JEBAKAN-JEBAKAN DALAM INFERIORITY COMPLEX

Image result for inferiority complex

Seorang pemuda jatuh ke dalam jurang saat berjalan melewati hutan. Beruntungnya ada seorang tua yang sedang melintas, lantas menolong pemuda yang terjerembab di jurang itu.

Dibawalah sang pemuda itu ke rumahnya. Rupanya orang tua tersebut adalah saudagar kaya. Pemuda yang luka itu dijamu dengan jamuan yang lezat. Dihidangkan makanan dan minuman terbaik. Serta diberikan tempat menginap yang nyaman dan pengobatan yang mutakhir sampai kesehatannya pulih.

Sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Pemuda yang luka itu, setelah kesembuhannya, alih-alih berterimakasih pada sang saudagar atas segala keramah tamahan dan pertolongannya, malah sibuk sentiasa mengingat tragedi jatuhnya dia di jurang. “aku jatuh ke jurang….” ujarnya.

Sekali dua, masih bisa dimengerti. Tetapi setelah sembuh, membaik, dan dijamu dengan aneka keramahan, tak tercetus rasa terimakasih dan riang dari raut wajahnya. Melainkan melulu mengeluh “Aku jatuh….aku adalah orang yang jatuh”.

Di dalam hati, sang saudagar kesal sekali. Dia membatin, memang kamu jatuh, tapi ini kan sudah saya selamatkan dan sekarang sudah sehat sekali. Kenapa menggerutu terus tentang kejatuhannya, sampai mengabaikan orang yang sudah menolongnya. Seolah olah sang saudagar itu tidak pernah menyelamatkan sang pemuda.

Analogi ini saya ceritakan ulang dari ceramahnya Gus Baha, yang tiba-tiba melintas di beranda YouTube saya. Tepat pada momen dimana saya sedang bingung menganalisa inferiority complex saya sendiri.

Cerita awalnya begini. Berasal dari keluarga yang kurang secara ekonomi, membuat saya sedikit mengalami inferiority complex. Saya selalu merasa bahwa saya “bukanlah apa-apa”. Siapalah saya, kurang lebih begitu.

Sekali dua, perasaan seperti itu barangkali adalah bentuk low profile dan sikap tidak tinggi hati. Sampai secara jujur saya harus mengakui dalam banyak kesempatan, di kantor, di pergaulan sosial, bayangan bahwa “saya bukanlah apa-apa, siapalah saya”, itu selalu menghantui dan membuat saya kesulitan menunaikan fungsi peranan dalam hidup saya. Saya tertakdir menjadi pimpinan pada salah satu fungsi perusahaan tempat saya bekerja, akan tetapi perasaan tidak layak ini selalu membuat kita setengah-setengah berjalan, dan merasa rendah.

Ini bukan sikap zuhud, melainkan bentuk “pengabaian” atas anugerah Tuhan. ini ada yang salah ini, fikir saya.

lewat analogi cerita di atas, kembalilah saya tersadar. Bahwa Allah telah menempatkan kita pada tempat yang baik, tetapi sikap rendah diri membuat kita gagal melihat anugerah Tuhan. Harusnya kita memujiNya atas pertolongan-pertolongan, malah kita selalu melihat pada kekurangan masa lalu, seolah-olah Tuhan tidak pernah menolong kita.

Cara pandang seperti inilah yang diajarkan orang-orang arif, dan kita kadang-kadang luput memahaminya.

Rasa was-was yang disusupkan syaitan ke hati manusia, adalah jebakan.

Ianya bisa berupa jebakan untuk sentiasa merasa “buruk” karena dosa-dosa, padahal Allah sudah menyelamatkan mereka, dan membuat mereka bertaubat lalu menempatkan mereka pada tempat yang lebih baik. Tetapi mereka selalu merasa “tidak pantas”, rasa “tak pantas” yang alih-alih membuat mereka menuju Tuhan, tetapi malah menghadirkan sikap putus asa. Mereka bukan berterimakasih atas anugerah pertaubatan, dan ampunan, melainkan menyesali dirinya sendiri yang gagal menjadi sempurna. ini jebakan.

Ianya bisa berupa jebakan untuk sentiasa merasa “rendah diri” dan bukan siapa-siapa, padahal Allah sudah menganugerahinya kecakapan dan kedudukan untuk menunaikan fungsi-fungsi dalam hidupnya. Bukannya berterimakasih atas anugerah kecakapan, alih-alih dia selalu menyesali kekurangan, seolah-olah Tuhan tidak pernah mengangkatnya dan memberikan anugerah.

Ustadz Hussien Abd Latiff pernah mengatakan, yang kurang lebih maknanya adalah, jika kita melihat dari “pintu depan”, kita harus menyifatiNya dengan sifat yang layak bagiNya. Kita memaknai kehidupan ini, dengan pemaknaan dimana rahmatNya melebihi kemurkaanNya.

Dan ceritra-ceritra semacam di atas tadi, adalah seni untuk mengingatkan kita agar melihat pada sisi anugerah, dan menyifatiNya dengan sifat-sifat yang layak bagiNya.

——-
note: ini tulisan cakap pintu depan

*) An inferiority complex consists of feelings of not measuring up to standards, a doubt and uncertainty about oneself, and a lack of self-esteem. It is often subconscious and is thought to drive afflicted individuals to overcompensate, resulting either in spectacular achievement or extremely asocial behavior. In modern literature, the preferred terminology is “lack of covert self-esteem”. ( Moritz, Steffen; Werner, Ronny; Collani, Gernot von (2006). “The inferiority complex in paranoia readdressed: A study with the Implicit Association Test” (PDF). Cognitive Neuropsychiatry. 11 (4): 402–15. doi:10.1080/13546800444000263. hdl:20.500.11780/3607. PMID 17354078. – wikipedia)

*) image ilustration source: Click here

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

2 Responses

  1. Ibnu Dailamy Asy Syarief says:

    Tksh Mas Rio atas perkongsian ilmunya pagi ini, sangat bermanfaat sekali mengena pada diri saya sendiri karena ada pengalaman yang demikian itu berlaku dalam kehhidupan

    Saya pun jadi ingat syair seorang sufi terkemuka yaitu Jalaluddin Rumi yang menulis tentang taubat. Saya lupa apakah saya dapat syair ini dari post terdahulu Mas Rio juga barangkali☺

    Tak apalah ya saya copas kembali pada komen kali ini, mumpung sudah lama nih gak komen, alias ngintip2 saja post Mas Rio baca dan dengar (podcast) terus tutup lagi deh…😃

    Jika engkau belum mempunyai ilmu dan hanyalah prasangka,
    maka milikilah persangkaan yang baik tentang Tuhan.
    Begitulah caranya!

    Jika engkau baru mampu merangkak,
    maka merangkaklah kepada-Nya!!

    Jika engkau belum mampu berdo’a dengan khusyu’,
    maka tetaplah persembahkan do’amu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
    karena Tuhan dalam rahmatNya tetap menerima mata uang palsumu.

    Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
    maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
    Begitulah caranya!

    Wahai pejalan!
    Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
    ayolah datang, dan datanglah lagi!

    Karena Tuhan telah berfirman:
    “Ketika engkau melambung ke angkasa…
    ataupun terpuruk ke dalam jurang,
    ingatlah kepada-Ku,
    karena Aku-lah jalan itu.”

    • debuterbang says:

      Makasih Mas sudah berkunjung. Memang betul kadang2 jebakan untuk selalu merasa buruk, atau selalu merasa tak bisa apa-apa, malah menjauhkan kita dari kesyukuran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *