HILANG KONTEKS TENTANG KITA

Maju-mundur, maju-mundur, itulah yang saya lakukan dalam hal menulis. Beberapa kali saya sempat hiatus menulis, tetapi kemudian saya kembali menulis karena beberapa hal.

Salah satu alasan saya kembali menulis adalah karena nasihat seorang Sahabat yang jauh lebih senior dalam usianya, kepada saya. Beliau mengatakan, boleh jadi tulisan-tulisan ini baru akan benar-benar bermanfaat setelah kita –penulisnya– tiada.

Alasan lainnya adalah, karena saya pada akhirnya mengerti tentang apa yang membuat saya berhenti menulis pada beberapa masa yang silam.

Alasan hiatus panjang dari aktivitas menulis kala itu adalah semacam rasa gelisah karena menilai kepatutan diri. Patutkah saya menulis tentang ini?

Dialektika dalam batin saya sendiri mengenai kepatutan ini; berlangsung cukup lama, sampai lagi-lagi petuah ulama arif masa lampau memberitahu saya dimana letak kelirunya pandangan saya yang masih belia kala itu.

Kita dengarkan apa kata Ibnu Athoillah berikut ini:

”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”

Orang-orang, yang menceritakan tentang DIRINYA sendiri, akan merasa tak layak, dan pada akhirnya bungkam menceritakan kebaikan, sebab dia menilai dirinya tak layak. Karena, kebaikan dalam hal ini diasosiasikan dengan DIRINYA sendiri. Dirinya adalah kebaikan itu sendiri, sedangkan dirinya sejatinya tak begitu baik, maka berhentilah dia menceritakan kebaikan.

Sedangkan, orang-orang yang menceritakan tentang Rahmat Tuhannya, tentang rahmat Allah SWT, tidak akan bungkam dalam menceritakan kebaikan, karena mereka hanya menceritakan tentang kebaikan Allah, rahmat Allah yang tersebar-sebar, dan tak ada konteks dirinya sendiri dalam hal tersebut.

Ibarat kata, orang ini bertutur “Lho… memang saya pendosa kok, tapi ini bukan tentang saya, ini tentang Tuhan Saya.”

Rupanya, para ulama, para arifin, bisa menulis berjilid-jilid buku dan ribuan tulisan berjudul-judul, adalah karena mereka berada dalam sikap batin yang merasa hanya sebagai “Story Teller” pencerita, penyampai, tentang rahmat Allah, kebaikan Allah yang mereka rasakan dan mereka lihat sepanjang sejarah hidup mereka.

Tengoklah sejarah dimana para ulama itu semakin banyak bukunya, semakin sering pula menangis. Kenapa menangis? karena mereka sadar diri mereka pendosa. Lho kok pendosa menulis? ya tentu menulis, karena tulisannya bukan tentang diri mereka, tetapi tentang rahmat Tuhannya.

Disitulah, saya menyadari letak kelirunya, sekaligus cermin buat saya pribadi, dan mungkin juga untuk rekan-rekan sesama penulis. Saat kita sudah keluar dari sikap sebagai seorang “Storry Teller” yang menceritakan tentang Allah dan rahmatNya yang tersebar sebar, atau saat kita sudah mulai merubah konteks tulisan menjadi seputar diri kita pribadi, atau mengasosiasikan kebaikan dengan diri kita sendiri, maka kita akan bungkam, karena dicekam perasaan keliru dan bersalah untuk telah menuliskan sesuatu yang sebenarnya kita tidak selayak itu.

Hal itu alarm pengingat yang baik, jika kita tercekat menulis, jangan-jangan kita sudah menjadi terlalu memunculkan diri sendiri, ketimbang menceritakan tentang rahmat Allah yang kita lihat di sepanjang hidup kita.

Seseorang yang menulis, dengan konteks pemaknaan bahwa tulisan itu sama sekali bukan tentang dirinya, tetapi tentang Tuhannya, tentang kebaikan yang dia pulung sepanjang perjalanan, akan selalu menyampaikan tanpa rasa sungkan. Karena konteks dirinya sudah hilang sama sekali. Dirinya memang jelek, tapi Tuhannya tidak.

Cara memandang inilah, yang ternyata menentukan keseluruhan gerak perjalanan kita.

Orang yang selalu memandang pada Tuhannya, dalam tanda kutip, berarti memang selalu mengandalkan Allah di sepanjang perjalanan.

Hal ini semakna dengan perkataan agar orang yang hendak “menuju” Allah, mestinya “mengandalkan Allah”, bukan mengandalkan amal. Maksudnya adalah, saat kita beramal, kita menyadari bahwa La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah, tiada mungkin kita sanggup beramal, tanpa pertolongan Allah. Walhasil, dalam beramalpun, konteks diri sendiri menjadi hilang. Beralih menjadi konteks dimana Allah SWT merahmati hambaNya dengan mentakdirkan hambaNya beramal shalih. Sama dengan konteks menulis tadi, diri kita lebur, hilang konteks tentang kita.

Hal ini semakna dengan dialektika seorang pendosa, apa bisa seorang pendosa dirahmati Allah? Saat seorang pendosa melihat pada konteks dirinya sendiri maka dia akan desperate karena amal manusia mana ada benernya? Pasti banyak cacatnya. Tetapi saat dia melihat pada rahmat Allah, maka dia sadar, memang tak akan sebanding antara amal manusia dan rahmat Tuhan, maka dia bertaubat dan mengharapkan bahwa kebaikan serta rahmat Allah sendirilah yang akan menyelamatkannya, sekali-kali bukan dirinya sendiri. Sama dengan konteks menulis tadi.

Hal ini semakna juga, dengan dialektika ini: Apa bedanya, antara tahadduts bin ni’mah (mensyukuri rahmat Allah dengan menampakkan rahmat itu) dengan sombong? Bedanya adalah, orang yang mensyukuri nikmat Allah dengan berpakaian yang rapih dan baik dari rizkinya yang halal, misalnya, adalah orang yang dalam berpakaian dia mengingati rahmat Allah, konteks dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Sama dengan tentang menulis tadi.

Dan masih kata Ibnu Athoillah: Tanda kesuksesan akhir perjuangan adalah bersandar pada Allah sejak dari permulaan.

Maksud beliau, menghilangkan konteks diri kita sendiri dari apapun saja yang kita lakukan, sama seperti tentang menulis tadi

gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

2 thoughts on “HILANG KONTEKS TENTANG KITA

  1. Jangan berhenti menulis Pak Debu terbang…
    saya pribadi mengucapkan banyak terimakasih dengan adanya tulisan di blog ini (baru 2 kali ini saya

    memberanikan diri menulis comment, sebelumnya kira2 baru kurang dari 1 tahun ini sebagai silent

    reader) saya bersyukur menemukan blog ini… karena benang merah perjalanannya hampir mirip seperti yang saya alami, baik itu rasa galaunya, berbagai pertanyaannya, berbagai pikiran2 yang terlintas. Bedanya saya hanya memendamnya dalam hati karena tidak bisa mengekspresikannya dalam tulisan, dan saya sebagai orang awam hanya bisa “ngaji” di pengajian yang temanya sudah ditentukan oleh panitianya. Saya tidak punya guru Ngaji yang bisa ditanyai tentang kegalauan dan segala pertanyaan yang ada di benak saya terkait kehidupan ini. Namun alhamdulillah dengan pertolongan Allah saya menemukan blog ini. saya banyak baca artikel islami tapi tulisannya hanya berlalu begitu saja karena mungkin kurang mengena di hati atau bisa dibilang belum memberi jawaban bagi saya pribadi. Tapi begitu membaca tulisan di blog ini alhamdulillah saya akhirnya dimampukan untuk memahami kehidupan ini, Analoginya pas dan selalu ditutup dengan kesimpulan yang membuat saya bilang “o.. iya ya..”. Memang jika membaca artikel Debu terbang 1x atau belum pernah mengalaminya pasti tiada meninggalkan kesan.

    Seperti analogi Manisnya Duren yang pernah di tulis disini.. kalau misalnya setelah baca blog ini kemudian saya rekomendasikan tulisan di blog ini ke orang lain dan saya bilang Blog ini bagus lho, Pemilihan katanya Top, Ilustrasinya keren, bisa menjawab kegalauan terkait Tuhan, dll,
    ya belum tentu orang tersebut akan setuju dengan pendapat saya ini, karena mungkin orang yang saya rekomendasikan tadi belum merasakan kegalauan yang sama dengan apa yang saya rasakan hingga saya menemukan jawabannya disini, Mungkin dia akan menemukan jawaban dengan cara lain, bukan dari tulisan di blog ini. Terserah Allah menuntun caranya. Sebagaimana Cara Allah menuntun saya kembali pada NYA melalui blog ini. jadi jangan berhenti menulis Pak.. karena dari tulisan debu terbang ini ternyata setidaknya bisa merubah 1 orang (dalam hal ini saya) untuk terus semangat meniti jalan KEMBALI, iya kembali kepada NYA meskipun tak terhitung mungkin dosa yang saya perbuat, .
    Doa saya untuk sampeyan semoga pahala terus mengalir ..

    Salam

    • Terimakasih sudah membaca Mbak. Begitulah Allah mengajarkan, dengan caranya sendiri.

      Teringat dulu saya awal-awal belajar, saya baca begitu banyak buku, semakin baca semakin ga mudeng.

      Ternyata, logikanya harusnya dibalik, kalau pengalaman batinnya sudah dapat, maka saat membaca buku se-abstrak apapun saja, asalkan pengalaman batinnya sama, kita akan tahu maksud sang penulis.

      Alhamdulillah, pujian bagi Allah yang sudah mengajarkan manusia apa-apa yang tak diketahuinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *