CINTA YANG TAHU DIRI

Menarik sekali ketika saya membaca autobiografi Soekarno sebagaimana yang dia tuturkan kepada Cindy Adams, seorang wartawati terkenal kala itu. “Cara paling mudah untuk melukiskan diri Soekarno,” kata beliau mengawali tulisan autobiografi itu, “adalah dengan menamakannya seorang yang maha pecinta. Ia mencintai negerinya, mencintai rakyatnya, mencintai wanita, mencintai seni, dan melebihi daripada segala-galanya ia cinta kepada dirinya sendiri.”

Energi penggerak manusia, salah satu diantaranya mestilah Cinta, dan atau rasa takut atau benci. Saya amati, kutub penggerak itu selalu ada dalam setiap apapun potongan cerita kehidupan manusia. Tetapi, saya sedang tertarik membincangkan satu saja, tentang rasa cinta yang menjadi energi penggerak perubahan.

Perdebatan tentang seorang tokoh, tidak hendak saya bahas pada tulisan ini. Tetapi lihatlah bagaimana kecintaan terhadap negeri dan rakyat, telah menggerakkan sedemikan banyak orang-orang besar berjibaku dan bahkan mengorbankan diri mereka sendiri untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan rakyat dan negeri ini.

Dan yang menarik juga sebenarnya adalah, bahwa kadang-kadang orang-orang yang sama-sama memiliki kecintaan besar terhadap negeri dan rakyat ini bisa berhadapan di panggung sejarah, tersebab cara mereka dalam menterjemahkan kecintaan itu berbeda-beda. Approach yang berbeda-beda. Berperang di panggung sejarah, dan setiap mereka adalah orang yang mencintai negeri ini. Betapa dramanya hidup ini.

Tapi sekali lagi, itu biarlah dibahas oleh sejarawan. Yang belakangan menyedot perhatian saya sama sekali adalah petuah dari seorang arif, yang mengatakan bahwa sesungguhnya, perasaan manusia, bukanlah sesuatu yang bisa manusia buat sendiri, ianya adalah sesuatu yang “given“, sesuatu yang diturunkan ke dalam hati manusia.

Dan, mengikut premis pertama kita di atas, jika cinta -salah satunya- adalah sebuah perasaan yang bisa mengobarkan gerakan, perubahan, cerita manusia. Berarti kita bisa “melihat” begitulah cara Tuhan “menyetting” drama kehidupan manusia; dengan menitipkan cinta di hati mereka, yang dengan itu akan menyetir tindak-tanduk laku manusia, menyetir sejarah.

Dengan cinta yang begitu besar yang dia titipkan ceruk hati manusia itu; dengan itu manusia bergerak melindungi, memikirkan, membaktikan, menghabiskan seluruh jenak detik kehidupannya untuk sesuatu yang dia cintai, atau berarti dalam sudut pandang ini, kita bisa katakan, “untuk sesuatu yang Tuhan sudah siapkan agar dilindungi.”

Dan belakangan, setelah mengetahui bahwa cinta adalah sesuatu yang Tuhan titipkan untuk menggerakkan sejarah manusia, saya baru menyadari bahwa kadang-kadang kita bisa sejenak “mengintip” kemelimpahan rasa cinta, atau energi penggerak itu. Dia kadang-kadang terlalu nyata sampai terekspresikan begitu tersurat dan bisa dibaca oleh kita.

Misalnya saja, seorang tokoh besar yang menggelorakan perubahan -karena energi cinta yang meruah di hatinya- pada saat yang bersamaan akan sering kita perhatikan sebagai seorang pecinta seni, seorang penikmat sastra, atau orang yang gampang trenyuh melihat keindahan. Ini sering sekali saya perhatikan pada orang-orang besar. Dan subjektif saya menyimpulkan, itu efek samping dari energi penggerak berupa cinta yang Allah titipkan pada ceruk batinnya. Cinta yang besar, yang “built-in” mau tak mau mengejawantah.

Berangkat dari pengertian itulah,  saya hendak mengutip kisah Ibrahim a.s,contoh yang ideal,  seseorang yang diberi julukan “khalilullah” atau kekasih Tuhan. Yang dicintai Allah.

Jika kita menggunakan premis “ingatlah AKU, maka aku mengingatmu”, maka segera saja kita ketahui, bahwa julukan khalilullah pada beliau itu juga berarti betapa besar kecintaan beliau kepada Allah.

Sebutlah saja satu per satu fragmen: dimusuhi kaumnya, dimusuhi bapaknya sendiri karena mengusung risalah tauhid. Dilempar Namrud ke kobaran api. Tak punya anak hingga usianya cukup sepuh. Setelah punya anak disuruh tinggalkan anaknya pada lembah tak berpenghuni. Setelah anaknya besar dan menyejukkan hati, disuruh pula anaknya tuk disembelih.

Dan… pada usia tua beliau disuruh berkhitan, lalu serta merta melakukannya dengan tergesa menggunakan sebuah kampak besar, lalu ditegur setengah bercanda bahwa Ibrahim begitu tergesa, padahal belum ditentukan khitannya semestinya dengan alat apa. Ibrahim a.s. menjawab, “sungguh…aku tak suka bila aku harus menunda menjalankan perintahMu.”

Ini bagaimana mau ditiru oleh manusia zaman kita ini? parade cinta paling membelalakkan.

Melihat cerita semacam itu, kadang-kadang saya menjadi sadar, bahwa rentang pencapaian ruhani, dan rentang amal antara kita dan orang-orang Shalih adalah sungguh luar biasa besar. Rentang jarak yang tak terkejar oleh peribadatan yang kita porsir seberapapun juga.

Ditambah lagi, setelah menyadari bahwa tidaklah mudah, mengorbankan sesuatu yang kita cintai, untuk cinta lain yang sebenarnya jauh lebih besar.

Secara tulus hati saya mengakui, masih berat untuk secara total menghamba kepada Tuhan. Masih goyah hati jika ada ujian. Masih berat hati meninggalkan keduniaan.

Jika cinta dunia masih menghalangi, saya katakan saya mesti jujur mengakui, mungkin saja jangan-jangan cinta kepada Tuhan -di diri saya- rupanya tak sebesar itu. Karena cinta yang besar, semestinya menafikan selainnya. Dan itu sudah dibuktikan sejarah.

Barulah saya mengerti makna kutipan hadist Rasulullah SAW berikut, bahwa seseorang akan bersama dengan yang dia cintai. Cintailah orang-orang suci, yang sudah menjalani takdir parade “cinta pada Tuhan” dengan membelalakkan pandangan; meskipun sepenuh hati kita sadar tak akan mungkin kita menyusul mereka.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah? ”Bel­iau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”­ Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya. ”Beli­au shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Humaid bin Hilal dari Abdullah bin Ash Shamit dari Abu Dzar ia bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki menyukai suatu kaum, namun ia tidak bisa (meniru) amalan yang mereka lakukan?” beliau menjawab: “Wahai Abu Dzar, kamu akan bersama dengan orang yang kamu sukai.” Abu Dzar berkata, “Sungguh, aku menyukai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kamu bersama siapa yang kamu sukai.” Perawi berkata, (HR. Abu Daud 4461)

Saya yakin bahwa sang sahabat bukanlah orang yang tak pernah sholat, bukan orang yang tak pernah puasa. Tetapi, secara subjektif saya mencoba memahami itu sebagai sebuah gejolak dari diri sang sahabat itu, bahwa saat dia mencintai para salihin; dia semakin menyadari juga jarak spiritual yang terentang begitu jauh dan tiada akan tersusul. Sebentuk cinta yang makin menjadi karena sikap “tahu diri”.

Saat perjalanan menapaki jalan yang juga ditapaki para Salihin itu terasa begitu berat dan melelahkan, disitulah sholawat menemukan maknanya.

Dalam kombinasi kesalutan kepada junjungan, rindu yang begitu dalam, dan rasa jujur terhadap kelemahan diri itulah, saya hendak juga mencontoh sang sahabat, “tiadalah apa yang telah saya persiapkan”, melainkan kecintaan kepada Nabi dan orang-orang Shalih.

 

*) gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *