EMPATI YANG BERBAHAYA DAN PENANGANAN SUFISTIKNYA (2)

MEMBANGUN KEMBALI BATAS-BATAS PERSONAL ALA PSIKOLOGI BARAT

Mengetahui fakta ini, bahwa batas personal  (personal boundaries) itu penting agar kita tidak menyerap emosi-emosi random dari orang-orang, saya mencari tahu bagaimana caranya agar batas personal atau pertahanan mental itu kembali dibangun?

Kalau caranya orang barat dengan trik psikologi mereka, adalah pertama dengan keilmuan. Yaitu dengan menyadari bahwa setiap orang bertanggung jawab atas emosi mereka masing-masing. Jadi mau tak mau belajar untuk “tegaan”. Dan kita harus menyadari bahwa kita tidak bertanggung jawab untuk emosi orang lain.

Contohnya, misalnya ada teman kita punya masalah di kantor kok ya ga fokus gitu. Kita melihat masalah sebenarnya ternyata teman kita itu suka begadang akhirnya ke kantor sering telat dan di kantor ngantuk.

Nah….. kalau tadinya kita bersikap welas asih dengan orang tersebut, kita kok kasihan melihat dia dimarahin bos terus, kok ya ga tega ngeliat dia dipermalukan dengan diterakin bos di hadapan orang banyak, kita jadi sedih mendalam dan merasakan kesedihan orang itu, itu adalah welas asih, tetapi kita tidak membuat batas-batas personal.

Sebaliknya, menurut Mark Manson cara menolong orang itu dengan tetap membangun batas-batas personal yang tegas adalah dengan memberi tahu dia, “Eh, ini salahmu sendiri lho, begadang terus tiap malam. Kalau mau brenti dimarahin bos ya kamu jangan begadang. Masuk yang rajin jadi kalau pas kerja itu ga ngantuk.” Jadi kita membantu, tetapi dengan “agak tega”. Karena kesedihan orang itu ya tanggung jawab dia sendiri

MENGATASI EMPATI AGAR TIDAK KEBABLASAN, DENGAN CARA SUFISTIK

Nah, karena kebetulan saya sukanya kajian sufistik, kalau menerapkan ala-ala barat tadi rasanya kok kurang gimanaa gitu. Alhamdulillah tak lama akhirnya menemukan jawabannya.

Yang pertama, memperbaiki dulu tentang paradigma kita terhadap “masalah”. Bahwa “masalah”, atau apapun saja di dalam hidup ini sebenarnya adalah pengaturanNya, menceritakan diriNya. Jadi tidak ada masalah yang random, karena sesungguhnya yang terjadi adalah takdir yang sedang bergulir. Dan takdir itu ada urut-urutannya, meskipun hikmah tidak kelihatan sekarang, boleh jadi dia akan terlihat nanti setelah tahunan berlalu.

Dan ini kuncinya, setiap orang sudah memiliki takdirnya masing-masing. Jadi dengan terus menerus mengingatkan diri kita sendiri akan fakta ini, membantu membangun kembali batas-batas personal yang sudah lebur karena sikap welas asih yang agak keliru tadi.

Dengan memahami fakta ini, kita akan menjadi sadar bahwa tidak boleh “terlalu banyak ikut campur” dalam kehidupan orang lain. Kita membantu sebisa kita, tetapi yang sebenarnya sedang terjadi adalah takdir Allah sedang berlangsung buat orang itu, dan juga buat kita sendiri. Kita bisa menolong karena takdir, masalah selesai karena takdir, atau kita hanya bisa berbuat sebegini saja itupun takdir juga. Dengan memahami ini, membebaskan kita rasa andil yang tidak perlu dan dari rasa bersalah yang tidak perlu.

Melihat orang lain, akhirnya kita mengerti mengenai takdir yang berjalan. Dan kita menyadari bahwa kita bergerak mengikut rentak takdir. Kita tetap menolong, tetapi kita paham apalah daya upaya manusia ini sedangkan takdir sudah tersusun demikian rapih.

Cara kedua, adalah dengan praktik yang lebih spiritual. Yaitu kita “masuk ke dalam”. Ingat Allah. Dan kita pandang kehidupan “di luar” diri kita sebagai drama yang sedang berjalan. Dengan ini kita “detached”, melepaskan keterikatan yang tak perlu dengan dunia “di luar”.

Kisah yang menarik dan sudah pernah saya tulis sebelumnya adalah kisah Arjuna dalam perang BarataYudha, dimana arjuna yang welas asih kemudian gemetar dan berasa ingin lari dari medan perang karena merasa tidak tegaan dan tidak ada gunanya berperang menumpahkan darah sesama saudara.

Dalam kegamangan itu, Arjuna dinasehati oleh Khrisna mengenai kehidupan. Dan Arjuna akhirnya menjadi paham bahwa dirinya hanyalah “pemain” dalam drama hidup ini, dimana dia berlakon mengikut kisah dalam takdir kehidupan. Jadi Arjuna mengambil tindakan, tetapi secara spiritual memahami bahwa dia harus melepaskan dirinya dari keterikatan dengan tindakan itu.

Orang-orang yang memahami ini barulah bisa mengemban amanah-amanah yang besar. Dia membangun batas-batas personnal-nya dengan kepahaman tentang takdir, dia membantu orang lain dengan berlepas diri dari keakuan yang tidak perlu.

Tentu banyak lagi teknik-teknik lainnya, tetapi dua teknik ini yang secara sufistik saya pahami dan terasa berguna.

Dengan itu, kepekaan seorang empath bisa lebih terarah.


note:

sumber gambar

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *