INTERNALISASI SOAP OPERA

Pernah suatu kali saya merasa kesal karena seseorang dari lain divisi tiba-tiba muncul di sebuah lokasi kantor saya yang hendak diaudit. Kesalnya saya, adalah karena merasa ada “tokoh” yang lain di sana. Harusnya yang menghadapi audit itu adalah saya, kok ada orang lain yang ikut ikutan menjadi tokoh.

Malamnya saya bermimpi. Dalam mimpi itu saya dimarahi seseorang karena sikap sombong di dalam hati saya itu.

Keesokan harinya, betapa saya melihat orang yang saya keseli kemarin ternyata sedemikian banyaknya kontribusi dan meringankan beban saya.

Itulah kebodohan saya waktu itu, karena mengira semua beban harus dipikuli sendiri.

Sebenarnya bukan tentang saya, tapi kebetulan saja saya masuk dalam plot cerita.

Dan ini terjadi berulang kali. Dalam frame sudut pandang yang berbeda.

Misalnya sewaktu asisten rumah tangga kami pamit mudik dan tak kembali lagi. Waktu itu bingung juga. Karena dia sudah dekat sekali dengan anak saya. Nanti bagaimana kalau dia pergi, siapa yang jaga anak waktu kami kerja?

Lantas tak lama datang silih berganti orang lain yang bekerja di rumah, sampai kemudian di rumah menemukan ritmenya lagi.

Setiap zaman, melahirkan pahlawannya sendiri. Begitu kata pepatah. Dipikir-pikir benar juga.

Kalau dalam skala yang lebih besar dan penting, misalnya di Indonesia ada banyak nama-nama tokoh, pahlawan, ulama, pemimpin besar yang semuanya silih berganti.

Umpamanya Soekarno, lahir di zaman jelang kemerdekaan. Arsip-arsip tulisan dan orasi beliau yang menyejarah, rasanya sampai sekarang belum ada yang bisa sepiawai beliau dalam mengguncang massa. Tetapi toh tanpa beliau zaman tetap berjalan sampai sekarang.

Ada R.A. Kartini, ada Diponegoro, ada Hamka, ada Hatta…. Orang-orang besar yang punya kontribusi dalam Indonesia. Yang rasa-rasanya akan seperti apa Indonesia ini tanpa mereka?

Tapi ternyata, zaman tetap berjalan.

Sepenting apapun kontribusi seseorang, sedahsyat apapun perannya pada kehidupan di eranya, dia tetap akan lumat dimakan sejarah.

Bahkan kehidupan tetap berjalan, tanpa mereka. Jadi sejarah itu bukan tentang mereka. Mestilah tentang sesuatu yang lebih besar, yang memunculkan berbilang cerita.

Inilah yang sering menjadi “pintu” masuk bagi saya, untuk “internalisasi” wejangan para Arif yang mengatakan bahwa sebenarnya hidup itu tak tergantung andil kita. Kita tak andil pun, akan dimunculkan jalan agar apa yang mestinya terzahir; untuk terzahir.

Tentu kita memahami, bahwa perdebatan klasik apakah manusia perlu usaha atau tidak perlu usaha, sudah tidak relevan lagi. Sudah diperdebatkan berbilang zaman.

Lakukan saja porsi kita.

Tapi ya seperti ilustrasi di atas, perhatikan dalam kehidupan kita masing-masing, akan sangat jelas bahwa kehidupan tetap bergulir karena ada Sang Penggeraknya.

Yang biasanya menutupi kita dari melihat kepada gerak takdir, diantaranya karena merasa sangat punya peranan besar. Misalnya, orangtua terhadap anaknya. Seorang kakak terhadap adiknya. Guru terhadap muridnya. Bos terhadap bawahan.

Tanggung jawab besar, memunculkan asumsi bahwa kitalah yang paling berperan.

Perasaan bahwa kita merasa sangat berperan ini, kadangkala menutup mata kita dari melihat sesungguhnya bukan kita yang berperan, melainkan kita kebetulan ikut dalam plot cerita.

Maka saat mengalami sendiri dimana segala prasarana dan kemampuan untuk menjalankan peranan, seperti tersumbat, Mestinya malah bisa pula dipahami sebagai pintu masuk untuk “internalisasi” wejangan para Arif bahwa La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah.

Padahal dari segi ilmu sudah nyata sekali. Kalau gerak mikro saja tidak pernah kita kontrol (gerak elektron memutari inti atom, hilang timbulnya elektron ke dalam “kosong” seperti kajian fisika kuantum, dan interaksi antar atom); maka bukankah ilusi besar kalau kita merasa punya kemampuan menggerakkan dalam skala yang tampak mata?

Mengetik ini saja, sebenarnya adalah gerak triliunan atom, yang adalah juga gerak elektron untuk hilang timbul secara ritmis pada tempatnya sendiri. Kitakah yang mengaturnya?

Benarlah kata Stephen Hawkings. Kita ada di dalam “soap opera”.

Kalau bahasa para Arif, bahwa kita ini tak wujud. “non existence”. Mumkinul wujud. Realitas fisikal yang dimunculkan dari realitas lain yang tak ada perumpamaan-Nya. Wajibul wujud.

Demi (Dzat) yang jiwaku berada di dalam genggamannya.

Begitu dari segi ilmu.

Tetapi, sudah cerita-Nya pula bahwa ilmu tak juga bisa nyantol utuh dan ajeg tanpa “internalisasi”.

Internalisasi ilmu menjadi hikmah atau wisdom itu lewat kejadian dalam hidup kita masing-masing itu. Lewat tribulasi.

Maka dua hal yang penting. Pertama terus-menerus Iqra Bismirabbika. “baca” hidup sebagai konteks DIA bercerita tentang DIA juga.

Kedua, menyabari jika kita tergelitik membagi atau sharing akan apa yang kita paham pada orang lain. Karena, sejatinya yang memahamkan orang tersebut juga bukan kita. Melainkan lewat tribulasi dan gonjang-ganjing hidup orang itu sendiri.

Kita, kebetulan hanya membahasakan dengan lebih runut, akan apa-apa yang sebenarnya sudah orang-orang temukan dalam diri mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *