JINGGA-JINGGA MAGHRIB

Kau tahu kenapa aku bodoh?

Orang pintar, menyingkap hikmah dibalik kejadian, dalam hitungan hari, mungkin jam, mungkin menit. Sedang aku butuh bertahun-tahun.

Tahunan. Perasaan tidak nyaman itu membebaniku. Apakah aku mengambil pilihan tepat? Kuliah di jurusan Geologi yang berkutat dengan batu. Interaksi kami adalah dengan batubara dan intan. Kami mengakrabi minyak mentah. Padahal sedari dulu aku mengidam-idamkan bersinggungan dengan banyak buku tentang manusia. Belajar watak-watak. Memahami propaganda-propaganda yang merubah wajah sejarah.

Ingin putar haluan, rasanya tidak mungkin. Ada kan, pilihan-pilihan dimana setelah itu kau tidak bisa kembali, tidak bisa berbalik, tak ada lagi pilihan baru. Seperti itulah. Debu, pasir, batu, rongga-rongga, air, minyak dan segala yang terbenam di balik kulit bumi ini aku jejalkan ke kepalaku. “malang-malang putung”. Mencoba mencari kenikmatan dari sebuah dunia asing. Kau menjadi turis, di tempat wisata yang tidak hendak kau kunjungi.

Waktulah, yang kemudian kurasa mengakrabkanku dengan semuanya. Dengan kampus berdebu itu, dengan kawan-kawan yang asing itu, dengan laboratorium fosil-fosil, dengan skripsi dan penelitian-penelitian di tempat-tempat yang jauh.

Ternyata aku menikmati petualangan itu. Logika bahwa konstelasi perbatuan tidaklah homogen di semua tempat, berimbas pada sebuah kenyataan manis bahwa kita haruslah berjalan-jalan terus. Maka suatu kali pergilah aku dan berapa orang teman menuju pedalaman hutan kalimantan. Seperti orang bodoh kami berfoto-foto dulu di depan pesawat lion air. Ini penerbangan pertama kami. Seumur hidup kami dibesarkan dalam tata nilai yang miskin uang, hari ini kami naik pesawat. Kami dibayar. Sebuah konsultan penambangan memerlukan jasa kami, maka kami dengan senang hati meng-amini.

Tinggal di hotel kelas melati. Berjalan-jalan sore di pinggir jalan dekat jembatan besar. Jembatannya tidak indah, tapi kami di negri orang ini, di negri orang!!! Sepanjang tahun kami memimpikan petualangan indiana jones, sekarang kami ada di borneo, dan esoknya kami menelusur sungai mahakam. Dengan sebuah kapal mesin bising. Sebentar kami naik ke atas geladak, sebentar ke bawah, ke ujung buritannya, kami norak dan berbahagia. Malamnya kami tidur di atas atap. Kapal mesin melawan arus dari hulu, berjalan seperti kura-kura berapa knot, kami berselimut kain kotak-kotak, menutup kepala kami dengan sebo, dan memandang bintang kerlap-kerlip. Kami berharap malam itu tidak hujan. Nyatanya memang malam itu tidak hujan. Dan nyamuk liar hutan berbaik hati untuk tidak sowan ke kami. Lelap………………… Tenang……………………….. Tidur membawa kami dalam ekstase paling hening. Kapal meliuk-liuki meander. Kata orang ada kera-kera berlari-larian diatas mangrove, banyak nokturnal, tapi kami tidak lagi tahu, kami tertidur sampai pagi tiba.

Setibanya di dalam belantara, lama kami berjalan, menaik turuni morfologi yang berundak-undak, bertemu rusa. Ah… ini semakin menjelma filem saja. Kami takut-taku kalau pipis sendirian, kata orang dayak banyak beruang, tersembunyi dibalik-balik siluet gelap kayu-kayu hutan.

Malamnya kami tidur membujur di “bifak” darurat. Dua potong kayu sebetis diletakkan berjajar di atas tiang-tiang kayu penopang. Lalu dibentangkan karung plastik di tengah-tengahnya. Disana kami membaringkan tulang punggung yang gemurutuk. Seharian berjalan-jalan puluhan kilometer mungkin membuat ruas-ruas tulang belakang kami beradu. Berapa jejer ranjang darurat itu dipisahkan dengan kelambu-kelambu warna hijau tua tentara. Meski di hutan kami masih butuh privacy. Dinding yang memisahkan kesendirian kami yang introvert dengan kawan sebelah yang hanya berjarak centimeter.
Tidak seperti nyamuk, suara tidak bisa dihalau oleh jejaring bolong-bolong berapa mesh itu, dari situlah kami mebuka-katupkan mulut kami, mengirimkan gelombang suara hati kami ke kawan-kawan sebelah. Kami tetap tidur tengadah, pandangan kami terhalang atap kelambu yang gelap pekat, tapi kami merasa melihat bintang-bintang. Semenjak itulah, setiap malam kami bertukar cerita, tentang rahasia paling sudut yang tidak pernah kami buka sebelumnya.

Kumpulan lelaki-lelaki yang kelelahan. Suara tonggeret. Nada konstan air sungai yang berlari-lari berapa meter dari tempat kami tidur, dan gerimis kecil. Tidak ada yang sanggup melawan gendam semacam itu. Kami ceritakan apa saja. Kegelisahan skripsi yang mengganjal nyeri, kekhawatiran masa depan, impian pekerjaan, sampai pertaruhan siapa yang menikah lebih dulu diantara kami.

Hidup kami kemudian seperti siklus. Hutan. Kampus. Hutan. Kampus. Aku mulai mensyukuri keberadaanku. Mengakrabi batu dan minyak ternyata mengantarkan aku pada pilihan-pilihan yang cepat. Setelah predikat sarjana, aku langsung menyandang predikat pekerja. Pilihan pekerjaan yang luas, gaji yang mencukupi. Dan pertanyaan tahunan yang terbayar.

——oOo——

Tepi Laut. Pinggiran delta mahakam

Kau tahu kenapa aku bodoh?

Orang pintar, menyingkap hikmah dibalik kejadian, dalam hitungan hari, mungkin jam, mungkin menit. Sedang aku butuh bertahun-tahun.

Tahunan. Perasaan tidak nyaman itu membebaniku. Apakah aku mengambil pilihan tepat? Bekerja di perusahaan multinasional, menghabiskan hari dengan bepergian ke banyak tempat. Terapung di tengah laut. Mengakrabi reaksi polymer. Menghitung tekanan hidrostatis. Berkutat dengan angka-angka, padahal tahun-tahu lalu aku mengidam-idamkan bersinggungan dengan banyak kertas tentang batu, persembunyian minyak-minyak, goa-goa intan dan emas.

Bekerja, di tempat yang tidak se-ilmu dengan pendidikan kesarjanaanmu terkadang meletupkan konflik-konflik. Di sinikah, kau akan menghabiskan sisa hari tuamu? Aku sering bertanya seperti itu. Biasanya diriku lambat menjawabnya dan aku menjadi kesal. Kesal terhadap orang lain masih bisa kita lampiaskan, tapi kesal terhadap diri sendiri membuat kita menjadi hilang arah.

Sore ini, hujan baru selesai. Dek paling atas dari sebuah anjungan pengeboran ini kalau sore memang menjadi tempat favorit buatku. Memandang burung-burung camar yang terbang, sesekali elang yang berputar-putar bermanuver jatuh drastis, lalu membubung lagi ke awan, dari permukaan laut yang berkecipak, setelah seekor ikan naas terjepit cakar dan terbawa terbang ke atas sana. Ini perkara takdir. Mataku silau oleh sinar matahari yang menusuk retina, menyipit berair dan aku seka dengan telapak tangan, entah kemana hilangnya diorama tadi.

“so….. where will you go afther this?”
seorang bule tua. Berwajah eropa yang tidak terlalu asing. Duduk di sebuah kursi panjang basah sisa hujan. Menenteng mug putih berisi cappucino. Diseruputnya sebentar, lalu ber”ahh…” yang nikmat. Dia melihat pantulan mentari tua di laut yang beriak pelan habis hujan, seperti agar-agar yang memantulkan warna tembaga. Aku agak tersinggung sedikit, dia muncul begitu tiba-tiba, dan secepat itu pula dia bertingkah seperti tidak melontar tanya apa-apa.

Where will I go after this??

Sesore ini, hari seperti menyajikan drama melankolis yang hampir utuh. Dimulai dari hujan reda, lalu aku jalan berjinjit-jinjit di dek paling atas anjungan pengeboran ini. Ada helikopter yang meronta-ronta turun ke helipad, aku berlindung dibalik kanopi yang dari atasnya angin blingsatan ber-wus-wusss. Lalu aku kembali ke pinggir setelah chopper itu terangkat dan pergi lagi, meninggalkan sepi yang kontras. Sunset…….. Camar………….. Elang………… Nelayan……………. Apa lagi yang kurang????

Kuhirup nafas dalam-dalam, dan berharap membuka mata ketika matahari sudah ambruk kebalik ufuk, diganti jingga-jingga maghrib yang tua. “Where will you go after this??” seketika bule tua seusia bapakku itu datang, dan lamunanku buyar.

“what do you mean, sir?”

Sruuup….. dihirupnya lagi capuccino di mug-nya itu. Aku tidak pernah mau meminum kopi dari coffe maker di ruang tengah itu. Aku tahu itu kopi yang sangat kuat. Sedikit saja bisa memicu jantungmu berdegup seharian, tapi dia seperti menikmatinya.

Lalu dia bangun dari duduk, dan mendekatiku yang bersandar ke handrail membelakangi laut. “I will be leaving this country in a few months. And you, what will you do? Will you stay here and enjoying what you are doing now, or will you quit and start for a new job? I see you are not quite satisfy with your assignment now”. Katanya.

Dia bule perancis. Francois. Nama yang umum dikalangan prancis. Tidak semua orang luar datang dan hidup dengan keseharian yang congkak. Nyatanya aku cukup nyaman bekerja dibawah supervisi orang seperti dia. Dia meresapi keindahan sore seperti yang aku biasa lakukan, sesaat aku merasa bisa dekat dengan beliau, maka aku membalikkan badan juga, menghadap laut yang menghembuskan angin berputar-putar. Baju kami berkibar. Kondisi yang gagah sekali untuk memulai percakapan serius.

“you sir……………….. what will you do after you leave?” aku balik bertanya. Dalam kondisi ini, kita berlomba dengan waktu. Keindahan sore itu diberikan hanya dalam hitungan detik. Kalaulah sibuk-sibuk aku menjelaskan kegundahanku, segala rencana-rencanaku, tapi sebentar kemudian malam sudah menaklukkan senja, aku mungkin akan menyesalinya berminggu-minggu kemudian. Tadinya aku ingin mengambil mug itu dari tangannya, dan ikut menyeruput kopi, seperti keakraban yang biasa aku saksikan di film-film barat. Tapi tersadar film kebanyakan menipu, jadi aku memilih diam. Biarlah dia minum sendiri capuccino itu.

“I think, I will spare more time for my family” dia bicara dengan aksen inggris yang prancis. Sengau-sengau yang tidak menggangguku. Aku separuh melihat matahari terbenam, separuh melirik dia. Dia melanjutkan
“you know……when I was young, I used to work in a place that I think cool. Work in a job that looked smart. And by no time, I lost my time, I have no time for family. All the jobs that made me headache…..”

satu sluuurpp lagi, dari tadi dia berbicara dengan memandang ke gurat-gurat awan.
“and now…I just realize one think….”

Digantungnya kata-katanya di awang-awang. Angin ber-wus-wusss lagi dari kanan kami. Aku menahan diri untuk tidak bertanya. Tapi usia membuat dia seperti pasti menang dalam permainan kata-kata ini.

“and what is that……???” aku bertanya dengan intonasi yang sedatar mungkin. Akting tidak tertarik yang hebat, aku mainkan, tapi mataku bergerak-gerak beda.

“work, is all about giving something to your family! You feed them. Buy them what they needed. And the most important is you’re not loosing your time for them, because you live only once”.

Aku lupa pada temaram yang hampir padam. Tidak peduli juga pada bulan yang kelihatan siluetnya putih lengkung dan tergerek naik. Kususun-susun kalimat padanan yang sama puitisnya buat dia, tapi aku kalah bahasa. Membuat kalimat dalam benakku, memuitiskannya, dan mentranslatenya ke inggris adalah pekerjaan sulit.

Dia berbalik badan. Melangkah tap tap tap di deck dari plat besi itu. Genangan air pecah dilindas bootnya yang hitam, aku masih termenung gagap sambil mengiya-iya-kan bahwa dimanapun kita bekerja, apapun yang kita kerjakan, sesungguhnyalah kita tidak banting tulang untuk pekerjaan itu, bahwa hal yang kita cari jauh lebih prinsip dari baju seragam apapun yang kita pakai. Kumasukkan tangan ke dalam saku baju coverall, sambil tersenyum membatin, bapak ini boleh juga

lalu tanpa berbalik dia setengah berteriak “come on in, its dark now!!!”

aku mengikuti langkahnya, genang-genang air berkecipak di dek, dan di belakangku semburat awan berwarna jingga-jingga maghrib.

Kau tahu, kenapa aku bodoh???

2 thoughts on “JINGGA-JINGGA MAGHRIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *