HABIS MODAL DAN TAK BERSISA

Teringat saya dalam sebuah kesempatan pertemuan di San Antonio Texas, saya menyaksikan para petinggi perusahaan tempat saya bekerja duduk bersama dengan analis dari Wall Street, dalam sebuah panel diskusi. Disitu saya merasa sungguh saya bukan siapa-siapa. Kecil dan hanya penonton.

Sewaktu kuliah dan masa SMA sebelumnya dulu, saya merasa cukup bangga dengan kemampuan saya berbicara. Maka seringkali saya mengandalkan kemampuan retoris untuk menghadapi banyak persoalan. Termasuk dunia kerja.

Setelah menapaki karir dalam dunia kerja, pelan-pelan saya menyadari bahwa saya berada dalam pusaran ratusan orang dengan kemampuan retoris yang memukau. Untuk tidak mengatakan hampir keseluruhannya mengungguli saya. Kecerdasan secara akademis apalagi.

Jadi dalam urusan soft skill dan intelektualitas, di dunia kerja saya habis dan dikuliti.

Saya mencari celah dalam keberagamaan dan spiritualitas. Tetapi juga sama saja. Dalam sekejap saya menemukan pusaran orang-orang dengan lelaku peribadatan yang menyalip saya -atau selalu di depan saya dan saya tak berhasil bahkan tuk sekedar mendekati mereka- jadi dalam urusan akhirat pun saya habis dan dikuliti.

Dari sana saya akhirnya dengan jujur mengakui bahwa saya hanya beruntung. Untuk diperjalankan tanpa modal.

Untuk telah masuk dalam sebuah pekerjaan yang menjaminkan saya kehidupan yang tidak sulit, dan cukup makan. Alhamdulillah. Padahal jikalah melihat kemampuan diri dan kecerdasan, sungguh saya sangat mudah untuk dipecundangi persaingan yang ketat dan tajam di sekitar saya ini.

Dan saya akui pula saya beruntung. Untuk tertakdir mengenali cara pandang spiritualitas yang saya lihat tak semua rekan saya mengerti tentang ini. Pengenalan dengan modal yang sama sekali bukan kecanggihan amal dan fantastisnya lelaku, alih-alih lewat kehidupan yang membanting-banting saya sehingga cara pandang lama harus dirombak mau tak mau agar tetap bertahan dalam dilema.

Jadi apa modal saya? Tak ada modalnya. Habis dan tak bersisa.

Dari sana saya akhirnya mengerti bahwa keakraban pada Tuhan tidaklah dibangun dengan modal lelaku dan peribadatan -semata-, alih-alih menyadari kerendahan dan kekurangan diri dalam takdir hidup kita sekarang, dan berakrab pada Tuhan yang mentakdirkan hidup kita seperti sekarang. Maka kita bisa “kembali” tak peduli dimanapun posisi kita saat ini.

Lewat perjalanan yang tak punya modal itulah, setiap kita akan punya kesempatan yang sama untuk bertemu Tuhan. Bromocorah yang hina dina dalam pandangan masyarakat, atau seorang alim ulama yang disegani, juga punya jenak kedekatannya sendiri pada Tuhan.

Jalannya adalah perjalanan kita sendiri-sendiri. Seorang perampok tidak akan putus asa untuk menemui Tuhan jika mengerti bahwa perjalanan ini sejatinya tidak perlu modal yang aneh-aneh. Karena sebetapapun rampok dan kacaunya dirimu, DIA tetap menerima keberserahan diri, dan pengakuan bahwa kita sudah keliru, salah, hilang arah, tapi ingin kembali.

Karena taubat adalah “kembali”. Maka namanya “kembali” mestilah muara dari segala arah. Tak peduli atas bawah atau kiri kanan, selama ingin kembali maka kesitulah arahmu pulang.

Bukan amal dan kecerdasan. Melainkan karena dia ingin kita “kembali” maka kembalilah. Meski tak ada modal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *