IMAM GHAZALI, MENCARI HINGGA TAK BISA DICARI (2)

Menelisik Autobiografi Imam Ghazali, membuat saya sangat kagum melihat “pencarian” beliau.

Beliau  menekuni pencarian berdasarkan penelusuran logika dalil-dalil dan premis-premis (Ilmu Kalam), hingga akhirnya menyadari bahwa premis-premis logika tak bisa menuntun pada kebenaran sejati.

Beliau cari lagi dengan logika filsafat, ternyata juga menyadari filsafat bukanlah kebenaran sejati.

Akhirnya berlabuh di samudera terakhir, mendekatkan diri pada Sang Empunya Ilmu, dan menjadi paham bahwa keilmuan sejati tak akan bisa dipahami tanpa tuntunan dari Yang Punya ilmu itu sendiri. Dari situlah beliau mulai tekun mengembarai dimensi esoteris-nya Islam.

Masih dari buku yang sama, Al-Munqidz min Adh-Dhalal, Sang Imam menuturkan bahwa manusia mengenali alam-alam lewat indera yang dimilikinya. Setiap indera, beliau katakan, berfungsi untuk mengenali alam diantara alam-alam lainnya.

Seperti indera perasa, manusia dengan itu bisa mengenal alam rasa panas, dingin, halus, kasar, basah, kering. Tetapi manusia tak bisa mengenali alam warna.

Dengan Indera pengelihatanlah manusia bisa mengenali dimensi warna.

Setelah sedikit tumbuh dan berkembang, manusia diberikan kemampuan pertimbangan (tamyiz), kemudian setelah manusia lebih dewasa dia akan dianugerahi kemampuan nalar dan rasio yang lebih baik.

Anak kecil yang belum baligh, tak akan bisa mengerti ‘alam’ rasio nya orang dewasa yang punya nalar dan pertimbangan lebih kompleks.

Tetapi, begitu juga orang yang semata mengandalkan alam rasio dan nalar (pencarian dengan logika filsafat ataupun kalam), kata beliau tak akan bisa mengerti kenyataan yang dipahami oleh orang-orang yang mendapatkan kasyaf, atau tuntunan ilham dari Allah SWT.

Dan beliau memberi tahu, bahwa banyak sekali keilmuan di dunia ini yang tak bisa didasarkan pada nalar dan rasio semata.

Misalnya saja, ilmu astronomi. Hampir sebagian besar kejadian-kejadian dalam astronomi berlangsung ratusan tahun sekali. Jika hanya mengandalkan nalar dan rasio, percobaan, tak mungkin bisa mengamati hal yang terjadi sekali saja setiap ratusan tahun. Pastilah nalar dan rasio kemudian, tetapi awalannya adalah ilham dulu, tuntunan Rabbani.

Dari sini terjawablah pertanyaan saya dulu, bagaimana mungkin kita bisa mempelajari semua ilmu yang terlampau banyak?

Seperti misalnya dulu saya pernah bingung, kenapa orang-orang tua zaman silam bisa tahu bahwa tumbuhan A misalnya, bisa mengobati sakit demam.

Jika menggunakan akal dan rasio penalaran semata dengan uji coba, bayangkan berapa juta tumbuhan harus dicobakan untuk diberikan pada yang sakit, sampai yang sakit itu sembuh. Kan tidak masuk akal. Dan baru sekarang saya mengerti bahwa di dalam belantara keilmuan yang dimiliki Allah, Allah-lah yang menuntunkan manusia untuk mempelajari sesuatu dengan nalarnya dan rasionya. Tuntunan pertamanya mestilah ilham Rabbani.

Mendasarkan pada nalar dan rasio semata, adalah ibarat membabi buta mencoba memakan semua tumbuhan dalam rangka percobaan untuk mengetahui yang mana yang berkhasiat menyembuhkan demam.

Selain tidak efektif, tentu waktunya sangat lama dan membuat kita tersesat dalam belantara dedaunan.

Karena memang ternyata tak mesti semua ilmu kita pelajari, tetapi yang ilman nafi’an. Yang meaningfull saja. Yang sesuai dengan arah tugasan kita masing-masing.

Dan yang mengarahkan kita kepada ilman nafi’an itu, adalah petunjuk Allah berupa ilham yang diterima masing-masing kita.

Itulah arah dari do’a sebelum belajar: “Robbi zidni ‘ilman nafi’an wawafiq li ‘amalan maqbulan (Tuhan, tambahkan aku ilmu yang bermanfaat dan terimalah amal yang maqbul bagiku).”

Setidaknya ada dua hal yang akhirnya bisa kita ambil pelajaran:

Pertama. Dulu saya kira, kita harus belajar segala hal dulu baru kita bisa menangkap makna. Dulu, saya kira, makna-makna baru akan datang setelah kita mempelajari ilmu-ilmu tekstual.

Sekarang baru saya mengerti, bahwa kadang-kadang kepahaman sudah datang duluan, mendahului keilmuan tekstualnya. Jadi, ilmu tekstual yang kita baca itu memvalidasi keilmuan yang kita sudah mengerti lebih dulu. Allah-lah yang memahamkan, bukan teks yang kita baca. Setelah paham, kita temukan teks berbicara yang senada dengan yang kita pahami, atau mengoreksi dan membenarkan kepahaman yang kita dapat sepotong-sepotong.

Kedua. Dulu saya kira kita harus mempelajari segala hal. Dan saya bingung, darimana saya harus belajar? saking banyaknya dan tak tahu hendak mulai darimana.

Ternyata, ilman nafi’an (ilmu yang meaning) itu adalah yang seiring dengan amalan maqbulan. Amal nyata. Dan amal nyata seiring “tugasan”. Dan Allah yang memilihkan apa-apa yang nafi’an untuk kita pelajari. Jika sejak awal niatan kita mengembara di belantara ilmu itu adalah ingin menerima pencerahan dariNya, bukan dari teks yang bertebaran.

Karena memang ilmuNya itu sangat banyak, tak habis ditulis dengan seluruh pohon menjadi pena dan seluruh samudera menjadi tinta. Saking banyaknya dan kompleksnya.

Jadi kegelisahan mengenai perlukah ilmu, atau tak perlu ilmu dalam menuju Tuhan? itu sudah dialami bahkan oleh Imam Ghazali, apa lagi level kita-kita ini.

Menjadi pahamlah kita akan alurnya sekarang. Yang penting kita akrabi adalah pemilik ilmuNya, nanti Sang Pemilik Ilmulah yang akan hantarkan kita kemana ilmu harus dikembarai.

Dan saat  seringkali mendapati apa yang kita pahami ternyata sudah sejak dulu dituliskan oleh para ulama dalam teks-teks mereka, semakin pahamlah kita bahwa benar DIA semata yang mengajar.

Jadi kita membaca teks sebagai guidance. Kepahaman yang kita dapatkan, dan realitas intenal yang kita alamilah; yang akan membuat kita kagum pada apa-apa yang ditulis para arifin jaman dulu itu. Karena kita menemukan makna yang sama dengan yang dituliskan mereka.

Tanpa anugerah kepahaman dari Allah, artinya tanpa kita mengakrabi Allah dan tanpa kita diberikan ilman nafi’an, maka kita tak akan bisa mereguk makna dari semak belukar tekstual buku-buku. Dan kita gagal mengerti apa yang ditulis orang-orang arif.

Jika tak dituntunkan untuk mendapatkan ilman nafi’an yang mengiringi amalan maqbulan; bisa-bisa tersesatlah kita.

Kenali “Kebenaran”, maka kita akan tahu siapa yang berada di dalamnya. Seperti ungkapan Ali Ibn Abi Thalib[1]
Maka yang harus kita akrabi rupanya Pemilik IlmuNya, bukan tekstual para ulamanya.

Jika akrab dengan Pemilik Ilmunya, rupanya dituntunkan bertemu yang Nafi’an dari belantara knowledgeNya.

 

catatan kaki

[1] “jangan kau lihat kebenaran dengan melihat orangnya. Lihatlah kebenaran itu sendiri, maka kau akan tahu siapa pemiliknya.” (Al-Munqidz min Adh-Dhalal. Pustaka Hidayah. 1998, hal 40.)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *