JANGAN BANYAK MIKIR

Salah satu wejangan guru yang saya sering sekali lupa memraktekkannya adalah “jangan mikir”.

Wejangan jangan berfikir, setelah saya mengerti konteksnya, baru saya paham maksud beliau adalah hiduplah dalam keseharian yang diisi dengan dzikrullah, dan amal-amal nyata. Setiap benturan dalam hidup; jangan banyak dipikir melainkan jadikan wahana meminta tolong pada Allah lewat do’a-do’a, sehingga jalan keluar akan turun dalam bentuk insight. Kalaupun “jawaban” tak turun, biasanya masalah terurai dengan sendirinya seiring waktu, atau kalau tak terurai juga kita akan melihat hikmah disebalik suatu masalah itu.

Setelah berulang kali mengalami siklus ingat-lupa-ingat-lupa-ingat lagi akan wejangan beliau ini, barulah saya paham bahwa sebenarnya manusia tidak akan bisa untuk sama sekali tidak ada “ide” di dalam ruang hatinya. Mestilah dalam 24 jam akan ada ide-ide, karena dengan itulah manusia menjalankan kehidupan dan bergerak mengikuti idea dalam jiwanya.

Perkaranya, apabila suatu masalah difikirkan terlampau dalam tanpa ada “ingat padaNya”, yang muncul adalah keruwetan.

Ruwet karena syaitan dapat menunggangi fikiran dan kekhawatiran manusia dan menyusup masuk ke dalamnya melahirkan was was.

Saya beri contoh bagaimana ide masuk dalam benak kita.

Cobalah rekan-rekan “melawan” instruksi saya berikut ini. Kalau saya bilang fikirkan A, maka anda fikirkan hal lain umpamanya B.

“Coba bayangkan ‘buah-buahan’ dalam benak anda, sekarang!”

Sudah?

Bagaimana anda melawannya? Seumpama anda diberikan instruksi membayangkan buah, lalu anda melawannya dengan…….”tidak mau, saya akan membayangkan alih-alih membayangkan buah, saya akan membayangkan ‘makanan’.”

Kita bisa lihat bagaimana “ide” tentang makanan adalah bukan sesuatu yang kita buat. Dia muncul sendiri ke dalam ruang batin kita. Kenapa kok tiba-tina kepikirnya makanan?

Dan dalam setiap hari, ribuan bahkan juta hal semacam itu masuk ke dalam benak kita. Kita sadari atau tidak sadari itulah yang menyetir keseharian kita.

Kadang-kadang saya seringkali terjebak, tahu-tahu sudah bete atau bad mood seharian tersebab kekhawatiran dan was-was disebabkan fikiran saya sendiri.

Kalau sudah begitu, seringkali “rasa” persandaran pada Tuhan menjadi berkurang karena seperti lupa pada kenyataan yang sesungguhnya bahwa hidup kita mengikut takdir atau af’al Allah. Seolah-olah kita punya kuasa sendiri.

Pada akhirnya memang benar, jangan banyak mikir! Kalau ada masalah, jadikan wahana menuju Allah. Lewat pintu do’a untuk curhat dan berakrab padaNya dalam keseharian.

Kata seorang guru, pintu do’a terbuka selalu. 24 jam sehari. Begitu istimewa. Ada masalah kita berDo’a dan tunggu insight turun dalam kehidupan kita.

Jangan banyak mikir.

Eh… tapi di Qur’an bukannya banyak perintah “mikir” ya? Tentang penciptaan langit dan bumi, mikir tentang kuasa Tuhan. Dst?

Nah….Sebenarnya skema melihat alam semesta, lalu teringat keagungan penciptaNya itulah juga dzikir atau “ingat Allah”.

Sama juga dengan ada masalah; lalu mengingati Allah dan berdo’a meminta pencerahan agar keluar dari masalah; itu juga dzikir.

Pada pokoknya ternyata jangan sampai kita kehilangan “dzikr” dalam keseharian. Jangan ada fikir yang tak ada “dzikr” agar tidak ruwet.

Dan hidup dalam kebiasaan seperti ini lama-lama seolah membuat diri kita terpisah dengan keadaan di luar diri kita. Semacam “sepi” di dalam ramai. Ada jarak mental antara kita dan kondisi di luar kita. Seperti melihat drama.

Tetapi ya itu tadi. Sekalinya lupa. Tahu-tahu kita sudah “keluar” dari kondisi itu, dan terlalu larut dalam keruwetan hidup.

Ya ndakpapa. Masuk kembali. Ingat kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *