DI SEBRANG PEMATANG

pematangTeringat saya, akan sebuah perumpamaan dari ulama-ulama arif, bahwa fiqih ialah tata aturan, yang membahas tentang batasan-batasan. Mana boleh, mana tiada boleh. Seumpama sawah, fiqih ialah pematang. Border. Pembatas yang tidak boleh dilanggar. Tapi kehidupan dunia pertanaman padi tiadalah berhenti sebatas pematang. Di sebrangnya pematang, di dalam sawah itu ialah area dimana kita boleh berkreasi memaksimalkan penanaman padi.

Permisalan lainnya juga adalah bermain bola. Fiqih ialah tata aturan. Bermain bola harus pakai kaki. Tidak boleh keluar garis. Tidak boleh kena tangan, dsb. Tapi persoalan bola bukanlah semata mengenai pelanggaran. Ianya adalah mengenai bagaimana setelah kita mengenal tata aturan itu; kita bisa bermain secara baik. Bermain bola sambil merangkak, tidak menyalahi aturan. Tetapi dia tidak sesuai dengan ide untuk bermain secara baik. Kalaulah tidak dikatakan orang gila itu yang bermain bola sambil merangkak.

Saya baru tersadar, bahwa dalam keseharian, banyak sekali klaim kita yang berkutat mengenai tata aturan batas-batasan. Saya dulu terjebak pada pemikiran begitu. Berhenti sebatas pematang. Bukan mengenai mengoptimalkan dunia pertanaman padi. Bukan mengenai bermain bola secara baik. Sehingga, klaim bahwa orang lain sesat, orang lain berlebihan dalam beragama; beredar dimana-mana.

Teringat saya, dengan sebuah cerita tentang Umar yang karena tertinggal sholat ashar sebab saking asyiknya mengamati kebun, beliau menghukum dirinya sendiri dengan menyedekahkan kebunnya.

Teringat juga saya, dengan sebuah cerita tentang utsman bin affan yang saking pemalunya, kalau beliau mandi maka memakai basahan, berjongkok di pojokan kamar mandi, pintu ditutup dikunci, pintu kamar ditutup dikunci, pintu rumah ditutup terkunci.

Jika konsentrasi perikehidupan kita hanyalah soalan batas-batasan, tidak kita temukan ajaran Sang Nabi yang menyuruh seseorang menyedekahkan kebunnya kalau misalnya sholatnya tertinggal karna melihat kebun. Tidak juga ada ajaran yang menyuruh untuk mandi meringkuk di pojokan, pakai basahan, dengan pintu tertutup semua dari kamar sampai gerbang depan rumah misalnya.

Tetapi ada dimensi “kedekatan” ada dimensi “cinta” antara dua sahabat mulia itu, dengan Tuhannya. Dimensi kedekatan inilah, yang tidak melanggar batas-batasan, namun sering disalahpahami oleh sebagian orang.

Misalnya saja, kita bekerja di sebuah kantor. Kita punya seorang bos yang tiap bulan harusnya meng-approve expense atau biaya pengeluaran kita. Karena kita orang baru di kantor itu, maka “menanyakan kepada bos itu apakah uang expense atau pengeluaran kita sudah di-ACC” adalah hal lumrah. Logis. Masuk akal – semasuk akalnya, masuk aturan semasuk-aturannya. Tapi saat sudah berganti tahun, berganti dekade, kita mengakrabi bos kita itu dan kita tahu, “bahkan sebelum kita tanya pun” rupanya bos kita ini sudah meng-approve dan malah menanyai kita lebih dulu tentang mana-mana anggaran yang mau ditanda tangani; mestinya ada semacam “kedekatan” yang muncul dalam hati kita.

Mestinya ada semacam pengenalan yang membuat kita malu untuk selalu bertanya. Toh tanpa kita bertanyapun, beliau sudah lebih dulu mengecek. Lebih dulu menanda tangani. Sebegitu baiknya pada kita.

Rasa kedekatan ini lho, yang tidak melanggar batasan-batasan, tapi sering disalahpahami.

Seorang karyawan baru, akan “melanggar” tata aturan kontribusi keturut-andilan, saat dia tidak pernah bertanya pada bosnya mengenai apakah anggaran sudah ditanda tangani atau belum. Tapi seorang karyawan yang sudah bertahun-tahun dan mengenal pribadi bosnya, akan “semacam melanggar” tata norma kedekatan, kalau masih juga setiap saat bertanya-tanya hal yang sama.

Maka di seberang pematang, ada dimensi cinta semestinya. Dan disanalah umar Ibn Khattab yang mensedekahkan kebunnya berada, dia tidak berlebihan dalam beragama, dia tidak melanggar pematang, tapi dia ada di dalam dimensi cinta itu. Sesuatu yang membuatnya ewuh pakewuh dan malu kepada Tuhan untuk meninggalkan sholat ashar. Di situ juga sahabat utsman ibn affan. Disitu juga para wali yang sering disalahpahami.

Maka ketika saya mendengar ada orang yang mengkritik syair abunawas dengan ucapan “doa macam apa itu, berdoa kok ga jelas minta apa. Doa itu harus tegas minta surga!”

Saya tak bisa berkata apa, hanya membayangkan dengan haru Abunawas sang pendosa yang taubat itu sudah ada di sebrang pematang, dengan kedekatan yang membuatnya sampai malu mengojok-ojok Tuhan dengan permintaan, kala melantunkan:

Oh Tuhanku, aku bukanlah ahli surga Juga tak mampu menahan siksa neraka.

—-

*) gambar diambil dari sini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *