DUA JALAN CARI PERHATIAN

Image result for mergingSewaktu saya masih kuliah di Bandung, saya mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan skripsi di kantor salah satu BUMN terbesar di Jakarta. Otomatis saya harus pergi bolak-balik Jakarta-Bandung, dan masalahnya adalah dimana saya harus menginap di Jakarta?

Alhamdulillah Allah berikan solusi, yaitu seorang kawan kuliah menawarkan untuk menginap di rumah orangtuanya di Jakarta. Sampai sekarang saya masih berhutang budi pada keluarga mereka itu.

Saya perhatikan kebiasaan keluarga itu. Setiap pagi Ayah rekan saya itu bangun pagi, sekedar menemani anaknya sarapan. Membantu memakaikan anaknya kaus kaki. Dan melepas kepergian anaknya berangkat ke sekolah, meski hanya dengan melambai sampai depan gerbang rumah. Prinsip beliau, harus melepas anak pergi sekolah, yang artinya bangun sebelum anak bangun, dan tidur setelah anaknya tidur. Padahal sang Ayah ini berangkat kerja siang hari, lalu pulang larut malam sampai dini hari, sempat-sempatnya dia bangun sekedar untuk rutinitas itu.

Setiap malam, dia selalu duduk santai di atas teras lantai dua, dengan genjreng-genjreng gitar nyanyi seadanya. Tetapi selepas bernyanyi dia menanyakan kabar anak-anaknya, bertanya juga pada saya tentang progress skripsi saya, lalu memberikan petuah sederhana saja, “Ntar juga kalau udah ‘waktunya’ kelar, skripsinya kelar juga. Jalanin aja…..” Sederhana, tak banyak teori tetapi dalam waktu itu saya merasa ada orang yang ‘hadir’. Tak banyak cakap, tapi selalu ‘hadir’. Ini luar biasa.

Belum lagi, mereka menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, tak lupa pula memberikan saya kotak makan siang untuk dibawa ke tempat magang skripsi. Padahal, status saya itu numpang nginap. Dikasih makan bekal pula. Setiap hari.

Dari obrolan-obrolan kami, saya tahu bahwa memberikan tempat menginap kepada orang-orang yang ‘butuh’ untuk menginap, adalah semacam tradisi keluarga mereka. Amal sederhana, tapi luar biasa.

Belakangan setelah saya bekerja dan menikah, saya hendak meniru ‘kesederhanaan’ keluarga itu, dan melakukan amalan-amalan ringan yang sama seperti yang saya lihat. Tetapi ternyata setelah mengalami sendiri kesibukan dunia kerja, kecenderungan psikologi saya pribadi, hal yang sederhana itu rupanya tidak gampang.

Belakangan saya merenungi tentang hal itu, dan ndilalah ketemu penjelasannya.

Metoda pertama, adalah memaknai amalan-amalan yang kita lakukan sebagai jalan “pendekatan” kepada Tuhan. Sehingga kita memiliki alasan pendorong. Istilah jaman sekarang, kita punya STRONG WHY.
Ilustrasinya, seperti kita hendak bertamu ke istana seorang Raja, lalu kita menunggu di pintu gerbang istana. Di depan pintu itu, kita “cari perhatian” dengan bantu-bantu nyabut rumput taman. Nyapu-nyapu jalan. Dan lain-lain, dengan harapan dibukakan pintu istana, hingga kita diberikan kesempatan bertemu Sang Raja.

Kita memahami, bahwa tindakan mencabuti rumput, dan tindakan menyapu jalan, itu tidak sebanding dan tidak akan pernah sebanding dengan hadiah Sang Raja pada kita, ditambah lagi diizinkan bertemu dengan sang Raja saja sudah anugerah luar biasa yang tidak bisa dinilai secara barter dengan ukuran nyabut rumput atau nyapu jalan. Amalan-amalan itu, hanyalah “Cara pendekatan”. Bukan untuk barter pahala.

Barulah saya paham bahwa inilah maksudnya mendekati Tuhan dengan wasilah atau perantaraan amal. Seperti di dalam Qur’an disebutkan “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Seperti cerita yang saya dengar dari YouTube ust. Adi Hidayat, dimana saat Malaikat mendatangi Nabi Ibrahim, beliau tak sadar yang datang adalah malaikat, lalu Nabi Ibrahim pergi ke belakang rumah dan sempat-sempatnya menyembelih anak sapi yang gemuk, untuk menjamu tamu. Sebuah ‘amal yang indah. Lalu malaikat mengabarkan berita gembira bahwa istri beliau Sarah akan mengandung anak, sebagai hadiah atas amal Ibrahim as.

Amal Saleh kita lakukan, karena mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan. Inilah metoda pertama untuk cari perhatian / pendekatan kepada Tuhan.
Baru saya tahu kenapa sulit melakukan amalan, karena saya tidak mempunyai alasan yang kukuh. Dengan alasan yang kukuh, dan memaknai amalan sebagai bentuk pendekatan agar “bertemu” Tuhan, maka beramal jadi lebih punya makna. Meskipun amalan-amalan itu akan menjelma sesuai dengan takdirnya sendiri. Ada orang-orang yang dimudahkan untuk melakukan suatu hal, ada yang dimudahkan melakukan hal lainnya.

Yang paling pokok, alasannya apa, yaitu “pendekatan” agar bertemu Tuhan.

Cara kedua dalam pendekatan kepada Tuhan, ini agak teknis. Kalau cara pertama itu adalah dengan aktivitas eksternal (luaran) untuk mendekati Tuhan. Cara kedua ini adalah aktivitas internal.

Yaitu Zikrullah. Bukan dengan menyebut-menyebut semata, tetapi memenuhi ruang batin kita dengan ingatan kepada Allah. Saya mengetahui metoda ini dari seorang arif yaitu Ust. Hussien Abdul Latiff.

Secara ringkas, seseorang bisa mendekati Tuhan dengan ‘amalan aktivitas eksternal, sebagai upaya menemukan Tuhan dalam kesehariannya. Bisa amalan yang beneran tersusun syariatnya seperti sedekah, puasa. Bisa juga dengan aktivitas sehari-hari misalnya bekerja di kantor tetapi dimaknai berbeda, yaitu sebagai “pendekatan” kepada Tuhan. Amal menjadi wasilah “mendekat”.

Tetapi ada juga cara mendekati Tuhan dengan “masuk ke dalam” dan memenuhi ruang batin dengan ingatan kepada Allah. Cara kedua ini senyap, umumnya tidak terdeteksi dari luar.

Baik cara pertama, maupun cara kedua, seperti sekeping uang logam yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.


*) image sources

One thought on “DUA JALAN CARI PERHATIAN

Add yours

  1. Sekadar perkongsian ya Mas Rio, semoga bermanfaat…

    *Az Zikru*

    Zikir adalah ingatan atau perasaan.
    Ia adalah sifat hati atau jiwa atau roh insan.
    Ia merupakan sifat rohaniah insaniah.
    Zikir yang kita hendak perkatakan di sini ialah zikrullah.
    Yang diperintah kepada manusia atau insan.
    Zikrullah atau ingatan kepada Tuhan ada berbagai-bagai peringkat dan perasaan.
    Kalau sudah sampai peringkat cinta.
    Ia telah bertapak di hati atau jiwa.
    Rasa bertuhan telah sampai peringkat penghayatan.
    Ia payah hendak dilupakan.
    Atau banyak ingatan daripada dilupakan.
    Juga jika sudah sampai peringkat takut yang mendalam.
    Ingatan kepada Tuhan susah hendak dilupakan.
    Ia akan terbawa-bawa ke mana-mana walaupun di dalam perjalanannya.
    Kedua-duanya ini berlaku kerana kenal Tuhan pencipta insan dan seluruh alam.
    Kalau sekadar percayakan Tuhan tapi tidak kenal Tuhan ada keyakinan.
    Tapi rasa cinta atau takut belum wujud bertapak di dalam jiwa atau hati sebagai perasaan.
    Ia akan menjadikan seseorang insan itu banyak lupanya daripada ingatan kepada Tuhan.
    Orang yang semacam ini terpaksalah mencari-cari sebab untuk ingatan kepada Tuhan.
    Kenalah gunakan fikiran selalu.
    Kenalah merenung alam, laut dan keindahan.
    Barulah datang perasaan rasa bertuhan.
    Atau membaca berbagai-bagai lafaz zikir, tasbih untuk ingatan kepada Tuhan.
    Jika rasa takut dengan Tuhan tidak kuat.
    Atau rasa cinta belum mendalam.
    Terpaksalah memaksa-maksa diri untuk ingatan.
    Terpaksalah menggunakan akal untuk berfikir atau bacaan.
    Apabila cinta sesuatu banyak menyebut atau banyak ingatan.
    Juga kalau perasaan takut menguasai insan.
    Ingatan payah dilupakan.
    Begitulah kalau sudah sampai peringkat cinta atau takutkan Tuhan payah hendak dilupakan.
    Haraplah diambil peringatan jika mahu ada perasaan bertuhan.
    Wallahua’lam

    09.01.2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑