JANGAN MALU PULANG

20130627-085706.jpgSalah seorang yang saya anggap guru, mengatakan “tak perduli sebanyak apapun dosa yang pernah kita lakukan, jangan pernah malu untuk mengetuk pintu rumah Tuhan. Katakan ‘ya Allah, aku mau pulang'”.

Saya jadi ingat. Salah satu hambatan terbesar yang saya rasakan untuk meniti jalan pulang ialah merasa tak layak. Karena tidak layak, maka malu mendekat kepada Tuhan.

Sepertinya ini sepele, tapi kalau kita jujur pada diri sendiri, pasti rasanya kita pernah mendecak dalam hati, “tidak mungkin doa terkabul”, atau, “siapalah saya ini, banyak dosa, bukan ustadz”. Pada sudut pandang yang tepat, sadar diri itu bagus, tapi tindak lanjut dari kesadaran akan kejelekan kita itu adalah harusnya ‘kembali ke Tuhan’.

Saya sering sekali memperhatikan cerita orang-orang yang kasat mata terlihat jarang bersentuhan dengan spiritualitas, akan tetapi sebenarnya dalam hatinya ada rasa ingin kembali itu. Hanya saja rasa itu dikalahkan oleh rasa malu dan tidak layak yang tidak pada tempatnya. Kita termasuk diantara trilliunan para pendosa di muka bumi ini, yang tidak juga kembali-kembali bersimpuh kepada Tuhan, karena satu paradigma jelek, ‘kadung’, merasa sudah terlanjur, merasa diri buruk sampai pada tingkat ekstrim yang lalu enggan meminta kepada Tuhan. Kita merasa bahwa kasih sayang Allah itu sedemikian kerdilnya, sampai-sampai masa lalu buruk kita mengalahkan welas asih Tuhan hingga kita tidak bisa kembali.

Bukan berarti kita bebas sesuka hati, tentu bukan. Yang jelas, sebuah wejangan yang saya rekam di memori berkata begini, “Inti perjalanan hidup ini sebenarnya adalah kembali ke Tuhan. Kalau saat ini kita sedang ber’amal, maka cara menjadikan ‘amal’ itu sebagai pijakan kembali ke Allah adalah dengan menyadari bahwa amal itu adalah karunia Allah pada kita. Tidak akan kita mampu beramal dengan usaha kita sendiri, tanpa diberi percikan hidayah. Sebaliknya jika kali ini kita sedang terlanjur berdosa, maka cara menjadikan dosa itu sebagai pijakan untuk kembali pada Tuhan ialah dengan menyadari bahwa pendosa bisa dekat pada Tuhan lewat pintu taubat.”

Hampir-hampir kita bisa membuat umpama, tidak penting masa lalu kita apakah pendosa ataukah abid, karena dosa dan pahala, dalam idiom yang seperti ini, kalah penting dibanding kenyataan bahwa dengan ‘itu’ kita berjalan kembali ke Allah. Yang jelas gunakan apa yang terjadi pada diri kita sekarang sebagai ‘kendaraan’ untuk pulang.

Punya amal maka bersyukur, dan menyadari bahwa amal itupun karuniaNya, bukan karya pribadi kita. Punya dosa, maka menyesal kita adalah lewat pemaknaan bahwa pulangnya kita kepada Tuhan ialah lewat pintu taubat.

Dan kenyataan bahwa kita sudah sadar dan ingin kembali; inilah yang sangat bernilai. sangat.

Jangan malu pulang, meski dosa sepenuh dunia.

——–
*) note: gambar ilustrasi saya kopi dari sini

2 thoughts on “JANGAN MALU PULANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *