JANGAN TERTIPU DENGAN EKSTASE SPIRITUAL

Sekarang saya tahu, kenapa dulu sewaktu saya kecil, saya dan adik saya sangat bersemangat dengan segala hal tentang jalan-jalan, sedangkan orangtua kami dulu begitu enggan melayani permintaan kami untuk jalan-jalan. Ternyata memang capek kalau menemani anak jalan-jalan, hahaha.

Baru saja kemarin, saya dan istri pergi menemani anak jalan-jalan ke Bogor. Rasanya lumayan capek sepulang dari jalan-jalan, tetapi yang tidak pernah habis energinya adalah anak saya. Semakin jalan-jalan malah semakin bertenaga saja rasanya dia.

Kalau menuruti kenyamanan pribadi, hal yang paling nyaman buat saya sendiri adalah duduk tenang membaca buku, atau tafakur. Akan tetapi satu hikmah yang saya sadari kemudian bahwa kebaikan itu seringkali adalah melakukan sesuatu yang kita sadari bahwa hal itu perlu; meskipun kebaikan itu tak punya korelasi secara langsung dengan rasa “nyaman” personal kita.

Saya ingin cerita tentang tipuan ekstase spiritual.

Jadi ceritanya begini…. Tuntutan pekerjaan saya mengharuskan saya harus pergi dari rumah sejak pagi untuk menghadiri rapat di kantor client saya, lalu kemudian seusai rapat kembalilah saya ke kantor saya sendiri dan menghabiskan waktu hingga sore dan kembali beramah-tamah dengan jalanan Jakarta yang penuh dan bising. Tiba di rumah barangkali maghrib atau lepas maghrib. Seperti jamaknya pekerja Jakarta.

Dalam rutinitas itu, saya mencari celah dimana saya bisa melakoni peribadatan dengan lebih serius, karena sitaan waktu membuat tenaga menipis, dan ibadah pun jarang bisa benar-benar total.

Nah… saya temukan celah, yaitu ketika saya usai rapat pagi hari di kantor client, dalam perjalanan pulang ke kantor saya, saya biasanya mampir di sebuah SPBU dan numpang sholat dhuha disana.

Ada sebuah kenyamanan spiritual yang saya rasakan saat menyempatkan sholat di sela-sela jadwal yang susul-menyusul itu. Ada sebuah tentram yang turun. Sakinah yang begitu sejuk.

Rutinitas itu akhirnya saya senangi, dan hampir menjadi kebiasaan. Hingga suatu hari seorang teman ingin menumpang mobil saya dari kantor client sampai kembali ke kantor kami. Saya mengiyakan, tetapi agak dilematis. Dilematisnya adalah karena otomatis saya tak enak untuk stop di SPBU dan menghabiskan waktu dengan Dhuha saya sendiri.

Dilematisnya kemudian bertambah, saat rekan saya itu kemudian meminta saya menunggu dulu, karena dia harus menyelesaikan sedikit urusan di kantor client. Jadi saya mengiyakan sambil agak kecewa sendiri.

Kecewanya karena saya tidak bisa menghabiskan waktu dengan menikmati kenyamanan spiritual pribadi saya saat saya sholat Dhuha di masjid SPBU yang tenang dan jauh dari hingar bingar itu. Tetapi disitulah kemudian saya menjadi sadar. Bahwa sebenarnya inilah gunanya hidup. Hidup, adalah untuk memberi kemanfaatan sebesar-besarnya kepada siapapun saja. Rahmatan lil alamin.

Adalah satu bentuk kekeliruan, jika saya menikmati ekstase spiritual saya sendiri, akan tetapi kemudian karena alasan itu saya enggan menunggui teman yang tak punya tumpangan untuk kembali ke kantor seusai rapat.

Ekstase spiritual ini, seringkali menipu. Dia menipu dengan memberikan ilusi bahwa kita sedang menikmati kedekatan dengan Tuhan, tetapi kita menjadi abai dengan sekeliling. Hingga saya teringat sebuah hadits dimana Allah berkata di hari akhir kelak, bahwa DIA sakit tetapi kita tak menjenguk, DIA lapar tetapi kita tak memberi makan. Manusia bertanya, bagaimana mungkin Tuhan semesta alam sakit? Dan jawabannya adalah bahwa di sekeliling kita ada orang-orang yang sakit dan tak kita jenguk, padahal jika kita jenguk kita akan mendapati ada DIA di sisi orang sakit tersebut.[1]

Jadi begitulah, bahwa kebaikan itu, adalah melakukan sesuatu yang memang perlu dilakukan. Dan barulah saya mengerti, bahwa dalam berkebaikan itu, kita akhirnya mendapatkan pemahaman-pemahaman yang lebih dalam. Inilah bentuk berkhidmat pada Tuhan semesta alam itu.

Menolong rekan kerja. Mengantar anak liburan. Dan hal-hal semacam itu. Jika kebaikan-kebaikan yang berfungsi sosial seperti itu, urung kita lakukan karena kita lebih memilih tenggelam dalam ekstase, maka ketahuilah kita telah tertipu. Ini khusus konteks ibadah sunnah lho ya, bukan yang wajib.

Karena, untuk apa Tuhan menciptakan semesta alam raya ini, jika kita hanya menganggap menemuiNya adalah pada hamparan sajadah –semata-?

Inilah yang menjadi tugas saya pribadi, untuk membiasakan diri, melatih diri, berkebaikan dalam fungsi rahmatan lil alamin itu, dan keluar dari kerangkeng rasa nyaman berasik-asik dalam ekstase spiritual saya sendiri.

—-

[1] Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya. Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makanan, benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku. Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum” , ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar – benar akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku” (Hadist diriwayatkan oleh Muslim.)

3 thoughts on “JANGAN TERTIPU DENGAN EKSTASE SPIRITUAL

  1. AlhamduliLlah, terima kasih pak Rio, apa khabarnya pak? Semiga sehat dan bahagia selalu bersama keluarga disana. maaf lama saya tak koment ni…!?

    Lebih kurang sama pengalaman kita Pak Rio, saya tu diamanahkan menjaga beberapa unit usaha sperti laundry, toko dll. Bahkan juga pengurus sebuah yayasan sosial, tentu dg seabrek2 rutinitas harian yang cukup menyita waktu dan perhatian. Belum lagi kita juga ada keluarga sendiri yg tentu juga ada tuntutannya tersendiri juga yg mesti dipenuhi.

    Mulai dari pengadaan barang toko, laundry yang kalau habis bising staf dilaundry/toko minta belikan, nanti urusan di yayasan yg ada panti asuhan lagi komplek urusannya. Mulai dari makan minum, anak2 bertengkar, ada kran rusak atau lampu putus pun kena kita juga yang turun….

    Ini baru soal pentadbiran yang lahiriah pak rio, belum lagi soal bina insan semua anak buah yang dibawah tanggungjawab saya, soal fardhu ainnya, ibadah mereka kita pun juga kena pastikan utamanya solat diawal waktu, kasih sayang diantara mereka terjalin apa tidak dalam mereka membuat kerja, ada rasa bersama dan bekerja sama. Lalu bagaimana pula hubungan dengan pelanggan pun kena dijaga semuanya. Amanah dalam soal keuangan dan lain2, pendek kata kita mesti meyakinkan para staf hingga yang kita semua buat itu tidak sia2 dan bernilai ibadah disisi Allah.

    Ya itu tadi, sperti yang pak rio sampaikan diatas mau tak mau ini semua menyita atau merampas hak personal kita, awalnya saya ngak faham juga kenapa sih mesti saya juga yg dipanggil utk hal2 yang sepele aja misalnya ganti lampu putus, kan bisa tu lakukan sndiri pikir saya.

    Ya, untuk membujuk hati ini saya diingatkan kepada hadist Rasulullah SAW: sebaik-baik manusia yaitu yang bermanfaat untuk manusia lain, jadi sama sebenarnya kita jumpai Tuhan juga dalam khidmat kita pada sesama sperti halnya khidmat kita secata personal dengan Tuhan melalui solat, zikir dan tafakur.

    Jadi ingat kisah Sy. Abu bakar RA sebelum dilantik menjadi khalifah, punya kebiasaan memerah susu kambing disebuah rumah yang dihuni seorang janda dan beberapa orang anak2nya yang masih kecil. Kebiasaan itu tetap berlanjut, hingga beliau sudah dibaiat menjadi khalifah
    ” umi…umi itu pemerah susi kambing sdh datang” sorak anak2 janda tersebut melihat sy Abu bakar datang.

    Sang janda malu dan marahi anak2nya, ” hus kamu jangan katakan itu lagi, tapi katakan khalifah Rasulullah..”

    Percakapan itu didengar oleh Sy. Abu Bakar dan jawabnya….”biarlah ibu anak2 katakan yang demikian, aku suka panggilan itu karena Allah…”

    Salam persaudaraan…

    • Wah menarik sekali kisah Sayidina Abu Bakar tersebut Pak. Ya memang itulah PR kita. Belajar menemukan sisi spiritualitas pada keseharian kita.

      Terimakasih sudah berkunjung Pak. Alhamdulillah

  2. Assalamualaikum….

    Sering kita mengetuk rumah Tuhan di atas sana, tapi kita tidak sadar kalau pintu rumah Tuhan ada di kaki kita, di kehidupan ini.. Karna kita terlalu sering melihat ke atas, bukan di sekeliling kita.

    Seperti beberapa artikel Pak Rio, Tuhan memperlihatkan Asma nya lewat kehidupan ini.. Yang kita perlu asah adalah “Iqro” agar lebih jeli..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *