THE TAO OF LIFE

final

Sirine meraung-raung. Saya mengenakan boot dengan tergopoh-gopoh lalu saya lari kesetanan. Di ujung sana orang-orang sudah berkumpul dan berbaris rapih. Tanpa komando.

Saya masih deg-degan, bukan dengan sederhana, tapi benar-benar berdegup. Anehnya sembari jantung berdegup saya sempat juga mengagumi sebuah keteraturan dalam kerunyaman itu.

Saya teringat pelajaran PPKN oleh Pak Min, dulu sewaktu SMP, bahwa ada tatanan masyarakat yang awalnya merupa chaos tapi kemudian dalam satu moment saja langsung bisa berubah tertib, misalnya kerumunan penonton yang memasuki bioskop, awalnya chaos lalu langsung tertib setelah duduk di bangku. Mirip-mirip dengan kerumunan orang-orang di anjungan pengeboran ini. Satu sirine tanda bahaya berdengung, lalu semua orang sudah tahu apa yang akan dilakukan, lari menuju muster point (tempat berkumpul) di depan gerbang. Seperti hari itu.

Saya membayangkan ada gas semacam H2S yang melesat keluar dari dalam sumur pengeboran, konon gas itu sangat berbahaya, racun pembunuh nomor dua paling ampuh sejagat setelah sianida, dan celakanya lebih berat dari udara sehingga akumulasinya pastilah menghuni sudut-sudut yang rendah, tempat kebanyakan manusia berada, bukan pada awang-awang tinggi yang bersih tempat burung-burung terbang dan tempat mungkin cita-cita imajiner digantungkan manusia.

Cukup sadar dengan informasi itu, maka saya lari semakin kencang, dan setelah sampai pada kerumunan orang yang berbaris rapih seperti Paskibra yang saya ikuti waktu SMP, saya baru sadar bahwa itu cuma drill, cuma latihan menyelamatkan diri saja. Rutinitas yang biasa bagi para pekerja lapangan migas.

Kejadian itu sewaktu saya kuliah. Saya mengambil skripsi dan berkesempatan melihat hiruk-pikuk suasana pengeboran. Siapa sangka, setelah lulus kuliah saya benar-benar tercemplung ke dalam dunia ini. Dan di sini saya menemukan sebuah rutinitas yang perlu tapi menjemukan itu. Jemu tapi perlu. Ya, latihan penyelamatan diri itu lagi. Drill. Bermacam-macam drill. Fire drill. Abandon drill. H2S drill. Nama yang berbeda untuk tujuan yang sama, membuktikan kebenaran pribahasa orang tua-tua dulu, ‘lancar kaji karena diulang’. Tapi peribahasa itu saya rasa mesti ditambahi, ‘lancar mengulang pasti bosan’.

Tentu saja saya sering bosan dengan rutinitas tiap minggu itu, masalahya sering mengganggu jadwal tidur, ini menyebalkan, tapi saya tak bisa untuk tidak setuju atau mangkir untuk tidak hadir. Kita tidak bisa untuk memaksa diri kita untuk tidak menjadi hafal luar kepala kalau rutinitas itu diulang-ulang terus. Pasti hafal.

Begini urutannya: sirine berdentum, lari menuju muster point, kenakan helm, kacamata, dan segala alat keselamatan lainnya, jangan lupa kenakan pelampung bila kita sedang ada di lepas pantai, ambil kartu penanda, lalu berbaris rapih menunggu instruksi. Apakah bahaya teratasi, atau kemungkinan terburuk kita harus meninggalkan area itu, entah dengan kendaraan apa. Semua rutinitas itu diulang terus supaya kita menjadi mahir.

Sewaktu menjalankan latihan itu, untuk menepis rasa bosan, saya mengingat dulu masa-masa sedang tekun-tekunnya berlatih beladiri. Ada momen perulangan seperti itu. “Mengetahui seribu jurus, tapi tiada sering diulang-ulang pasti akan percuma”, begitu kata guru-guru.

Banyak orang yang belajar beladiri kemudian menjadi kecewa pada apa yang dipelajarinya, karena pada realitanya dia belum bisa menerapkannya. Mungkin karena dia belum benar-benar menguasai apa yang dipelajarinya karena jarang mengulangnya. Maka guru kami kala itu mengajari hal yang sederhana saja, dua atau tiga rangkai gerakan yang disuruhnya kami mengulangnya sekira limaratus kali dalam sehari. Dan saya teringat kata-kata yang dinisbatkan pada almarhum Bruce Lee, “saya tidak takut pada orang yang memiliki seribu jurus yang dipraktekkan satu kali, tapi saya takut pada orang yang memiliki satu jurus dan dipraktekkan seribu kali”.

Kita tidak bisa mencegah bahwa tekhnik perulangan itu ampuh seperti seorang intruder, masuk dengan diam-diam tanpa kita sadari dan menjejalkan suatu nilai-nilai dalam bawah sadar kita. Maka sering sekali orang-orang yang tekun belajar beladiri merasakan kok tidak ada perkembangan berarti pada dirinya, karena berlatih itu-itu saja, padahal tanpa dia sadar kemampuan refleks dan tanggapnya sudah di atas orang-orang kebanyakan. Keajaiban perulangan.

Saya mengagumi sekali fakta ini. Meski saya sering bosan sekali pada latihan penyelamatan diri saat saya bekerja, itu dalam hal pekerjaan, lainnya lagi adalah setelah bekerja saya hampir tidak pernah mengulang satupun tekhnik beladiri yang saya pelajari waktu kuliah dulu. Tapi saya masih mempercayai keajaiban perulangan itu.

Tapi ada bahaya besar yang mengancam, apabila perulangan terus menerus membuahkan gerak refleks dalam hidup kita. Bahaya itu adalah bahwa semakin sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan dan refleks, maka kita akan kehilangan detailnya, dan yang lebih menyedihkan dari kehilangan perhatian terhadap detail adalah kita kehilangan nilai-nilai.

Saya sering mendengar keluhan yang jamak dialami kawan-kawan, hidup ini begitu menjemukan karena segalanya sudah menjadi gerak refleks. Saya juga merasakan kehampaan itu. Bagi orang-orang kantoran, refleks itu bernama bangun tidur pagi-pagi sekali, pergi kerja, menanti waktu pulang, pulang kerja, dan tidur lagi. Betapa siklus itu menjemukan karena sudah tidak lagi memerlukan proses berfikir. Kita hampir lupa kapan kita mandi, kapan kita memakai sepatu, lalu tiba-tiba saja sudah berada di kantor. Tiba-tiba lagi kita sudah ada pada kendaraan di tengah kemacetan sore. Dan tiba-tiba lagi hari sudah malam, kita tidur sambil cemas-cemas sedikit karena sebentar lagi pagi. Lalu rutinitas berulang, kita mengikuti saja refleks kehidupan. Cepat memang, tapi ada yang hilang, rasa, nilai-nilai. Sesuatu yang refleks hampir selalu berjalan tanpa ketelitian niat.

Kehampaan seperti ini memang membunuh. Sebelum kejiwaan menjadi benar-benar mati, saya paham harus ada yang dibenahi. Kita harus melarikan diri dari kondisi ini. Contoh melarikan diri yang terhormat adalah pergi menyusun siasat, lalu kembali untuk masuk lagi ke gelanggang. Dan spiritualitas harusnya menemukan peranannya disini. Memberi ruang kontemplasi untuk kemudian dipakai lagi membenahi kehidupan.

Saya merasakan harusnya kita menemukan pelipur itu pada ritus-ritus keagamaan kita. Saya muslim maka saya sholat, tentu saja. Tapi keanehan itu kembali terjadi, boro-boro sholat saya menjadi pelipur pada hidup yang menjemukan, karena ternyata saya sudah demikian refleks juga melakukan sholat. Saya takbir, lalu semua menjadi serba otomatis, tiba-tiba saja saya sudah salam. Begitu terus. Ritus keagamaan yang seperti ini saya sadari tidak mungkin membawa dampak secara nyata.

Bahwa tetap melakukan peribadatan meski belum bisa total; saya setuju. Tapi berusaha memperbaiki kesalahan peribadatan kita, saya fikir juga utama. Yang salah tentu bukan seremoninya, tapi kitanya. Saya yang salah.

Beruntung, saya bertemu dengan seorang guru lagi, yang menyadarkan saya akan sebuah potongan kenyataan lagi. Bahwa tidak semua dalam kehidupan ini harus kita jalani dengan refleks.

Di dalam sholat, istilah itu dikenal dengan nama ‘tuma’ninah’. Jeda sejenak. Agar segalanya tidak tergopoh-gopoh.

Kalau perulangan yang membuat kita refleks adalah penting untung meningkatkan kecepatan respon kita terhadap sebuah keadaan, maka tuma’ninah menjadi sisi pedang satunya yang meningkatkan kesadaran kita akan nilai-nilai dari sesuatu yang sedang kita kerjakan. Menjadi mahir itu penting, tapi sadar penuh akan apa yang kita mahiri, dan menjadikan kemahiran kita itu sesuatu yang bernilai; juga luar biasa perlu. Dua-duanya penting.

Rukuk hingga punggung menjadi lurus dan luruh, duduk iftirasy yang kontemplatif, dan sujud yang merendah dan menikmati, adalah sedikit dari tuma’ninah itu.

Saya pikir ide ini juga bisa diterapkan untuk perjalanan menuju kantor dengan memperhatikan setiap detailnya. Pokoknya kontemplatif dan memperhatikan detailnya. Berterimakasih untuk pagi yang cerah, menaiki bus kota dengan  duduk di pinggir jendela dan menyeksamai pemandangan yang berseliweran, tiba di kantor dengan sepenuh kesadaran akan detail-detail ruang dan kesyukuran akan kesempatan bahwa kita telah menjadi berharga dengan bekerja dan menghidupi anak istri, lalu pulang dengan gembira setelah menutup bab hari itu dengan rencana esok hari. Semua kita amati detailnya agar tidak menjadi gerak refleks.

Satu hal yang membantu kita menyisipkan nilai-nilai dalam kehidupan kita, mungkin doa. Doa-doa dalam literatur keagamaan kita banyak sekali. Tentu dengan alasan mengikuti contoh Nabi Mulia, kita harus melakukannya. Tapi lepas dari kecintaan kita kepada junjungan, lepas dari pahala, saya mendengar kata guru-guru bahwa memulai segalanya dengan doa yang sungguh-sungguh adalah semacam upaya menghentikan laju kehidupan yang terlampau refleks, dan menjadikannya setiap potong kehidupan kita sebuah peribadatan yang sepenuh kesadaran kita lakukan. Memberi nilai-nilai dalam setiap potongan kehidupan kita ini bisa dimampatkan dalam satu kata, Niat. Dan niat ini mestilah dijaga agar sinambung, tidak Cuma di awalnya, melainkan pada keseluruhan perjalanan kita. Itulah kenapa kita perlu tuma’ninah.

Saya senang sekali mengingat pesan guru saya dulu, serangkaian jurus yang kita lakukan itu mestinya semisal ombak. Ada kalanya cepat, ada kalanya lambat. Seperti kebijakan universal yang kita sama-sama kenal itu, selalu ada harmoni dalam hidup.

————

gambar dikopi dari sini

TULISAN-TULISAN HATI

Ada yang pelan-pelan lindap di dada saya. Sebuah keharuan saat merenungkan sudah berapa lama blog ini terbentang di dunia maya. Sudah berapa orang yang meskipun tak banyak, ikut membaca dan memberikan sepatah-dua kata-kata dalam kolom komentar. Sebagian lainnya meninggalkan statistik yang terbaca pada grafik pengunjung.

Kenapa saya menulis? Suatu hari saya bertanya pada diri saya sendiri. Pertanyaan ini sering saya tanyakan, kadang dia muncul dalam semburat-semburat yang redup, tapi saya tahu ada sesuatu itu yang selalu muncul dan tenggelam. Pertanyaan.

Dulu, saya menulis karna saya ingin bercerita. Mungkin hasrat terbesar dalam hidup saya adalah bercerita. Bagi saya, membagikan apa yang saya tahu kepada orang lain, itu menyenangkan. Meskipun aneh, keluarga mengenal saya sebagai seorang yang pendiam, pun berapa orang kawan menilai saya sebagai orang yang irit bicara. Tapi beberapa kawan yang cukup sering bersinggungan dengan saya tahu bahwa saya suka mengganggu mereka dengan kata-kata.

Belakangan saya mengerti, tidak setiap orang bisa berada dalam kondisi yang prima lahir batin untuk mendengarkan ocehan kita. Maka kemudian saya temukan bahwa menulis punya keasyikannya sendiri. Kita bisa menuliskan apa yang kita fikirkan, orang boleh memutuskan untuk kemudian mendengar atau meninggalkan. Sederhana sekali.

Tapi…semakin hari berjalan, saya menyadari satu hal. Ada yang muncul kembali, seperti sebuah jawaban yang belum usai, tak lama lalu ada yang pelan-pelan lagi mengetuk pintu hati saya. kadang ketukannya terdengar cukup nyaring, kadang bias dan tak terdengar. Sampai kala saya menulis ini, saya akhirnya sadar, sebelum saya menemukan jawaban itu maka hati saya akan selamanya resah. Saya cobakan jujur sejujurnya pada diri, bahwa lebih dari sekedar berbagi cerita, saya ingin menjadi orang yang biar sedikit ada manfaatnya.

Pernah sekali waktu, saya bertanya kepada teman. Retorik sekali pertanyaan saya waktu itu. “Apa yang lebih menyedihkan, dibanding ‘ada atau tiadanya kita tak berarti apa-apa’?”.

Teman saya kala itu tidak menjawab. Dia diam saja. Memang sayapun tak menghajatkan jawaban darinya, atau mungkin dia juga sudah tahu bahwa pertanyaan saya itu retorik belaka. Entah.

Tapi itulah. Ada keinginan dalam hati, agar setidaknya dalam rentang duapuluh tujuh tahun hidup saya di dunia ini, ada sedikit manfaat yang bisa saya torehkan. Ada sedikit guna yang saya bisa bagikan.

Apalagi kalau ingat-ingat perjalanan hidup ke belakang. Rasanya tak kurang-kurang kebodohan, atau kata para ulama ‘kezaliman pada diri sendiri’ yang saya lakukan. Sedih. Ingin berbuat sesuatu yang luar biasa untuk menebusnya, tapi apa daya kemampuan diri ini tak memadai.

Lalu tiap kali bertemu dengan orang-orang baik, dengan orang-orang pintar, ada iri yang terbit dalam hati. Ada cemburu yang menyala-nyala. Betapa luas manfaat yang terhampar dari keilmuan dan kebijakan orang- orang itu? Sedang saya, semisal ombak yang membentur-bentur karang. Bergolak, tak stabil, pecah, membuih.

Saya lalu sering, membaca ulang tulisan-tulisan sendiri. Ada kalanya juga saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan itu. Bukan, sama sekali bukan karna haru pada apiknya kata-kata, saya rasa berantakan dan banyak yang harus dibenahi. Cuma saya seringkali haru bahwa dalam perjalanan hidup saya ke belakang, ternyata ada juga jenak-jenak dimana saya begitu kontemplatif, begitu haru memaknai hidup, atau begitu dekat dan syahdu dalam meminta pada Tuhan. Tulisan ini telah menjadi semacam recorder, yang mengoreksi sendiri pemikiran saya yang lugu pada masa lalu, dan atau mengingatkan diri sendiri bahwa suatu kala saya pernah berada pada titik yang tak serendah sekarang.

Saya haru, terlebih untuk jujur, bahwa setiap kali membaca, saya jadi malu karna seringkali tulisan itu muncul dari desakan-desakan yang besar dalam fikiran dan memaksa tangan untuk cepat menuliskannya pada tuts keyboard. Lalu setelah dituliskan dan jeda berapa saat, saya rasa saya tak seperti yang saya tuliskan. Atau mungkin tangan ini sudah menjadi semacam corong, untuk meneruskan kata-kata nurani, yang direkam oleh huruf-huruf, mungkin mengingatkan saya sendiri.

Betapa hati sering terbolak-balik. Mungkin seketika saya menemukan jawabannya kali ini maka harus pula saya tuliskan. Dan inilah harapan penuh saya, agar tulisan-tulisan ini menjadi semacam doa, yang dikala saya khilaf di masa depan nanti, dia akan meluruskannya.

Saya sadar, sebegitu banyaknya orang-orang pandai dan berilmu di belantara maya ini, maka orang-orang yang sudah bersedia menyempatkan waktunya membaca tulisan inilah yang sesungguhnya harus diucapkan terimakasih. Saya berharap, seandainya nanti ada yang terilhami, dan merasakan manfaat dari kumpulan kata-kata ini, semoga dia tahu bahwa cerita-cerita ini berangkat dari niat berbagi, agar saya bertambah ilmu, agar ada yang mengoreksi, agar orang-orang yang terilhami menjadi catatan pahala untuk menebus dosa-dosa yang sudah berkarat-karat, agar dengan tiap kali menulis saya diberikan hati yang lebih padu pada kebaikan, dan diselamatkan dari hingar bingar dunia yang menaik-turunkan hati kita dari kekhusyukan.

Ah….Tuhan, aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak khusyuk dan doa yang tak didengar.

KABAR LARUT DARI CINTA DAN KEMATIAN

Handphone di sebelah bantalku berdering. Malam sudah selarut itu tiba-tiba suara kecil dari ujung sana mengabarkan berita kematian.

Pada hamparan kehidupan manusia, selalu terjadi pergolakan pemikiran, perubahan pemahaman-pemahaman, kesadaran yang menjadi matang dan lebih bernas, atau juga koreksi-koreksi atas pemikiran masa silam. begitulah ide-ide berloncatan dan berubah bentuk di kepalaku.

Bekerja, sudah sedemikian lama menjadi tujuan yang agung, dalam hidupku. padanya kutitipkan beban berat kejiwaan yang abstrak dan halus. padanya aku kait-kaitkan keinginan terdalam diri untuk menjadi ada dan tertulis dalam lembaran sejarah dunia, atau paling tidak menjadi salah satu variabel dalam persamaan runyam yang berjejalin dengan banyak kepala dan nama.

“dia mati” katanya.

aku terhenyak, malam masih larut dan kantukku terusir paksa. bagaimana bisa? aku bertanya dalam diam, dalam kaku.

“dia mati” katanya lagi, sambil menangis deras, tangis itu mengaburkan suaranya.

aku gelagapan. lalu jarak sejauh ini terasa semakin membebaniku dengan kemusykilan. bekerja di tempat yang terpisah membuatku tidak bisa hadir pada saat-saat seperti ini. waktu dimana kehadiranku mungkin lebih dari apapun baginya.

Baru tiga hari yang lalu pesawat mendarat. aku turun dari perjalanan satu jam empat puluh menit. waktu yang sebentar bisa mengulur jarak menjadi bermil-mil bila ditempuh dengan kecepatan besi terbang. kami terpisah jauh. dan bekerja sudah sedemikian lama menjadi tujuan yang agung, dalam hidupku. padanya kutitipkan beban berat kejiwaan yang abstrak dan halus. padanya aku kait-kaitkan keinginan terdalam diri untuk menjadi ada dan tertulis dalam lembaran sejarah dunia, atau paling tidak menjadi salah satu variabel dalam persamaan runyam yang berjejalin dengan banyak kepala dan nama.

“aku pergi dulu, dua minggu lagi aku pulang” kataku waktu itu.

aku harus bekerja, dek, mengumpulkan uang dan memugar rumah. meninggikannya dua lantai. mungkin juga mengganti mobil kita dengan yang lebih baru lagi. Sementara dia cuma menunduk tergugu dan berkata sampai jumpa lagi dua minggu kedepan. maka aku pergi dalam semangat yang pijar dan terang.

aku sadar, dalam ketiadaanku di dekatnya maka waktu akan berdetik lebih lama baginya. rutinitas akan menjelma lebih bosan. maka sebelum keberangkatan yang biasa itu, berapa hari sebelumnya kuajak dia pergi ke pasar, kami berhenti di pinggir sebuah jalan, tepat dibawah naungan pohon kecil nan teduh kami beli dua piring lontong sayur yang pedas, darisanalah semua bermula.

tiba-tiba dia ingin membeli binatang peliharaan. di pinggir jalan pasar pagi kami temukan sepasang kelinci berputar-putar dalam sangkar kawat-kawat besi. seekornya putih seekornya lagi abu-abu. pulang kami dari pasar itu dengan membonceng sepasang kelinci di motor. lalu keesokan harinya aku pergi ke seberang laut untuk sebuah tugas, dan dia, istriku mengobati sepinya dengan memberi kelinci sawi, juga kangkung. kelinci-kelinci itu melompat-lompat kesana kemari dan mencicit lucu. aku sedang di seberang pulau.

Cepat aku larut, dalam genangan pekerjaan yang bertumpuk dan penuh, dalam harapan-harapan akan rumah yang menjulang tinggi dan angkuh, dalam cita akan kendaraan yang glamour dan berkilat, dalam pengakuan keberadaan yang menenangkan aku dari pertanyaan seumur hidup “sudah berartikah aku jadi manusia?”, dalam kebutuhan-kebutuhan pada rasa hormat, dalam bebalut nama yang membuatku merasa ada.

lalu malam itu HP berdering, dari sebelah bantal tidurku pada suatu malam yang hampir habis. dan dari ujung sana dia mengabarkan berita kematian.

Seketika aku disergap rindu. dari cinta yang mungkin paling bersih dan putih, bahwa aku menangis tidak karena mendengar berita kelinci abu-abumu diterkam kucing liar lalu dibawanya pergi menjuntai-juntai dengan darah masih mengalir dari nadi kerongkongannya. tapi airmataku menetes pada setiap apa-apa yang membuatmu bersedih. dan pada kenyataan bahwa harus dengan isak tangismu aku menyadari betapa berharganya engkau. lalu tidak henti-hentinya kutenangkan kau dari sebrang laut, sudahlah, itulah insting binatang, tidaklah kucing liar itu tersalah, tidak juga kelinci kecil itu mati sia-sia. ini memang perkara cukup lumrah, tapi aku mengalirkan air mata juga untuk perasaan kehilangan yang bersemayam di balik hatimu, pada rasa kasih yang halus dan lembut, pada kesendirianmu yang kutinggalkan, dan pada kesalahan pemahaman yang bersemayam dalam hitung tahun-menahun padaku.

Maka malam itu, rasa-rasanya aku sudah menemukan jawabannya. Pada pertanyaan lama yang lengket di kepala, dada, dan sekujur tubuhku, bahwa aku hidup untuk memberi yang terbaik saja pada semua yang kucinta, lalu segala selainnya rasa-rasanya sudah tak jadi soal penting.

mungkin hanya niat yang seperti itu yang bisa menumbuhkan cinta, dan menguatkan kita pada pekerjaan yang meletihkan, pada keseharian, pada jarak yang terbentang yang jauh, pada kesendirian-kesendirian, pada sepi-sepi yang kosong, padaku dan padamu.

Atas nama cinta, semoga pandai kita membedakan, mana tujuan mana jalan. Maka semoga segala “kerja” kita bernilai di matanya.

nanti dek, kita beli kelinci lagi, ya. 🙂

LABIRIN

Pagi selalu saja dingin dan menusuk, memberikan aura perenungan yang dalam dan tak terganggu, hening yang terlampau, lalu seperti nyata kita mendengar bunyi denging yang mendengung di telinga, lalu masuk ke hati dan fikiran, sampai-sampai tak sanggup kita menahan Tanya yang berputar-putar tentang makna hidup, arah jalan, dan kemana-mana kaki sudah kita langkahkan kemarin-kemarin itu?

Setiap subuh, kupintakan dengan sangat, untuk dapat dianugerahkan mata yang bening dan teduh, yang bisa melihat sampai ke balik-balik makna, tentang mana yang baik di akhirnya mana yang buruk di akhirnya.

Kupintakan juga jiwa yang lapang sesamudera, untuk menampung segala keluh kesah apa-apa, segala letih penat kita, segala banyak coba dunia yang merantai menyeret-nyeret, maka biarlah semua tenggelam dalam genang yang tiada bertepi.

“mohon cukupkan hari kami ini untuk selalu merasa diliputi berjuta nikmat yang menggelontori, yang mengalir sejuk melewati jengkal demi jengkal tubuh, meresap pelan lewat pori, mensenyumkan bibir, mata dan hati kami ini dengan bahagia yang tak alang kepalang.

Sekian banyak hari sudah kami lalu ya Rabb, jangan biarkan nafsu bodoh kami ini menjadikan kami berputar-putar dalam labirin yang kami buat sendiri, sementara jalan indah menuju bahagia itu selalu lurus menujuMu, kami ini tak kepalang senang nian menikung.

Bagaimana kami harus melolong? selagi terlalu senang kami untuk terpukau tertipu, tidak mungkin kami menjerit saat kami kira kami suka ria. Inilah kami duhai yang maha membimbing, wahai yang menunjukkan pilihan disetiap tikungan-tikungan, wahai yang memberi tanda di setiap persimpangan, kami begitu bodoh dan tersesat sekusut masai yang tak lagi bisa kami urai.

Tuhan…………………………………………
kemarin dulu-dulu itu, kami terlupa setelah tafakur pagi, maka izinkan kami tetap tunduk dan terjaga ini hari, hingga siang nanti tiba, sampai senja menyorong gulita, sampai nanti tiba masanya.

 

————-

sebelumnya tulisan ini saya muat di blog saya yang lama www.debuterbang.wordpress.com

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑