HARMONI DUA PENDEKATAN (2)

Istri saya mengirimkan sebuah gambar lewat Whatsapp. Foto anak saya mau berangkat mengaji. Saya menebak itu foto anak saya sedang ngambek ga mau berangkat.

Ternyata saya keliru, bukan foto mengambek, melainkan foto itu maksudnya pengen menunjukkan anak saya pakai kerudung mamanya.

Saya melihat dengan “kacamata” saya sendiri. Dan menafsirkan hal diluar diri saya lewat kacamata itu.

Begitupun spiritualitas. Kita memandang Tuhan juga mau tak mau lewat kacamata pengalaman hidup kita yang manusiawi itu. Lewat kesulitan hidup, lewat kemudahan hidup, lalu kita memandang-Nya dalam sifat-sifat.

Seperti saat sholat. Dalam konteksnya sebagai pengagungan, pujian, permohonan, maka sholat adalah mengagungkan, memuji, DIA karena sifat-sifatNya yang kita temukan dalam hidup kita. Guru bilang, inilah approach pintu depan.

Tapi selain ini, ada lagi approach “pintu belakang”.

Yaitu melepas semuanya. Melepaskan diri dari fikiran-fikiran, dari rasa, dan interpretasi kita terhadap kejadian hidup.

Hanya “ingat” saja. Tanpa persepsi. Istilahnya yang dituju adalah DIA semata-mata. Bahkan tak memasuki pintu sifat-sifat fi’liyahNya.

Adab pintu depan, adalah mempersepsi DIA dengan sifat yang layak bagi-Nya.

Adab pintu belakang adalah tak memasukkan apapun saja selain dari ingatan akan-Nya dalam hati kita.

Lewat yang mana saja ternyata memang harus disyukuri. Approach pintu belakang ternyata sering kali dihantarkan lewat ujian yang membanting-banting.

Benarlah guru mengatakan. Yang tinggal hanyalah Ibadah. Banyak diam. Dari sepuluh ibadah, sembilan diantaranya dalam diam. Begitu kata Syaikh Abdul Qadir Jailani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *