JENIUS MATEMATIKA DAN FORMULA BAHAGIA

Foto yang anda lihat di atas ini, adalah seorang anak jenius matematika, dan pamannya. Saya jepret foto ini di pesawat sewaktu perjalanan Balikpapan-Jakarta, potongan dari sebuah film berjudul “Gifted”.

Dikisahkan seorang anak kecil terlahir sebagai seorang jenius matematika. Usianya masih sangat kecil tetapi kecintaannya pada matematika sudah melampaui orang kuliahan.

Ceritanya menarik, dan pertengahan hingga akhir agak melow-melow sedikit hingga mengaduk emosi.

Saya jadi teringat sewaktu saya SMA, saya bertanya pada seorang rekan , “apa gunanya kita belajar integral ini?”

Teman saya menjawab, “Gunanya agar kalau kita kerja jadi guru matematika, kita bisa mengajarkan anak murid kita diferensial integral!” dia tertawa terkekeh. Dia pun tak tahu apa gunanya. Huehehehehe. Padahal kalau di film Gifted ini, anak kecil saja sudah terbuka hikmah matematika padanya.

Begitulah, memang seseorang bisa saja memiliki sekumpulan pengetahuan, tetapi tidak berarti bahwa orang yang punya sekumpulan pengetahuan akan selalu bisa melihat hubung kait antar perkara. Karena dua hal yang berbeda.

Sama seperti ketika baru-baru ini saya melihat video di lini masa facebook. Bahwa plastik bekas bisa dipakai sebagai perekat super kuat. Diilustrasikan ada dua buah kayu, sambungannya diselubungi dengan plastik bekas air mineral, lalu plastiknya dipanasi dengan hair dryer. Plastik yang melunak karena panas itu kemudian menyesuaikan bentuk dengan kayu, dan menjadi perekat yang sangat kuat.

Betapapun saya sudah ratusan kali melihat kayu potongan, dan ratusan kali melihat plastik botol, tetapi hubung kait dua perkara itu tak “dapat” di hati saya.

Kemampuan melihat hubung kait itulah “hikmah”. Dan “botol plastik” serta “kayu bekas” itulah pengetahuan. Pengetahuan itu satu hal, tetapi “hikmah” itu hal lainnya yang dianugerahkan Tuhan.

Tersebab setiap orang dianugerahi “hikmah” yang berbeda. Kemampuan melihat hubung kait antar perkara beda-beda. Maka perjalanan kita warna-warni.

Ada penyuka matematika, ada penyuka ilmu alam, ada yang suka filsafat, macam-macam.

Tetapi semua itu ternyata bermuara pada satu saja, yaitu jalan mengenali Tuhan.

Segala rasa penasaran manusia, kalau dipikir adalah pemenuhan dari kebutuhan paling mendasar manusia untuk bahagia.

Seperti misal ada yang begitu “menyukai” matematika, maka dia akan mencari segala pengetahuan matematika, yang pada akhirnya menggenapi rasa butuhnya akan sebentuk bahagia.

Tetapi, saya mengutip dari “Kimia Kebahagiaan”-nya Imam Ghazali. Kebahagiaan sejati hanya akan manusia peroleh jika mengenal sejatinya dirinya, dan mengenal Tuhannya. Itulah formulanya.

Karena manusia ada bagian yang fisikal seperti jasad, lalu ada anasir abstrak seperti kemarahan dan nafsu, lalu ada “intelek”, tetapi semuanya itu dalam kendali sang raja yaitu “hati”. Sejatinya diri.

Oleh sebab itu, manusia mencari terus, lewat pemenuhan kebutuhan jasad; bahagia sebentar. Terus hilang…… Lalu bingung, kok saya tidak bahagia?

Lalu mencari lagi, barangkali butuh pertemanan. Lalu mencari bahagia bersandar pada rasa keamanan sosial. Bahagia sebentar lalu hilang.

Cari lewat pencapaian diri, kerja keras agar berpangkat. Setelah sampai di puncak karir lalu merasa kosong. Bahagia sebentar……. Lalu hilang lagi.

Manusia bertanya terus. Dimana kebahagiaan yang sejati?

Sampai nanti kalau terus berjalan, jawaban akan ditemui. Bahwa kebahagiaan yang paling sejati kata Imam Ghazali adalah jika sudah mengenal diri, dan mengenal Tuhan, lalu tahu untuk apa diciptakan.

Jadi mencari kebahagiaan itu tak keliru. Karena itu adalah setitik pelita dalam diri. Asalkan kita jujur pada diri sendiri, benarkah bahagia? Karena setiap rasa kosong dalam hati, dan kerinduan akan bahagia yang lebih sejati, sebenarnya adalah penuntun menuju DIA.

-debuterbang-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *