DUALITAS YANG SEBENARNYA TAK BALANCE

Jangan memandang atau menyifati Tuhan dengan sifat yang tak layak bagi-Nya. Inilah adab dalam memandang keragaman hidup.

Orang-orang awam, banyak memandang Tuhan dalam citra yang kejam dan mengerikan. Orang-orang arif, mendudukkan perkara secara tepat, dengan mengingatkan kembali bahwa Allah SWT memiliki sifat Jamal alias sifat-sifat yang berkaitan dengan welas asih dan keindahan.

Rasulullah SAW menyuruh kita memulakan segala aktivitas dengan Bismillahirrahmanirrahiim. Rahman dan Rahim adalah citra sifat Jamal-Nya.

Dulu, saya mengira bahwa dualitas yang DIA cipta itu dualitas yang balance. Ada JALAL-Nya sebanyak JAMAL-Nya.

Pada awalnya saya memandang Tuhan dalam citra JALAL-Nya [keagungan, kedigdayaan] semata-mata. Lalu menjadi paham bahwa selain JALAL ada pula JAMAL-Nya [keindahan, welas asih].

Belakangan menjadi mengerti pula bahwa JALAL dan JAMAL itu bukanlah dualitas yang 50:50 seperti Yin dan Yang. Karena Allah SWT sudah sejak awal-awal lagi berfirman bahwa rahmat-Nya mendahului kemurkaan-Nya. Artinya DIA sengaja melebihkan JAMAL-Nya di atas JALAL-Nya.

Seorang guru memberitahu hal tersebut kepada kami. Dan belakangan pula, saya temukan bahwa Ibnu Arabi juga menuliskan bahwa Allah SWT melebihkan JAMAL-Nya di atas JALAL-Nya. Sayang sekali saya lupa mencatat di buku mana saya membaca hal itu.

Tapi kurang lebih pointnya sudah bisa kita tangkap. Mensifati Tuhan dengan keliru, adalah imbas dari pemaknaan yang keliru pada hidup. Dan itulah pesan para arif, agar lihat juga pada sisi JAMAL-Nya, agar kita tidak keliru memandang sifat-Nya.

Itu adalah latihan memandang sifat-sifat yang terbaca dari keragaman di dalam hidup kita.

Tetapi, seiring mendewasanya cara pandang kita lagi. Jika semakin arif memaknai hidup, seorang guru mengatakan kita akan sampai pada pandangan yang tidak lagi melihat Tuhan sebagai diabolical, atau bersifat-sifat. Karena…. pandangan kita mulai terlepas dan tidak lagi menafsirkan macam-macam terhadap hidup.

Kalau mulai menerima hidup sebagai drama-Nya semata-mata, maka menyadari juga bahwa baik-buruk yang kita lihat dalam hidup ini ternyata timbul karena “mata manusiawi” yang terbatas. Dengan lepasnya persepsi, lepas pula sifat baik-buruk yang kita sangka itu.

Tapi… tak usah tinggi-tinggi dan bingung. Ternyata memang enjoy the show saja. Pegang kepada syariah. Do our best. Dan seiring jalan, kepahaman bertambah sendiri.

2 thoughts on “DUALITAS YANG SEBENARNYA TAK BALANCE

  1. Berpegang pada syariah adalah kuburan manusia selagi hidup, karena dengan syariah semua menjadi indah dipandang oleh segenap manusia yang dimanifestasikan dalam bentuk ahlak yang baik seperti yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul, para Wali² Allah dan para pencari kebenaran.
    Akhirnya menjadi atsar atau jejak, peninggalan, warisan manusia dalam bentuk portofolio sebagai bekal untuk kembali kepadaNya.

    Waallhu a’lam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *