DZIKIR KOPI PAK GEMBONG

20130409-154452.jpgAwal mula pak Gembong dan Hasan berkenalan adalah kala hujan lebat sore-sore sekitar berapa bulan lalu. Orang-orang berebut pulang ke rumah dengan menumpang mobil antar-jemput kantor, tapi Hasan kalah cepat. Mobil kantor yang memang terbatas itu sudah penuh, terpaksa pulang menggunakan bus kota. Tapi hujan seperti ini jalanan pasti porak-poranda. Maka Hasan kembali ke kantornya hendak tidur-tiduran saja dulu di musholla, sambil membaca buku. Waktu itulah pak Gembong menyapanya kala melewati koridor. “Mampir dulu mas, ngopi-ngopi”. Kata pak Gembong.

Hasan berbelok masuk ruang kopi di pinggir koridor jalan menuju musholla. Lalu diseduhkan segelas kopi oleh Pak Gembong. Ngobrol ngalor ngidul sekedar membunuh waktu. Hasan yang memang sifat bawaannya gampang bergaul itu lalu merasa cocok ngobrol dengan Pak Gembong. Dia merasakan hawa kebaikan dari Pak Gembong. Entah bagaimana itu. Dari situ dia mulai kenal lebih dalam tukang serba bisa di kantor-nya itu. Tidak terlalu jelas apa pekerjaan sebenarnya pak Gembong. Dikata office boy, tapi bisa mengedit draft-draft laporan sedikit kalau dimintai tolong, bisa juga jadi tukang jilid, bisa juga jadi tukang buat mie rebus kalau lagi beredar di ruang kopi. Membuat kopi apalagi. Secangkir kopi dan berjam-jam curhat tentang makna hidup.

Hujan tidak berhenti juga waktu itu, hari sudah semakin gelap. Hasan undur diri. Sebelum pulang Pak Gembong menawarkan menyeduh kopi lagi, kopi jahe, disimpankannya dalam sebuah tempat minum perak yang sudah pudar-pudar. Hasan menerimanya dengan riang lalu berjalan pulang.

Pak Gembong memandangi Hasan sambil tersenyum. Senyum yang kharismatik dan kebapakan. Tapi Hasan tidak melihatnya. Sama seperti dari tadi dia tidak memperhatikan sebuah tasbih kecil di genggaman Pak Gembong, tasbih yang tetap dia putar pelan di tangannya, meski saat mereka ngobrol ngalor ngidul dan tertawa tadi. Pak Gembong masih melarut dzikirnya.

***

Hasan sebenarnya selalu bisa menemukan sisi keasyikan dari segala dinamika Jakarta. Saat macet misalnya, dia tetap santai saja di jok belakang mobil jemputan kantornya dan menghabiskan buku-buku bacaan yang dia beli dari Gramedia. Saat banjir mulai menggenang pada sebagian jalan misalnya, dia santai saja memasukkan sepatu dalam tas dan mengenakan sandal capit, jangan dibuat pusing, itu prinsipnya.

Maka perjalanan serunyam apapun dalam dinamika Jakarta, dianggapnya sebuah hiburan saja, itung-itung wisata. Seperti waktu dia terjebak hujan lebat, sedang tak ada jemputan, sambil santai saja dia mengeluarkan tempat air minum dari dalam tas-nya, sudah diisi kopi panas dari ruang kopi Pak Gembong sejak dari pulang kantor tadi. Hujan dan kopi panas, apalagi yang kurang?

Satu-satunya yang tidak bisa dia ambil sela enjoynya adalah saat bos-nya diganti, dan lalu bos baru yang sekarang memperlakukan segala bawahannya seperti kuda karapan. Pecut sana-sini. Tidak terima silakan keluar. Dan Hasan sudah luar biasa suntuk dengan model relasi seperti ini.

Hasrat hati ingin pindah kerja saja rasanya. Belum lagi rasanya bos baru ini memang punya niat terselubung merampingkan jajaran orang-orang kantor. Hemat duit. Tapi semakin dipikir kok ya semakin banyak hal yang menghantu seram. Bagaimana nanti kalau tempat kerja baru tidak cocok? Bagaimana kalau harus adaptasi lagi? Bagaimana kalau ternyata bos baru ini ke depannya siapa tahu jadi baik? Tapi kalau tidak baik-baik juga pindahnya ya pindah kemana? Bagaimana kalau macam-macam. Jenuh dia memikirkan jalan keluar.

Waktu-waktu dia jenuh dan penat itu, dia selalu lari ke musholla kantor. Sekedar melepas beban dengan dhuha. Atau memperpanjang doa di waktu zuhur. Entah apa yang Hasan mintakan dalam doa itu. Tapi Pak Gembong dari sudut musholla di dekat rak buku memerhatikan dengan detail raut wajah Hasan yang tidak serupa biasa itu. Raut muka yang tidak bisa diartikan kiasan lain selain dari bentuk orang sedang kebingungan dan jenuh.

Hasan tidak sadar Pak Gembong melihatnya dari jauh. Terlebih Hasan sedang membenarkan posisi duduk dan siap menyimak kultum bakda zuhur yang biasanya ada di musholla kantornya itu. Serupa orang sedang hanyut di sungai, Hasan butuh benar-benar pegangan, sekarang segala yang berbau religi dia siap santap sampai tandas. Sang Ustadz membuka kultumnya dengan mengutip Hadist Qudsi: “Siapa yang lebih sibuk berdzikir kepadaKu dibanding meminta kepadaKu, justru Aku beri ia lebih utama dibanding yang Kuberikan kepada orang-orang yang meminta”.

Hadistnya levelan batin tingkat wahid, tapi sang penceramah berapi-api menembakkan logika yang membuat Hasan yang awam itu jadi mundur teratur tambah bingung. “Jadi jangan sembarangan berdoa kepada Tuhan! Tuhan sudah tahu, tidak usah banyak pinta! Baca hadist qudsi tadi”. Kata sang juru ceramah.

Pak Gembong hening dalam zikirnya. Jamaah yang lain angguk-angguk entah paham entah ngantuk. Hasan mukanya malah tempias makin merah. Semakin runyam.

Hari-hari berikutnya Hasan ke musholla juga, tapi tiap kali hendak berdoa, maka bom mortir ceramah pak Ustadz tadi mampir lagi ke telinganya. Jadi Hasan ngeri berdoa. Nanti jangan-jangan saya salah berdoa? Pikir Hasan. Jangan-jangan saya nanti tidak sopan kepada Tuhan? Tidak sopan kepada yang punya jagadita semesta ini; bukan main menakutkannya, fikir Hasan.

Maka dia surut selangkah. Tapi was-was di hatinya belum reda. Meskipun dia masih ingat juga kalau tidak meminta nanti malah dapat yang lebih baik.

Sebenarnya dalam hati Hasan ada keinginan untuk berbagi cerita, tapi dengan siapa? Tidak ada orang yang membuatnya cukup nyaman untuk terbuka, belum lagi kawan-kawannya kadung menilai Hasan sebagai problem solver. Lengkap sudah sesak di dada Hasan. Orang mengira dia problem solver tingkat papan atas, dia sedang kalut dan tak tahu hendak cerita ke siapa, ingin berdoa takut salah doa, kata Ustadz mendingan tidak berdoa.

Sampai Hari itu seperti dejavu. Hujan turun lebat lagi, Hasan selalu kalah cepat dan tertinggal mobil jemputan yang terbatas itu. Lalu kembali pulang ke kantor hendak menuju musholla lagi. Pak Gembong menyapanya lagi, lalu mereka berbelok ke ruang kopi lagi, duduk di kursi sambil minum kopi lagi.

“Jadi muka mumet ini pasti tentang bos baru itu, ya?” tanya Pak Gembong memecah sepi dengan tembak langsung.

“Ah….sampai pak Gembong juga tahu, kirain berita begini ga bakal nembus ruang kopi pak.” Kata Hasan mencoba bercanda, tapi gagal. Tawanya menjelma miris. Ditembak langsung membuat dia tak siap dengan retorika penyelamatan diri. Tapi dipikir-pikir cerita ke Pak Gembong ada baiknya juga.

Hasan lalu malah membuka segala kesal dan amarahnya. Dia ceritakan segala sesak yang dia rasa. Sementara di kursi yang lain Pak Gembong hanya mengangguk-angguk sambil menyeruput kopi panas. Mendengarkan sembari tidak pernah menyela.

Selepas bercerita, Hasan menjadi lega, sekaligus menjadi heran. Bagaimanapun dia merasa lebih berwacana pendidikan dibanding Pak Gembong, lebih menguasai segala filsafat kesadaran dan pengendalian diri dari pak Gembong, juga lebih banyak hadir pengajian dan membaca buku-buku agama dari pak Gembong; tapi fragmen dimana dia melontarkan segala uneg-uneg kekesalan dan di sudut lain Pak Gembong mendengarkan dengan anggukan yang penuh kebijakan; seakan-akan memutar balikkan keadaan.

Dia merasakan sebuah kekalahan perbawa dari Pak Gembong. Kenapa Pak Gembong begitu kharismatik, ya? Fikirnya.

“Sudah dibawa ke sholat, mas Hasan?” tanya Pak Gembong.

Yang ditanya mengangguk pelan, tapi setelah mengangguk lalu Hasan menyeruput kopi agak cepat, meletakkannya cepat, membenarkan duduknya dan, “Tapi saya bingungnya Pak Mbong, kata ustadz waktu itu kan kalau tidak meminta maka bakal diberi yang lebih baik. Nah saya sudah tidak meminta, tapi was-was di hati ini tidak hilang-hilang juga Pak Gembong, gimana ya?”

Pak Gembong mengaduk-aduk kopinya. “Mungkin maksudnya bukan tidak meminta, mas Hasan” kata Pak Gembong pelan-pelan sambil tersenyum. “tapi teralihkan dari meminta karena ada yang lebih ‘menyibukkan dan menyenangkan’ dirinya”.

“Menyibukkan gimana Pak Mbong?”

“Ya sibuk dzikir. Yang beneran dzikir, beneran mengingat, bukan yang ngaku-ngaku dzikir. Misalnya, mas Hasan waktu ada masalah ini yang kepikiran pertama apa?” Pak Gembong bersandar pada kursi dan menatap Hasan.

“Lowongan kerja, Pak” jawab Hasan sambil senyum simpul.

“Nah…kalau detak pertama di hati masih lowongan kerja, itu tandanya mas Hasan masih belum sibuk dzikir, belum total ‘ingat’ ke Tuhannya. Belum mancer kata orang Jawa mas.” Pak Gembong berseloroh santai.

Hasan merenung-renung sambil menyeruput kopinya. Tidak diminum sebenarnya, karena sibuk merenung. Lalu Pak Gembong menambahkan lagi.

“Saat mas Hasan sudah jenuh sekali dan ingin bercerita, siapa yang terpikir oleh mas Hasan?”

“Pak Gembong mungkin, hahahaha.” Hasan tergelak. Sudah mulai rileks dia.

Pak Gembong tergelak juga. Suasana cair sekali. Pak Gembong mohon izin menambahkan penjelasan. Hasan takzim mengangguk sambil menunjuk sopan pak Gembong dengan ibu jarinya, persis gaya abdi dalem kraton memberi hormat. “Monggo Pak Gembong, saya tekun menyimak paduka.” Canda Hasan.

Lalu berceritalah Pak Gembong dengan permisalan-permisalan yang sederhana. Kata Pak Gembong, level kesadaran batin tiap orang itu berbeda, dan Sang Nabi tahu persis kala berbicara dengan seseorang; siapa orang itu, ada di level mana orang itu. Makanya kita pernah dengar cerita bahwa Abu bakar menafkahkan seluruh hartanya, dibolehkan Nabi. Tetapi juga ada kisah sahabat lain yang hendak menyerahkan seluruh hartanya, tapi tidak dibolehkan. Cukup sedikit bagian saja. “kira-kira kenapa Mas Hasan?”

“Wah…blank aku gini-ginian Pak, hehehe… kenapa itu Pak”

“Karena orang itu memberi tidak disertai dengan sebuah kepahaman batin, Mas.” Lalu Pak Gembong menjelaskan. Bahwa tuntunan yang umum diberikan Nabi itu sudah terukur untuk level rata-rata manusia. Cobalah ambil contoh Sang Kekasih Tuhan, Nabiyullah Ibrahim yang kala hendak dibakar raja Namrud pun masih menolak bantuan Jibril, dan beliau juga “enggan” berdoa untuk keselamatan dirinya. Apa pasal? Karena hatinya sudah penuh dengan dzikir, dengan kondisi batin yang ‘ingat’ betul-betul ingat kepada Allah. Dengan segala kefahaman tentang sifat Maha Baiknya Tuhan. Maka ‘dzikir’nya itu mengalihkan dia dari ‘meminta’. Karena bagaimana meminta? Sedang hatinya dipenuhi dengan ingatan dan keyakinan tunggal bahwa Tuhan maha memberi, maha tahu, maha baik. Sampai ‘lupa’ dia meminta.

“lha…kalau level kita ini jadi gimana pak Mbong? Doa apa enggak?” Hasan bertanya.

“Lha mas Hasan di hatinya masih ada kepikiran nyari lowongan kerja ga?”

Yang ditanya tersenyum simpul.

“Masih ada was-was dan mencari teman tempat curhat ga?”

Yang ditanya senyum lagi.

“Masih ada kesal di hati dan dongkol sama bos ga?”

Kali ini tergelak dia, kencang sekali.

“Kalau semua itu masih ada, berarti hatinya belum ‘dzikir’, masih banyak lintasan duniawi. Levelan kita ini mas, kalau ga ‘sowan’ ke Allah lewat doa, jatuh-jatuhnya malah sombong nanti. Nah caranya agar lintasan duniawi itu tidak memenuhi ruang batin kita adalah menjadikannya ‘kendaraan’ menuju Tuhan. Sedang kesal sama bos ya berdoa ke Allah agar dihilangkan rasa kesal itu. Sedang was-was cari teman curhat, langsung doa ke Allah dan jadikan Dia tambatan hati paling pertama, jangan manusia. Sedang hasrat menggebu sekali pindah kerja ya doa lagi ke Allah minta dituntunkan kemana tempat terbaik dalam pandanganNya. Jadi jangan biarkan dunia bertahta dalam hati Mas.”

“Agar tidak bertahta, maka segala urusan dunia yang mencemaskan benak saya, harus saya ‘lapor’ dan minta tuntunan pada Allah lewat doa, begitu Pak Mbong?” Hasan menyimpulkan dengan suara yang lirih.

“Nah…Mas Hasan sudah paham itu,” kata Pak Gembong sambil bangkit dari kursinya. Cangkir kopinya sudah habis. Dibawa ke wastafel cucian. Sambil mencuci cangkir kopi, pak Gembong bilang, “Nanti kalau setiap urusan dunia yang menggelisahkan hati ‘dilapor’ sama Tuhan lewat doa. Setiap detak di hati dilapor ke Allah lewat doa dan minta tuntunan, Lama-lama mas Hasan akan lupa dengan apa yang dipinta, tapi lebih mengingat dan ingiiiiiiin dekat dengan yang selalu kita mintai itu. Dan kalau sudah disitu nanti mas, mas Hasan akan tahu apa maksudnya dengan sibuk ‘mengingat’ sampai lupa meminta”.

Hasan bangkit juga dari duduknya. Hujan sudah reda. Dia undur diri. Wajahnya kini tidak lagi pias. Dalam hati tadi dia sibuk berdoa meminta tuntunan kepada Tuhan yang Maha Segala, sekalian bersyukur obrolan kopi sore-sore ini mencerahkan fikirannya. Lalu dia pamit undur diri dari ruang kopi Pak Gembong.

Hasan tidak melihat Pak Gembong yang memutar-mutar tasbih kecil di tangan kanannya tersenyum kharismatik dan kebapakan di balik punggungnya. Pak Gembong tak melihat Hasan yang menjauh itu menyeka sembab di ujung matanya. Mereka berdua tidak melihat keran air yang mengguyur ampas kopi di dasar cangkir pada wastafel. Tapi selalu Ada Yang Menyaksikan Segalanya. Yang ‘mendengarkan’ Semuanya.

——-

kita sepakati saja ya, rekan-rekan, baik Pak Gembong ataupun Hasan, fiksi semua. Kalau ada yang mirip-mirip…ah…tak ada yang kebetulan, bukan 🙂

2 thoughts on “DZIKIR KOPI PAK GEMBONG

  1. Pingback: PAK GEMBONG DAN KEBIJAKAN DI LAMPU MERAH | Debuterbang

  2. Mas Hasan……jadi ingat saya yang dulu, gw bangettttt..he he he.
    anyway….salam takdzim buat yang nulis cerpen ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *