DIPERJALANKAN


Sedang apa rekan-rekan saat ini? Tentu saja sedang membaca di facebook atau membaca tulisan ini di blog, bukan?

Sekarang bisakah rekan-rekan saya ajak untuk “takut”. saat ini juga?

Tentu kita sulit untuk “takut” seketika, bukan?

Untuk mengalami “takut”, kita butuh alasan tentunya. Apa yang membuat kita takut?

Kita bisa membuat tampang muka seperti orang takut, tapi itu bukan “takut”, itu hanya acting takut. Rasa “takut”nya sendiri absen dari ruang hati kita.

Nabi Musa as dikejar Fir’aun dan bala tentaranya sampai terjepit di antara Depannya ada laut merah dan belakangnya ada tentara yang siap mencabik. Rasa takut tentu luar biasa, tetapi ketakutan yang luar biasa itu menjelma rasa bergantung pada Allah. Pergantungan yang luar biasa pula.

Itulah namanya “diperjalankan”.

Seperti kisah Rasulullah Saw yang diperjalankan menempuh isra’ dan mi’raj.

Seperti pula Rasulullah Saw -dalam kitab sirah- berdo’a pada Allah sewaktu beliau di thaif. Kala dilempari oleh penduduk thaif dengan batu sampai berdarah dan diteriaki orang gila.

Doa beliau masyhur sekali. Yang kurang lebih maknanya adalah “duhai Tuhan, kepada siapa engkau menyerahkanku? Kepada musuh yang siap menerkam, atau kepada kerabat yang menolak? Sungguh aku tidak peduli, asalkan engkau ridho kepadaku.”

Redaksinya panjang dan tak persis seperti itu.

Tapi inti dari do’a itu adalah kepasrahan.

Kepasrahan karena menyadari bahwa “diperjalankan”.

Setiap orang, diperjalankanNya menempuh masing-masing cerita mereka sendiri. Dari setiap perjalanan itu, tiap orang mendapatkan pengalaman hidup sendiri-sendiri. Setiap pengalaman hidup menghantarkan “rasa”-nya sendiri (Hal Spiritual). Tiap Hal itulah yang berbuah menjadi amaliyah.

Maka kita bisa meniru lahiriah Nabi Musa, misalnya, tapi “rasa” dalam hatinya tak bisa kita tiru.

Yang paling penting, adalah kesadaran bahwa kita semua diperjalankan. Ini yang pokok.

Dulu saya sering kali kesal, kenapa kok saya tak paham-paham dengan bahasan para arif. Setelah melewati gonjang-ganjing onak duri ujian; baru saya paham bahwa setiap hikmah itu akan datang seiring ujian dalam hidup kita.

Ujian yang mencerabuti rasa “aku”. Sampai kita benar sadar bahwa kita ini “diperjalankan”, bukan berjalan.

Maka benar sekali kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Bukan pasif….melainkan agar paham tentang “diperjalankan” ini. Do our best pada maqom sekarang, dan bersyukur.

Karena, ingin segera naik level itu sama saja meminta Allah menurunkan segala ujian seketika pada kita; dalam satu waktu. Kita tak akan sanggup.

Oleh seorang arif [1] kita diberitahu urutan skema perjalanan itu.

Awalnya adalah ujian. Lalu ujian akan settled down (reda) selepas keridhoan datang. Setelah ridho makan akan shifting paradigm (bertukar pandang) atau dalam literatur tasawuf dikatakan “Abdal”.

Setelah itu berikutnya adalah hidup seperti apa adanya dalam masyarakat. Berbaur. Bersama. Berkecimpung. Dan tak ada pentingnya untuk mendaku diri lebih baik atau lebih ini itu. Dan diam disitu sampai jika ada tugas menyuruh “keluar” atau selalu diam disana kalau tak ada tugas apa-apa.

Salah satu tips-nya kata beliau adalah, semakin cepat menyerah dan ridho, maka semakin cepat ujian itu reda / settled down. Karena ujian bukan untuk ujian itu sendiri, melainkan untuk menghantarkan pergantian cara pandang dalam hidup.

Benar sekali ungkapan yang sangat masyhur dari para arif. Jika orang awam berpikir tentang apa yang akan dilakukannya esok, maka orang arif “menunggu” apa yang akan Allah takdirkan untuknya esok hari. [2]

**

[1] Ust. H. Hussien Bin Abd Latiff

[2] ungkapan ini begitu masyhur. Tetapi saya lupa siapa yang mengucapkan.

Ilustration image taken from this source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *