DIRI SEJATI DAN PENGEMIS HUJAN

pengemis_jakartaTidak banyak yang manusia tahu tentang dirinya sendiri. Diri manusia itu, merupakan misteri besar.

Saya menengok perkembangan pengetahuan, misalnya pada ranah yang saya geluti yaitu industri migas, orang sudah bisa berbagai-bagai teknologi. Kenapa kok orang-orang sampai bisa begini dan begitu? Saya yakin karena awalnya manusia ingin memenuhi kebutuhan diri manusia itu sendiri. Dari yang sederhana dan gamblang yaitu makan minum, sampai yang abstrak semisal pemenuhan hasrat untuk diakui dan menjadi ada.

Nah…pada ruangan abstrak inilah, pada jiwa, manusia mungkin tidak banyak tahu tentang dirinya sendiri.

Seorang guru saya, beliau mengutip dari Ibnu Qayyim, menjelaskan kedudukan manusia secara level kejiwaannya, dari sudut pandang spiritual. Kata beliau, tahapan pertama manusia adalah orang yang kejiwaannya sangat terpengaruh dengan realitas externalnya. Apapun yang terjadi di luar dirinya, langsung punya imbas kepada kejiwaannya. Susah-senang, riang-gembira-nya melulu disetir oleh apa yang berlangsung di luar dirinya. Ini martabat kebanyakan manusia.

Kedudukan kejiwaan manusia berikutnya adalah saat seseorang itu sudah mulai bisa melepaskan jiwanya dari keterkaitan dengan situasi di luar dirinya, maka dia akan menjadi jiwa yang bersih seperti bayi. Bahagianya datang dengan sendirinya tanpa sebab di luar dirinya.

Pada ujung pembahasan, orang yang betul-betul sudah bisa membebaskan dirinya dari keterikatan terhadap apapun di luar dirinya; inilah yang bisa “menghadap” kepada Tuhan dengan benar. Masuk akal, karena dia bisa betul-betul mengibadahi Tuhan tanpa teralihkan oleh situasi susah maupun senang.

Saya sangat paham tipe pertama yang dijelaskan guru saya dan Ibnu Qayyim itu. Karena pada tahapan inilah saya, dan sangat banyak manusia berada. Apa saja yang terjadi di luar diri saya, langsung berpengaruh pada kejiwaan saya. Hampir-hampir tidak ada independensi pada jiwa saya.

Katakanlah saya sedang ada masalah di kantor, maka tidak ada jarak mental antara jiwa saya dan masalah itu. Saya langsung “kemrungsung” kata orang jawa. Uring-uringan tidak jelas. Kondisi external, berpengaruh pada kondisi internal, atau kejiwaan saya.

Contoh lagi, saat saya sendang gandrung-gandrungnya membaca buku tentang pembersihan jiwa, sufi-sufi begitu, saya merasa sangaaaat spiritualis, dan pada gilirannya saya merasakan suasana kejiwaan yang seperti shaleh, seperti tenang, seperti ada kedekatan pada Tuhan. Kondisi external, berpengaruh pada kondisi internal, atau kejiwaan saya.

Sepintas sih bagus, saya menjadi lebih spiritual dengan banyak membaca buku. Seperti juga misalnya kita merasa menjadi lebih taqwa setelah mengikuti ceramah atau tabligh akbar di masjid misalnya. Tapi ingat, ini -kalau boleh dikata agak blak-blakan-; semu!

Kenapa semu? Karena kondisi kejiwaan kita saat itu hanyalah sebuah kondisi yang disetir oleh pengaruh external. Angin-anginan. Bukan benar-benar kondisi jiwa yang murni. Kalau kondisi externalnya jelek, maka jiwa kita jadi jelek. Kalau kondisi externalnya bagus, maka jiwa kita menjadi seperti bagus.

Ya memang, belajar keagamaan dan bergaul dengan segala macam kebaikan (mencemplungkan diri pada lingkungan yang baik) akan secara otomatis membuat kita terciprat kebaikan-kebaikan. Tapi itu langkah awal saja. Karena ada tangga berikutnya yaitu menjadikan suasana kejiwaan yang semu itu, sepertinya shaleh itu, menjadi benar-benar shaleh.

Atau lebih tepatnya meloncati jurang lebar yang memisahkan antara konsep dan realita diri kita. Dalam bahasa yang lebih spiritual lagi adalah menjadikan jiwa kita (nafs) tidak terikat lagi dengan kondisi di luar jiwa kita (diluar nafs kita)*.

Saya ada contoh mengenai betapa kesalahan memahami ini membuat kita kadang-kadang over estimate terhadap diri kita.

Suatu kali sepulang dari kantor, saya kehujanan di lenteng agung. Berhubung jalanan macet dan hujan, saya berhenti di sebuah warung bakso pinggir jalan. Sambil makan bakso, saya menonton TV yang sedang menyiarkan acara hitam-putihnya om Deddy Corbuzier. Kebetulan yang dibahas waktu itu adalah pengemis yang menjadi kaya karena mengemis. Sampai diundang segala pengemis yang menjadi kaya itu.

Cerita-cerita, ujung dari acara itu adalah sebuah kesimpulan yang saya kurang setuju, seakan-akan moral dari show itu adalah pesan bahwa ‘jangan memberi pada pengemis, karena nanti pengemis menjadi kaya karena kita beri uang’.

Sepanjang acara itu, saya membatin tak setuju. Pikir saya, salah sekali logika begitu. Dalam benak saya waktu itu, tidak boleh, kita enggan memberi seseorang karena kecurigaan/ keengganan, takut orang yang kita beri itu menjadi kaya karena uang kita. Satu point itu saja yang saya tidak setuju. Enggan memberi karena nanti orang yang kita beri menjadi kaya. “Enak betul orang itu jadi kaya karena uang saya, tidak bisa dong”. Ide seperti Itu yang saya tak setuju.

Perkara pengemis misalnya bikin kota tidak rapih, bikin jalanan macet di persimpangan misalnya, lalu pemerintah lewat dinas sosialnya menertibkan. Saya setuju.

Misalnya kita dilarang ngasih duit di persimpangan jalan, karena pemerintah sudah punya solusi yang lebih komprehensif tentang pengemis, yaitu dinas sosial akan begini dan begitu, maka kita harus urun rembug membantu, alih-alih ngasih duit ke pengemis, lebih bijak kalau sumbang ke lembaga sosial. Saya setuju.

Tapi ide bahwa jangan memberi orang lain, nanti orang lain menjadi kaya karena pemberian kita. Sepenuhnya saya tak setuju. Di benak saya, kalau ada orang meminta, meskipun orang itu kaya, ya beri saja kalau ada. Kalau tidak ada ya sudah jangan diberi. Nabi saja dimintai pengemis sampai menarik-narik bajunya kalau tak khilaf, santai saja, dan selalu memberi. Jika Sedang tak ada uang ya jangan memaksakan diri, simple.

Acara deddy corbuzier usai. Saya usai pula makan bakso. Saya bayar baksonya. Lalu saya pakai jas hujan. Lalu menyalakan motor. Hujan masih deras waktu itu.

Tiba-tiba, dari belakang saya ada yang menepuk.

Saya menoleh kaget. Pengemis nenek-nenek rupanya. Menyodor-nyodorkan tangan ke muka saya, dan tak bicara sepatah katapun kecuali ekspresi minta uang.

Saya ingin ambil uang di dalam tas saya, saya ingat ada seribu rupiah di kantong depan. Tapi sulit mengambilnya. Hujan masih deras, dan saya tutupi tas saya itu dengan sarung anti hujan. Saya coba lagi, masih sulit. Lalu saya kasih kode ke pengemis itu dengan tangan saya. Saya tak bisa memberi, begitu kodenya kurang lebih.

Pada saat saya memberi kode itulah, saya melihat di leher pengemis itu ada kalung, mungkin kalung emas, yang sangat banyak. Ada mungkin empat atau lima. Dan itu tidak tersembunyi melainkan jelas terpampang.

Secara spontan di hati saya bicara “pengemis kok banyak kalungnya”. Sambil saya mengemudikan motor dan menjauh.

Sekitar dua puluhan meter saya melaju, saya baru tersadar dan istighfar. Astaghfirullah… padahal barusan saja saya membatin tak setuju pada orang-orang yang enggan memberi takut orang lain jadi kaya. Malah saya sendiri sekarang berlaku begitu.

Saya mau balik arah mencari nenek-nenek itu, tak bisa, jalan satu jalur, tak mungkin berputar. Saya toleh-toleh ke belakang, tak saya lihat lagi nenek-nenek itu. Hari masih hujan dan saya masih galau. Setibanya di komplek rumah, saya sholat maghrib dan isya jamak di komplek, lalu uang yang sedianya niat diberikan ke pengemis tadi saya masukkan kencleng. Sambil istighfar atas grundelan hati saya ke pengemis tadi.

Konsep tentang keengganan memberi yang saya tak setujui itu tadi, rupanya baru menjadi konsep di diri saya. Sebatas konsep. Dan detak hati yang berkata “pengemis kok banyak kalungnya” itu, adalah realitas sejatinya diri saya.

Saya mengira, bahwa saya sudah berada pada keadaan yang “tetap memberi uang, meskipun orang yang saya beri itu menjadi kaya karena uang saya”, rupanya saya masih berada pada levelan kikir dan kerdil yang enggan memberi kalau orang yang saya beri itu sudah kecukupan.

Kalau tak ada kejadian itu, mungkin selamanya saya salah mengukur diri saya. Dan sering sekali keadaan-keadaan seperti menegur dan memberi tahu level kita sebenarnya.

Inilah pentingnya, agar kita meloncati keadaan jiwa yang pertama itu, yang disebutkan ibnu qayyim itu. Karena, realitas external (entah baik entah buruk) sering kita keliru dengan mengira bahwa itulah realitas jiwa kita.

Maka kadang-kadang kita keliru menilai diri. Mengira sudah soleh, padahal hanya karena gejolak emosi sesaat setelah dibombardir buku-buku agama. Atau kebalikannya, mengira sudah paling kotor sedunia dan enggan “kembali” ke Tuhan. Padahal selalunya ada celah untuk kita berlepas diri dan menjadi jiwa yang lebih bersih dan tak terikat.

Bergaul dengan tukang minyak wangi, kecipratan wangi. Tapi dengan ada wangi-wangi sedikit, tak berarti kita jadi tukang minyak wangi. Jika tukang minyak wangi adalah perlambang orang yang sudah bersih jiwanya, maka tugas kita meloncati jarak itu, dari kecipratan, menjadi orang yang mencipratkan.

Perlu ada jenak kita berhenti dan mengukur diri.

——

*) gambar diambil dari sini
*) guru-guru yang arif, bahkan menjelaskan bahwa fikiran, angan-angan, perasaan, itupun bukan diri manusia, bukan nafs yang sejati. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *