INSIGHT DAN ADAB MEMBACA SEMESTA

Malam-malam lepas maghrib, client menelepon saya dan memberi tugas untuk diselesaikan esok hari. Begitu mendadak. Biasanya tugas seperti itu paling tidak memerlukan waktu dua hari. Sempat merasa kesal juga, kenapa kok tidak memperhitungkan waktu yang diperlukan?

Tetapi kemudian kesalnya tidak sempat lama, karena saya kemudian teringat tentang “labelling”, tentang memaknai kehidupan.

Sepanjang hayat, sebenarnya yang manusia lakukan itu hanya begitu saja, yaitu memberi makna.

Semua kejadian dalam hidup diberi makna oleh manusia. Itu sebab, sebuah kejadian yang sama persis bisa menimbulkan efek yang berbeda-beda, tergantung cara pandang dan pemaknaan seseorang. Kalau sebuah kejadian atau fakta yang ada di luar diri bisa sama, tetapi efeknya terhadap situasi diri kita bisa beda, berarti yang sangat penting itu kan mengelola cara pandang, jagad mikro diri kita ini lho.

Kalau dipikir-pikir, kita akhirnya akan menyadari bahwa hampir keseluruhan hal, dalam tanda kutip, tidak bisa disetir oleh manusia. Kalau kita mengikut fisika newtonian, segala hal yang terjadi akan memiliki efek berantai yang berimbas pada hal-hal lainnya. Dan dalam pandang seperti itu, maka keseluruhan gerak semesta ini adalah efek berantai yang memengaruhi satu sama lain, alias “written”, sudah begitu adanya.

Lalu bagaimana? Yang tertinggal hanyalah “just do it” lakukan yang terbaik, dan kita sebagai penyaksi memberi makna pada kehidupan. Yaitu “labelling”. Dan sebaik-baik labelling, atau pemaknaan terhadap hidup adalah menyadari bahwa cerita yang berbagai-bagai ini adalah cara DIA menceritakan diri-Nya sendiri. Central dari semua cerita ini bukan tentang kita. Melainkan tentang DIA ingin dikenali.

Yang celaka adalah, kalau secara zahir kita bertumbuh kembang dan mendewasa, tetapi secara batin dan pemaknaan terhadap hidup kita tidak berkembang dan cara kita memaknai hidup gagal mendewasa. Kita urung menemukan keterkaitan antara kejadian hidup dan cara Tuhan bercerita tentang diriNYA sendiri. Walhasil, kehidupan kita hanya sebatas kejadian ke kejadian, yang semuanya dimaknai secara sempit juga, yaitu seputar kejadian-kejadian itu sendiri.

Indah sekali penjelasan para arifin, kejadian-kejadian dalam takdir hidup itu adalah perbuatan-Nya (af’al). Setiap af’al bercerita tentang sifat-Nya (Asmaul Husna). Dan melintasi dualitas sifat-sifat dalam asmaul husna itu, semua sifat-sifat yang zahir hanyalah “citra” yang DIA goreskan di atas Dzat-Nya semata.

Dalam kaitannya dengan memaknai inilah, kalau kita sering mentafakuri hidup, membaca ayat semesta, kita menjadi merasakan bahwa insight-insight pencerahan itu datang sendiri. Dan dalam kaitan antara insight dan perenungan tentang hidup inilah, pagi ini, saya kembali teringat dengan sebuah bahasan makna tadabbur dan tafsir.

Secara bebas, tafsir adalah mendefinisikan, mengungkap makna dari ayat-ayat Qur’an. Tafsir dalam konteks ini, adalah salah satu cabang keilmuan.

Sedangkan tadabbur, secara bebas bisa kita katakan sebagai sikap kontemplatif, merenungi, berinteraksi dengan ayat Qur’an, dan mengambil manfaat serta menjalankannya. Tadabbur ini, bukanlah salah satu cabang keilmuan.

Dalam konteks berinteraksi dan merenungi serta mengambil manfaat dalam keseharian, maka tadabbur ini boleh bahkan harus dilakukan setiap muslim.

Akan tetapi tafsir, menyibak makna dan definisi lalu membawanya ke ruang publik, haruslah memiliki syarat, dan tak semua orang bisa.

Akan tetapi tadabbur, berinteraksi dengan ayat-ayat (tertulis maupun tidak), lalu kemudian menjadi tercerahkan dan mendapatkan pemecahan-pemecahan secara lingkup personalnya, maka ini hak semua muslim.

Saya baru tersadar, bahwa inilah sebenarnya duduk perkaranya. Saya melihat banyak spiritualis yang mengakrabi Al Quran, dan mendapatkan “insight” yang solutif terhadap permasalahan hidupnya berdasarkan ayat yang dia renungi itu; itulah tadabbur.

Akan tetapi, membawa hasil kontemplasi tadabburnya itu untuk diterapkan di ranah publik dan lalu kemudian meluaskan konteksnya menjadi “inilah satu-satunya makna ayat ini berdasarkan insight saya” adalah keliru. Karena itu sudah masuk domain tafsir.

Hal ini kemudian mengingatkan saya kembali dengan bahasan tentang ilham alias insight di kalangan para arifin.

Insight, ilham, adalah sebentuk petunjuk bahasa kepahaman dari Tuhan untuk seseorang. Bukan suara, bukan huruf, tetapi kepahaman yang datang secara cepat.

Akan tetapi, bagaimanapun sebuah insight atau ilham tak bisa menjadi hujjah hukum. Kecuali dia beririsan dengan segala prasyarat keilmuan dan fakta-fakta di dunia empiris.

Insight seringkali menuju pada sebuah kesimpulan akhir. “jawabannya adalah A”. Pandangan firasat yang tajam.

Akan tetapi, membawa “jawaban A” ke ruang publik, ke dunia empiris ini, maka kita harus menyiapkan serangkaian pembuktian bahwa benarlah A itu jawabannya. Lewat fakta dan analisa ilmu.

Mengetahui duduk perkara ini akan membuat segalanya menjadi indah dan tepat konteks. Saat semua orang berhak untuk mentadabburi ayat, akan tetapi kemudian secara legowo menyerahkan kepada sang ahlinya untuk merangkum definisi dan makna untuk dibawa ke ranah umum.

Saat semua muslim berhak mendapatkan insight jawaban atas permasalahan hidupnya, lewat tafakurnya terhadap ayat, baik ayat tertulis maupun semesta terkembang ini, tetapi kemudian sikap legowonya membuat mereka mengiringi insightnya dengan pembuktian keilmuan yang pas saat ingin menjadikan insight itu sebagai hujjah.

 

2 thoughts on “INSIGHT DAN ADAB MEMBACA SEMESTA

  1. …yg masih sulit bagi saya…thd client atau orang di sekitar kita terutama atasan kita…manakala menurut kita tdk “semestinya” mereka berlaku demikian. Bagaimana ini….mohon pencerahannya…Terimakasih

    • Tanpa bermaksud mengajari ya Mbak. Cuma sharing dari yang saya pahami setelah mendengarkan petuah guru-guru.

      PERASAAN kesal, itu hanya imbas dari apa yang bercokol pada FIKIRAN. jadi, untuk mengatasi PERASAAN, maka FIKIRAN kita dulu yang harus dirubah. Artinya mindset kita harus beda. Nah… ada beberapa tangga pemahaman saat orang merubah mindset.

      – Tangga pertama, biasanya orang mengatakan bahwa “Ah… dia berbuat begitu pasti maksudnya baik”. Berarti mencari pembenaran atau alasan dari suatu kejadian. Saat akal kita sudah menerima logika itu, maka perasaan kita jadi berubah.

      – ada tangga di atasnya lagi, biasanya orang mengatakan “mungkin kalau kejadian begini, Tuhan punya rencana yang lebih baik buat saya”. Saat logika seperti itu sudah tertanam, biasanya perasaan jadi plong.

      – ada tangga di atasnya lagi, yaitu menyadari bahwa kejadian apapun saja sebenarnya bukan perkara atasan dan perkara diri kita, tetapi sebenarnya cara ALLAH memanifestasikan atau bercerita tentang diriNYA sendiri. Allah kan ada 99 asmaul Husna tuh, setiap asma itu sebenarnya menjelaskan sifat-sifat Tuhan. Nah…sifat-sifat itu sebenarnya juga cerita tentang perbuatannya. Misalnya…kita katakan si Budi baik hati, apa buktinya Budi baik hati? tentu kita katakan Budi baik hati setelah melihat perbuatan si Budi, misalnya suatu hari kita melihat Budi menolong kucing yang kejebur di got.

      Begitulah, setiap kejadian dalam hidup, sebenarnya bukan tentang manusia, tetapi caranya Tuhan bercerita. SEmua kejadian hidup temanya adalah cerita asmaul husna itu.

      Kalau logika itu sudah makjleb di hati, maka setiap kali ada kejadian, perasaan kita bukan dongkol. Atau dongkolnya sebentar saja, tetapi setelah itu langsung mendapat hikmah dan atau solusi.

      – ada lagi tangga di atasnya. Tak hanya setiap kejadian itu merupakan manifestasi sifatnya, tetapi sesungguhnya semua yang Dzahir ini, yang tampak mata dan terindera, hanyalah sifat-sifat atau anggaplah sederhananya hologram yang DIA ukir atau dimunculkan dari Dzat-Nya semata. yang ini rada pelik dan harus orang yang authorized yang jelasin.

      Tapi intinya itu mbak, cara pandang dulu yang harus dirubah. Akal kita musti disupply data dulu, baru perasaan berubah. Bisa kita supply data pada tangga yang level bawah, atau tangga yang spiritual yaitu pemahaman tentang keTuhanan seperti di tangga-tangga level yang atas. kalau tangga yang level atas itu, sederhananya harus banyak-banyak dzikrullah, nanti lama-lama jadi kaya otomatis gitu. hehehe

      wallahualam ya Mbak. moga-moga membantu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *