia ini.

Maka perjalanan yang lebih spiritual dan dalam antara lain awalannya adalah mengenali bahwa kita adalah yang “sadar” itu. Bayangkan ini, untuk “sadar” saja sudah suatu anugerah. Lalu yang “sadar” itu diperjalankan dalam kehidupan yang kita IQRO’, lalu kita mendapatkan ilmu. Lalu dari keseluruhan ilmu itu kita dianugerahi pula pengertian dan hikmat kebijaksanaan untuk memilih, memilah dan membuat korelasi antar ilmu dan data bagi kehidupan kita.

Kalau sudah dibongkar satu-satu begitu, kita ternyata memang bukan yang mana-mana. Tak punya apa-apa.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *