EMPATI YANG BERBAHAYA DAN PENANGANAN SUFISTIKNYA (1)

Seorang direktur, dihadapkan pada keputusan yang sulit yaitu harus mem-phk sebagian karyawan. Perusahaan terancam bangkrut dan keputusan yang pahit –tetapi perlu- itu harus diambil, untuk menghindari kerugian yang lebih banyak dan berimbas lebih masif. Kalau sebagian tidak di PHK nanti perusahaan beneran bangkrut dan gulung tikar mempengaruhi seluruh karyawan.

Singkat cerita hari yang ditentukan tiba dan putusan phk yang berat itu “diketuk palu” direktur tersebutlah yang harus mengumumkannya. Seorang direktur yang berhati lembut akan mengalami “guncangan”, karena tidak tega hati. Rasa sedih, rasa kecewa, dan kemarahan karyawan dirasakan juga oleh sang direktur. Akan tetapi, kok ada yang aneh…. yang dirasakan direktur itu melebihi sekedar rasa simpati, atau ikutan bersedih, alih-alih direktur itu merasakan emosi yang kuat itu BENAR-BENAR ada di dalam dirinya.

Seperti dia sendiri yang mengalami kesedihan itu. Dadanya terasa seperti ada sesuatu yang menggumpal, menempel, sedih yang dalam sampai terasa ke fisik.

Orang semacam itu (seseorang yang mengalami “persis” gejolak emosi orang-orang lain yang terkait dengan dirinya) disebut seorang “empath”. (dari kata empathy atau empati).

Orang-orang yang masuk kategori sebagai seorang “Empath” ini berbeda dengan sekedar orang-orang yang punya empati (empathy) biasa.

Bedanya adalah kalau empati biasa, itu orang bisa ikut sedih atau ikut bahagia melihat kesedihan atau kebahagiaan orang lain. Tetapi yang sebatas itu aja, seperti biasa saja, sedih ya sedih, tapi setelah itu ya sudah.

Tetapi seorang yang masuk dalam kategori “empath” dia akan merasakan jauuuuuuh lebih dalam. Sehingga seolah-olah dirinya sendirilah yang sedih. Benar-benar sedih itu masuk dalam dirinya, sehingga dia kadang-kadang kesulitan membedakan apakah kesedihan ini kesedihan dirinya atau kesedihan orang lain? Dia ibarat spons (spons cuci piring itu lho). Dia menyerap emosi-emosi orang lain kedalam dirinya, tanpa filter yang kebanyakan dimiliki oleh orang-orang umum[1].

Seseorang yang masuk dalam kategori “empath” ini, bisa merasakan detail emosi orang lain meskipun berada pada jarak yang jauh. Atau boleh jadi berada dalam jarak yang dekat, meskipun orang lain itu tidak berkata-kata atau tidak menampakkan raut muka yang sedih, tetapi emosi kesedihannya bisa terasakan oleh seorang “empath”.

Jadi misalnya tadinya mood-nya si empath ini biasa-biasa saja, tapi saat dia masuk dalam satu ruangan, dia tiba-tiba merasakan kesedihan mendalam, pasalnya ada di ruangan itu orang yang sedang sedih yang sangat dalam. Kesedihan orang itu terserap pada dirinya. Meskipun orang itu tidak berkata-kata atau menutupi raut kesedihan itu, tetapi “terbaca”.

Hal ini seperti pedang bermata dua, dalam satu sisi boleh jadi hal itu dipandang sebagai “anugerah”, karena dengan kepekaan atau sensitivitas semacam itu maka seorang empath akan mengetahui emosi sebenarnya dari orang-orang yang didekatnya, tetapi di sisi lain kepekaan seperti itu akan menyulitkan dirinya sendiri. Karena dia akan sulit menjalani hidup seperti biasa saat negativitas emosi orang lain terus menerus menempel menyambangi dirinya.

Bayangkan saja, saat akan rapat, harus meeting, ujug-ujug ada emosi kesedihan dan kebingungan yang tiba-tiba datang dan menempel. Bisa saja itu emosi orang dekatnya yang berada pada jarak yang jauh bahkan lintas pulau. Atau boleh jadi itu emosi yang random dari orang-orang disekitarnya, mungkin orang-orang satu kantornya.

Tanpa pengetahuan dan ketrampilan memisahkan emosi dirinya dan emosi orang lain, seorang “empath” akan mengalami kebingungan karena seolah-olah dirinya sendiri yang sedih dan takut. Hal seperti ini bisa mengganggu.

MENGAPA SESEORANG BISA MENJADI “EMPATH”?

Saya sadur dari bukunya Judith Orloff, The Empath’s Survival Guide, Life Strategies for Sensitive People, dan beberapa dari pengamatan personal saya sendiri, banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang menjadi “empath”.

Ada orang-orang yang secara natural terlahir sebagai seseorang yang lebih peka dengan emosi-emosi, karena keturunan. Atau boleh jadi pola pengasuhan sejak kecil. Atau mungkin bisa jadi ini hasil dari “latihan”, ada orang-orang yang menyegaja untuk peka merasakan emosi-emosi dan mereka berlatih untuk itu. Banyak hal…. tetapi saya tertarik membahasnya dari sisi poor personal boundaries, atau lemahnya pertahanan atau batas-batas personal orang tersebut.

Seperti apa itu?

Secara umum, kebanyakan orang akan memiliki batas-batas yang tegas (boundaries) sebagai pertahanan mentalnya.

Tapi ada sebagian orang lain yang punya tabiat welas asih, penyayang, ga tegaan, dia tanpa sadar terus menerus membuka pertahanan dirinya, sehingga batas-batas personnal itu tidak tegas lagi.

Misalnya, ada keluarganya yang sedang dalam kesulitan, ini orang karena memang tabiatnya welas asih, dia memikirkan masalah orang tersebut, dan dia merasa sedih, seolah-olah dirinya sendirilah yang gagal membantu. Bagi dirinya, dia harus jadi problem solver, harus menjadi pemecah masalah orang lain, harus menjadi yang membantu orang lain sebisa mungkin. Karena rasa welas asih dalam dirinya sudah tumbuh dan berkembang.

Tabiat seperti ini bagus, jika menjadi penggerak untuk berbuat. Tetapi menjadi bumerang saat rasa welas asih itu membuat personal boundaries menjadi hilang. Batas-batas personal menjadi hilang. Sehingga bukan saja ikut bersedih karena orang lain sedih, tetapi secara REAL merasakan setiap jengkal emosi kesedihan orang lain. Karena bagaimanapun itu setiap orang sebenarnya bertanggung jawab atas emosi mereka masing-masing.

Contohnya mungkin begini. Ada seorang yang suka membaca, lalu suatu hari ada bazar buku. Dia ingin pergi membeli buku, tetapi dia urungkan niat membeli buku itu karena ada temannya yang sedang tidak mau jalan, dan mau santai saja di rumah. Nah…. Seseorang yang welas asih ini tadi membatalkan niatnya beli buku, karena merasa tidak enak, dalam persepsi dia kalau dia berangkat kan kasihan temannya ini tadi ada yang nemenin, nanti kesepian.

Padahal, boleh jadi temennya juga santai-santai aja di rumah ga kemana-mana, tetapi seseorang yang punya welas asih tinggi ini tadi kadang-kadang melampaui batas dan – dalam istilah psikologi yang saya kutip dari bukunya Mark Manson[2] orang ini membuang batas-batas personalnya, dan mengira bahwa dirinya bertanggung jawab atas emosi orang lain.

Ini rasa empati yang kebablasan. Dia selalu memikirkan orang lain, tetapi rasa welas asih itu tidak –semata- berubah menjadi tindakan menolong, alih-alih dia merasakan kalau orang lain susah itu salahnya dia karena gagal menolong.

Terus menerus berada dalam sikap seperti ini, kemudian pada gilirannya mengaburkan batas-batas personal orang tersebut. Sehingga dia menjadi seperti spons yang menyerap emosi-emosi orang disekitar, karena orang-orang itu berada dalam kondisi “butuh pertolongan”, dan bertemu dengan dia yang batas personnalnya sudah dia buka dengan sikap welas asihnya itu.


[1] The Empath’s Survival Guide, Life Strategies for Sensitive People – Judith Orloff

[2] The Subtle Art of Not Giving a F*, -Mark Manson

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *