JURNAL PERJALANAN

jurnal perjalanan

Pak, aku takkan lelah berjalan sampai ke sebrang, persis seperti lelakon ksatria yang selalu engkau ceritakan menjelang tidur-tidur malamku, dulu.

Bu, tiap hari setengah mati aku tapaki setiap episode hidup, yang padahal sudah dari dulu kau bocorkan ceritanya…Lama sekali aku menyingkap apa-apa yang ada dibalik semua, padahal sudah dari dulu kau bertutur tentang rahasia-rahasia.

Pak, belum juga setengah jarak tempuh tapak-tapakku menyusulmu, tapi sudah berat nian rasanya kaki berdiri, sudah rabun agaknya mata memandang, hati sudah mulai ciut pula nyali, padahal tak pernah henti jua kau pesani “bahwa sungguh semua malam akan jadi pagi”

Bu, susah sungguh aku berdoa dalam setiap malam, setiap senja, setiap pagi buta, setiap masa, bahwa aku ingin diturunkan sedikit saja dari sabarmu yang sesamudera itu, biar tidak menangisi “sendiri yang sepinya menusuk-nusuk ubun2 hingga kaki”, biar tidak menangisi “duri yang yang berserak-serak sepanjang jalan ini”.

Lalu terkadang aku merenung sendiri, kadang waktu senja, kadang waktu gulita, tentang seraut roman muka tua yang digdaya. Kalian yang menimang-nimang aku waktu kecil dulu, yang setiap tangisku diseka dengan senyum tawa, yang tidak juga letih mengajarkan sejengkal demi sejengkal perjalanan, yang sabar membiarkan aku mengeja huruf demi huruf, yang luar biasa sanggup menahan lapar untuk “sebagian nasimu aku yang memakan”, yang tidak pernah menunjukkan sedikit saja dari kerut2 di kening kalian, “ah tidak apa-apa″, selalu saja begitu kalian berkata.

Dari setiap jenak ketegaran yang kalian ajarkan sejak dulu itu Pak, Bu, aku ingin berterima kasih setulus-tulusnya tulus, secinta-cintanya cinta.

 

 

——————————-

*) Sebelumnya tulisan pernah saya muat di blog yang lama www.debuterbang.wordpress.com
*) gambar diambil sewaktu saya bertugas di Deepwater project, Kaltim

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *