DUA YANG MEMBUATMU BERJALAN

Dalam banyak hal, Rasulullah SAW selalu qona’ah, nrimo ing pandum, akan tetapi satu-satunya hal yang Rasulullah disuruh untuk meminta tambahan akannya, ialah ilmu.

Do’a sebelum belajar, yang biasa kita baca, intinya adalah meminta tambahan ilmu ke atas ilmu yang kita sudah ada.

kenapakah kita disuruh meminta tambah akan ilmu? pertanyaan ini ternyata akhirnya terjawab, seiring dengan pertanyaan lawas saya sendiri, mengapa Musa as masih meminta melihat Allah SWT padahal kita tahu beliau kalamullah, dan Ibrahim as meminta agar Allah menunjukkan bagaimana caranya Allah menghidupkan yang mati? sedangkan beliau khalilullah. Apa mereka tidak yakin?

Ternyata ada kaitannya. Yang satu adalah “ilmu”, yang kedua adalah “penyaksian” atau iman. Dua hal yang dengan dua hal itulah Allah meninggikan derajat manusia, dengan ilmu dan iman. Dengan dua hal itulah manusia “berjalan” menujuNya. Yang sejatinya DIA tak kemana-mana.

Banyak ulama tasawuf yang kemudian menyadarkan saya bahwa di dunia ini, kita tidak akan bisa “melihat” Tuhan dalam artian harfiah. Melihat dengan mata fisik, dan yang dilihat adalah “diriNYA”. Dalam pengertian begitu manusia tidak akan bisa.

untuk mengutip kekata ulama klasik dalam Al-Hikam, “sampaimu kepada Allah (wushul) adalah sampaimu kepada pengetahuan tentangNya. Karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu.”

karena DIA adalah perbendaharaan tersembunyi yang selamanya akan tetap rahasia. Seorang arif mengatakan, apabila sudah “kenal” barulah tahu bahwa kita tak tahu apa-apa tentangNya. Karena rahasia diriNya tertutup rapat.

Artinya, dalam perjalanan manusia berupaya mengenali Tuhannya, umpamanya lewat menempuh perjalanan spiritual didalam agama, yang mereka dapatkan sebenarnya adalah khasanah ilmu yang semakin kaya.

Barangkali, di dalam perjalanan mereka menjadi mengerti akan kaitan kenyataan hidup dengan af’al Tuhan. Menjadi mengerti kaitan asmaul Husna dengan fragmen-fragmen di dalam hidup manusia. Tetapi tetap tidak akan mencapai pengertian yang harfiah bahwa manusia melihat Tuhan pada zat-Nya dengan mata fisik manusia. Tidak.

Akan tetapi khasanah ilmumu yang bertambah karena anugerahNya. Caramu memandang kehidupan, dan pada gilirannya caramu menafsirkan tentang DIA. itu yang menjadi berbeda hari ke hari. Dengan ilmu DIA membuatmu “berjalan”.

Di keping satu lagi, jika bukan ilmu yang diberikanNya kepadamu, DIA akan menganugerahkan ketersingkapan. Umpamanya khasanah dunia batin terlihat oleh kita. Itu pada gilirannya menguatkan keyakinan.

Akan tetapi, tetap saja segala yang tersingkap itu bukan DIA. Melainkan khasanah keluasan kreasiNya. DIA sendiri tetap rahasia. yang bertambah padamu adalah keluasan interpretasimu mengenaliNya. Dengan itu DIA membuatmu “berjalan”.

-debuterbang-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *