JALAN BAIK SANGKA, DAN JALAN MENIADA

Seorang teman meminta tips kepada saya, untuk meredakan kekhawatiran dan gundahnya atas suatu perkara.

Wuaddduuuh…. Saya pun sama juga. Kalau ada masalah ya gundah gulana juga. Bagaimana bisa berbagi tips? Hahahahaha.

Tetapi, Setidaknya menuliskan ulang apa yang telah saya pahami dari kajian para arif. Yang sayapun keluar masuk kadang bisa, lebih seringnya tidak bisa.

Inilah catatan itu:

Dua approach ini setidaknya bisa kita lakukan saat dilanda badai hidup.

1) Pertama. Mendekati Tuhan dengan berbahan bakar khauf dan Roja’.

Maksudnya, segala kekhawatiran dan harapan kita, menjadi pemicu kita untuk “lari” ke Allah. Untuk meminta tolong.

Misalnya kita ada masalah, maka kita takut dan butuh pertolongan Allah. Kita sholat 2 rakaat dan dalam sholat itu kita mengadu dalam bahasa kita sendiri, pada Allah. Saat sujud doa dalam hati setuntas tuntasnya. Sampai persandaran pada Tuhan itu terasa sekali. Sampai plong hati.

Atau, tidak dalam kondisi sholat juga bisa. Kita mengingat Allah, lalu mengadu dan meminta tolong. Biasanya….. Kalau benar-benar sulit suatu perkara itu, kita justru semakin memiliki bahan bakar untuk “lari” kepada Tuhan. (lari ini kiasan saja)

Hanya saja, metoda ini tidak akan komplit tanpa diri kita dilengkapi seperangkat pengetahuan batin.

Misalnya….. Pengetahuan mengenai “qalb” hati itu yang mana? Yang dinamakan sejatinya manusia itu yang mana? Bagaimana mengingat Allah SWT itu? Bagaimana mengingati Yang Tiada umpama? (kajian ini saya pelajari dari Ust. H. Hussien Abd Latiff, dan mengenai definisi qalb sebelumnya sudah pernah dibahas Imam Ghazali dalam Bab Keajaiban Hati, salah satu bab dalam Ihya Ulumuddin).

Lalu, penting sekali untuk memiliki keilmuan yang membantu kita berbaik sangka pada Allah. Tanpa membenarkan prasangka, bagaimana meminta tolong?

Dalam suatu hadits, dikatakan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Dualitas dunia dijadikan oleh-Nya dalam proporsi yang tidak 50:50. RahmatNya sengaja dilebihkan. Maka baikkan prasangka kita.

Rumi berkata, yang maknanya kurang lebih: diantara dua orang shalih, yang paling baik diantara mereka adalah yang paling baik prasangkanya pada Tuhannya.

Inilah approach pertama. Mendekati Tuhan berbahan bakar rasa takut dan harap yang kita rasakan sepanjang perjalanan hidup. Mendekati Tuhan dengan berbaik sangka padaNya. Mendekati Tuhan dibantu oleh konteks yang kita temukan dalam hidup kita sendiri-sendiri.

2) Approach kedua adalah “keluar dari kerangkeng diri”.

Approach ini, agak berbeda sedikit dengan approach pertama.

Kalau Approach pertama tadi, rasa takut dan khawatir menjadi pendorong menuju Tuhan, karena kita baik sangka pada-Nya.

Akan tetapi, approach pertama… karena kita menuju-Nya berbahan bakar dualitas takut dan harap, maka mau tak mau yang menujuNya masih “diri kita” dengan selubung personaliti kita.

Umpamanya seorang bernama Hasan. Dia mengalami kesulitan dalam keuangan. Maka Hasan merasa sedih dan takut dan butuuuh sangat bantuan Tuhan. Berdoalah Hasan kepada Tuhan.

Yang berdoa adalah “Hasan”. Dalam mentalitas personaliti sebagai seorang yang fakir kepada Allah. Lalu Hasan merasakan kebaikan Tuhan dan dalam persepsi Hasan; Allah terpandang sebagai Yang Maha Kaya. (terpandang ini maksudnya kiasan saja).

Jadi yang beribadah masih Hasan. Dan Tuhan masih “terpandang” sebagai yang bersifat-sifat.

Tapi ndakpapa ini sudah mantap juga.

Nah kalau approach kedua, belajar melepas diri dari kerangkeng sebagai “Hasan”. Jadi seperti nonton drama. Saking seringnya melakukan approach pertama, lama-lama nyadar, eh…. Saya ini bukan si Hasan-nya ini. Saya ini “di dalam” si Hasan. Maka baju personaliti sebagai Hasan, dilepas.

Kalau sudah berjarak dengan rasa takut dan khawatir, lama-lama pula berjarak dengan kerangkeng diri sendiri. Sehingga yang mengingatNya bukan lagi ego diri yang bernama Hasan itu.

Oleh sebab yang menghadap bukan lagi Hasan-nya itu, maka DIA tak lagi terpandang sebagai yang bersifat-sifat.

Istilah seorang Arif, kita rileks duduk di pojokan memandang drama. Relax one corner.

Nah itulah dua approach yang saya amati sepanjang perjalanan belajar.

Saya sendiri jatuh bangun macam lagu dangdut untuk masuk ke approach satu, opo meneh approach kedua…. Hehehe. Yang penting terus belajar

-debuterbang-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *