HADIAH DARI PAK RW YANG KETUS

angrySaya heran juga mengapa beliau begitu ketus. Pagi tadi saya menemui pak RW di alamat rumah saya yang dulu, untuk meminta tanda tangan surat pengantar. Sambutannya tak seperti biasa, kali ini sedikit ketus.

Saya membatin barangkali beliau sedang sibuk atau sedang banyak problem, okelah tak apa. Karena sopan santun dan unggah-ungguh sebagai warga, saya tak tampilkan raut tidak suka, padahal saya juga rada kesel karena beliaunya ketus, hehehe.

Sepanjang perjalanan pulang, saya “tersadarkan” sebuah fakta, bahwa meskipun dalam status sebagai seorang warga, saya menampilkan bentuk kesopanan. Tetapi sebagai seorang pribadi, di dalam diri saya, yang lebih dalam dari tampilan “seorang warga”, ada pribadi yang sedang kesal.

Kita bisa mengelupasi status warga dari diri seseorang. Sebagaimana status RW atau RT atau lurah, atau macam-macam status bisa kita lepaskan dari pribadi seseorang.

Umpamanya sepulang kita dari kantor, di rumah kita sudah bukan direktur lagi. Tetapi kita hanya seorang Bapak, atau seorang suami misalnya.

Permasalahannya adalah, kita selama ini “terhenti” sebatas mengelupasi status yang di luar itu saja. Tidak sampai “yang paling dalam”.

Misalnya kita buang status manajer di kantor. kita hanya seorang Bapak. Kita buang status sebagai Bapak di rumah, maka kita hanya seorang manusia yang umpamanya bernama “Hasan”. Kita hanya bisa sampai sini saja, biasanya.

Padahal, kalau kita masuk lebih dalam lagi, sesuatu yang kita kenal dengan nama “Hasan” itu pun masih bungkus. Baju mental. Yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan kumpulan ilmu yang dimiliki. itulah Hasan. itulah Ego bernama Hasan. Kalau kita jeli, di dalam sana, ada “yang mengamati”. Dia bukan “Hasan”, bukan sesuatu yang selama ini kita kenal dengan diri kita.

Dibaliknya Hasan, ada sesuatu yang sadar dan merekam semua pengalaman hidup itu. Dalam literatur islam, itulah disebut “hati”. Bahasanya Imam Ghozali, hatilah fakultas ilmu. Tempat segala pengalaman hidup dan tempat segala ilmu dan pelajaran terekam. itulah ‘hamba’.

Secara jujur saya akui, dalam beribadah misalnya, saya seringkali masih berbungkus baju mental. Bukan sebagai ‘hamba’.

yang mengadu masih baju Ego. Jika saya bernama Hasan, maka yang mengadu adalah Hasan. Karena Hasan adalah kumpulan pengalaman hidup, maka Hasan memandang Tuhan dalam kacamata manusiawi si Hasan.

Tak urung, Tuhan terpandang dalam citra yang bersifat-sifat, sesuai dengan kacamata Hasan.

Jika Hasan sedih, dipandangnya Tuhan dalam citra Yang Menghapus kesedihan.

ini pun sudah bagus, tapi harus hati-hati, agar hanya menyifati Tuhan dengan sifat yang layak bagiNya. seumpama Asmaul Husna.

Tetapi jika bisa masuk lagi, lebih dalam dari sebatas baju Ego si Hasan. Maka akan ditemui yang hamba itu.

yang bukan direktur, bukan bapak, bukan Hasan, bukan macam-macam peranan apapun. Tetapi yang menyaksikan pagelaran. hamba yang menyaksikan.

Jika hamba yang menyaksikan itu yang berdo’a, maka karena dia tidak berbaju ego dan tak berbaju mental apapun, DIA tak memandang Tuhan dalam citra sifat-sifat yang bermacam-macam. Sang hamba memandang Tuhan sebagaimana DIA saja. yang tiada umpama.

Tersadarlah saya, bahwa pak RW yang saya temui tadi pagi pun hanya baju. Baju terluar bahkan. dibaliknya mungkin ada seseorang yang bernama -katakanlah- Pak Raden misalnya.

Dan pak Raden pun hanya baju peranan. Di sebaliknya Pak Raden ada sang hamba yang juga mengamati dan menyaksikan.

kita dan mereka sama saja.

Lalu kesal saya pun hilang


*) Image Sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *