EINSTEIN, STEPHEN HAWKINGS, DAN PARA PENCARI DI REL KEHIDUPAN

Apakah Einstein percaya Tuhan? saya tertarik membaca-baca ulang bahasan ini di internet, berkait dengan wafatnya seorang saintis besar masa kini, Stephen Hawkings. Apakah Stephen Hawkings, dan Einstein percaya Tuhan?

Kita tentu tidak dalam rangka menghakimi. Saya tertarik membaca ini dengan memaknai bahwa para saintis juga adalah orang-orang yang berjalan mencari kebenaran. Mereka menaiki kereta ilmu pengetahuan.

Menarik mengetahui fakta bahwa Einstein mendefinisikan dirinya sebagai seorang agnostik. Religious non believer. Tidak menganut suatu agama tertentu.

Einstein mengatakan dia tidak percaya tuhan dalam konsep “personal god”. Bagi Einstein, dia tidak percaya kalau tuhan dipersonifikasikan seperti manusia, seperti person.[1] Begitu juga Stephen Hawkings, dia tidak percaya adanya tuhan. Dalam artian tuhan berbentuk personal[2].

Mengapa mereka tidak percaya tuhan itu person? Karena mereka melihat dunia ini begitu luasnya, dan keseluruhan kehidupan ini diatur oleh hukum-hukum alam yang sedia ada. Sedangkan selama ini iklim keberagamaan mempersepsikan tuhan dalam bentuk persona. Memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang nyatanya tidak mereka temukan dalam kajian sains mereka.

Maka menjadilah mereka seorang atheist, atau setidaknya agnostik. Kalaupun Tuhan itu ada, menurut mereka, pastilah tuhan itu bukan person.

Sebenarnya, mereka ini saya pikir orang-orang yang selangkah lagi sampai pada konsep ketuhanan dalam pandangan sufistik. Mereka sudah tahu bahwa tidak mungkin tuhan itu seperti person. Dan untuk sampai pada kesimpulan itu, mereka telah melakukan perjalanan yang begitu panjang.

Pertanyaan berikutnya, karena tidak mungkin tuhan itu person, sedang alam ini begitu besar, dan hukum-hukum alam begitu teratur. Maka kesimpulan yang paling masuk akal bagi kalangan saintis ya tuhan itu adalah alam ini sendiri. Toh setelah diobservasi kemana-mana yang ditemukan hanya alam dan keteraturannya.

Kesimpulan seperti ini sungguhpun kita tak bersetuju, sebenarnya sangat dekat dengan kesimpulan sebagian spiritualis dunia timur yang “mencari tuhan” lewat jalur keruhanian. Mereka melakukan tirakat yang berat, dalam upaya mengetahui tentang ketuhanan. Hingga sampai pada pengalaman keruhanian yang menyadari bahwa keseluruhan ciptaan ini sebenarnya satu. Mereka mencari tuhan lewat jalur keruhanian. Dan bertemu pengalaman ruhani bahwa dunia ini satu kesatuan.

Kesimpulan itu, sama dengan kajian saintifik bahwa keseluruhan ciptaan di alam ini sebenarnya satu, atau pada dunia yang mikro bahwa semua yang ada di alam ini tidak lagi mempunyai keragaman dan sesungguhnya satu kesatuan. Kalau bisa kita meneliti terus ada apa disebalik ciptaan? Ada apa di balik atom? Adakah lagi keragaman bentuk dan sifat? Kenyataannya semakin kedalam semakin hilang keragaman dan semakin satu. Di dunia makro bentuk terlihat berbeda, beragam dan seolah terpisah. Di dunia mikro keragaman hilang, dan keterpisahan menjadi tidak ada.

Berangkat dari pengetahuan itulah, sebagian spiritualis, mengira dibalik semua ciptaan yang sesungguhnya satu kesatuan, adalah Tuhan itu sendiri. Sedangkan para saintis mengira bahwa dimana-mana yang ada hanya alam dan keteraturannya sendiri. Maka alam atau universe inilah Tuhan.

kurang tepatnya pandangan ini, baru saya mengerti dari kajian Ust. H. Hussien Abd Latiff.

Bahwa benar, tuhan itu bukan persona. Benar bahwa semua ciptaan ini dari sudut mikro adalah satu kesatuan dan tiada perbedaan. Hanya saja, hakikat atau unsur dibalik kesemuanya ini adalah setitik dzat (yang DIA ciptakan). Bukan DIA itu sendiri.

Semua keragaman bentuk, keragaman sifat-sifat, melekat pada suatu unsur ciptaan. Dalam literatur sufistik, unsur atau hakikat semua ciptaan itu dibahasakan dengan “dzat”. Seperti apa “dzat” ini? Tidak ada yang tahu. Tetapi dzat ini datang dariNya, dan merupakan senoktah kecil yang tak terbandingkan dengan keMaha besaran-Nya. Bukan DIA itu sendiri. DIA itu tetap DIA, Allah SWT Sang Pencipta, dan makhluk itu ya makhluk.

DIA tetap Maha Besar. Tak serupa apapun. Tak tersentuh apapun.

Inilah jalur profetik. Keberagamaan atau keruhanian yang dirintis para Nabi. Pengetahuan tentang ketuhanan, tidak diperoleh dari percobaan saintifik empiris, atau dari tirakat ruhani. Melainkan berdasarkan wahyu dan atau ilham. Disampaikan oleh yang memang mengerti tentang ilmu ini, dalam hal ini saya baru mengerti setelah dijabarkan oleh Ust H. Hussien Abd Latiff.

Dan setelah mengetahui tentang ketuhanan, hubungan Tuhan dan alam semesta, bagaimana Tuhan mengatur alam semesta. Yang tinggal bagi kita adalah ibadah sesuai dengan yang disyariatkan para Nabi. Hidup dalam sikap kehambaan. Dan belajar ridho pada keadaan. Karena, seperti yang dikatakan para saintis, semuanya sudah sangat teratur, seperti kita hidup dalam soap opera. Bahasa islamnya, takdir.

Suatu masa kelak, saya rasa sains dan pendekatan sufistik akan bertemu di rel yang sama. Sains menjadi lebih sufistik dan penjabaran tasawuf menjadi lebih berdalil dan dimengerti, karena masuk akal. Kita tunggu bersama, dua jalur itu bertemu insyaallah.

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Religious_and_philosophical_views_of_Albert_Einstein

[2] http://time.com/5199149/stephen-hawking-death-god-atheist/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *