HATI YANG DITANAMI

kecambahBagaimanakah Allah menanamkan keimanan kedalam hati hamba-hamba yang dipilihNya?

Orang-orang yang Allah tanamkan keimanan ke dalam hatinya, kata seorang guru yang Arif, adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam ujian dimana tidak ada lagi tempat berpaut selain daripada Allah SWT.

Seumpama orang tersebut tersesat di dalam hutan, dan anaknya digigit ular, rumah sakit terdekat berjarak ratusan kilometer dan tak ada kendaraan, maka satu-satu tempat meminta tolong adalah Allah SWT, dimana hatinya menjadi bulat seratus persen meminta tanpa ada pengharapan lagi pada makhluk.

Contoh orang-orang yang ditempatkan dalam kepasrahan bulat seratus persen ini misalnya adalah Mashitoh, di zaman fir’aun, yang dilemparkan ke dalam minyak panas menggelegak bersama dengan keluarganya. Contoh lainnya adalah Nabi Ibrahim yang dilempar ke dalam kobaran api. Dan Rasulullah kala perang badar melawan musuh yang jumlahnya berkali lipat lebih dari kaum muslimin.

Harapan terhadap pertolongan makhluk; diputus; karena sudah jalan buntu.

Maka orang yang ditempatkan dalam ujian seperti ini, pengharapannya kepada Allah adalah jauh melebihi berpautnya orang biasa pada Allah SWT. Merekalah yang disebut orang-orang yang Allah tanamkan keimanan kedalam hatinya.

Dahulunya saya mengira bahwa Allah menanamkan begitu saja keimanan. Ujug-ujug, tiba-tiba seseorang beriman dengan teguh.

Saya lupa satu hal, bahwa seseorang dihantarkan kedalam hatinya keimanan dan hikmah adalah selalunya melalui kejadian-kejadian dalam hidupnya. Melalui ujian.

Lalu saya mengatakan kepada sang guru yang arif tersebut. Tentang seorang rekan saya, yang selama ini sepanjang pengamatan saya hidup dalam jalan yang begitu mulus.

Jalannya mulus. Tak banyak gelombang hidup, setidaknya dari yang saya amati. Dan kehidupan yang damai dan tentram. Seringkali menerbitkan rasa yang….”waduh, enak sekali hidup seperti beliau ya?”. Ditambah lagi, dari segala kemudahan dan kenyamanan hidup itu, dilengkapi pula dengan kenyataan bahwa rekan saya itu orang yang berjiwa sosial dan saya dapati sebagai orang yang baik.

Tetapi, dalam lain sisi, saya mengamati bahwa kajian tasawuf yang pelik dan mendalam; sulit dipahami oleh rekan saya itu.

Saya katakan kepada guru yang arif, inilah paradoks hidup yang saya amati. Kehidupan yang nampaknya sulit, tetapi di lain sisi menaikkan paradigma berfikir sehingga menjadi lebih tinggi dan menjadi paham bahasan tasawuf yang rumit. Dan kehidupan yang nampaknya bahagia dan mulus, tetapi akan menjadi sulit memahami paradigma yang lebih tinggi.

Apa jawab beliau?

Jawab beliau, mengagetkan saya. Bahwa kebanyakan penghuni syurga itu adalah orang-orang yang berhati luhur. Meskipun “sederhana”.

Mereka bukan orang-orang yang paham ilmu makrifat yang pelik-pelik. Mereka bukan orang yang paham kajian yang tinggi-tinggi. Orang-orang awam yang keluhuran hati mereka “membuat Allah ridho pada mereka”. –saya teringat contoh seorang pelacur yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing-.

Walhasil, melaksanakan syariat dengan sebaik-baiknya, dan hidup dalam keluhuran budi, sudah cukuplah.

Disini baru saya tersadar. Setelah dijelaskan oleh beliau, sebenar-benar makna dari ungkapan Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam futuh Al-Ghaib. “Telah nyata, jika berkhidmat pada Allah terdiri dari sepuluh bagian, sembilan diantaranya terletak dalam diam.”

Dulu saya mengira, bahwa ketinggian berkhidmat pada Allah itu adalah dengan “diam” dan tak banyak omong.

Ternyata maksud Sang syaikh adalah : keridhoan (diam) itu bernilai 90% lebih utama dibanding peribadatan lainnya.

Pasalnya keridhoan (diam) ini adalah nilai-nilai yang aktif kita gunakan dalam memaknai kita punya hidup. Setiap saat pemaknaan ini dipakai, maka dia begitu utama.

Seseorang yang diuji, dengan ujian, dia ridho pada ujiannya, lalu diberikan jalan keluar. Yang dengan itu dia bisa memaknai hidup dengan pandangan yang tinggi yang lebih dari kebanyakan awam. Maka itu baik baginya.

Dan seseorang yang hidup dalam kehidupan yang biasa saja, tetapi dia ridho dan syukur atas kehidupannya, lalu melanjutkan peran dalam keluhuran budi, maka itu baik baginya pula.

Inilah rupa-rupanya maksud dari Syaikh Abdul Qadir Jailani, masih dalam Futuh Al-Ghaib, agar kita bersyukur atas “maqom” yang diberikan pada kita. Karena nanti Allah sendiri yang akan menaikkan derajat kita.

Para arifin, memandang ibadah sebagai sebuah “impact” dari kondisi maqom yang Tuhan berikan. Ibadah, dalam pandangan sufistik adalah wujud dari anugerah. Anugerah itu akan dihantarkan lewat pengalaman hidup kita sendiri-sendiri. Makna yang kita serap lewat pengalaman hidup itu; kelak menajamkan peribadatan, dan berbuah amaliyah.

Tetapi, yang paling utama adalah ridho. Karena tidaklah seseorang masuk syurga karena amalannya, melainkan karena rahmat Allah (ridhonya Allah pada mereka, karena mereka ridho pada Tuhannya).

Dengan ridho, dan menjalankan kehidupan penuh kebersyukuran, dibingkai syariat, dan keluhuran budi pada sesama, insyaAllah akan diperjalankan menapaki tangga-tangganya sendiri nanti.

Oooooh… inilah dia kunci hidup. Sekarang saya tak lagi banyak ingin ini itu. Maksudnya dalam menapaki spiritualitas, di tangga yang sekarang pun okelah… cukup, dan mari kita nikmati.

Karena setiap kenaikan tangga, adalah juga berarti naiknya ujian. Dan maqom yang di atas, berarti pula, dalam bahasa Syaikh Abdul Qadir Jailani, adalah seperti tempayan pecah. Dihancurkan sampai tak lagi mengandung air (aku), hingga dia siap menjadi pribadi baru.

Tapi lagi-lagi sang guru mengingatkan, bukan kita yang memilih, Allah yang memilih…. Hehehe

Hidup dalam ridho, dan tak usah dipikir-pikir. Demikianlah.

::

*) Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *