MENCARI PEMILIK CAHAYA

Buku yang sangat berpengaruh bagi saya selain Al-Hikam adalah Al Munqidz Min Al-Dhalal dari Imam Ghazali. Sebuah otobiografi yang menggambarkan betapa seorang pencari kebenaran yang rela bertungkus lumus susah payah menyelami semua cara pencari kebenaran, mulai dari metoda filsafat, ahli kalam, batiniah, dan terakhir tasawuf.

Kenapa Al Munqidz Min Al-Dhalal (Pembebas dari kesesatan) menjadi istimewa sekali dalam benak saya, karena dia ditulis dalam bahasa curhat seorang alim. Dia menceritakan pengalamannya “berjalan”. Hampir mirip dengan Al-Hikam, bedanya Al-Hikam tidak bercerita mengenai kisah perjalanan, melainkan bercerita tentang situasi-situasi hati yang dialami para “pejalan”, dan ditulis dalam bahasa yang puitis dan pendek macam kata mutiara, atau aforisma yang sulit dimengerti kalau yang membaca tak mengalami.

Tetapi Al Munqidz… bercerita dengan gamblang bagaimana Sang Imam yang saat itu menempati jabatan tertinggi di universitas Nizhamiyah, profesor tertinggi-lah, kemudian melepaskan diri dari segala jabatan itu karena menurut beliau, beliau belum memiliki apa yang disebut dengan “ilmu yang yakin.” Sebuah keyakinan yang tidak akan tergoyahkan lagi, seperti orang yang yakin bahwa sepuluh itu lebih besar daripada tiga.

Meskipun ada seorang sakti yang bisa merubah tongkat menjadi ular, tetap kita akan yakin bahwa sepuluh itu lebih dari tiga. Orang sakti itu tak akan bisa menggoyahkan kepahaman kita. Sampai setaraf itu keyakinannya. Itulah yang menurut beliau “ilmu yang yakin” yang tidak menyisakan ruang pada hati untuk ragu.

Ada satu poin yang menarik menurut beliau, bahwa keyakinan itu, sebenarnya adalah “nur” yang dimasukkan ke dalam hati oleh Allah SWT. Jika ada orang-orang yang mengira bahwa “ilmu” hanya bisa diperoleh dari menyusun alasan dan kata-kata semata, berarti orang itu menyempitkan rahmat Allah yang luas.

Maksud beliau, hampir keseluruhan ilmu yang kita pegang sekarang adalah hasil analisa premis-premis, dan dari premis sampai pada kesimpulan. Bangunan kesimpulan kita adalah disusun dari analisa premis-premis itu.

Akan tetapi, mengetahui dengan berdasarkan semata analisa premis-premis, adalah pengetahuan yang rapuh. Karena “ilmu” sebenarnya adalah “nur” yang diberikan oleh Tuhan kepada hati manusia.

Ada suatu contoh menggelitik yang beliau berikan. Kata beliau, tidak mungkin keseluruhan ilmu yang dimiliki manusia adalah hasil analisa premis dan coba-coba (tajribah). Karena untuk coba-coba, samplenya terlalu banyak.

Saya teringat, dulu saya pernah bingung sendiri. Bagaimana bisa seseorang di pedalaman mengetahui bahwa suatu tanaman bisa berguna buat obat sakit demam? Apakah dengan coba-coba? Berapa ratus tipe tanaman yang ada di hutan mereka? Dari sekian ratus tipe tanaman itu, bagian mananya tanaman itu yang diuji cobakan pada si sakit? Lantas sample-nya menjadi berlipat beratus-ratus sampel. Coba tanaman pisang, ga sembuh. Coba lagi daun beringin, ga sembuh. Coba daun kemangi, ga sembuh tapi malah lidah berasa pedes……….itu baru nyoba tiga macam tanaman. Orang yang sakit keburu wassalam.

Ternyata itulah yang dikatakan Imam Ghazali. Umpamanya ilmu astronomi. Ilmu astronomi mengkaji tentang benda-benda langit, yang mana benda-benda langit itu munculnya ada yang ratusan tahun sekali. Komet tertentu munculnya 83 tahun sekali kalau tak salah. Maka coba-coba (tajribah) akan kelimpungan menemukan momen yang pas, kecuali diawali dengan insight dulu.

Jadi…..semata menyandarkan kepahaman dan pengetahuan dari analisa premis-premis adalah langkah keliru yang mengecilkan rahmat Tuhan.

Inilah kemudian yang menyadarkan saya, bahwa dalam mencari jawaban atas sesuatu, jangan kesusu mencari jawaban lewat analisa tekstual dan premis-premis logika. Karena jawaban lewat premis logika akan menghantarkan diri kita dalam analisa sample yang banyaknya tak karuan. Dan belum tahu darimana harus mulai.

Melainkan, mintalah kepada Tuhan agar dipertemukan dengan jawaban. Karena “kepahaman” itu “nur” yang diberi-Nya pada siapa yang DIA mau.

Maka ada dua kemungkinan, kata beliau, orang yang dipertemukan dengan jawaban akan mendapatkan rahmat sehingga mengerti bagaimana solusi dari persoalan. Dan yang kedua, sangat besar kemungkinan orang itu akan dipertemukan dengan dalil tekstual yang menguatkan insight yang telah dia dapatkan.

Wallahu’alam.


*) Ilustration Images

BUAH YANG TAK MENGECEWAKAN

Saya sudah berapa kali, mengandalkan kemampuan diri sendiri, dan sekian kali pula saya kecewa.

Hal yang masih membekas di ingatan saya adalah salah satu momen presentasi tingkat regional, dimana saya sebisa mungkin membagus-baguskan bahan presentasi saya, tapi ndilalah justru dengan bekal presentasi yang sangat baik itulah saya “dibantai” dan dicecar pertanyaan habis-habisan.

Selepas itu, sadarlah saya bahwa bukan diri kita penentu sukses dan tidak suksesnya perjalanan hidup kita. Melainkan plot-Nya.

Karena, dalam beberapa kali kesempatan lainnya, sewaktu saya mengalami kesulitan dalam pekerjaan, seringkali ada orang-orang yang menjadi “tangan-tangan tak terlihat” ikut membantu. Sehingga pekerjaan yang lumrahnya kalau saya kerjakan sendiri akan menjadi lama, tetapi bisa terselesaikan dalam waktu yang cepat.

Sebagai konsekuensi logisnya, saya harus menyebut nama jejeran orang-orang yang berkontribusi atas selesainya sebuah pekerjaan yang saya jalani.

Sebisa mungkin selalu saya katakan bahwa keberhasilan ini adalah kerja team. Mereduksi keberhasilan sebagai hasil karya pribadi, padahal dia berkait-kait dengan kontribusi orang banyak; menimbulkan rasa tak enak di hati.

Secara teori, kita mengetahui bahwa segala yang terjadi adalah af’al DIA. Dalam kajian yang lebih dalam lagi, kita mengetahui bahwa af’al-Nya tak lepas dari dzat-Nya, karena ESA. Dan kita terendam di dalamnya. “demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya…….. ”

Tetapi bagaimanapun juga, kepahaman sebab semata ilmu masih akan kalah dengan orang yang sudah mendapatkan “feel” nya alias “rasa”-nya.

Dan saya amati, salah satu jalan menghadirkan rasa itu, ya memang dengan tafakur.

Banyak-banyak melihat ke belakang, dan melihat kondisi sekarang, dimana keadaan diri sendiri malah membuat kita kecewa, jika kita gantungi diri kita dengan harapan.

Tetapi jika tidak melihat diri sendiri, dan melihat hidup sebagai af’al-Nya maka pelan-pelan harapan masih ada. Pelan-pelan harapan tumbuh.

Karena dengan af’al-Nya, semua menjadi bisa saja terjadi. Sebuah pekerjaan bisa saja selesai meskipun bukan diri kita yang menjadi solusi tunggal dari masalah.

Masalah-masalah akan selesai lewat jalan yang tidak diduga.

Tetapi kan yang paling penting adalah itu….. Terlepasnya kita dari masalah.

Tidak penting, siapa yang mendapat nama sebagai problem solver. Tetapi yang penting kita terselamatkan, dan dalam proses itu kita naik setingkat kepahaman, bahwa memang semua dalam genggaman Tuhan.

Ibnu Athaillah mengatakan, jika Allah hendak mengenalkan diriNya padamu, jangan kamu khawatirkan amalmu yang masih sedikit.

Kekata itu, barulah saya mengerti sekarang. Bukan amal usahamu yang membawamu mendekat. Melainkan karena DIA menulisnya begitu.

Dan jika mengikut flow dari Imam Ghazali. Bahwa tafakur melahirkan ilmu, atau kepahaman. Kepahaman menghadirkan situasi ruhani / Hal. Hal / situasi ruhani mendorong amal mewujud. Maka sebenarnya segala amalmu adalah buah dari pemberian-Nya.

Buah dari kepahaman yang diselipkanNya padamu lewat hidup keseharian.

-debuterbang-


*) Gambar ilustrasi dijepret tadi pagi, dari sebuah site di pojokan dekat Samarinda

BISAKAH TUHAN DIRENUNGI?

Pertama kali saya naik pesawat adalah sewaktu akhir kuliah, dalam sebuah kesempatan proyek eksplorasi batubara. Sembari mencari uang saku tambahan, saya dan berapa orang rekan kerja magang pada konsultan eksplorasi dan terbang menuju Kalimantan. Apa rasanya naik pesawat? Tanya saya pada seorang rekan.

Rekan saya, juga baru pertama naik pesawat, atau barangkali kedua kalinya. Saya lupa. Yang saya ingat jelas hanyalah betapa saya sungguh norak melihat pesawat di landasan bandara, dan menanti sensasi pesawat lepas landas dan pesawat mendarat dengan hati berbunga-bunga.

Bagi saya, moment norak seperti itu adalah anugerah.

Anugerah…. Sebagai sebuah makna, baru dimengerti secara jelas setelah menemukan pengalaman nyatanya dalam keseharian.

Seperti seorang anak, yang setelah dewasanya mencari uang sendiri, maka setelah merasakan keringat dan kerja keras ditukar dengan uang; barulah makna rejeki sebagai anugerah bisa dimengertinya dengan benar. Jika belum merasakan sendiri, seringkali belum paham.

Akan tetapi, kadang-kadang ada juga orang-orang yang melewati banyak gejolak dalam keseharian hidupnya, tetapi “makna” hidup belum merasuk dalam hatinya.

Tentu semuanya adalah dalam kuasa Tuhan, akan tetapi mengikut analisa Imam Ghazali dalam salah satu Bab Ihya Ulumuddin, dikatakan bahwa suasana hati (Hal), atau “makna” itu adalah efek dari tafakur. [1]

Dalam siklus yang kurang lebih begini: tafakur melahirkan ilmu, ilmu berbuah menjadi Hal spiritual / kondisi batin secara spiritual, Hal mendorong amal.

Makanya betul sekali, seorang arif mengatakan, bahwa jika gegaran belum datang, “rasa” belum merasuk, maka yg harus dilakukan adalah TAFAKUR. Menafakuri kehidupan kita sendiri, dalam kaitannya sebagai af’al Tuhan. Lewat cerita kehidupan kita sendiri akan datang ilmu dan kepahaman. Ilmu akan berbuah menjadi HAL atau “rasa” di hati. Rasa akan pada gilirannya mendorong amal mewujud.

Salah satu isu yang sering dibahas dalam kajian tasawuf adalah mengenai dzat dan sifat. Mengenai dzat dan sifat ini, sebenarnya mirip juga dengan istilah dalam filsafat yaitu “substansi” dan “aksiden”.

Umpamanya, gula. Gula itu “substansi” dan aksidennya adalah “manis”, “berbutir”, “berwarna putih”.

Gula adalah “dzat”, dan kemudian ada “sifat” yang melekat pada dzat itu. Dzat dan sifat adalah dua hal yang berbeda.

Yang menarik adalah kajian mengenai dzat dan sifat ini dipakai untuk memahami Tuhan. Apakah Tuhan itu dzat-Nya memiliki sifat?

Dan mengenai ini panjang sekali perdebatannya ternyata.

Akan tetapi, Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjabarkan mengenai tafakur dan kaitannya dengan merenungi Tuhan. Apanya Tuhan yang direnungi?

Maka menurut beliau, dzat dan sifat Tuhan itu tak bisa direnungi. Sia-sia, kata beliau. Maka jangan habiskan waktu mengorek-ngorek merenungi dzat-Nya. Tak akan mampu. [1]

Maka saat dimaksudkan dengan perintah memperbanyak “tafakur”, yang dimaksud tafakur adalah merenungi af’al alias perbuatan Tuhan. Yaitu ya ciptaan ini, hasil perbuatan Tuhan.

Dari merenungi ciptaan-Nya, maka “rasa” atau “gegaran” akan muncul. Rasa kagum, rasa bersyukur, rasa takut, dst……. Karena merenungi ciptaan, atau merenungi af’al-Nya dalam kehidupan kita.

Hanya saja. Tafakur adalah tangga pertama, untuk menghadirkan rasa kedekatan. Karena goal-nya dari “rasa” itu adalah menjadi pendorong amal.

Amal disini maksudnya ya ibadah, dan lebih-lebih lagi adalah muamalah.

Hal ini membuka kepahaman bagi saya. Karena saya melihat perdebatan yang cukup banyak mengenai ini.

Ternyata setelah membaca Al Ghazali, baru nemu puzzlenya.

Yang satu namanya tafakur, yaitu “merenungi” ciptaan Tuhan. Merenungi af’al-Nya. Hasil dari tafakur biasanya ilmu dan kepahaman, kepahaman berbuah “rasa” atau HAL spritual . Rasa mendorong amal-amal kebaikan mewujud.

Yang satu lagi disebut mengingat. Saat “mengingat” yang dituju adalah sang PEMILIK dzat dan sifat dan af’al. Yang tidak ada umpama.

Kalau terhadap af’al Tuhan, direnungi supaya mendapat kepahaman, ilmu, pelajaran, hikmah, rasa, yang mendorong amaliyah mewujud.

Dan saat beribadah, yang diingat atau istilahnya “sasaran” peribadatan adalah DIA. Yang memiliki semua itu. Yang tak ada umpama.

Wallahualam.

-debuterbang-


Reference

[1] K.H.R. Abdullah Bin Nuh. 2015. Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun (terjemah Al Munqidz Min Al-Dhalal, dan bab Tafakur dalam Ihya Ulumuddin). Jakarta Selatan : Mizan

*) Ilustration image, taken from Kappboom Wallpaper application for IOS

ADA YANG MELALUI SIFAT, ADA YANG SUDAH MENINGGALKAN SIFAT

Sewaktu saya terdampar di Bandara Atlanta, dalam satu penerbangan dengan tujuan menuju Houston, saya begitu takut. Ketakutan ini bukan –semata- karena datang ke tempat baru yang saya belum pernah kunjungi, melainkan karena saya merasakan betapa kecil saya, “diombang-ambing ombak takdir” dihantar kesana kemari, dan sewaktu di bandara Atlanta itu…… terasa sekali bagaimana saya ada dalam lautan manusia yang setiap orangnya sibuk sendiri, dan dalam pandangan saya kala itu; tiap orang menjalani takdir mereka sendiri-sendiri.

“Rasa” takut itu, sangat terkait dengan konteks hidup keseharian. Sebagaimana “rasa” bahagia, juga datang saat kita menjalani hidup keseharian. Hikmah-hikmah akan datang saat kita menjalani hidup keseharian.

Jika kita “jarang” mendapatkan “rasa” atau gegaran ketakutan atau kegembiraan berTuhan……. Seorang arif menjelaskan bahwa salah satu cara untuk mendapatkan “rasa” itu adalah dengan mentafakuri hidup keseharian yang sedang kita jalani, -sambil ingat Allah- lalu mensyukuri hirup nafas, mensyukuri setiap suapan makanan, sampai kemudian terasa bahwa kita bahagia atas anugerah-Nya.

Mengucap Alhamdulillah di mulut saja, tanpa rasa bahagia dan kebersyukuran di dalam hati kita, adalah seumpama “menerima tapi tidak menyukai”. Begitu kata beliau.

Jadi “dapat”nya lebih sering lewat kehidupan keseharian.

Mengutip kekata Rumi, adakah ketakutan yang tidak melahirkan harapan?

Ketakutan itu satu hal, yang melalui ketakutan itulah harapan harusnya muncul. Maka ketakutan tetapi tidak menghadirkan harapan; adalah keliru. betul sekali sebuah ungkapan bahwa yang paling jelek adalah prasangka buruk kepada Tuhan. Prasangka buruk ini ternyata baru saya mengerti, bahwa hilang harapan pada Tuhan juga termasuk prasangka buruk.

Ada sebuah kisah dalam Fihi Ma Fihi, dimana Rumi mengoreksi seorang shalih yang mengatakan Tuhan tak butuh makhluknya, tapi konteks perasaan saat mengatakan hal itu ; kurang pas.

Memang Tuhan tak butuh apapun, tetapi ketidak butuhan Tuhan terhadap apapun jangan diterjemahkan sebagai ora perduli.

Ibaratnya adalah seorang tukang kayu bakar (atau pengepul api, saya lupa persisnya), tukang kayu ini disalami oleh seorang Raja. Adalah keliru, jika tukang kayu itu berkespresi dengan mengatakan “Raja menyalamiku tanpa melihatku dan dia pergi berlalu begitu saja tanpa melihatku sama sekali hingga dia hilang dari pandanganku.”

Akan tetapi, katakanlah bahwa “aku disalami oleh sang raja, dia melihatku, dan dia tetap melihatku sambil dia berjalan, hingga dia hilang dari pandanganku.”

Kemuliaan raja tidak hilang, baik melihat atau tidak melihat tukang kayu itu.

Tetapi sebenarnya sang raja selalu melihat dan memerhatikan.

Dan kebutuhan dalam hidup kita adalah karena DIA membuatnya begitu, dan DIA ingin dipandang begitu (sebagai yang melepaskan kesulitan dari malhlukNya).

Itulah metafora dari Rumi.

Dari metafora itu saya kembali tersadar bahwa kita hidup dalam “pintu depan”. Hubungan manusia dan Tuhan yang dibangun oleh prasangka, maka milikilah prasangka yang baik kepadaNya. Jangan putus dari prasangka baik.

Itulah inti dari kitab Al Hikam, sampai-sampai jika pendosa atau orang yang ibadahnya kendur, kalau turun semangat menujuNya berarti selama ini bukan berharap pada Tuhan, kata Ibnu Athaillah. Melainkan berharap pada amal. Adabnya belum baik.

Itulah pula pesan Rumi dalam Fihi Ma Fihi. Dan dalam puisinya. Jika yang kita miliki hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik pada Tuhan, begitulah caranya. Kata Rumi.

Misalnya lagi, lewat memahami asmaul husna, dan mengenai ini banyak ditulis Ibnu Qayyim.

Semuanya adalah mengajari kita membaikkan prasangka. Karena DIA berkata bahwa “Aku sebagaimana prasangka hambaKu kepadaKu.”

Kita hidup dalam sebuah dunia yang tak mungkin kita menyentuhNya. “sampaimu kepada Allah, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentangNya, karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu” kata Ibnu Athaillah.

Karena tak mungkin kita menyentuhNya, tak mungkin mengerti DIA, maka sebenarnya kita hidup dalam “prasangka”. Tetapi milikilah prasangka yang baik akan-Nya.

Itulah mengapa Rasulullah SAW kembali mengajarkan bismillahirrahmanirrahim pada para kafir Makkah, orang-orang yang keliru prasangkanya akan Tuhannya.

Inilah jalan pintu depan. Hidup dalam prasangka yang baik akan DIA.

Akan tetapi ada orang-orang yang memahami lebih tinggi lagi. Bahwa bagaimanapun prasangka kita tentangNya tentulah tidak menggapai DIA yang sebenar-benarnya. Maka mereka menafikan apa yang terpandang dan mencukupkan diri dengan mengingatNya, tanpa menafsirkan macam-macam akan af’alNya. Karena alam sudah tak memberi bekas apa-apa pada mereka. Ini adalah approach di atasnya lagi. Pintu belakang.

Monggo menggunakan approach yang manapun saja. Tetapi memang saya pribadi mengakui bahwa approach pertama adalah lebih mudah untuk kita para awam. Dan lebih mendatangkan “Hal” alias situasi ruhani. Karena mendekati Tuhan dengan dihantar oleh rasa takut dan harap dalam hidup keseharian.

Mari membaikkan sangka akanNya, di senin pagi ini.

-debuterbang-


*) Gambar ilustrasi dijepret dari belakang abang GrabBike, di suatu senin pagi yang riweuh

AKAR BOLEH RUMIT, TETAPI BUAH HARUS SEDERHANA

root

Saya terfikir, memang sudah pas-lah, sewaktu kita sujud sholat kita membaca “Subhanarabbiyal A’la…..” Setelah segala bacaan dalam konteks memuji, sewaktu sujud yang dilakukan adalah menyucikan. Yang disucikan, sebatas yang saya pahami, maksudnya adalah maha suci DIA, dari prasangka kita sendiri. Maha suci DIA, dari prasangka kita yang terbatas.

Dulu, sewaktu kecil, dan sebelum belajar mengenai spiritualitas islam, tanpa saya sadari masih ada kesan pada diri saya, seolah-olah Tuhan itu adalah “person”. Memang kita tahu bahwa Allah SWT tidak mirip apa-apa, DIA bukan matahari, bukan gunung, apalagi patung, DIA bukan manusia. Hanya saja, sebab keterbatasan ilmu, saya dulu masih memiliki kesan seolah-olah DIA adalah sebuah “person” yang ada bertahta di atas langit. Hanya saja DIA tak mirip makhluk.

Prasangka keliru terhadap Tuhan, inilah rupanya yang diberantas oleh para Nabi dan Rasul, yang menurut riwayat kononnya ada 240 ribu Nabi-nabi dan Rasul yang diutus, dan semuanya mengusung risalah tauhid.

Dalam konsep islam, Tuhan itu hanya ada satu…… dan ini yang paling penting, bahwa “satu” di sini maksudnya bukan satu seolah satu orang begitu. Melainkan…..DIA ada sebelum segalanya ada, dari dzat-Nya-lah segala yang ada dicipta. Karena tak ada apa-apa selain dari DIA -yang tak bisa dipersepsi itu-, Dan segala yang ada / segala makhluk ciptaan-Nya yang dizahirkan-Nya tidak sebanding dengan DIA.

Dari sana, kesan bahwa DIA itu sebagai “person” mulai hilang. Lalu mulai melihat kehidupan sebagai cara DIA bercerita tentang diri-NYA sendiri. DIA Pemilik pagelaran ini.

Akan tetapi, setelah mengetahui fakta itu, yang tinggal hanyalah ibadah, dan bagaimana berkebaikan dalam hidup. Itu saja.

Saya pikir sungguh benarlah Imam Ghazali yang membagi kajian tasawuf dalam dua porsi, porsi pertama adalah tasawuf dalam kaitannya sebagai ilmu mukasyafah (ketersingkapan), dan tasawuf dalam kaitannya sebagai ilmu muamalah.

Mengenai tasawuf sebagai mukasyafah, ini hal yang pelik dan cenderung tidak dibuka terlalu dalam oleh beliau. Pertama karena kebanyakan orang tidak mengerti, kedua memang karena Rasululah SAW juga lebih cenderung pada pengamalan saja. Nanti, kalau orang bertanya “mana dalil tekstualnya?” akan sulit dijabarkan, karena memang ini adalah urusan siapa yang mendapatkan ketersingkapan itu.

Sedangkan, mengenai muamalah, hal ini menjadi penting, karena jika segalanya yang ada adalah cara DIA bercerita tentang DIA sendiri, maka berbaik-baik pada makhluk berarti tentu pula “mengakrabi” penciptanya, bukan?

Saya baru menyadari hal ini belakangan. Setelah mengamati beberapa kalangan pluralis, yang sampai pada ide penerimaan yang lapang akan keragaman, tetapi ide itu hanya buah dari analisa fikiran saja. Bukan dari “rasa” yang melihat merasakan keragaman sebagai cara Tuhan bercerita. Mereka jadi cenderung ujung-ujungnya adalah menggampangkan, dan seperti kurang adab pada tata aturan Tuhan dalam syariat.

Hal ini akan berbeda, jika kepahaman tentang “keragaman sesungguhnya adalah cara DIA Bercerita” itu didapatkan sebagai buah dari pengamalan; dan muncul dari “rasa”. Maka seseorang akan bisa lapang menerima keragaman, tanpa perlu dia kehilangan adab atau melecehkan porsinya sendiri sebagai seorang muslim. Karena kepahaman itu, tumbuh dari “rasa”-nya. dia akan bisa bermain dalam “game” secara cantik.

Contoh lainnya lagi, saya baca-baca, dalam literatur islam ada kajian yang sangat pelik mengenai Tuhan dan kaitannya dengan sifat-sifatNya. Kajian ini awalnya adalah counter dari arus deras filsafat yang masuk pada kebudayaan islam. Apakah Tuhan itu memiliki sifat-sifat yang inheren dengan dzat-Nya?

Dari sana golongan kemudian terbagi dua. Ada yang menganggap bahwa DIA itu dzat-Nya memang betul-betul tidak ada sifat yang lekat padaNya. Ada juga yang menganggap bahwa DIA itu bahkan sebelum mencipta sudah ada sifat-sifat yang inheren pada dzat-Nya. Perdebatan klasik, yang panjang, dan rumit. Benar-benar pelik.

Tadinya saya pun sangat tertarik membaca dan mengamati kedua perdebatan itu. Terkadang, perdebatan teologi itu disebut orang dengan istilah Fiqh Akbar. Fikh besar. Karena yang didebatkan adalah isu-isu pokok yang sangat krusial.

Tetapi kemudian saya teringat dengan bacaan di kala sujud itu. Bagaimanapun konsepsi fikiran kita, dibangun dengan dalil-dalil yang bagaimanapun solidnya, akan tetap kesulitan menggapai-Nya. Sucilah DIA dari segala prasangka kita yang terbatas.

Akan sulit kita melangkah melebihi kesimpulan bahwa DIA itu tan kena kinaya apa, alias laisa kamitslihi syaiun.

Bukan berarti ilmu di atas tidak penting. Ilmu itu sangat penting untuk menegakkan kepahaman yang kokoh. Tetapi, sudah ada ahlinya yang membahas itu.

Bagi saya sekarang, rupanya yang paling penting adalah buahnya. Buah kesederhanaan.

Umpama sebuah pohon. Akar pohon itu tentu sangat boleh dan harus menghujam ke dalam tanah. Membelah batu-batu. Menyerabut dan mencerap mineral dan nutrisi dari keragaman tanah yang pelik dan rumit. Memisahkan yang bersih dari yang kotor.

Tetapi, buah dari pohon itu tidak boleh rumit. Sebagai buah, dia harus sederhana. Ringkas. Ranum. Dan esensi.

Saya pikir itulah yang direnungi sang alim Imam Ghazali. Mengapa beliau membatasi tasawuf dalam porsi muamalahnya saja. Mari hidup dan sibuk berkebaikan dengan sederhana.


*) Image Sources

DIMANA KITA YANG DULU?


Hilang kemanakah “anda” yang semasa kecil dulu, saat ini?

Jika usia SD sekitar 7 sampai 13 tahun, dan usia anda saat ini barangkali 30an tahun atau 40an tahun, dimanakah anda yang dulu?

Kita mengenang “diri” kita yang dulu, sebagai kumpulan cerita atau memori. Barangkali kita masih sering senyum-senyum menikmati kenangan masa kecil, tetapi kita yang sekarang sudah melihat dunia dengan cara pandang yang sama sekali lain dengan cara pandang kita yang dahulu.

Kita (personaliti bentukan ilmu) yang dulu, digantikan dengan personaliti baru tanpa kita sadari.

Jika cara pandang dibentuk oleh kumpulan pengalaman hidup kita, dibentuk oleh ilmu kita, sedangkan ilmu merupakan buah dari rasa penasaran yang menyuruh kita mengkaji sesuatu…. Maka sepanjang hidup ternyata Allah menggeser kita dari rasa penasaran satu kepada rasa penasaran berikutnya, yang semata-mata tujuannya adalah DIA mengenalkan diri-Nya sendiri.

Kita merasa, personaliti kita berubah sepanjang hidup. Padahal, sebenarnya -mengikut bahasanya Imam Ghazali-, yang berubah itu ilmu kita. “diri sejati” kita tidak berubah. [1]

Di dalam diri manusia, ada sesuatu yang ruhani, yang sadar dan mempunyai kemampuan memahami sesuatu. Dialah itu, yang selama hidup memahami pelajaran-pelajaran disepanjang perjalanan.

Dia sendiri tetap seperti itu. Tetapi ilmu yang Allah ajarkan padanya, bertambah seiring waktu.

Sesuatu itulah yang disebut hati. Yang betul-betul “kita”.

Dialah yang diperjalankan, yang belajar, yang kemudian memahami. Hatilah yang penasaran dan mencari, yang dalam bahasanya Rumi…… “Kecintaanmu dan pencarianmu kepada sesuatu, sesungguhnya demi sesuatu yang lain, sampai kau mencapai puncak tujuan, yakni Allah, lalu kau mencintai DIA demi DIA semata, bukan demi selain DIA”. [2]

-debuterbang-

____

[1] menurut Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, aql memiliki dua definisi. Yang pertama maksudnya adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, definisi kedua adalah sesuatu yang halus yang punya kemampuan memahami dan mengerti ilmu-ilmu itu. Definisi aql dalam pengertian kedua ini, sama dengan qalb alias hati.

[2] Rumi, Jalaluddin. 2017. Terjemah Fihi Ma Fihi. Cetakan 3 2017. Jakarta selatan: Zaman.

*) foto saya jepret sendiri dengan hape, karena ndak bisa DSLR. Hehehehe.

MENJADI GAUL DAN MENCARI TUHAN


Saya senang mengamati beberapa orang rekan saya yang punya kemampuan berkomunikasi sangat baik. Dengan adanya mereka di dalam team, proses kami diaudit oleh auditor menjadi lumayan lancar. Karena audit yang lumrahnya “sangar” berubah menjadi “cair” dan penuh canda tawa. Tentu saja semuanya biidznillah, seizin Allah SWT.

Saya baca literatur NLP atau Neuro Linguistic Programming, ternyata approach NLP ini disusun berangkat dari rasa penasaran karena ingin mempelajari bagaimana cara para ahli berkomunikasi. Meneliti orang-orang yang punya kemampuan komunikasi dan bergaul dengan sangat baik, lalu diteorikan.

Begitu menariknya kemampuan bergaul ini, sampai-sampai, pada beberapa perusahaan swasta setahu saya memang ada divisi khusus yang memiliki orang-orang dengan kemampuan bergaul seperti ini, mereka menjadi team yang merekalah ujung tombak untuk menerobos pertahanan kekakuan yang tak bisa diterobos orang-orang dengan kemampuan gaul dan basa-basi yang alakadarnya, seperti saya, huehehehehe.

Tapi jujur saya senang mengamati mereka. Dan dari mereka saya banyak belajar.

Setiap orang sudah ditetapkan untuk mereka peranan-peranan dalam dunia ini. Dan peranan-peranan itu tunduk dalam plot-nya Tuhan.

Misalnya saja, Harimau membunuh kijang. Peranan “membunuh” itu terlihat kejam, tetapi justeru karena ada harimau yang membunuh kijanglah, maka tatanan sebaran populasi kijang terjaga. Rantai makanan berjalan normal. Meski untuk berjalannya tatanan itu; harus ada peranan harimau membunuh kijang.

Begitulah, juga yang terjadi pada manusia. Hanya saja, manusia hidup dalam balutan makna-makna baik dan buruk. Makna-makna itu diatur oleh baju syariat kita. Norma yang mesti kita jaga pada tatanan luar. Meskipun pada aspek batin yang dalam, kita melihat fungsi “penjagaan” fungsi “pengaturan” Tuhan dalam segala hal bahkan pada hal yang buruk. Tetapi sekali lagi, peranan kita adalah berbuat sesuai garis syariat.

Jadi mengamati peranan-peranan itu “seru” sekali. Peran berbeda-beda, maka ilmu yang berbeda-beda akan mendatangi orang-orang yang berbeda-beda pula. Karena saya bukanlah seorang yang pandai lobi-lobi, maka skill berbincang-bincang santai dan mencairkan suasana; tidak datang kepada saya.

Ilmu hanya datang sesuai garis peran. Seperti Musa a.s dengan peranannya yang tertentu, tidak memiliki ilmu khidir yang memiliki peranan yang lain lagi.

Menurut Rumi dalam Fihi Ma Fihi, Musa berada pada maqom yang harus berurusan dengan manusia, Khidir berada pada maqom yang hanya sibuk dengan Tuhannya, sedang Muhammad berada pada kedua Maqom itu. Pertamanya hanya sibuk dengan Tuhannya, tetapi kemudian diperintah untuk mengurusi manusia, dimana dalam kesibukannya dengan manusia; kedekatannya pada Allah sama sekali tidak berkurang. Ada peran masing-masing.

Meski baju peranan kita masing-masing berbeda-beda. Tetapi, tema besar perjalanan setiap kita adalah sama. “mencari Tuhan” (yang sejatinya tak kemana-mana).

Tidak diciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada-Nya, menurut Ibnu Abbas, beribadah pada-Nya itu maksudnya untuk mengenali-Nya.

Jadi sepanjang hidup kita semua, peranan yang beragam masih dalam tema drama besar pengenalan itu.

Ada yang mengenali-Nya dengan kelapangan dan kemudahan yang berlimpah, seperti Sulaiman a.s. Ada yang melewati onak duri seperti Ayub a.s dan mayoritas para Nabi. Ada yang mengenalinya lewat tugas ilmu lahiriah seperti Musa a.s yang keras dan blak-blakan. Ada yang mengenalinya lewat peranan sebagai yang tersembunyi dan memiliki ilmu batin yang pelik seperti Khidir a.s. Ada yang baik dan selalu baik seperti Abu Bakar a.s, ada yang dulunya Jahat lalu menjadi baik seperti Umar Bin Khattab.


*) barangkali gambar ilustrasi di atas ada copyright, saya tak tahu siapa yang bikin, yang jelas saya kopi dari aplikasi wallpaper di hape. Hehehe.

PELIK KEDALAM, SEDERHANA KELUAR


Sewaktu saya berangkat ke Houston Texas beberapa tahun lalu, ada seorang yang begitu baik mengajak kami jalan-jalan. Dari rekan-rekan saya yang lain, saya mendapatkan info bahwa beliau ini sudah lama tinggal di Houston, dan memang terkenal begitu baiknya pada para pendatang rekan-rekan dari Indonesia. Siapa aja diajak jalan-jalan. Meskipun sebenarnya saya sendiri tak kenal dekat secara personal.

Kemarin, sewaktu saya mampir ke Balikpapan. Saya pula dijemput oleh seorang rekan yang jauh lebih senior dari saya. Dijemput oleh yang lebih sepuh, di Bandara, adalah sebuah kehormatan yang saya syukuri.

Dan kembali beberapa nama orang-orang yang pernah meninggalkan kesan kebaikan membuat saya teringat dengan hikmah lama yang baru saya paham, yaitu jika “keluar”; kita berbahasa dalam bahasa kebermanfaatan. Bukan unjuk bahasa kesalihan pribadi.

Yang sering kita lakukan, kadang-kadang, kalau “keluar” diri kita bukan memberi manfaat pada sekeliling, tetapi menampilkan citra kesalihan diri pribadi. Seolah-olah orang lain tidak dekat dengan Tuhan, kita sendiri yang dekat.

Tentu ada porsi-porsinya syi’ar, tapi….. yang saya kemudian pahami adalah bahwa syi’ar itu pula harus dibangun dalam kerangka keinginan memberi manfaat. Pengen nolong orang dengan cara yang baik, gitu lah simpelnya.

Keinginan menolong ini, yang maju lebih dahulu.

Dan saya harus banyak belajar dari orang-orang yang memberi kebaikan-kebaikan yang sederhana seperti saya tulis di atas tadi, tetapi kebaikan sederhana itu ternyata tinggi. Ternyata muncul dari hati yang ingin menebar manfaat.

Dalam salah satu Bab di Ihya Ulumuddin, diterangkan dengan sangat cantik mengenai “diri sejati” manusia. Mengenai “Qalb”.
Sebuah tulisan yang sangat menarik dari sang Imam.

Akan tetapi, beliau mengatakan bahwa kajian yang terlalu mendalam mengenai hal itu; tidak beliau ungkapkan lebih detail lagi. Pertama karena “pelik”, kedua karena secara adab beliau tidak hendak membongkar terlalu dalam sedangkan Rasulullah SAW juga tak membongkarnya terlalu dalam.

Karena beliau lebih menitik beratkan pada bagaimana pengetahuan mengenai “sejatinya diri manusia itu” bisa berkaitan dengan aspek muamalah.

Artinya, pengetahuan spiritual yang “dalam” adalah aspek internal, sedangkan yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan itu membantu kita untuk berbaik-baik pada orang lain.

Apa gunanya, memiliki pengetahuan dan dialektika yang dalam ke dalam batin sendiri, tetapi tidak berbahasa dalam “bahasa manfaat” ke luar diri.


*) image sources

JALAN BAIK SANGKA, DAN JALAN MENIADA

Seorang teman meminta tips kepada saya, untuk meredakan kekhawatiran dan gundahnya atas suatu perkara.

Wuaddduuuh…. Saya pun sama juga. Kalau ada masalah ya gundah gulana juga. Bagaimana bisa berbagi tips? Hahahahaha.

Tetapi, Setidaknya menuliskan ulang apa yang telah saya pahami dari kajian para arif. Yang sayapun keluar masuk kadang bisa, lebih seringnya tidak bisa.

Inilah catatan itu:

Dua approach ini setidaknya bisa kita lakukan saat dilanda badai hidup.

1) Pertama. Mendekati Tuhan dengan berbahan bakar khauf dan Roja’.

Maksudnya, segala kekhawatiran dan harapan kita, menjadi pemicu kita untuk “lari” ke Allah. Untuk meminta tolong.

Misalnya kita ada masalah, maka kita takut dan butuh pertolongan Allah. Kita sholat 2 rakaat dan dalam sholat itu kita mengadu dalam bahasa kita sendiri, pada Allah. Saat sujud doa dalam hati setuntas tuntasnya. Sampai persandaran pada Tuhan itu terasa sekali. Sampai plong hati.

Atau, tidak dalam kondisi sholat juga bisa. Kita mengingat Allah, lalu mengadu dan meminta tolong. Biasanya….. Kalau benar-benar sulit suatu perkara itu, kita justru semakin memiliki bahan bakar untuk “lari” kepada Tuhan. (lari ini kiasan saja)

Hanya saja, metoda ini tidak akan komplit tanpa diri kita dilengkapi seperangkat pengetahuan batin.

Misalnya….. Pengetahuan mengenai “qalb” hati itu yang mana? Yang dinamakan sejatinya manusia itu yang mana? Bagaimana mengingat Allah SWT itu? Bagaimana mengingati Yang Tiada umpama? (kajian ini saya pelajari dari Ust. H. Hussien Abd Latiff, dan mengenai definisi qalb sebelumnya sudah pernah dibahas Imam Ghazali dalam Bab Keajaiban Hati, salah satu bab dalam Ihya Ulumuddin).

Lalu, penting sekali untuk memiliki keilmuan yang membantu kita berbaik sangka pada Allah. Tanpa membenarkan prasangka, bagaimana meminta tolong?

Dalam suatu hadits, dikatakan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Dualitas dunia dijadikan oleh-Nya dalam proporsi yang tidak 50:50. RahmatNya sengaja dilebihkan. Maka baikkan prasangka kita.

Rumi berkata, yang maknanya kurang lebih: diantara dua orang shalih, yang paling baik diantara mereka adalah yang paling baik prasangkanya pada Tuhannya.

Inilah approach pertama. Mendekati Tuhan berbahan bakar rasa takut dan harap yang kita rasakan sepanjang perjalanan hidup. Mendekati Tuhan dengan berbaik sangka padaNya. Mendekati Tuhan dibantu oleh konteks yang kita temukan dalam hidup kita sendiri-sendiri.

2) Approach kedua adalah “keluar dari kerangkeng diri”.

Approach ini, agak berbeda sedikit dengan approach pertama.

Kalau Approach pertama tadi, rasa takut dan khawatir menjadi pendorong menuju Tuhan, karena kita baik sangka pada-Nya.

Akan tetapi, approach pertama… karena kita menuju-Nya berbahan bakar dualitas takut dan harap, maka mau tak mau yang menujuNya masih “diri kita” dengan selubung personaliti kita.

Umpamanya seorang bernama Hasan. Dia mengalami kesulitan dalam keuangan. Maka Hasan merasa sedih dan takut dan butuuuh sangat bantuan Tuhan. Berdoalah Hasan kepada Tuhan.

Yang berdoa adalah “Hasan”. Dalam mentalitas personaliti sebagai seorang yang fakir kepada Allah. Lalu Hasan merasakan kebaikan Tuhan dan dalam persepsi Hasan; Allah terpandang sebagai Yang Maha Kaya. (terpandang ini maksudnya kiasan saja).

Jadi yang beribadah masih Hasan. Dan Tuhan masih “terpandang” sebagai yang bersifat-sifat.

Tapi ndakpapa ini sudah mantap juga.

Nah kalau approach kedua, belajar melepas diri dari kerangkeng sebagai “Hasan”. Jadi seperti nonton drama. Saking seringnya melakukan approach pertama, lama-lama nyadar, eh…. Saya ini bukan si Hasan-nya ini. Saya ini “di dalam” si Hasan. Maka baju personaliti sebagai Hasan, dilepas.

Kalau sudah berjarak dengan rasa takut dan khawatir, lama-lama pula berjarak dengan kerangkeng diri sendiri. Sehingga yang mengingatNya bukan lagi ego diri yang bernama Hasan itu.

Oleh sebab yang menghadap bukan lagi Hasan-nya itu, maka DIA tak lagi terpandang sebagai yang bersifat-sifat.

Istilah seorang Arif, kita rileks duduk di pojokan memandang drama. Relax one corner.

Nah itulah dua approach yang saya amati sepanjang perjalanan belajar.

Saya sendiri jatuh bangun macam lagu dangdut untuk masuk ke approach satu, opo meneh approach kedua…. Hehehe. Yang penting terus belajar

-debuterbang-

URUNG LOGOUT FACEBOOK; MENITI JALAN YANG BUKAN KERAHIBAN

kerahiban

Pagi-pagi buka FB, niatnya mau refreshing, eh tiba-tiba melihat sebuah posting dimana seorang dari kelompok sebelah menghujat ustadz Somad tokoh terkenal dari kalangan aswaja, pasalnya karena ustadz somad menjelaskan bahwa “Allah ada tanpa tempat”. Lalu dijelaskan lebih lanjut bahwa “tempat” itu adalah ciptaan juga, maka Allah suci dari “arah” dan “tempat”. Sebuah bahasan yang sebenarnya sangat lumrah dijumpai dalam kajian sufistik.

Tetapi, seperti biasanya kalangan sebelah, mereka memaknai sesuatu secara literal, sehingga bagi mereka Allah itu ya di atas langit sana sedang duduk di atas arasy.

Saya tak hendak membahas dua hal itu, karena yang ahli sudah banyak, dan sepanjang pengamatan saya debat ini tak henti-hentinya. Yang satu literal, yang satu pemaknaannya lebih dalam dan sufistik. Ya monggo-lah dengan cara pandang masing-masing.

Yang saya hendak bahas adalah gejolak hati saya, dimana saya tiba-tiba tersulut dan kesal juga karena ulama dilecehkan. Hendak saya membalas komentar di kolom FB, tiba-tiba teringat dengan kajian salah seorang guru mengenai “turun padang”. Jadi tak jadilah saya menulis di komentar. https://debuterbang.wordpress.com/2017/05/05/turun-padang-dan-kuncir-rambut/ 

Menurut seorang arif (Ust. H. Hussien Abd. Latiff), apabila yang “nampak” dalam pandangan kita bukan lagi sifat-sifat, keragaman tak lagi menimbulkan bekas di hati kita. Karena kita nampak keragaman itu sebagai dzat-Nya semata-mata. Sifat-sifat itu tidak eksis dalam pandangan kita. Itu cara pandang lewat pintu belakang.

Jika dipandang lewat pintu depan, keragaman yang banyak itu, pastilah dijadikan dalam suatu hikmah. Sebuah greater good yang tidak mungkin sia-sia. Maka, dalam keragaman yang kadang-kadang memicu emosi, kita menjadi reda dan memaklumi, bahwa keragaman memang begitu adanya, dan memang baik adanya.

Dalam kaitannya bahwa keragaman adalah berhikmah, saya teringat kembali dengan sebuah perumpamaan dari Rumi dalam “Fihi Ma Fihi”. Dikatakan oleh Rumi, tidak ada kependetaan / kerahiban dalam islam. (Saya yakin rekan-rekan ingat dengan sebuah hadits dimana seorang sahabat hidup dalam sikap kerahiban, ibadah terus sampai melupakan istrinya, lalu ditegur oleh Rasulullah SAW agar memperhatikan hak-hak istri dan hak-hak dirinya, dan dikatakan tidak ada kerahiban dalam islam).

Apa maksud hidup dalam sikap kerahiban?

Menurut Rumi, hidup dalam kerahiban itu adalah jalan mengasingkan diri, menahan diri dalam kesunyian dan menahan diri dari syahwat.

Apakah jalan seperti itu bisa menaikkan spiritualitas seseorang? Ya tentu bisa…. Contohnya kita lihat para pertapa. Atau misalnya kita lihat Isa a.s tidak menikah. Jalan kerahiban adalah salah satu metoda.

Hanya saja……

Hanya saja metoda dalam islam adalah antitesis jalan kerahiban. Jika jalan kerahiban adalah dengan “tidak menikah” dan mengasingkan diri dalam kesunyian agar terhindar dari hingar bingar dan syahwat lalu spiritualitas meningkat. Jalan islam justru sebaliknya, yaitu masuk dalam “hingar bingar” agar lewat gejolak itu kita tertempa spiritualitasnya, lewat penerimaan dan ridho atas keragaman yang tampak kasat mata seolah sebagai kesewenang-wenangan, padahal medan penempaan diri.

Menurut Rumi, ketimbang lewat jalan kerahiban dan tidak menikah, maka jalan islam lebih gampang, yaitu menikah dan ridho dalam keragaman. Bagaimana menyucikan diri lewat keragaman? Kata Rumi, “Siang dan malam kau terus berjuang, berusaha memperbaiki perangai perempuan dan menyucikan kekotorannya melalui dirimu. Padahal jalan yang lebih baik adalah kau menyucikan dirimu melalui dirinya…..” agar mengasah diri menjadi lebih jernih.

Perumpamaan di atas hanyalah perlambang. Jika hidup di atas jalan kerahiban adalah mengasingkan diri dari keramaian dan gejolak. Maka jalan islam adalah justru dengan berkecimpung dalam “gejolak” dalam sikap yang benar justru akan membantu menyucikan kita.

Dengan sikap tahammul (sabar dan menanggung beban) yang kita terima dari keragaman itu.

Itulah pandangan “depan” dan pandangan “belakang” yang sangat indah menurut saya. Maka saya urung logout facebook… hehehehehe…. Karena keragaman itu memang begitu adanya. Dan ternyata jalan islam adalah dengan membersihkan diri lewat penerimaan yang ridho atas keragaman itu, lalu menyadari bahwa keragaman itu tak lain tak bukan hanya tampilan casing sifat-sifat yang tak benar-benar eksis.


*) image sources