ISYARAT DARI SEBUAH BUKU LOAK

Serasa agak tidak percaya, saya mendapatkan “isyarat” dari sebuah buku loak. Buku yang saya beli semasa masih kuliah di Unpad Jatinangor dulu.

Ceritanya, saya sudah selesai sidang. Dan dimasa menanti wisuda, saya jalan-jalan di sebuah pasar kaget yang digelar setiap hari minggu. Disanalah saya beli sebuah buku loakan. Buku bekas dengan judul kalau tak salah “English Conversation for Oil and Gas Industry”. Berbekal buku itulah saya menggenjot kemampuan berbahasa inggris yang alakadarnya.

Saya menghapal percakapan demi percakapan disana, dan memraktekkannya sendiri di rumah berbekal headset pinjaman dari teman dan sebuah software audio. Saya mulai berlatih bahasa inggris dengan harapan bisa lulus interview pekerjaan.

Di buku itu, disebutkan kisah seorang pekerja minyak lepas pantai. Dia bernama Pangulu. Seorang biasa yang bekerja sebagai insinyur di lepas pantai, pengeboran minyak.

Tak ada yang terlalu istimewa pada diri Pangulu, selain dari dia selalu berusaha untuk menyenangkan orang terdekatnya. Dikisahkan Pangulu sebagai seorang yang easy going, dan untuk “killing time” membunuh kebosanan di anjungan pengeboran, Pangulu selalu memainkan sebuah piano yang ada di ruang rekreasi. Atau kadangkala bermain gitar. Hal yang sederhana, tetapi memunculkan rasa bahagia pada orang-orang.

Kisah Pangulu, yang saya ingat, begitu membekas bagi saya. Terutama karena tak lama setelah itu saya sendiri pun akhirnya diterima bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengeboran migas. Maka spontan literatur pertama yang teringat di benak saya adalah buku loak yang saya beli itu, dan ceritra pertama yang terbetik adalah tentang Pangulu. Orang biasa, yang belajar memberi kebahagiaan dengan cara yang biasa.

Sebuah kebetulan sekali, bukan?

Cuma memang saya tidak bisa memainkan alat musik. Sama sekali tak bisa piano atau gitar. Akan tetapi pagi ini kembali saya merenungi bahwa pesan-pesan kebaikan yang dibungkus dengan baju “seni” seringkali bisa awet dan tahan lama.

Sebagai misal, lagu ilir-ilir, tembang jawa yang sarat nuansa spiritualitas itu, bertahan begitu lama.

Atau misalnya juga serat wedhatama, yang bernuansa islam dengan balutan susastra jawa yang begitu apik.

Atau, yang sangat lekat dan juga mempengaruhi cara pandang saya, misalnya Al-Hikam, kitab kumpulan aforisma Ibnu Athaillah. Aforisma yang begitu indah, dengan bahasa-bahasa kiasan yang ternyata sangat dalam dan bermakna.

Atau dari tradisi lainnya, misalnya kumpulan sloka Bhagavad Githa. Beberapa bagian dari sloka Bhagavad Githa memang tak terlalu seiring dengan pandangan islam. Tetapi tentang pergolakan psikologis dan filosofi tentang peranan manusia dalam kehidupan; sangat menarik dan layak untuk dibaca.

Kebenaran…. jika disampaikan dengan bahasa yang terlalu “telanjang” seringkali memang kurang pas. Tapi tentu tak semua hal bisa dikiaskan, tanpa membuat orang terdistorsi pemahamannya.

Pada pokoknya, saya ingin kembali menjadi seperti kisah Pangulu. seseorang biasa yang namanya hanya terbit di sebuah buku loak. Tetapi dari kontribusinya yang biasa saja, orang-orang sudah bisa merasakan kebahagiaan.

Mudah-mudahan, kebenaran yang dibajui dengan keindahan bisa menjadi langgeng. Dikenang lebih panjang dari usia penulisnya itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *