BELAJAR MENJADI PRIBADI BARU

Hand writing never stop learning

Salah satu imbas dari belajar tasawuf, utamanya pendekatan tasawuf profetik yang saya pelajari dari seorang Arif, adalah timbulnya keinginan hati untuk kembali “belajar”.

Bukan belajar dalam artian formal seperti kuliah, tetapi belajar dalam maknanya yang lebih luas.

Misalnya saja begini. Saya mengenali diri saya sebagai persona dengan kecenderungan introvert. Saya menyukai keheningan. Saya suka kontemplasi. Diskusi yang filosofis. Tetapi akibatnya seringkali saya kesulitan untuk membangun relasi, yang tentu saja setiap relasi harus dimulai dengan ketrampilan bicara hal-hal kecil tetapi membangun keakraban. Maka seringkali saya dinilai sebagai pendiam.

Selama ini saya merasakan bahwa ini adalah hambatan terbesar saya. Terlepas dari kesadaran bahwa tentu kecenderungan psikologi pribadi kita adalah juga hal yang tak lepas dari apa yang telah tertulis di Lauh Mahfudz-Nya. Hanya saja, saya akhirnya menyadari bahwa yang kita kenal sebagai diri kita, personaliti kita, adalah bentukan dari ilmu yang selama ini kita serap.

Kalau ingin berubah, maka rubahlah cara kamu memandang, dalam arti cara kita memandang hidup perlu diperbarui, lewat asupan ilmu yang baru, yang lebih baik.

Satu yang menarik dari wejangan Al Arif, dimana saya dan rekan-rekan disadarkan bahwa hal-hal yang halus semisal berikut ini; adalah juga ciptaan; diantaranya, rasa takut, rasa sedih, rasa gelisah, amarah, dan segala anasir perasaan yang selama ini kita kira bagian dari diri kita, ternyata adalah juga makhluk, yang manusia sebagai khalifah tidak boleh tunduk pada mereka.

Salah satu piranti untuk menundukkan “perasaan” adalah ilmu itu tadi.

Contohnya, saya bekerja pada perusahaan asing, dimana kultur orang timur seringkali bertabrakan dengan kultur barat. Misalnya di dalam rapat, kultur timur biasanya sebagai pendengar. Menghargai atasan dengan tidak memotong pembicaraan. Dan lebih banyak setuju dengan apa yang disampaikan bos.

Tetapi, dalam pandangan kultur barat, hal itu dianggap sebagai sikap yang pasif. Jika tidak bicara dalam rapat, tidak menyanggah, tidak adu argumen, dikira pasif dan tidak menghargai.

Jika saya, disalah-sangkai oleh bos, dianggap tidak menghargai beliau, tentu saya kecewa dan sedih.

Bagaimana cara agar saya tidak kecewa dan sedih? ada dua jalan untuk menghilangkan kesedihan ini.

Yang pertama, lewat laku batin. Misalnya, kita terlatih mengenali emosi diri kita, seperti para ahli meditasi. Sampai saking terlatihnya, akhirnya kita bisa mengendalikan rasa kecewa di dalam diri kita. Rasa kecewa, dan “kita yang sebagai pengamat” seperti terpisah dan ada jarak mental. Maka rasa kecewa tidak bisa mampir ke kita. kalaupun mampir, bisa cepat kita lepaskan.

Yang kedua, jalan ilmu. Pas kita kecewa karena disalah sangkai bos kita. Ada seseorang yang mengajari kita sebuah ilmu. “Eh… bosmu itu bukannya ga suka sama kamu lho, tapi cara pandang dia itu beda, dikiranya kalau denger doang pas meeting itu artinya kamu mengacuhkan dia. Padahal dari sisi kamu, hal itu dianggap sikap sopan santun terhadap atasan. Makanya jadi salah sangka semua.”

Seketika itu juga, saat sebuah khasanah ilmu dibukakan pada kita, langsung realita perasaan kita berubah. Dari yang tadinya kesal, lalu jadi adem….. OOOhhh ternyata begono toh. Salah perkiraan saya selama ini.

Saat sebuah jalan ilmu dibukakan pada kita, maka cara pandang yang lebih tinggi akan menganulir cara pandang yang lama. Jika cara pandang yang lebih tinggi itu sedemikan kuatnya, maka menjadilah kita pribadi yang baru. Betapa pentingnya ilmu (dan hikmah), dia diletakkan sebagai pondasi sebelum amal didirikan.

Saya teringat kisah Isra’ Mi’raj-nya Rasulullah SAW. Dimana saat beliau berduka kehilangan Khadijah, dan berduka kehilangan Paman beliau, dan beliau berduka karena dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif, tak lama kemudian peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi.

Beliau diperlihatkan bahwa dunia ini sedemikian luasnya. Dan cerita kehidupan dari awal sampai akhir sudah siap. Konteks “ilmu” yang sangat besar diberikan kepada beliau. Maka kesulitan hidup beliau menjadi lebih ringan dibandingkan konteks yang lebih besar itu. Dan setelah itu datang perintah sholat lima waktu.

Dalam tasawuf. Jalur profetik. Yang dibuka pertama kali adalah ilmu. Ilmu tentang Tuhan. Pengenalan akan Tuhan dan kaitannya dengan alam semesta. Diberikan di awal lewat ilmu.

Allah itu apa? kaitannya dengan alam semesta seperti apa? bagaimana Allah mengatur alam semesta? dengan terbukanya satu gerbang ilmu ini, realita hidup kita jadi berubah sama sekali. kita memandang hidup jadi sama sekali lain. Karena ternyata tidak ada lini apapun dalam kehidupan ini yang bisa dilepaskan dari konteks Tuhan dan ciptaan-Nya. DIA menceritakan diriNya sendiri.

Barulah selepas itu, peribadatan didirikan di atas pondasi pengenalan itu.

-debuterbang-


*) Image Sources

PANGGUNG SANDIWARA

Teringat dulu di dekat rumah saya di Sumatera ada sebuah Musholla kecil. Di sana biasanya sholat maghrib berjamaah. Dan salah satu momen yang saya sangat ingat adalah waktu anak-anak kecil ribut lari-larian saat orang sholat maghrib, seusai sholat seorang bapak-bapak tua yang sudah sepuh nampaknya geram dan menggebuk anak-anak itu pakai peci. Hehehe.

Tapi toh orangtua anak-anak yang digebuk pakai peci malah terima-terima saja anaknya dimarahi. Barangkali metoda jaman dulu memang begitu.

Berpuluh tahun kemudian, saya pindah ke Jakarta. Di dekat rumah saya sekarang ada juga musholla kecil. Anak-anak masih sering bermain lari-larian. Tetapi penerimaan orang disini terhadap anak-anak yang brisik di Musholla agaknya lebih relax. Tak pernah saya lihat bapak-bapak tua menggebuk anak-anak. Paling banter menegur seusai sholat.

Dari kepindahan saya beberapa kali di beberapa tempat, saya jadi mengenal setiap tempat mempunyai kultur yang berbeda.

Perbedaan itu Bahkan tak hanya hal sepele semisal sikap terhadap anak-anak yang brisik di Musholla. Hal-hal yang agak lebih berat juga orang-orang berbeda-beda.

Tentang demokrasi. Tentang khilafah. Tentang metoda dakwah. Tentang macam-macam. Sampai pada hal yang lebih fundamen semisal sisi spiritual dalam keberagamaan. Tentang sifat-sifat Tuhan. Tentang takdir misalnya. Dan lain-lain.

Melihat keragaman itu, baru saya sadari bahwa hanya sia-sia belaka, jika kita hidup dalam keinginan membuat dunia menjadi satu warna saja. Dunia memang berbeda-beda. Dan beginilah adanya.

Teringat Rasulullah SAW yang dalam kedukaan beliau berdakwah, lalu ummatnya masih juga ingkar, beliau malah ditegur oleh Allah SWT. Jangan jadi orang yang jahil. Jika Allah mau, maka dunia ini akan bisa dibuat seragam oleh Allah. Tapi nyatanya Allah inginkan begitu. Beragam-ragam.

Artinya, bahkan orang-orang kafir yang ingkar pun Allah buat begitu, for a reason, ada hikmah dan bagian utuh dari cerita hidup.

Menceritakan DIA sendiri. Pemilik kehidupan yang penuh dinamika ini.

Barulah saya mengerti bahwa yang paling pokok dalam hidup ini ternyata adalah kita sebagai pribadi bergerak dari tangga keyakinan yang satu, menuju tangga keyakinan yang lebih tinggi lagi.

kita sebagai pribadi menemukan arti hidup yang semakin mendalam setiap harinya.

Boleh jadi dalam peranan kita Akan selalu ada orang yang berbeda dengan kita. Berbeda lakon. Beda peran. Beda kepentingan. Disisi lain, akan selalu juga ada orang yang beririsan jalan dengan kita, barangkali menempuh perjalanan yang sama atau searah.

Setiap manusia sedang menempuh rel mereka sendiri-sendiri. Yang paling pokok adalah kita menyadari peran kita dalam kehidupan. Dan hidup dalam sikap penghambaan dalam peranan yang sudah kita sadari itu.

Setiap orang ternyata hidup dalam lakonan di panggung sandiwara Maha besar ini.

Dan marilah kita bermain sebaik-baiknya sembari menyadari bahwa pagelaran sandiwara besar ini sesungguhnya menceritakan Sang Empunya, bukan tentang kitanya.

MENSYUKURI PENGHARAPAN

Betapa saya mensyukuri kesempatan saya untuk bekerja di kantoran, dari sebelumnya saya menghabiskan hari-hari dengan menjadi pekerja lapangan minyak.

Banyak hal baru yang saya pelajari. Managerial. Cara presentasi. Keuangan. Kemampuan berbahasa. Perpolitikan kantor. Bahkan psikologi.

Padahal, semasa saya masih kerja lapangan migas, di tengah-tengah anjungan pengeboran yang terapung di laut dalam, saya merasa gamang, apakah keinginan pindah kerja ini merupakan suatu hal yang baik atau kufur nikmat?

Saya sama sekali tidak memandang rendah kepada kerja lapangan. Bertahun-tahun kerja lapangan menempa saya dalam banyak hal. Hanya saja, saat itu terasa di hati saya bahwa sudah sampai masanya saya memulai sesuatu yang baru. Diawali dari rasa ketidaknyamanan saya dengan ritme kerja di lapangan pengeboran itu.

Dalam rasa tidak nyaman itulah saya gamang. Mengira bahwa saya sudah kufur nikmat.

Sampai setelah saya pindah dari dunia kerja lapangan menuju kantor, barulah saya menyadari bahwa banyak sekali hikmah yang terbuka bagi saya selepas kepindahan saya itu. Utamanya dari sisi ilmu. Barulah saya tahu bahwa kegelisahan itu rupanya menghantarkan saya pada sesuatu yang baik di kemudian harinya.

Darisanalah saya merenungi, benarlah seorang guru mengatakan bahwa disebalik ujian sesungguhnya adalah ilmu Allah. Jika kita menerima takdir kita, maka ilmu Allah akan terbuka untuk kita. Hikmah dari suatu kejadian, dan jalan keluar.

Betapa Allah itu seperti prasangka kita. Maka hati-hatilah berprasangka.

Contohnya. Kita sedang sama-sama menghirup udara di saat kita membaca tulisan ini. Tetapi di detik yang sama ini pula, kita bisa memandang Allah dalam citra yang berbeda-beda.

Umpamanya kita seorang pendosa, kita memaknai hirupan udara dengan “alhamdulillah masih diberi hidup….. masih ada kesempatan memperbaiki diri.”

Atau sebaliknya, kita mengira “saya masih diberi kesempatan bernafas. Jangan-jangan ini istidraj. Tuhan membiarkan saya dalam kesesatan.”

Allah sudah tercitrakan dalam dua sifat, yang menyifati adalah manusianya sendiri.

Maka berbaik-baik sangkalah pada Tuhan. Itu pelajaran yang saya petik. Baik sangka dalam arti jika kita menujuNya sejengkal, DIA sehasta. Kita sehasta, DIA sedepa. Selalu lebih cepat sambutanNya ketimbang usaha kita.

Maka dalam kegelisahan ujian. Kita bersangkalah yang baik. Lewat ujian biasanya malah cepat menujuNya. Dan meminta tolong keluar dari kegelisahan itu tidak tercela.

Menurut Seorang arif, di dalam ujian, jika kita ridho maka ibarat kita sudah menyeberangi jembatan. Di ujung jembatan kita mendapati tempat itu penuh dengan hikmah ilahiah.

Barangkali sharing ini berguna. Karena saya mendapati sebagian rekan-rekan mengalami juga dilema seperti saya. Rasa-rasa enggan berdoa, tersebab menganggap doa adalah kufur pada nikmatNya.

Saran saya. Lupakan kegalauan itu. Berdoalah tuntas tanpa ragu. Ibarat anak panah, lepaskan dari busurnya tanpa bimbang.

Karena dalam suatu hadits, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah tidaklah merasa direpotkan dengan doa kita.

Terlebih, kalau kita melihat dari sisi apakah ilmu yang akan Allah ajarkan kepada kita kedepannya? Juga kalau kita memandang dari sisi bahwa DIA ingin diriNya disifati sebagai Yang Maha Mengabul do’a, maka akan selalu ada makhluknya yang dititipi rasa butuh akan pertolonganNya.

Mudah-mudahan, pada gilirannya kelak kita bisa sampai pada maqom di atasnya lagi yaitu sibuk mengingatiNya, sampai tak lagi hirau dengan permintaan. Tapi itu kan tingkat tinggi, hehehe. Dari yang awalan saja dulu. Mensyukuri pengharapan kita.

Ref:

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far dari Al ‘Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian berdoa maka janganlah sekali-kali ia berkata; ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau kehendaki, ‘ akan tetapi hendaklah ia serius dalam meminta dan besarkanlah pengharapannya, karena bagi Allah ‘azza wajalla tidak ada sesuatu yang bagi-Nya merasa kewalahan untuk memberikannya.’ (HR. Muslim: 4838 )

MEMBANGUN PONDASI KEBERAGAMAAN

Awalnya, saya mengira bahwa tasawuf adalah semata pelajaran mengenai akhlak. Etika. Untuk membedakan dengan istilah umum, saya mencoba memahami tasawuf sebagai adab menuju Tuhan. Adab bertuhan. Begitulah bahasa sederhananya.

Setelah diluruskan oleh Al Arif Ust. H. Hussien Abd Latiff, barulah saya memahami bahwa hal yang paling fundamen dalam tasawuf bukanlah adab, melainkan tentang Tuhan itu sendiri.

Imam Ghazali mengatakan awaluddin makrifatullah. Awal beragama mengenal Allah.

Keseluruhan bangunan keberagamaan tanpa didirikan di atas pondasi pengenalan akan Allah SWT, akan menjadi rapuh, mudah goyah.

Sebagaimana sebuah hadits, saat sahabat akan berkunjung ke pemukiman yahudi, Rasulullah SAW bersabda yang kurang lebih maknanya kenalkan dulu mereka kepada Allah SWT. Setelah kenal baru beritahu mereka bahwa sholat lima waktu itu wajib.

Artinya, kenal dulu pada Tuhan. Pada Allah SWT. Baru selepas itu dirikan bangunan syariah di atas pengenalan itu. Seperti sholat, atau ibadah lainnya. Setelah ada pondasi, dan bangunan syariat berdiri, barulah bisa menjadi cantik dihias dengan adab. Barulah melangkah pada tangga berikutnya yaitu keridhoan pada af’al (perbuatan Allah). Yang kesemua itu akan sulit diterapkan tanpa mengenal Allah. SWT. Dan memahami secara keilmuan bagaimana hubungan Pencipta dan ciptaan? Bagaimana mekanisme takdir?

Jalan tasawuf yang menempatkan pembelajaran tentang ketuhanan lewat jalur “ilmu” pengetahuan yang shahih ini disebut tasawuf prophetic. Atau JALAN PARA NABI. Kenal Allah dulu, baru peribadatan didirikan diatas pengenalan itu.

Skemanya, setelah mengenal Allah (melalui ilmu), barulah memperkemaskan diri dengan sungguh-sungguh untuk beribadah lebih baik. Hidup dalam sikap mengabdi kepada Tuhan yang sudah kita kenal. Mulanya adalah makrifatullah atau ilmu mengenal Allah. Baru lanjut pada ibadah, dzikrullah, keridhoan. Dst.

Ada jalan satu lagi, yaitu sebagian kalangan yang berupaya mendapatkan pengetahuan ketuhanan lewat jalan tirakat. Lelaku ruhani. JALAN PARA WALI.

Mengutip Syaikh Ahmad Sirhindi dalam “Sharia and Sufism”, dikatakan bahwa sebagian kalangan tasawuf menganggap tasawuf adalah Quest For Reality. Semacam perjalanan atau pencarian untuk bertemu makna hakiki atau realita hakiki kehidupan.

Seperti kita sering melihat spiritualis -bahkan yang non muslim-, yang tekun dengan tirakat keruhanian mereka, apatah itu meditasi, dan sebagainya, mereka mendapatkan pengertian yang sangat dekat dengan deskripsi islam tentang Tuhan. Misalnya, bahwa Tuhan itu esa, tak serupa apapun. (ini saya memandang dari perspektif sebagai seorang muslim)

Sampainya mereka pada pengenalan akan Tuhan setelah melakukan Quest, perjalanan pencarian yang panjang dan tirakat yang sangat berat, Baru mendapatkan insight di ujung perjalanan. Artinya, para pejalan ruhani -bahkan di tradisi keberagamaan lain pun- menjadi mengerti tentang ketuhanan. Karena menempuh lelaku ruhani yang berat. Dan tercerahkan di ujung perjalanan.

Hanya saja, Hal inilah yang menurut Syaikh Ahmad Sirhindi, jalur yang berbahaya. Sungai yang deras yang jarang orang bisa menyeberanginya Dengan selamat.

Menurut Imam Ghazali, jalan yang berbahaya itu membuat banyak yang berhenti sebelum sampai. Sebagiannya mengaku menjadi Tuhan. Sebagiannya meninggalkan syariat sama sekali. Karena pengenalan kepada Tuhan diletakkan di akhir perjalanan, sebagai buah dari laku batin atau tirakat. Tanpa dilengkapi dengan ilmu. Lebih kepada olah ruhani semata. Tetapi secara fair kita tidak menutup fakta bahwa yang “sampai” pun ada juga.

Dulu saya tak paham benar beda antara keduanya. Tetapi alhamdulillah akhirnya sekarang memahami pendekatan tasawuf profetik lewat Al Arif Ust. H. Hussien. Bahwa makrifatullah itu bukan puncak capaian. Melainkan tangga paling dasar yang harus kita pahami lewat ilmu sebelum bisa beribadah dengan benar. Dan kemudian ridho dengan takdir. Sisanya adalah Meniti Hidup dalam sikap penghambaan. Semuanya perubahan cara pandang karena ilmu. Lalu amal tumbuh dari kepahaman itu.

MENGETUK PINTU RAJA

Sekumpulan orang yang hendak bertandang ke Istana Raja, sedang mendengarkan petuah dari seorang guru. Sang guru memberi tahu murid-muridnya bagaimana “cara mengetuk pintu gerbang Sang Raja”.

“Angkat tangan kalian, genggam dan buat kepalan, lalu ketuk di tengah pintu dengan sopan, dan sungguh-sungguh. Tunggu Sampai pintu dibuka”. Pesan sang Guru.

Seorang anak muda diantara mereka bertanya, “lalu apa yang terjadi jika pintu dibuka?”

Guru tadi menjawab, “akan ada pengawal istana mempersilakan masuk”.

Seorang lainnya menimpali, “ya….saya pernah dipersilakan masuk. Di dalamnya ada taman hijau seluas mata memandang”.

Seorang lainnya menjawab, “jika pintu terbuka kita bisa mendengar derap langkah pengawal istana dengan jelas”.

Anak muda di antara kumpulan itu tadi, merasa terpukau dengan deskripsi keindahan pekarangan istana dan sambutan pengawal-pengawal kerajaan. Sehingga lupa bahwa tugas utama pengunjung istana kerajaan adalah terus mengetuk dan menunggu dengan sopan di depan pintu gerbang.

Sampai suatu hari. Anak muda tadi berkunjung ke istana dan mengetuk pintu gerbang Raja, sekali.

Selepas mengetuk dia menunggu mengapa tidak ada pengawal istana membuka pintu gerbang? Diketuknya lagi. Belum juga ada terbuka. Heranlah dia, mengapa tak terlihat taman hijau seluas hamparan mata? Bingunglah dia, bagaimana cara mengetuk pintu dengan benar?

Merasa kecewa. Anak muda tadi pulang dan bertanya pada sang guru. Bagaimana cara mengetuk pintu dengan benar?

Sang guru menjawab. “Bukankah sudah kuajarkan, angkat tanganmu. Buat kepalan dan ketukkan ke tengah pintu dengan sopan.”

Kembalilah anak itu ke pintu gerbang istana. Diketuknya sesuai panduan sang guru.

Setelah sekali dua diketuknya, dinantinya hadiah dan sambut-sambutan dari dalam istana, yang tak kunjung juga ada. Kecewalah dia. Lalu kembali lagi kepada guru. “Bagaimana cara mengetuk pintu?” Tanyanya.

Sang guru berkata, bukankah sudah kuajarkan padamu caranya?

Anak muda kembali lagi ke pintu istana kerajaan. Dan mengetuk sekali dua. Lalu bertanya-tanya dalam hati, sudah benarkah caranya mengetuk gerbang Raja?

Kembali lagi dia menemui gurunya, dan bertanya.

“Tak ada cara lain mengetuk pintu”, kata Sang guru. “Cara kau mengetuk pintu sudah benar. Yang keliru adalah, kau terlalu memikirkan apa rasanya bila gerbang terbuka. Mengetuk pintu itu urusan kita, sedang membuka gerbang itu wewenang Raja.Yang kau perlu lakukan hanyalah sentiasa mengetuk pintu dengan sopan, bukan memikirkan seperti apa sambutan dari Sang Tuan.”

MEMUPUK KEYAKINAN

Dulu. Setiap kali menulis atau berbincang dengan seorang rekan. Selalu saya menggebu menginginkan agar rekan saya atau pembaca tulisan saya menjadi yakin dengan yang saya sampaikan. Syukur-syukur berubah cara pandang.

Sampai suatu ketika dulu, seorang guru yang arif menegur lewat perumpamaannya. Diilustrasikan seolah-olah saya bertanya pada beliau, mengapakah sudah begitu banyak mengenai spiritualitas islam ini saya sampaikan pada rekan saya, tetapi tak kunjung mereka mengerti?

Saya tersenyum. Belum saya bertanya, beliau sudah memberi ilustrasi tentang kekeliruan saya.

Dari sana saya paham. Agar tidak membuang masa, Sesungguhnya yang paling penting untuk kita yakinkan pertamanya adalah diri kita sendiri.

Bukan tidak boleh menyampaikan pada orang lain. Boleh.

Tetapi yang tak elok itu adalah kita menyampaikan dengan disetir harapan agar orang lain harus menjadi yakin, sedangkan kita sendiri belum mencapai derajat yakin yang benar-benar kukuh.

Sesungguhnya keyakinan itu bertingkat-tingkat.

Ada orang yang yakin karena ilmu. Orang ini meyakini sesuatu disebabkan wawasan pengetahuan yang dia miliki.

Lalu di atas itu, kita sederhanakan saja, ada orang yang yakin karena mengalami sendiri.

Ibaratnya pertemuan dengan jenderal besar. Orang pertama meyakini bahwa seorang jenderal ada di dalam rumahnya karena melihat mobil jenderal terparkir di depan rumah. Ada sepatu di teras depan. Dan dari luar rumah dia mendengar suara sayup-sayup. Tahulah dia, jenderal ada di dalam.

Orang kedua. Dia yakin ada jenderal di dalam rumah, karena baru saja dia masuk ke dalam rumah, ngobrol-ngobrol dan foto selfie dengan Sang Jenderal.

Kebanyakan kita. Adalah orang pertama. Kita membutuhkan alasan agar diri kita menjadi yakin.

Contoh dalam spiritualitasnya misalnya kita melihat pemandangan alam dan menjadi trenyuh, haru, lalu Ingat Sang Penciptanya. Menjadi Ingatlah kita bahwa Allah Maha Indah. Bisa mencipta pelbagai pemandangan yang elok.

Kita butuh alasan (yaitu pemandangan alam) agar sampai pada “keadaan” rasa hati yang penuh syukur kepada Tuhan.

Sedangkan orang kedua. Dia tidak begitu. Dia sudah penuh dengan “keadaan” mengingati Tuhan, sehingga pemandangan alam tak lagi tampak di matanya. Dia tak butuh alasan untuk mengingat Tuhan.

Orang pertama dan orang kedua, ada rentang yang begitu jauh. Yang pertama sebatas “tahu”. Yang kedua itu “merasakan”.

Jarak antara orang pertama dan kedua, dijembatani oleh dawamnya amal. Konsistensi. Dan di ujung jembatan ada pintu gerbang yang hanya terbuka karena hak prerogatif Tuhan semata-mata. Rahmat. Gampangnya begitu. Tetapi ilmu adalah hal paling pertama yang membuat amal menjadi lebih tajam.

Wa’bud Rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al yaqin. (QS Al Hijr :99)

Menurut seorang arif, maknanya adalah beribadahlah meski kau belum punya pengenalan akan DIA. Teruslah beribadah sampai menjadi yaqin. Dan setelah mengenal atau yakin, maka Teruskan beribadah dengan lebih baik. Berlandaskan pengenalan itu.


*) image sources

NONTON BIOSKOP YANG BUKAN KEBETULAN

Adakah di dunia ini sesuatu yang kebetulan? Saya ketinggalan Shuttle Bus kantor. Jadi terpaksa cari tumpangan sewaktu jam pulang. Untunglah ada seorang rekan yang searah, jadi saya bisa ikutan numpang dari kantor sampai ke dekat rumah. Sepanjang jalan dari kantor itu, kami bercerita banyak hal tentang pekerjaan.

Rekan saya ini, seorang yang berpengalaman kerja di berbagai negara. Afrika dan Timur Tengah. Secara strata kependidikan rekan saya ini juga jauh lebih tinggi dari saya, Master Degree dari universitas ternama di Luar, dengan paper yang banyak sekali. Memang orang yang brillian.

Tak terasa mobil berhenti. Saya keluar dari mobil dan mengucapkan terimakasih, rekan saya meneruskan perjalanan menuju rumah, dan saya memesan Go-jek untuk melanjutkan sisa perjalanan.

Sepanjang jalan, saya merenungi betapa saya beruntung untuk telah masuk kantor, dalam jajaran persaingan orang-orang yang hampir keseluruhannya saya akui begitu jauh melampaui saya.

Kadangkali, karena menengok persaingan yang begitu rapat itu, saya merasa cemas juga. Karena saya tidak sebrilian orang-orang itu, dan dalam hal ambisi saya termasuk orang yang datar-datar saja.

Tetapi setibanya di rumah, saya melihat anak saya yang paling kecil sedang tidur di atas sofa. Lalu melihat anak saya yang satunya lagi sedang baca majalah Bobo. Kembali teringat saya, bahwa urusan pekerjaan saya, sekarang bukan lagi urusan saya pribadi. Ianya berkelindan dengan cerita jalur Rizki untuk anak saya, dan untuk istri saya.

Dan memang begitulah adanya.

Tidak ada hal di dalam dunia ini yang tidak kait mengait dalam jejaring yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pekerjaan saya, berkait dengan anak istri saya. Tempat tinggal saya, berkait pula dengan takdir akan besar dimana anak saya nanti? Sekolah dimana?

Kota tempat anak saya besar nanti, akan ada kaitannya dengan cara anak saya memandang hidup, berkait juga dengan dimana kira-kira anak saya menemukan jodohnya.

Siapa jodoh anak saya nanti, akan berkaitan pula dengan siapa cucu saya kelak.

Dalam rentang waktu yang jauh, konsekuensi dari setiap pilihan akan beranak-pinak menimbulkan konsekuensi yang lainnya. Itulah yang dikatakan sebagian para ilmuwan, bahwa tidak mungkin mengganti tatanan yang sudah ada ini, tanpa merusak keseluruhan tatanan.

Maksudnya, tidak mungkin semua ini berjalan tanpa susunan yang sudah sedia ada. Singkat kata, kita hidup dalam Plot-Nya. Islam membahasakan ini dengan takdir.

Saya pun menilik perjalanan hidup saya sendiri, tidak mungkin rasanya kalau jalan panjang sejauh ini bukan plotNya.

Saya tertarik melihat perdebatan takdir ini dalam sudut pandang sains. Pre-determinism vs free will. Perdebatannya seru sekali. Sebagian mengatakan tentu saja manusia punya free will. Kehendak bebas. Sebagian lainnya, ditunjang dengan penelitian sains mengatakan bahwa sebenarnya semua gerak manusia ini Cuma aksi reaksi fisika saja. penelitian terbaru semakin membuktikan free will atau kehendak bebas itu tidak ada.

Di dalam sebuah hadits, setelah Rasulullah SAW menjelaskan bahwa semua manusia sudah ditetapkan takdir hidupnya, Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat, jika semuanya sudah ditetapkan, alangkah baiknya kalau kita berpasrah saja, ga usah beramal. Rasulullah SAW mengatakan, tetaplah beramal, setiap orang akan dimudahkan atas apa yang tertakdir baginya.

Pertamanya saya ga mudeng juga. Apa maksudnya?

Setelah mempelajari pendekatan sufistik-lah, lewat seorang Arif, baru saya mengerti duduk perkaranya. Perdebatan mengenai apakah “aku” punya kehendak bebas? Atau “aku” tidak punya kehendak bebas? Dua pernyataan itu tidak lagi kontekstual.

Dalam pandangan sufistik, justru “aku” itu tidak ada.

Sesuatu yang kita kenal dengan “aku” atau identitas diri kita, sebenarnya tak lebih tak kurang adalah kumpulan pengalaman hidup yg direkam oleh entitas ruhani di dalam diri manusia. Yang sadar. Yang mengamati.

Lha perdebatan jadi tak kontekstual kalau “aku” saja sebenarnya ga eksis.

Inilah yang pelan-pelan harus dicoba untuk dipahamkan.

Kalau dulu. Di dalam gelisah, saya mendekati Tuhan lewat kepahaman bahwa cicak saja diberi Rizki, masa manusia tidak?

Pelan-pelan saya belajar pemaknaan satunya lagi. Memandang hidup sebagai ceritaNya. Dilakonkan oleh makhluk-Nya. Keseluruhan alam semesta digabung, tak sebiji pasir dibanding keMaha BesaranNya. Hakikat semua makhluk adalah dzat (ciptaan)Nya. Dan darimanakah datangnya unsur semua ciptaan jika sebelum DIA mencipta hanya ada DIA semata-mata? sebenar-benar pengertian hanya dengan DIA.

Supaya menjadi tenang karena sadar bahwa kita hidup di dalam bioskop Ilahi. Menceritakan DIA sendiri.

Tapi ya kadang bisa stabil dalam kondisi itu, kadang ga bisa. Hehehehe. Namanya juga manusia. lakonono. Jalani saja.

EINSTEIN, STEPHEN HAWKINGS, DAN PARA PENCARI DI REL KEHIDUPAN

Apakah Einstein percaya Tuhan? saya tertarik membaca-baca ulang bahasan ini di internet, berkait dengan wafatnya seorang saintis besar masa kini, Stephen Hawkings. Apakah Stephen Hawkings, dan Einstein percaya Tuhan?

Kita tentu tidak dalam rangka menghakimi. Saya tertarik membaca ini dengan memaknai bahwa para saintis juga adalah orang-orang yang berjalan mencari kebenaran. Mereka menaiki kereta ilmu pengetahuan.

Menarik mengetahui fakta bahwa Einstein mendefinisikan dirinya sebagai seorang agnostik. Religious non believer. Tidak menganut suatu agama tertentu.

Einstein mengatakan dia tidak percaya tuhan dalam konsep “personal god”. Bagi Einstein, dia tidak percaya kalau tuhan dipersonifikasikan seperti manusia, seperti person.[1] Begitu juga Stephen Hawkings, dia tidak percaya adanya tuhan. Dalam artian tuhan berbentuk personal[2].

Mengapa mereka tidak percaya tuhan itu person? Karena mereka melihat dunia ini begitu luasnya, dan keseluruhan kehidupan ini diatur oleh hukum-hukum alam yang sedia ada. Sedangkan selama ini iklim keberagamaan mempersepsikan tuhan dalam bentuk persona. Memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang nyatanya tidak mereka temukan dalam kajian sains mereka.

Maka menjadilah mereka seorang atheist, atau setidaknya agnostik. Kalaupun Tuhan itu ada, menurut mereka, pastilah tuhan itu bukan person.

Sebenarnya, mereka ini saya pikir orang-orang yang selangkah lagi sampai pada konsep ketuhanan dalam pandangan sufistik. Mereka sudah tahu bahwa tidak mungkin tuhan itu seperti person. Dan untuk sampai pada kesimpulan itu, mereka telah melakukan perjalanan yang begitu panjang.

Pertanyaan berikutnya, karena tidak mungkin tuhan itu person, sedang alam ini begitu besar, dan hukum-hukum alam begitu teratur. Maka kesimpulan yang paling masuk akal bagi kalangan saintis ya tuhan itu adalah alam ini sendiri. Toh setelah diobservasi kemana-mana yang ditemukan hanya alam dan keteraturannya.

Kesimpulan seperti ini sungguhpun kita tak bersetuju, sebenarnya sangat dekat dengan kesimpulan sebagian spiritualis dunia timur yang “mencari tuhan” lewat jalur keruhanian. Mereka melakukan tirakat yang berat, dalam upaya mengetahui tentang ketuhanan. Hingga sampai pada pengalaman keruhanian yang menyadari bahwa keseluruhan ciptaan ini sebenarnya satu. Mereka mencari tuhan lewat jalur keruhanian. Dan bertemu pengalaman ruhani bahwa dunia ini satu kesatuan.

Kesimpulan itu, sama dengan kajian saintifik bahwa keseluruhan ciptaan di alam ini sebenarnya satu, atau pada dunia yang mikro bahwa semua yang ada di alam ini tidak lagi mempunyai keragaman dan sesungguhnya satu kesatuan. Kalau bisa kita meneliti terus ada apa disebalik ciptaan? Ada apa di balik atom? Adakah lagi keragaman bentuk dan sifat? Kenyataannya semakin kedalam semakin hilang keragaman dan semakin satu. Di dunia makro bentuk terlihat berbeda, beragam dan seolah terpisah. Di dunia mikro keragaman hilang, dan keterpisahan menjadi tidak ada.

Berangkat dari pengetahuan itulah, sebagian spiritualis, mengira dibalik semua ciptaan yang sesungguhnya satu kesatuan, adalah Tuhan itu sendiri. Sedangkan para saintis mengira bahwa dimana-mana yang ada hanya alam dan keteraturannya sendiri. Maka alam atau universe inilah Tuhan.

kurang tepatnya pandangan ini, baru saya mengerti dari kajian Ust. H. Hussien Abd Latiff.

Bahwa benar, tuhan itu bukan persona. Benar bahwa semua ciptaan ini dari sudut mikro adalah satu kesatuan dan tiada perbedaan. Hanya saja, hakikat atau unsur dibalik kesemuanya ini adalah setitik dzat (yang DIA ciptakan). Bukan DIA itu sendiri.

Semua keragaman bentuk, keragaman sifat-sifat, melekat pada suatu unsur ciptaan. Dalam literatur sufistik, unsur atau hakikat semua ciptaan itu dibahasakan dengan “dzat”. Seperti apa “dzat” ini? Tidak ada yang tahu. Tetapi dzat ini datang dariNya, dan merupakan senoktah kecil yang tak terbandingkan dengan keMaha besaran-Nya. Bukan DIA itu sendiri. DIA itu tetap DIA, Allah SWT Sang Pencipta, dan makhluk itu ya makhluk.

DIA tetap Maha Besar. Tak serupa apapun. Tak tersentuh apapun.

Inilah jalur profetik. Keberagamaan atau keruhanian yang dirintis para Nabi. Pengetahuan tentang ketuhanan, tidak diperoleh dari percobaan saintifik empiris, atau dari tirakat ruhani. Melainkan berdasarkan wahyu dan atau ilham. Disampaikan oleh yang memang mengerti tentang ilmu ini, dalam hal ini saya baru mengerti setelah dijabarkan oleh Ust H. Hussien Abd Latiff.

Dan setelah mengetahui tentang ketuhanan, hubungan Tuhan dan alam semesta, bagaimana Tuhan mengatur alam semesta. Yang tinggal bagi kita adalah ibadah sesuai dengan yang disyariatkan para Nabi. Hidup dalam sikap kehambaan. Dan belajar ridho pada keadaan. Karena, seperti yang dikatakan para saintis, semuanya sudah sangat teratur, seperti kita hidup dalam soap opera. Bahasa islamnya, takdir.

Suatu masa kelak, saya rasa sains dan pendekatan sufistik akan bertemu di rel yang sama. Sains menjadi lebih sufistik dan penjabaran tasawuf menjadi lebih berdalil dan dimengerti, karena masuk akal. Kita tunggu bersama, dua jalur itu bertemu insyaallah.

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Religious_and_philosophical_views_of_Albert_Einstein

[2] http://time.com/5199149/stephen-hawking-death-god-atheist/

MINUM KOPI DAN MENSYUKURI ILMU

Sebuah perumpamaan tentang minum kopi, diberikan oleh seorang Arif*, menyadarkan saya agar mensyukuri anugerah ilmu.

Seumpama kita penyuka kopi, kata beliau. Lalu dalam kesibukan yang sangat padat kita jadi terlupa minum kopi. Meskipun waktu itu kita terlupa minum kopi, Hal itu tidaklah akan membuat kita lupa sama sekali dengan kopi. Begitu ada waktu senggang yang pas, maka kita akan otomatis minum kopi.

Kopi. Diibaratkan sebagai “ilmu” makrifatullah. Selama Allah SWT tidak mencabut ilmu itu dari seseorang, maka selama itu pula ilmu itu akan menjelma menjadi sebuah amal saat waktunya tiba.

Ilmu, menjadi “baseline” atau istilahnya garis batas terbawah kita.

Hanya saja, kebanyakan orang tidak mensyukuri anugerah ilmu pengetahuan, tersebab mengira bahwa semata-mata anugerah itu jika sudah menjelma menjadi “rasa”. Kalau baru “ilmu” dikira bukan anugerah.

Padahal, “rasa” atau dalam literatur tasawuf dikatakan dengan istilah “Hal”, adalah menyusuli ilmu. Ilmu duluan baru rasa menyusul, ilmul yaqin dulu baru dipungkasi Haqqul Yaqin, Inilah skema kebanyakan manusia. Terkecuali orang-orang tertentu yang tertakdir mendapatkan “rasa” dulu baru ilmunya menyusul kemudian.

Mengetahui bahwa ilmu biasanya datang lebih dulu ketimbang “rasa”, maka sudah barang tentu kita harus sabar. Dan tangga pertama sabar itu barangkali bisa dimulai dengan mensyukuri ilmu-ilmu spiritualitas islam atau tasawuf (dan juga ilmu lainnya) yang kita dapat. Meskipun baru sebatas ilmu.

Karena, mudah bagi Allah untuk mengubah wacana keilmuan menjadi realitas batin kita.

Jika kita menyadari ilmu adalah anugerah. Seperti itu pula kita menyadari bahwa realitas batin kita adalah pula anugerah. Dan jembatan antara ilmu dan realitas batin itu bernama amaliyah, yang juga adalah anugerah.

Realitas batin atau “rasa” yang biasanya dibentuk oleh ujian-ujian. Saat ujian datang, disitulah ilmu akan memainkan peranannya.

Berulang-ulang sampai cara pandang kita berubah total karena ilmu yang baru dan lebih jernih itu.

Jika seorang saudagar kaya memberi kita hadiah. Adalah logis bagi kita untuk berterimakasih atas hadiah itu. Bukan malah berkata saya tak mau hadiah yang ini (ilmu), saya maunya hadiah yang itu (rasa). Padahal, jika mengetahui bahwa hadiah ilmu adalah lokomotifnya, tinggal tunggu saja dia menarik gerbong anugerah-anugerah berikutnya. Tapi memang harus sabar.

-debuterbang-

*) Ust. H. Hussien Abd Latiff

LARI MARATHON DAN SPIRITUALITAS YANG SEDERHANA

Agak bingung saya kemarin. Sewaktu ditelepon mendadak oleh salah seorang security komplek. Ditanya pasal kenaikan gaji. Kenapa rekan-rekannya naik tapi dia tidak?

Tak bisa saya menjawab. Pasalnya, saya sudah berapa minggu tak ikut meeting pengurus komplek. Tersebab istri lahiran dan penyesuaian siklus bangun dan tidur karena si kecil malam-malam hobinya begadang.

Akhirnya, malam kemarin itu lepas maghrib saya ikut meeting antara security dan pengurus. Clear. Masalah selesai, semua happy. Ternyata ini hanya kesalah pahaman saja.

Kontribusi saya dalam rapat barangkali hampir nol saja. Karena memang tak paham banyak konteksnya. Saya menikmati melihat teknik lobi dari pak Ketua dan pengurus Sie keamanan. Saya membayangkan diri saya yang dahulu yang begitu Koleris. Sudah hampir pasti saya akan banyak bicara dalam pertemuan-pertemuan. Tetapi kecenderungan koleris itu bergeser setelah menekuni kajian spiritualitas tasawuf. Mendengarkan wejangan Al Arif saya menjadi lebih menikmati “diam” dan menonton.

Rasa hati untuk tampil, menjadi sirna perlahan-lahan. Dan akhirnya merasakan kebahagiaan dan kenikmatan lainnya dalam “uzlah” di keramaian. Menyepi dalam dunia yang ramai.

Dalam pada itu. Sepulang dari Musholla saya menyadari suatu fakta bahwa tampil dan rasa keakuan memang bisa menjadi pendorong yang luar biasa. Kontribusi menjadi banyak karena rasa ingin tampil.

Tetapi keaktifan yang disetir oleh rasa ingin “meng-ada” ini bisa membuat sakit diri kita sendiri. Pada gilirannya kelak.

Dalam kajian sufistik oleh seorang Arif, saya baru memahami tangga berikutnya untuk belajar menyaksikan hidup sebagai af’al Tuhan melalui dzat / makhluk (ciptaan) Nya. Termasuk diri kita sendiri. Dengan itu pelan-pelan sirnalah rasa “aku”.

Setelah belajar menghilangkan “aku”, Lalu tibalah di tangga berikutnya dimana kita hidup aktif dalam “penghambaan”. Sesuai dengan ranah masing-masing. Radius masing-masing.

Dan hidup dalam “kehambaan” ini mengandungi artikulasi yang luas sekali. Termasuk kebaikan-kebaikan sederhana yang saya sering saksikan di sekitar saya sendiri. Para pengurus komplek yang meluangkan waktunya untuk masyarakat. Para dokter yang mengobati pasien. Seorang ibu yang mengasuh anaknya. Seorang ulama yang mengajari orang-orang. Supir bus kota yang mengantar penumpang. Dan yang semacam itu.

Dalam pandangan sufistik, Semua menunaikan tugas, menebarkan kebaikan, “menghamba” pada Sang Pemilik af’al.

Salah satu ciri dari kebaikan sederhana yang timbul dari rasa penghambaan, diantaranya ia akan lebih mirip lari marathon. Santai. Relax. Continuitas atau sinambung. Sesuai hadits bahwa amal yang sedikit tetapi kontinyu akan lebih disukai Allah SWT.

Dalam pemaknaan saya pribadi, barulah saya mengerti bahwa yang sedikit namun kontinyu, dengan nafas panjang untuk perjalanan yang lama, biasanya disetir karena pengertian atau pemahaman yang lebih jernih.

Ketimbang amal yang menggebu, karena disetir rasa hati yang ingin “tampil”. Biasanya lebih mirip lari sprint. Cepat dan terengah-engah. Tetapi pendek. Tabiatnya emosional.

Kini saya baru menyadari keindahan dibalik lari yang marathon itu. Belajar keluar dari rasa “aku” yang sempit. Menyadari hidup adalah af’al-Nya menerusi dzat ciptaanNya. Lalu berkebaikan yang sederhana, simpel namun kontinyu dalam pemaknaan baru. Bukan kita yang berlakon.

-debuterbang-


*) image sources