DI DALAM KAFILAH KANJENG NABI

Kisruh politik akhir-akhir ini memunculkan insight yang menggelitik nurani saya. Bolehkah berpihak?

Sedikit-sedikit belajar dimensi esoteris agama, saya seringkali menemukan ajaran-ajaran batin kok sering mirip-mirip ya? Dari kemiripan inilah saya sering berfikir bahwa betullah bahwa sumbernya ajaran-ajaran ini pasti satu. Tetapi dibahasakan dengan bahasa yang berbeda-beda. Hanya saja, seiring zaman seringkali ada yang terkorupsi dan tercampur-campur.

Menyadari bahwa dimensi esoteris agama, spiritualitas seringkali mengajarkan agar kita keluar dari gagasan yang sempit, dan mencintai keragaman, saya sempat berfikir bahwa memiliki “corak” itu keliru. Melintasi corak itu yang tepat.

Tetapi barulah belakangan saya kemudian menyadari bahwa “naif”-lah jika saya beranggapan bahwa seseorang bisa sama sekali bebas “corak”.

Umpamanya ada seseorang yang tercerahkan. Lalu betul-betul dia menyadari bahwa lelaki atau perempuan itu sama saja. Bukan penentu kemuliaan…. Tetapi tak urung kalau kebelet dan mau ke toilet dia harus masuk ke toilet kanan kalau dia laki-laki, atau ke kiri kalau dia perempuan. Norma dunia fisikal-lah yang memaksa dia menari sesuai corak.

Seseorang yang keluar dari gagasan yang sempit, dan menjadi tercerahkan, akan tetap harus bergerak dalam “corak” jika dia melakukan sesuatu di dunia zahir ini, di dunia fisikal ini.

Dulu, saya mengira bahwa Tuhan hanya mencipta kebaikan.

Belakangan baru saya mengerti, bahwa baik sesuatu yang kita nilai sebagai “kebaikan”, atau sesuatu yang kita nilai sebagai “keburukan” dua-duanya dicipta oleh-Nya.

Akan tetapi, memahami bahwa “rentak” DIA itu sesungguhnya adalah dua warna itu, hitam dan putih, justru membuat kita sadar bahwa saat kita bergerak dalam “corak” peranan kita, maka itulah berarti kita menjalankan tugas kita di dunia. Menzahirkan rentak-Nya.

Maka yang lelaki tetap-lah menjadi lelaki. Yang perempuan tetaplah perempuan. Yang jawa, sumatera, kalimantan tetaplah begitu. Yang Islam, Kristen, Budha, Hindu, tetaplah dalam coraknya sendiri.

Menjadi spiritualis, dalam makna yang saya pahami, adalah belajar mencintai keragaman, karena keragaman sejatinya cerita tentang Sang Pemilik keragaman, yang Tunggal.

Tetapi mencintai keragaman, tidaklah membuat kita menjadi hilang corak. Menjadi tidak berani berada di salah satu sisi. Melainkan, dengan berada di salah satu sisi itulah, kita menyadari cerita-Nya.

Saya baru paham, bahwa Rasulullah SAW yang lemah lembut, akan berjibaku di medan laga dalam perang, membunuh atau terbunuh. Betapapun kepahaman beliau tentang keragaman, tentang cinta, tentang penerimaan, tentang “satu”, melampaui orang-orang terbaik di seantero jagad.

Karena memang Allah akan menghentikan kekejian sebagian kalangan dengan mendatangkan sebagian lainnya sebagai counter.[1]

Tetapi, hanya orang-orang yang cerah pandangannya-lah yang mengerti bahwa pada momen berhadap-hadapannya “corak” itu, sebenarnya itu cuma cerita.

Seperti Ali r.a, yang menyarungkan pedangnya saat di medan tempur sudah hendak membabat musuh, tetapi sang musuh malah meludahinya. Ali yang tadinya hendak memenggal musuhnya itu, malah urung dan menyarungkan pedang. Karena dia tak mau, peperangan yang tadinya penuh kesadaran cinta dan menyadari peranan dalam cerita itu; menjadi peperangan karena nafsu dan angkara.

Baru saya paham. Bahwa menjadi spiritualis, tidak membuat kita hilang “corak”. Sebagaimana ungkapan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, musyahadah tidak menjadikan seseorang tidak bercorak, lantas tidak menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan….“Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.”[2]

Bahwa meskipun ajaran esoteris agama-agama kerap bersinggungan, tetapi jelas kita sebagai muslim berada dalam “corak” kafilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kelak di alam sana, orang-orang semua mencari kafilahnya masing-masing.

Menjadi tercerahkan itu satu hal. Tetapi hal lainnya adalah kejelasan pada corak mana anda berada. Pada kafilah siapa kita berada.[3]

 


[1] “Demikianlah, andai Allah menghendaki, niscaya Allah akan mengalahkan/membinasakan mereka, akan tetapi Allah hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain.” (QS. Muhammad 4)

[2] Ibnu Qayyim. Qadha dan Qadar; Ulasan Tuntas Masalah Takdir. (Jakarta: Pustaka Azzam), 31

[3] Kami berpagi hari di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di atas millah bapak kami Ibrahim yang hanif, dan sekali-kali ia tidak termasuk orang-orang yang berbuat syirik. (HR. Imam Ahmad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *