MELEWATI PERMAINAN ZAMAN

perjalananAda paradoks saya rasakan pagi ini. Sebuah kenyataan bahwa hidup manusia itu bisa terasa serius-mencekam sekaligus senda gurau-permainan belaka.

Sebagai karyawan kantoran di dunia kontraktor migas, sudah tugas saya untuk saban pagi ikut meeting di client, perusahaan migas. Saya mengamati, setiap potongan pagi yang dimulai dengan meeting inilah yang nantinya akan menentukan aura keseluruhan sisa hari –baik saya ataupun juga mereka-; apakah santai, ataukah akan begitu intens dan cepat.

Seperti pagi ini. Meeting berjalan dengan begitu lama dan alot. Sebuah masalah pemboran minyak di sebuah sumur membuat progress tersendat-sendat. Ancaman dari pihak pemerintah untuk menstop aktivitas drilling sudah di depan mata. Orang-orang semua panik dan berdebat larat, sekali-kali mencoba untuk menukik dan mencari siapa yang secara teknikal merupakan penyebab masalah ini.

Lalu, sembari perjalanan pulang dari meeting, saya merenung. Saya tidak membayangkan tentang masalah pengeboran itu. Tapi yang saya bayangkan adalah bahwa betapa hidup ini bisa begitu intens, ritmenya cepat, begitu serius dan mencekam; tapi di lain sisi, tidak bisa kita menolak bahwa ‘ya hidup yang seperti inilah yang diberitahu oleh Kanjeng Nabi beratus tahun lalu sebagai “senda gurau belaka”. Sebagai “permainan”. Sebagai “hanya tempat singgah”.

Pasti ada yang salah, pada diri saya, apabila saya merasakan sebuah kehidupan yang terlalu serius dan menghantui keseluruhan perikehidupan saya, sedang sang Nabi mengatakan ini permainan. “mampir ngombe” kalau kata orang jawa. Numpang minum sebentar.

Belakangan. Saya baru menyadari sebuah parameter paling gampang, untuk meluruskan diri saya pribadi, seandainya saya sudah salah arah dalam memaknai hidup. Parameter itu ialah apabila dalam keseharian saya, saya terlalu diliput cekaman ketakutan akan apa yang sedang saya kerjakan, itulah tanda bahwa saya sudah tidak lagi menganggap dunia ini senda gurau.

Saat keseharian saya dari saya bangun sampai saya bangun lagi sudah diisi dengan: rantai hidrokarbon, pemboran minyak, reaksi kimia, revenue, cost, profit margin, dan hanya melulu itu-itu saja; Terjemahnya Begitu simple, artinya adalah saya sudah salah arah.

Padahal, keseluruhan perjalanan hidup saya ini semestinya adalah dalam sebuah tema sentral menemukan jalan pulang. Karna Sang Nabi dan orang-orang suci sepanjang sejarah telah mengatakan bahwa ini semua permainan. Permainan.

Tentu, kita tetap harus serius melewati zaman. Karena untuk sampai di tujuan, kita perlu penunjang hidup, perlu makan minum. Selepas makan-minum dan sandang-papan sepanjang perjalanan itu, kita toh nyatanya masih juga bekerja melebihi apa yang kita butuh. Mengapa?

Di sinilah jebakannya. Saya baru menyadari bahwa sebagian orang terus bekerja mengejar harta melebihi apa yang mereka butuh. Karena harta dan jabatan itulah pusat tata surya kehidupannya. Seluruh gravitasinya. Yang memenuhi ruang batinnya.

Sebagian yang lain tetap bekerja juga, tapi bahan bakar gerakan mereka adalah karena ingin mendistribusikan apa yang dia punya, untuk kebutuhan istrinya, anaknya, keluarganya. Dan yang lebih penting, dalam pendistribusian rizki itulah mereka menemukan arti dari jargon “hidup sekedar mampir”. Bukan untuk menjadi terkenal sebagai dermawan, bukan untuk menjadi aktual dan merasa ‘ada’,  tetapi lebih kepada karena Tuhan mengatakan –lewat sabda NabiNya- bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi kemanfaatan untuk orang lain.

Pada galibnya, di tataran fisik mereka semua terlihat sama-sama bekerja dan ricuh dengan aktivitas. Tapi ada yang beda kalau kita longok ruang batinnya.

Orang yang mengerti bahwa semua ini senda gurau belaka, semestinyalah tiada dicekam ketakutan dan kebrisikan angan-angan dalam hatinya. Karena mereka menyadari bagiannya hanyalah sebagai salah satu aktor saja, dalam lakon kehidupan yang memanglah sebentar dan permainan semata.

Apabila batin kita sudah terlalu takut dan dicekam kebrisikan dunia, mungkin kita sudah terjebak dan mulai menganggap permainan sebagai lebih dari yang semestinya saja.

——-

*) gambar dipinjam dari sini

UNTUK TIAP-TIAP YANG BERTAHAN HINGGA AKHIR

Assalamualaikum

salam para penghuni syurga untuk seorang sahabat yang sedang berjuang untuk menyelesaikan sepenggal kisah perjuangan hidup di penghujung masa kuliah ini. untuk keluarga, untuk bakti seorang anak, untuk hormat seorang adik, untuk kebijakan seorang kakak, untuk cinta seorang pemimpi, dan untuk tiap-tiap apa saja yang kau lakoni dengan penuh kesungguhan dan cita, semoga dilancarkan dan dimudahkan.

Saat ini, mungkin kita sudah menempuh jalur hidup yang dihamparkan untuk kita masing-masing, kawan.
apa kabar harimu? Semoga segala aral melintang pukang dapat dilalui dengan tersenyum, karena kita sadar betul, bahwa semua itu suatu nanti jadi kenangan terindah dalam hidup kita, yang bisa kita ceritakan dengan heroik dan meniru gaya para orang tua kita dulu waktu menceritakan kisah-kisah kepahlawanan mereka.

Betapapun,
akhirnya kita sampai juga pada suatu masa dimana kita harus melewati lagi semua fase itu.
semua fase kesendirian, semua fase keletihan, semua fase yang membuat kita merasa jadi seorang terasing di belantara hidup ini.

Tapi betapapun juga,
kita- yakin sekali saya– akan jadi orang yang bertahan hingga titik akhir fase cerita itu, nanti kita akan jadi orang bijak yang mengajarkan pada anak-anak muda di seberang sana tentang bagaimana caranya menghadapi hidup, tentang bagaimana caranya bertahan, tentang bahwa semua badai pasti berlalu, tentang bahwa semua gelap akan jadi terang, tentang bahwa kita adalah saksi sekaligus pelaku sejarah lakon kekuatan tekad manusia yang meluluh lantakkan karang keras kehidupan.

Apa kabarmu di sana, kawan?
semoga semua kesendirian dapat dilewati dengan santai dan tanpa beban, karena kita yakin betul, bahwa kita, suatu ketika akan bercerita dengan ringan, kepada siapapun dia yang menjadi teman hidup kita nanti, bahwa jauh sebelum kehadiran dia, kita sudah merasakan pertanda yang muncul lewat angin yang berdesir, yang muncul lewat rintik hujan, lewat desah mentari sore yang menjadi tua, lewat malam-malam hening kita yang kita lalui sendiri, kita sudah merasakan pertanda bahwa ada seorang yang juga menanti di ujung belahan dunia sana.
Maka itu kita terlalu malu untuk sekadar menjadi orang yang terlalu panik, dan mengejar apa yang orang biasa sebut dengan cinta, karena kita ingin kita menjadi layak –meskipun sedikit- untuk pendamping semulia mereka.

Apa kabarmu di sana kawan?
semoga semua ketidakpastian akan masa depan dapat dijadikan semangat menggelegar karena yakin bahwa hidup ini akan menjadi lebih luar biasa dengan kejutan kejutan.

Dalam tataran apapun, dan dalam status apapun yang akan diberikan kepada kita nantinya, kita hanya punya satu cita-cita, bahwa semua akan berbahagia untuk telah melahirkan anak seperti kita, untuk memiliki adik seperti kita, untuk memiliki kakak seperti kita, untuk memiliki seorang sahabat seperti kita.

Apa kabarmu di sana kawan?
semoga selalu baik,
karena sampai detik waktu terakhir nanti, kita akan terus mengukir epik, menjadikan dunia ini untuk tidak menyesal karena catatan harinya terukir dengan cerita bahwa terdapat pejuang kehidupan yang mengisi lembar sejarahnya,
pejuang yang bernama KITA.

Waktu kita terus mengalir detik demi detik,
mungkin pada akhirnya nanti, dunia ini tidak pernah kenal siapa kita, tetapi paling tidak kita telah memenuhi janji pada diri sendiri untuk berbuat yang terbaik yang kita bisa, untuk ayah dan bunda, kakak dan adik kita, untuk teman2 terbaik kita, untuk pasangan jiwa nun di sana, dan pada akhirnya…untuk dunia

Apa kabarmu di sana kawan????

 

*) Ini tulisan jaman masih kuliah dulu, betapapun tua, tulisan ini masih relevan sampai sekarang. Saya biarkan tak ter-edit, meski sangat ingin menambahkan dan mengoreksi diri sendiri bahwa segala jenak perjuangan sejauh ini ialah untukNya, bukan untuk siapa-siapa semestinya.

DI SEBRANG PEMATANG

pematangTeringat saya, akan sebuah perumpamaan dari ulama-ulama arif, bahwa fiqih ialah tata aturan, yang membahas tentang batasan-batasan. Mana boleh, mana tiada boleh. Seumpama sawah, fiqih ialah pematang. Border. Pembatas yang tidak boleh dilanggar. Tapi kehidupan dunia pertanaman padi tiadalah berhenti sebatas pematang. Di sebrangnya pematang, di dalam sawah itu ialah area dimana kita boleh berkreasi memaksimalkan penanaman padi.

Permisalan lainnya juga adalah bermain bola. Fiqih ialah tata aturan. Bermain bola harus pakai kaki. Tidak boleh keluar garis. Tidak boleh kena tangan, dsb. Tapi persoalan bola bukanlah semata mengenai pelanggaran. Ianya adalah mengenai bagaimana setelah kita mengenal tata aturan itu; kita bisa bermain secara baik. Bermain bola sambil merangkak, tidak menyalahi aturan. Tetapi dia tidak sesuai dengan ide untuk bermain secara baik. Kalaulah tidak dikatakan orang gila itu yang bermain bola sambil merangkak.

Saya baru tersadar, bahwa dalam keseharian, banyak sekali klaim kita yang berkutat mengenai tata aturan batas-batasan. Saya dulu terjebak pada pemikiran begitu. Berhenti sebatas pematang. Bukan mengenai mengoptimalkan dunia pertanaman padi. Bukan mengenai bermain bola secara baik. Sehingga, klaim bahwa orang lain sesat, orang lain berlebihan dalam beragama; beredar dimana-mana.

Teringat saya, dengan sebuah cerita tentang Umar yang karena tertinggal sholat ashar sebab saking asyiknya mengamati kebun, beliau menghukum dirinya sendiri dengan menyedekahkan kebunnya.

Teringat juga saya, dengan sebuah cerita tentang utsman bin affan yang saking pemalunya, kalau beliau mandi maka memakai basahan, berjongkok di pojokan kamar mandi, pintu ditutup dikunci, pintu kamar ditutup dikunci, pintu rumah ditutup terkunci.

Jika konsentrasi perikehidupan kita hanyalah soalan batas-batasan, tidak kita temukan ajaran Sang Nabi yang menyuruh seseorang menyedekahkan kebunnya kalau misalnya sholatnya tertinggal karna melihat kebun. Tidak juga ada ajaran yang menyuruh untuk mandi meringkuk di pojokan, pakai basahan, dengan pintu tertutup semua dari kamar sampai gerbang depan rumah misalnya.

Tetapi ada dimensi “kedekatan” ada dimensi “cinta” antara dua sahabat mulia itu, dengan Tuhannya. Dimensi kedekatan inilah, yang tidak melanggar batas-batasan, namun sering disalahpahami oleh sebagian orang.

Misalnya saja, kita bekerja di sebuah kantor. Kita punya seorang bos yang tiap bulan harusnya meng-approve expense atau biaya pengeluaran kita. Karena kita orang baru di kantor itu, maka “menanyakan kepada bos itu apakah uang expense atau pengeluaran kita sudah di-ACC” adalah hal lumrah. Logis. Masuk akal – semasuk akalnya, masuk aturan semasuk-aturannya. Tapi saat sudah berganti tahun, berganti dekade, kita mengakrabi bos kita itu dan kita tahu, “bahkan sebelum kita tanya pun” rupanya bos kita ini sudah meng-approve dan malah menanyai kita lebih dulu tentang mana-mana anggaran yang mau ditanda tangani; mestinya ada semacam “kedekatan” yang muncul dalam hati kita.

Mestinya ada semacam pengenalan yang membuat kita malu untuk selalu bertanya. Toh tanpa kita bertanyapun, beliau sudah lebih dulu mengecek. Lebih dulu menanda tangani. Sebegitu baiknya pada kita.

Rasa kedekatan ini lho, yang tidak melanggar batasan-batasan, tapi sering disalahpahami.

Seorang karyawan baru, akan “melanggar” tata aturan kontribusi keturut-andilan, saat dia tidak pernah bertanya pada bosnya mengenai apakah anggaran sudah ditanda tangani atau belum. Tapi seorang karyawan yang sudah bertahun-tahun dan mengenal pribadi bosnya, akan “semacam melanggar” tata norma kedekatan, kalau masih juga setiap saat bertanya-tanya hal yang sama.

Maka di seberang pematang, ada dimensi cinta semestinya. Dan disanalah umar Ibn Khattab yang mensedekahkan kebunnya berada, dia tidak berlebihan dalam beragama, dia tidak melanggar pematang, tapi dia ada di dalam dimensi cinta itu. Sesuatu yang membuatnya ewuh pakewuh dan malu kepada Tuhan untuk meninggalkan sholat ashar. Di situ juga sahabat utsman ibn affan. Disitu juga para wali yang sering disalahpahami.

Maka ketika saya mendengar ada orang yang mengkritik syair abunawas dengan ucapan “doa macam apa itu, berdoa kok ga jelas minta apa. Doa itu harus tegas minta surga!”

Saya tak bisa berkata apa, hanya membayangkan dengan haru Abunawas sang pendosa yang taubat itu sudah ada di sebrang pematang, dengan kedekatan yang membuatnya sampai malu mengojok-ojok Tuhan dengan permintaan, kala melantunkan:

Oh Tuhanku, aku bukanlah ahli surga Juga tak mampu menahan siksa neraka.

—-

*) gambar diambil dari sini

 

YANG TERCERAHKAN

tafakurKemarin sore saya menonton sebuah acara TV. Mengangkat profil beberapa orang yang mengajarkan bagaimana meraih kebahagiaan. Salah satu profil yang diangkat disana ialah Gede Prama. Saya tertarik mendengar sepotong episode yang beliau tuturkan.

Waktu itu beliau umurnya 38 tahun, masa produktif dimana capaian hidup yang rasanya dikejar oleh banyak orang seusia beliau sudah dia dapatkan, tapi malah beliau memilih untuk mengakhiri karirnya dan pulang ke kampung halamannya di Bali. Menekuni meditasi, menjadi guru kearifan.

Cerita ini menjadi menarik bagi saya meski saya seorang muslim, karena entah sudah berapa banyak cerita dengan plot yang nyaris serupa kita dengar. Umpamanya saja kisah Sidharta Gautama yang demikian santer, meninggalkan gegap gempitanya hidup sebagai putra mahkota, lalu memilih hidup menjadi pertapa, dan pada akhirnya menjadi guru. Dari tanah jawa ada cerita Eyang Suryo Mentaram -yang muslim- yang juga meninggalkan kehidupan kraton, padahal beliau putra mahkota Sri Sultan -persisnya HB keberapa saya tidak ingat lagi-. Dari barat juga ada, salah satu personel The Beatles, George Harrison, meninggalkan gemerlap dunia panggung untuk belajar kepada seorang yogi yaitu Maharisi Mahesh.

Satu hal yang kemudian secara kasaran kita bisa tarik garis merahnya, pertama bahwa kehidupan mereka di puncak karirnya rupanya tidak memberikan mereka kebahagiaan. Kedua, mereka gelisah memikirkan kebahagiaan yang entah seperti apa bentuknya, lalu kegelisahan itu mengantarkan mereka pada renungan-renungan dengan pola masing-masing. Ketiga, puncak kegelisahan itu ialah mereka melepaskan segala atribut kemewahan untuk lalu banting setir pada dunianya yang baru, dunia kontemplasi, lebih spiritualis, atau apalah kita menyebutnya. Dan yang terakhir, menurut mereka, dunia mereka yang baru itu lebih bahagia.

Ada apa ini?

Saya tentu saja, kalah asam garam dibanding nama-nama tenar di atas. Tapi yang selalu menjadi kekhawatiran saya adalah sebuah fakta bahwa kebahagiaan itu tidak bisa diraih dengan pencapaian keduniawian. Itu sudah sak-milyar orang di dunia tahu, tetapi malah nyata-nyatanya kehidupan hari ini yang kita jalani membebat kita untuk terus menerus larut dan tercekik aktivitas.

Sempat saya berfikir, apa iya, untuk menjadi seorang yang lebih menghayati hidup maka saya harus pula berhenti dari aktivitas saya sebagai engineer migas dan lalu banting jalur jadi pertapa? Atau kalau muslim ya jadi kiai, sufi begitu, rasanya kok ya tidak lucu.

Menjadi orang yang tercerahkan lewat jalur banting setir seperti cerita di atas; rasanya jauh panggang dari api, tapi kegelisahan seperti mereka itu nyata kita rasakan. Hanya saja sebagian orang sudah semakin hilang rasa sensitifnya terhadap sesuatu yang kosong dalam jiwanya. Karena semakin dia gelisah, semakin dia sibuk bekerja, gelisahnya seakan hilang, semakin dia larut dalam hiruk pikuk kerja. Padahal dalam batinnya yang paling dalam sekali, kalau sebentar saja ingin mendengarkan, pastilah melaporkan bahwa bukan ini yang dia cari. Bukan ini, sungguh.

Beruntung saya bertemu kitab Al-Hikam. Ditulis terang-terang disana pada point awal-awalnya, yang kurang lebih menjelaskan bahwa tiap orang sudah memiliki peruntukannya sendiri di dunia ini. Tidak setiap orang harus berprofesi sebagai Ustadz, Kiai, Guru kearifan, apalah, apalah. Tapi ada yang pekerja, ada yang pedagang. ada yang petani. Dunia butuh komposisi seperti ini.

Dan sikap hidup kontemplatif yang benar, menurut Ibnu Athaillah adalah menjalani apa yang diberikan kepada kita saat ini dengan penuh kesyukuran dan kesadaran akan tema besar bahwa bukan kerjanya ini yang jadi final destination kita. Tapi Yang Memberikan Kita Takdir Seperti sekarang inilah yang jadi kutub yang dituju kompas arah hidup kita.

Tantangannya adalah memang untuk pekerja-pekerja seperti kita harus sering-sering mengerem laju aktivitas, biar tidak terlalu ngebut dan auto pilot. Biar ada maknanya. Salah satu rem paling manjur, rem yang “given” adalah rasa gelisah itu tadi. Kalau Allah memberikan kita rasa “gelisah” di hati dan bertanya-tanya akan makna hidup, akan apa yang kita jalani sekarang kok seperti hambar padahal karir bagus, pekerjaan ok, dan sebagainya, berarti Tuhan memberikan semacam auto break. Jeda sejenak agar kita menjadi yang tercerahkan. Sebelum kembali berpusal-pusal dengan aktivitas kita.

Seperti Sang Nabi SAW, kalau boleh mengambil analogi meski tidak mungkin bisa dibandingkan; yang mengalami gelisah luar biasa dan khalwat di gua hira, untuk kemudian setelah “tercerahkan” maka terjun kembali ke kancah masyarakat dan melakukan apa yang sudah jadi Garis Hidup Beliau.

Ya level kita-kita sih tidak usah terlalu muluk-muluk. Setelah mendapatkan “alarm” kegelisahan itu maka Berhenti sejenak sajalah dalam keseharian kita yang ngebut, lalu hela nafas, dan tanyakan kembali, dari mana kita, mau kemana kita, apa yang kita kerjakan sekarang ini? lalu kita minta Allah menuntun kita. Biar hidup yang sekali-kalinya ini tidak ngebut tak karuan hantam sana-sini.

Bagus lagi, kalau kita sama-sama belajar supaya lebih “masuk” dalam sholatnya, agar memberi semacam jarak mental antara kita dengan aktifitas kita untuk tak terlalu larut. Jadi siklus hidup kita mungkin begini: “grasa-grusu dengan dunia-banyak dosa-gelisah- lalu “kembali”.

Setidaknya sebagai awalan Bisa kita pertahankan dulu sikap kembali-nya itu. Tiap gelisah, kita “kembali”. Tiap gelisah, kita “mbalik ke Allah”.

Semakin sering kita tumakninah dalam hidup dan mengatur laju hari-hari kita, tahu tema besar drama hidup kita, kata para guru, kita akan tercerahkan juga.

Seperti apa hidup yang tercerahkan itu? saya juga tidak tahu, yang jelas ada peran yang harus kita jalani sekarang, dan mari kita jadikan tunggangan buat pulang.

KETENANGAN SEMU VS KETENANGAN HAKIKI

sunsetDua orang sedang menunggu di halte bus. Kondisi siang hari panas terik. Orang yang pertama begitu kesalnya dengan situasi. orang yang kedua nampaknya santai dan biasa saja. Usut punya usut, orang pertama rupanya sedang memikirkan tunggakan cicilan. orang kedua rupanya pengantin baru, sedang menunggu istrinya datang ke halte bus.

Simpulannya adalah simpulan klise yang kita sudah hapal. Kebahagiaan itu bukan terletak pada situasi, atau yang lebih tepat lagi adalah “kondisi kejiwaan kita; bahagia atau duka, sedih atau gembira, lapang sempit, adalah sangat berkaitan dengan apa yang kita fokuskan”.

Berangkat dari sini, orang-orang mengembangkan banyak cara untuk mencapai kebahagiaan. Misalnya kita lagi jenuh, lagi galau, ada banyak cara yang menawarkan untuk merubah situasi kejiwaan menjadi terlihat bahagia.

Cara pertama adalah cara yang mirip dengan ilustrasi tadi: mengalihkan fokus kesadaran kita. Misalnya kita lagi gundah gulana, agar terhibur maka kita mendengar musik. Saat kita mendengar musik, kesadaran kejiwaan kita pindah fokus, dari masalah kita kepada musik, maka gundah kita hilang. Ide mengalihkan fokus kesadaran ini bisa dibuat sesuai selera sih. Ada yang nonton bioskop, ada yang pengalihnya ialah jalan-jalan. Intinya adalah bagaimana dia mengalihkan fokusnya, dari galau menuju sesuatu yang menyenangkan hati.

Tanpa bermaksud ofensif, para instruktur terapi kebahagiaan banyak yang menerapkan metoda ini, membawa kesadaran kita pindah fokus. Kepada bunyi, kepada gambaran benda-benda. Praktis memang, galau kita hilang, tapi sejatinya kita hanya memindahkan perhatian saja. Cara ini memang bisa membuat kita tidak galau. Tapi cara ini tidak permanen, begitu kita kehilangan fokus pada pengalih perhatian atau kita kembali kepada masalah, kita galau lagi. Dan yang lebih penting, cara meraih kebahagiaan model seperti ini tidak bernilai secara ibadah. Kata para guru, ini yang harus kita paham.

Cara yang lebih bernilai bukanlah memindahkan fokus kesadaran, melainkan menghilangkan galau dengan berdialog kepada Tuhan. memasrahkan kepada Tuhan. Minta tolong kepada Tuhan.

Ada efek yang sebenarnya agak-agak kurang pas, tapi kita sering mengira sudah mantap. Misalnya, kita mendengar murottal lalu menangis. Tentu bagus mendengar murottal dibudayakan. Tapi sebagai renungan pribadi, patut pula kita menilik hati apakah kita menangis karena terhanyut oleh nada-nada murottal yang syahdu. bukan karna tersentuh oleh kesadaran keTuhanan? ini pada “ide”nya, adalah sama juga, mengalihkan fokus kesadaran. Dari masalah yang kita hadapi ke tangga nada minor yang dilagukan pas murottal dibaca. Bukan salah, hanya sebagai renungan pribadi apakah gelisah kita yang hilang; memang hilang karena rasa kedekatan pada Tuhan, atau fokus kejiwaan kita sementara bergeser dari masalah pada alunan indah nada lagu?

Galau memang hilang, tapi bukan galau yang dimaksud dengan “Allah menurunkan ketenangan kepada hati orang mukmin”, melainkan galau hilang sementara karna kita menjadi fokus pada kegiatan membaca, akibatnya perhatian kita pada masalah hidup kita sirna sementara.

Guru-guru mengatakan, kita harus sering-sering berdialog kepada Tuhan. Belajar membenarkan arah “menghadapnya” perhatian kita. Seperti awal doa iftitah, Inni wajjahtu wajhiya….(dengan ini aku hadapkan “wajahku” kepada pencipta langit dan bumi).

Artinya, kita bukan mengalihkan fokus dari masalah kepada hal lain yang bisa membuat kita lupa, entah bacaan, entah lagu, entah aktivitas, apa saja itu. Melainkan kita hadapkan “wajah” kita kepada Pemilik Langit dan Bumi.

Semata saya tuliskan ini menyampaikan ilmu dari orang-orang arif.

Yang harus kita sama-sama coba, selepas sholat, atau ketika ada lowong, adalah berdzikir, terserah, mau dzikir apa saja tapi panggillah Allah dengan merendah. Bukan kita mengalihkan perhatian kita atau menyibukkan fikiran kita dengan aktivitas peribadatan, melainkan sikap mental kita curhat,  benar-benar memanggil Allah…. pasrah, pelan, dan meminta tolong. Nantinya jika sikap mental yang seperti ini sudah kita dapat, mudah-mudahan bisa kita bawa dalam segala aspek peribadatan kita lainnya. Juga aspek keduniawian kita.

Guru-guru mengatakan, jika arah “menghadap”nya hati kita sudah benar, Nantinya ketenangan yang datang adalah betul-betul ketenangan yang diturunkan. Bukan ketenangan semu karna kita berpindah fokus. Kalaulah ingin dikatakan mengganti fokusnya, maka fokus kita tidak berhenti di bentuk peribadatan atau aktivitasnya, tapi kepada Siapa Yang Dibalik peribadatan itu kita seru, yang kita mintai tolong.

Wallahu’alam

——-

*) gambar dipinjam dari sini

TAK MESTI PUNYA TAMAN SELUAS LAPANGAN BOLA

GardenLawnAda sebagian khalayak, yang hanya bisa berbahagia setelah memiliki rumah dengan taman yang luas. Seluas lapangan sepak bola. Lengkap dengan tetumbuhan yang hijau ranum, dipangkas rapih oleh tukang kebun, dan dihiasi lampu-lampu taman ala yunani kuno, dengan burung-burung merpati yang terbang hinggap di sembarang tempat. Orang-orang yang seperti ini, rela bekerja siang malam dengan keras untuk kepemilikan sebuah taman nan indah, walaupun kenyataan realitanya adalah mereka tidak pernah punya waktu menikmati taman itu. Kebahagiaan mereka adalah dengan mengaku-ngaku bahwa “taman itu punya saya”. Perkara saya sibuk bekerja tanpa pernah menikmati taman, itu lain soal. Yang jelas taman itu milik saya.

Ada kebalikannya, yaitu orang-orang yang bisa berbahagia dengan menikmati taman. Misalnya mereka berjalan di taman kota setiap pagi. Melihat burung-burung yang terbang hinggap, melihat pohon-pohon beringin kecil yang dipapas jadi bentuknya seperti bola, merendamkan kaki di pancuran tengah-tengah taman, atau sekedar duduk dan ngobrol santai di bangku taman. Taman itu bukan milik mereka, tidak soal, yang jelas realitanya mereka bisa menikmati taman itu. Kebahagiaan mereka adalah pada kemanfaatan yang bisa mereka terima, mereka rasakan.

Saya hendak menuliskan ini untuk diri saya sendiri. Bila pada kenyataannya dua orang dengan dua tipe ini tadi bisa sama-sama berbahagia, maka sebenarnya kita boleh memilih. Pada posisi mana kita ingin berbahagia? Mana kebahagiaan yang jauh lebih real? Mana yang tertipu?

Itulah bedanya rejeki dengan harta. Harta itu adalah sesuatu yang diaku-aku milik kita. Seperti taman. Boleh jadi kita punya taman indah seluas lapangan golf, tapi bila tiada pernah ada luang untuk sejenak menikmati hijau-hijaunya rumput taman itu, dan kita hanya sibuk bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, mungkin taman itu bukan rejeki kita. Mungkin rejeki pengemis yang kebetulan numpang lewat dan numpang tidur disana.

Singkat cerita, rejeki adalah sesuatu yang kemanfaatannya secara real kita rasakan. Maka boleh jadi harta kita banyak, tapi ingat bahwa rejeki siapapun bisa kait mengait dengan harta kita. Dan bila kita selamanya mengejar harta, tanpa sebuah persepsi indah bahwa dengan banyak harta maka kita bisa membagi rejeki buat orang lain; jangan-jangan kita sudah salah fokus. Kita mengaitkan kebahagiaan kita dengan kepemilikan, padahal kepemilikan akan sesuatu tidak lantas secara serta merta membuat kita bisa menikmati sesuatu itu.

Boleh kita bekerja keras, asal sebuah mindset tertanam dalam benak kita, bahwa dengan kerja inilah kita mendapatkan titipan sebuah harta yang jadi jalan rejeki untuk orang lain. Jadi meski kita tak nikmati, tak soal. Itu kalau mindset kita benar.

Pantas saja, orang-orang arif yang bijak bisa selalu bahagia, karena untuk bahagia tidak harus menunggu barang atau apapun itu menjadi milik mereka, asalkan saja mereka bisa menikmati kenyataan bahwa mereka senang dan syukur dengan kemanfaatan sesuatu itu; mereka sudah bahagia. Dan orang-orang di dunia ini triliunan jumlahnya yang keliru-keliru, mengira bahwa untuk bisa menikmati sebuah taman, harus memiliki dulu taman seluas lapangan bola.

Jikalau kita tak bisa bahagia sebelum punya taman seluas lapangan bola, kita harus jeda sejenak dan seting ulang mindset. Padahal mungkin rejeki untuk kita; sesuatu yang bisa kita nikmati dan mendatangkan kesyukuran; itu sudah serak-morak amburadul tak karu-karuan di sekitar kita, hanya saja kita tidak pernah benar-benar menyadarinya.

Hati-hati.

—–

*) gambar dipinjam dari sini

JANGAN MALU PULANG

20130627-085706.jpgSalah seorang yang saya anggap guru, mengatakan “tak perduli sebanyak apapun dosa yang pernah kita lakukan, jangan pernah malu untuk mengetuk pintu rumah Tuhan. Katakan ‘ya Allah, aku mau pulang'”.

Saya jadi ingat. Salah satu hambatan terbesar yang saya rasakan untuk meniti jalan pulang ialah merasa tak layak. Karena tidak layak, maka malu mendekat kepada Tuhan.

Sepertinya ini sepele, tapi kalau kita jujur pada diri sendiri, pasti rasanya kita pernah mendecak dalam hati, “tidak mungkin doa terkabul”, atau, “siapalah saya ini, banyak dosa, bukan ustadz”. Pada sudut pandang yang tepat, sadar diri itu bagus, tapi tindak lanjut dari kesadaran akan kejelekan kita itu adalah harusnya ‘kembali ke Tuhan’.

Saya sering sekali memperhatikan cerita orang-orang yang kasat mata terlihat jarang bersentuhan dengan spiritualitas, akan tetapi sebenarnya dalam hatinya ada rasa ingin kembali itu. Hanya saja rasa itu dikalahkan oleh rasa malu dan tidak layak yang tidak pada tempatnya. Kita termasuk diantara trilliunan para pendosa di muka bumi ini, yang tidak juga kembali-kembali bersimpuh kepada Tuhan, karena satu paradigma jelek, ‘kadung’, merasa sudah terlanjur, merasa diri buruk sampai pada tingkat ekstrim yang lalu enggan meminta kepada Tuhan. Kita merasa bahwa kasih sayang Allah itu sedemikian kerdilnya, sampai-sampai masa lalu buruk kita mengalahkan welas asih Tuhan hingga kita tidak bisa kembali.

Bukan berarti kita bebas sesuka hati, tentu bukan. Yang jelas, sebuah wejangan yang saya rekam di memori berkata begini, “Inti perjalanan hidup ini sebenarnya adalah kembali ke Tuhan. Kalau saat ini kita sedang ber’amal, maka cara menjadikan ‘amal’ itu sebagai pijakan kembali ke Allah adalah dengan menyadari bahwa amal itu adalah karunia Allah pada kita. Tidak akan kita mampu beramal dengan usaha kita sendiri, tanpa diberi percikan hidayah. Sebaliknya jika kali ini kita sedang terlanjur berdosa, maka cara menjadikan dosa itu sebagai pijakan untuk kembali pada Tuhan ialah dengan menyadari bahwa pendosa bisa dekat pada Tuhan lewat pintu taubat.”

Hampir-hampir kita bisa membuat umpama, tidak penting masa lalu kita apakah pendosa ataukah abid, karena dosa dan pahala, dalam idiom yang seperti ini, kalah penting dibanding kenyataan bahwa dengan ‘itu’ kita berjalan kembali ke Allah. Yang jelas gunakan apa yang terjadi pada diri kita sekarang sebagai ‘kendaraan’ untuk pulang.

Punya amal maka bersyukur, dan menyadari bahwa amal itupun karuniaNya, bukan karya pribadi kita. Punya dosa, maka menyesal kita adalah lewat pemaknaan bahwa pulangnya kita kepada Tuhan ialah lewat pintu taubat.

Dan kenyataan bahwa kita sudah sadar dan ingin kembali; inilah yang sangat bernilai. sangat.

Jangan malu pulang, meski dosa sepenuh dunia.

——–
*) note: gambar ilustrasi saya kopi dari sini

ANAK SAYA KALAH X-FACTOR

Geli sekali saya mengingat fakta, bahwa bapak-bapak dengan umur lebih tua dari saya –termasuk saya sendiri-, di anjungan pengeboran tengah laut, malam-malam berkerumun di ruang TV untuk menyaksikan acara X-FACTOR. Kontes nyanyi menyanyi yang lumrah di TV itu.

Mulanya saya tidak memperhatikan, entah sudah sejak berapa lama acara kontes-kontes menanyi model apapun tidak menarik perhatian saya. Hingga saya melihat bahwa mulai dari Bapak-bapak sampai anak-anak ribut membicarakan ini, saya mulai penasaran. Dan menontonlah saya, meski kebanyakan hanya memantaunya dari youtube.

Dari ruangan kerja saya di tengah laut itu, sambil membunuh kebosanan, saya mengamati detail potongan babak dimana kontestan menyanyikan lagu dengan aransemen mereka yang unik-unik. Saya baru menyadari, betapa buruk perbendaharaan lagu yang saya miliki? Nyaris semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang kali pertama saya dengar. Wacana seni saya sungguh memprihatinkan.

Sambil menikmati kekagetan akan fakirnya saya dalam dunia musik, saya membayangkan saya mengikuti kontes itu, tapi kemudian saya tiba-tiba teringat bahwa saya memiliki seorang anak di rumah. Seorang perempuan kecil satu setengah tahun. Mungkin ini gerangan alasan, kenapa setiap kali saya mencoba menghayalkan saya mengikuti kontes serupa; selalu ada mental block. Semacam barrier bawah sadar bahwa untuk sekedar imajinasi-pun, hal itu tidak layak. Karena sudah bukan masanya, ini masanya saya mendidik anak saya. Bukan masanya saya berjibaku dengan anak-anak itu.

Saya sebenarnya tidak yakin, bahwa acara kontes-kontes semacam ini bisa menghasilkan penyanyi yang dikenang sejarah. Sudah banyak sekali kontes, tetapi orang-orangnya hanya seperti bunga di musim semi yang singkat. Muncul, untuk kemudian pergi begitu saja tanpa dirindukan siapapun. Karena zaman sekarang mungkin musim semi siklusnya terlalu cepat. Hilang satu, digantikan lagi dengan yang lain.

Tapi seandainya anak saya besar nanti, saya tetap menginginkan berada dalam satu momen dimana saya mendampingi anak saya dalam sebuah perlombaan. Perlombaan apapun itu. Dan adegan yang paling saya nantikan pada waktu itu nanti adalah mungkin pemberitahuan yang dramatis, diselingi tetabuh drum yang ritmis dan mencekam, lalu sang MC membacakan keputusan bahwa anak saya…kalah.

Betapa mendidik diri untuk terbiasa mengikuti kompetisi itu sangat penting, tapi saya yakin yang lebih penting dari setiap adegan-adegan mencekam pengumuman hasil lomba itu adalah bukan nama kita disorak-sorai sebagai pemenang, tapi adalah bagaimana kita tetap anggun dan kharismatik meski tertakdir kalah. Saya yakin, anak saya akan lebih banyak belajar dalam momen kekalahannya dibanding dari gegap gempita kemenangan yang sebentar dan merapuhkan dirinya dalam segala puja-puji. Kalah, lebih sering mendewasakan orang ketimbang menangnya.

Saya ingat sekali dulu waktu gencar-gencarnya american idol, saya membaca pada sebuah artikel bagaimana runner-up American idol -edisi keberapa saya lupa- menampilkan wajah yang tetap tersenyum saat dinyatakan dia kalah, dan lalu mengeluarkan sepotong kalimat yang gagah, “Saya menunggu rekan saya ini, untuk bersaing pada panggung sesungguhnya, di luar ini nanti”. Dia kalah, tetapi anggun dan tidak kehilangan kekerenannya. Dan memang akhirnya pada industri musik yang lebih keras dan kejam kontes hidupnya dia lebih terkenal dan mereguk sukses. Sayang saya lupa namanya, memang perbendaharaan musik saya mengenaskan.

Tapi yang jelas, terlepas dari urusan seni, saya mengingat banyak sekali babak dimana saya kalah. Dan saya ingat bagaimana tempo-tempo itu saya bisa begitu emosional. Kalah main badminton tingkat RT, kalah pada lomba pidato tingkat provinsi, kalah pada lomba nasyid, berkali-kali kalah dalam persaingan sepuluh besar kelas, kalah dalam wawancara akhir saringan masuk BHMN, dan banyak cerita lainnya. Kekalahan yang tidak anggun.

Saya tersentak, kok ya hidup diwarnai terlalu sentimentil? Padahal betapa bergairahnya hidup jika selalu dinamis dan memperbaiki apa-apa yang kurang, tanpa menomorsatukan gelar.

Saya sudah memutuskan, akan mengambil penokohan seorang Bapak yang membesarkan hati anaknya yang mengalami kekalahan pertama. Tidak ada keharuan yang drama. Tidak ada tangis-tangis yang menye-menye dari saya. Hanya pengingat, bahwa betapapun tidak menjadi juara kali ini, kita tetap bisa terlihat anggun dan terhormat. Lalu menjadi lebih dewasa lagi dengan menganggap biasa saja dari segala yang luput, dan tak terlalu gembira pada yang teraih.

Tentu saya bukannya tidak mengaharapkan anak saya menjadi pemenang. Biarlah…kala dia menjadi pemenang nanti, dia sudah tidak membutuhkan dampingan Bapaknya. Karena pelajaran menjadi pemenang sudah saya ajarkan sejak dari dia jatuh bangun dalam kekalahannya yang memesona itu tadi. Selalu anggun dalam kekalahan, saya rasa sudah menang dengan sendirinya.

BERBOHONG KEPADA TUHAN

images

Saya ini ternyata sering bohong kepada Tuhan.

Berapa waktu lalu, saya sedang dalam proses perekrutan untuk masuk dalam salah satu BHMN di bidang regulator usaha hulu migas. Perekrutan itu begitu panjangnya, dan sempat pula berapa kali momen tes-nya berbenturan dengan jadwal kerja saya ke lapangan. Tapi alhamdulillah ada-ada saja jalannya sehingga saya bisa mengikuti tes hingga akhir. (Entah itu jadwal tesnya tiba-tiba direschedule berapa kali hingga saya bisa ikut, dll).

Awalnya saya bisa mengikuti tes ini dengan sikap mental yang biasa-biasa saja. Tapi semakin ke belakang, saat kandidat semakin sedikit, dan keberhasilan sudah di depan mata, saya sadar sikap mental saya sudah tidak lagi pasrah kepada Tuhan, melainkan kuat sekali keinginan agar saya lulus.

Saya sadar penuh akan perubahan kejiwaan itu, tapi saya tidak bisa keluar dari suasananya. Begitu besarnya tarikan nafsu itu, saya kewalahan menghadangnya. Awal-awal tes, saya bisa berdoa dengan tulus, “Ya Allah….sekiranya ini baik buat hamba, mudahkan…sekiranya buruk, gantikan dengan yang lebih baik.” begitu menjiwainya saya dengan doa itu, hingga saat jadwal tes berbenturan dengan waktu kerja; saya biasa saja. “ah…takdir Allah begitu”. saya fikir, lalu gulana hilang. Plong sekali rasanya. Eh malah tiba-tiba banyak kejaiban terjadi dan saya sampai pada tahap akhir wawancara.

Tapi saya sudah mulai merasa tak enak waktu tahap akhir tes itu. Mulanya saya berdoa di lisan agar Allah memberikan saya yang terbaik. tapi di sudut sana, di dalam hati saya, setelah saya renungi saya mendengar suara yang lain lagi, yang dengan lantang ingin agar saya lulus.

Saya merenung, apakah saya sudah bohong kepada Allah?? hingga saya akhirnya merubah redaksi doa saya, “Ya Allah…kenapa hati ini condong sekali pada pilihan nafsu saya sendiri?”.

Dan memang pada akhirnya saya tidak lulus. Sebuah ending yang klimaks, setelah segala keajaiban kejadian rasanya tidak bisa untuk tidak ditafsirkan sebagai pertanda baik; nyatanya saya tidak lulus.

Saya melisankan, “Allah tahu yang terbaik.” tapi hati saya sebenarnya sulit sekali menerima. Untuk apa Allah memberikan segala pertanda kebaikan ini, jika diujungnya ternyata saya tidak lulus? Saya cemas sekali, cemas pada kenyataan kejiwaan bahwa saya memprotes takdir Tuhan. bahaya sekali ini.

Selang satu minggu saja, dari pengumuman ketidak lulusan saya itu, BHMN itu dibubarkan oleh MK. saya kaget sekali, meskipun kemudian akhirnya bersyukur “untung saya tidak jadi masuk ke sana.”

Memang pada akhirnya BHMN yang dibubarkan itu tadi hanya berganti nama, situasi kembali stabil, dan beberapa orang kawan saya berhasil diterima bekerja.

Tapi saya sudah mendapatkan pelajaran. Bahwa sebenarnya saya belum bisa total bersandar kepada Allah. Saya sering menipu diri.

Saya lupakan kejadian itu, dan melanjutkan rutinitas seperti biasa saja dengan membawa sebuah pelajaran penting bahwa saya harus menyandarkan segalanya pada Tuhan.

Kemudian Allah mentakdirkan kenyataan yang baru lagi. Tawaran datang bertubi-tubi. Seorang kawan memberikan kontak project manager di negeri antah berantah jika saya ingin mencoba menjadi konsultan di luar negri. Selang berapa lama setelah itu, Kantor saya sekarang menawarkan saya untuk pindah dari engineer lapangan menjadi orang kantoran dengan sebelumnya ditraining dulu ke luar negri. lalu sebuah tawaran dari perusahaan saingan masuk ke email saya (saya sempat menolak tawaran ini, tapi kemudian dikirimkan lagi tawaran dari perusahaan yang sama tapi untuk area asia, bukan sebatas indonesia saja). Mana yang harus saya pilih??

Saya bingung. Dalam kebingungan itu saya lalu berdiskusi kepada rekan saya. Ngobrol-ngobrol dengan istri saya. Telpon orang tua saya.

Tapi setelah itu saya menyesal sekali. Ternyata saya masih juga belum beranjak dari posisi saya yang lama. Saat dihadapkan pada sesuatu, saya belum bisa otomatis mengembalikannya kepada Tuhan. Bukan Allah yang terbetik pertama kali dalam hati saya. Tapi nama seorang teman, tapi pendapat istri, tapi keinginan nanya ke ortu, segalanya ada dalam benak saya kecuali Tuhan.

kalaulah ada Allah-nya. pastilah itu hanya embel-embel. Usaha sudah, maka penutupnya doa. Kenapa Tuhan saya hampiri yang paling terakhir?

Saya bohong kalau saya mengatakan “kembalikan segalanya kepada Tuhan.” nyatanya lagi-lagi makhluk yang ada dalam pikiran saya pertama kali, secara otmatis. Saya belum memasrahkan segalanya kepada Allah.

Tentu saja saya harus berusaha. Dan diskusi pada rekan, pada orang tua, pada istri itu adalah bagian dari usaha. Tapi mestinya usaha itu didasarkan pada sebuah kemengertian hati bahwa tetap saja Allah yang saya gantungi harapan. Tetap Allah yang pertama kali tercetus di hati. Begitu ada sesuatu yang mengganjal atau harus diputuskan, saya tidak ingin ada siapapun yang menghuni ruang hati ini kecuali Tuhan. “Ya Allah…apa yang harus hamba lakukan?” Barulah setelah itu saya bergerak misalnya diskusi dengan orang lain, sambil di hati berharap Allah memberikan pencerahan lewat siapapun yang Dia kehendaki. Sehingga saat misalnya tiba-tiba hati saya mendapatkan kecenderungannya pada salah satu pilihan; lewat jalan berdiskusi dengan orang lain; yang terbetik di hati saya adalah “ya Allah..terimakasih, akhirnya Kau berikan pencerahan lewat orang ini”.

Tapi betapa hal yang begini ini sulit, jika tidak Allah sendiri memberikan rahmat.

Tiba-tiba saya ingat banyak kisah tentang orang yang karena urusan kencing saja jadi disiksa di kubur. Karena salah niat maka masuk neraka. Karena riya maka amal tak diterima. Karena jumawa maka dibalikkan kenyataan dirinya dari seorang abid jadi pendosa. Betapa banyaknya fakta bahwa sebenarnya manusia tidak bisa mencapai Tuhan dengan dirinya sendiri. Begitu banyaknya hal yang dikira sepele tapi ternyata berdampak besar.

Benarlah orang-orang arif yang mengatakan, andaikan kita mengandalkan amal kita untuk bargain dengan syurganya Allah, pastilah orang sedunia ini masuk neraka semua.

Apa yang bisa saya andalkan dari diri saya sendiri?

karena betapa pelik dan musykilnya perjalanan menuju Tuhan itu.

Betapa kacau balaunya penghambaan model begitu. Akhirnya saya duduk, diam, mengaku saja. “Ya Allah…mana mungkin aku mencapaiMu bila bukan Engkau sendiri yang mengantarkan aku padaMu.”

———–

note:
“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap akhir shalat
:Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.
[Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud)
*) gambar diambil dari sini

MANTRA KEBAHAGIAAN

kebahagiaan

Saya benar-benar merasa beruntung, untuk telah dikelilingi begitu banyak orang-orang yang kebaikan mereka sebegitu tertanam dalam memori saya. Sebagian orang-orang yang saya kenal ini memang sukses secara kasat mata. Misalnya saja rekan-rekan di perkuliahan saya. Saya menjadi saksi bahwa cerita tentang orang-orang dengan latar belakang keluarga seadanya, lalu kemudian berubah menjadi orang-orang sukses karena perjuangan mereka; tidaklah hanya ada pada sesumbar cerita-cerita motivasi. Ini real.

Saya tidak bisa untuk tidak bangga pada mereka. Tentu sedikit iri kadang-kadang juga ada, tapi saya menepis iri itu agar tidak menjadi pemantik untuk sebuah pertandingan yang tak perlu. Orang-orang yang lebih sukses daripada saya, di dalam hati saya, saya daulat menjadi guru kehidupan untuk saya. Tanpa mereka pernah tahu.

Tapi kadang-kadang, saya bisa menemukan kembali kegairahan untuk terus bekerja, tanpa perlu menjadikan iri pada orang lain sebagai bahan bakarnya. Dan sering saya menemukan juga, bahwa saya tidak perlu alasan yang terlalu filsafat untuk menghentikan iri dan pertandingan yang tak perlu dalam kehidupan saya. Cukup saya melihat sekeliling saya, dan saya akan menemukan orang-orang yang tetap berjuang dengan kebaikan dan ketulusan sempurna, tanpa aura kedengkian, iri hati, atau keinginan berpenyakit apapun itu. Meski secara hitung-hitungan sederhananya, saya lebih beruntung daripada mereka.

Keluarga Nenek saya di kampung, selalu menimbulkan kenangan yang baik dan enak. Mungkin saja, saya masih bertahan hidup dalam segala kebaikan kejadian, dan masih diselamatkan dalam segala kekhilafan yang tidak pintar, adalah sumbangsih doa-doa mereka yang tulus.

Waktu saya sedang bertugas di sebuah pengeboran migas di darat, saya lupa persisnya dimana. Jalanan menuju anjungan pengeboran itu dijeda oleh pemandangan gubuk-gubuk yang kecil, dan orang-orang yang melihat dengan tatapan yang tidak bisa saya artikan.

Saya tidak tahan untuk tidak sekali-sekali menoleh dan melihat rumah-rumah kecil yang mereka dirikan itu. Bukan semata soal mereka, tapi juga soal saya sendiri. Kemunculan mereka pada sebuah episode pekerjaan yang sudah demikian memutus memori saya tentang kebaikan orang-orang desa, seakan memanggil-manggil saya. Bahwa ada sesuatu yang harus saya jaga tetap sinambung. Ingatan dan rasa terimakasih terhadap segala yang berjasa. Terhadap keluarga Nenek.

Orang-orang yang saya lihat pada jalanan menuju area pengeboran itu, kalau secara kasaran saja, adalah orang-orang yang kalah beruntung dibanding keluarga Nenek saya. Dan keluarga Nenek saya, mungkin saja adalah orang-orang yang kalah beruntung dibanding saya. Tapi saya membatin sendiri sembari kerja. Ah…apatah keberuntungan itu?

Misalnya saja, saya tahu orang-orang di sekitar area pengeboran itu adalah orang yang mungkin tidak pernah mencecap pendidikan, tapi apa benar mereka tidak bahagia? Ada sebuah kenyataan bahwa mereka sedang berada dalam kehidupan yang bahagia. Versi mereka.

Bangun pagi, bertemu anak istrinya. Bercerita dan tertawa. Menanak nasi. Lalu sama-sama pergi ke kebun lalu menanam lalu memetik. Betapa hidup mereka begitu ramah dan berkelindan dengan alam. Mereka sudah benar-benar membuktikan filsafat rezeki yang dibaca orang-orang kota dari buku-buku di gramedia, ‘burung saja terbang di pagi hari, lalu kembali sore hari dengan perut kenyang”.

Di benak mereka, Tuhan adalah maha pengasih penyayang. Mereka benar-benar sudah menjadi penyaksi. Saat mereka mengatakan “aku bersaksi” maka kesadaran bahwa dunia ini dibanjur oleh welas asihnya Allah, benar-benar mereka rasakan. Tidak menipu.

Ada yang berdebat dalam benak saya. Baru saat itulah saya menyadari sebuah harmoni yang lain lagi. Harmoni itu adalah saat nurani kepahlawanan, kebaikan kita tersentil dengan ketimpangan sosial, lalu dengan semangat kita ingin membantu orang-orang seperti itu, umpamanya dengan pendidikan, dengan mengajari mereka baca- tulis- hitung, kita harus hati-hati menanamkan ide-nya kepada mereka. Dan ide-nya kepada diri kita sendiri.

Ide itu adalah, bahwa mereka sedang berbahagia. Dan kita datang untuk menggenapkan kebahagiaan mereka. Memberi wacana tentang berbagai-bagai model kebahagiaan yang harus dicecap.

Bukan lantas membanting mereka dari suasana kedamaian kejiwaan, “eh… kalian itu sebenarnya tertinggal, lihatlah orang-orang yang sukses, bisa baca, punya rumah, punya mobil, kalian tertinggal…hahahaha…kalian tertinggal….ayo bangun, kejar orang-orang itu.”

Saya yakin, orang-orang yang dipantik geloranya dengan isu klasik ‘ketertinggalan dari orang lain’ akan bisa bangkit. Tapi kebangkitan mereka ini sejatinya berbahan bakar amarah. Saya merasakan, memaksa orang lain untuk bangkit lewat mantra-mantra kemarahan dan dendam atas kesuksesan orang lain; adalah sangat tidak elok. Mereka bisa sukses terlihat pada kasarannya, tapi sebenarnya mereka sedang seperti kesetanan. Berlari terus, berlari terus…untuk tidak pernah menerima kekalahan. Dan yang lebih buruk dari itu adalah mereka belajar membenci kelebihan orang lain. Karena kelebihan orang lain, berarti kekurangan mereka, dan kekurangan mereka adalah tafsir dari tidak bahagia.

Apakah kita yang S2 lantas harus memandang dengan iba kepada orang-orang yang S1, sembari mereduksi kebahagiaan pada tataran gelar  tipuan semata. “Ah…kasihan benar orang-orang yang hanya S1 itu”. Dan siklus ini bisa bergulir seperti bola salju tak terkendali. Yang SMA memandang dengan penuh iba kepada yang tak berpendidikan.

Bukan tak boleh memajukan.Saya setuju tentang membaikkan peradaban. Betapa saya iri pada orang-orang tulus yang membangun negeri ini. Yang melihat mereka saya ingin beringsut hilang saja, sudahlah manusia ini tak ada apa-apanya, dan didalam kekecilan itu rupanya saya masih kecil juga dibanding orang-orang baik itu.

Tapi saya tidak setuju dengan ide bahwa orang-orang yang sedang kita ajak maju adalah orang-orang yang tidak bahagia. Maka mereka hanya bisa kita buat bahagia dengan mengajarkan sebuah lelakon “tidak mau kalah dengan orang lain”.

Saya teringat nenek saya. Tiada pendidikan. Baca tulis beliau tak bisa. Satu-satunya tulisan yang bisa beliau buat adalah tanda tangan beliau. Babak demi babak waktu kakek saya yang kepala sekolah itu mengajari istrinya sebuah tanda tangan sederhana sebagai kelengkapan syarat naik haji, saya ingat sekali.

Saya tahu kakek saya tahu istrinya tiada bisa membaca dan menulis. Tapi ada fakta bahwa kakek tak pernah saya liat memaksa nenek untuk bisa baca tulis. Dan tak pernah saya lihat kakek menatap nenek dengan sebuah pandangan yang mengasihani, karena kakek sadar bahwa kebahagiaan itu bentuknya tidak bisa diraba, dan tidak bisa dipaksa.

Toh saya senang, memiliki memori kakek-nenek yang begitu mesra. Sampai-sampai seloroh ibu saya adalah kalau kakek ingin pergi ke sungai dan hendak buang hajat, itupun dia gelisah mencari-cari nenek dulu. Hendak pamit. Jangan-jangan nanti nenek kebingungan mencari kakek. Betapa drama. Dan betapa nyata. Bahagia.

Tapi kakek juga seorang pemaksa, pada celahnya yang dia rasa tepat. Saya tak boleh minum, tak boleh makan, sebelum saya menamatkan mengeja bacaan pada buku yang dia beri. Kakek mengajari saya segala yang dia tahu.

Saya memberanikan diri berkesimpulan. Bahwa kakek mengajari saya, karena keterpanggilannya sendiri. Karena ingin memberikan wacana kepada saya bahwa ada berjuta-juta keajaiban di luar sana yang bisa saya ketahui lewat jendela aksara.

Tapi kakek tahu, bahwa kebahagiaan saya akan tumbuh lewat pemaknaan saya sendiri. Kebahagiaan nenek akan tumbuh dari penghayatan nenek sendiri. Karena eskalasi kebahagiaan itu bertingkat-tingkat. Tak terdefinisi. Berbagi saja. Sesederhana itu. Tak ada pesan-pesan kebencian. Tak ada mantra-mantra kemarahan. Tak ada pemaksaan kebahagiaan.

Mungkin karena menyadari betul bahwa kebahagiaan itu indah dengan rupanya yang fleksibel itulah, orang-orang desa bisa menjadi lebih spiritualis dibanding saya, dibanding kita.

Saya ingat, berapa bulan sebelum kematian kakek, kakek telah mengurus segala administrasinya, agar kelak saat beliau meninggal nenek bisa menikmati uang pensiun kakek tanpa repot. Kakek tahu nenek buta aksara.

Saya selalu membayangkan adegan opera, waktu nenek dengan kaca-kaca pada matanya mengenang kakek setiap kali mengambil uang pensiun. Kakek meninggal diawali dengan firasat yang indah dan penuh cinta. Firasat yang jarang kita temukan sekarang.

Dan yang terakhir bibi saya di sebelah rumah nenek. Dia saya ingat sebagai seorang yang jarang bicara. Tersenyum seperlunya saja. Suka memberi saya sangu kalau pulang kampung. Dan pekerja keras. Waktu bibi sedang menggoreng pisang dagangannya untuk biaya kuliah anaknya, dan asik ngobrol di depan rumah, tiba-tiba saja dia tergeletak dan wafat. Sebegitu sederhananya. Kata ibu saya waktu melayat, betapa teduh wajahnya.

Kepada orang-orang seperti ini. Saya sering merasa kerdil. Saya tidak mengingat satupun bahwa saya pernah berbuat baik kepada mereka. Sedang mereka dengan segala ketertingalannya yang jujur, selalu mengirimkan SMS bertanya kabar, mengirimkan doa, menjadikan saya sebagai contoh kebaikan untuk anaknya, dan banyak lagi.

Andaikan saja, saya diberikan ketrampilan untuk melisankan apa-apa yang saya fikirkan, saya akan menyempatkan diri, kembali ke sana, dan menggenapkan bakti yang belum tuntas.

Mungkin dengan mengajak mereka untuk menyerap ilmu-ilmu lebih banyak. Wacana-wacana lebih luas. Bukan perkara mereka tertinggal dan tidak bahagia. Bukan perkara ada orang lain yang ada pada puncak harta lalu harus kita gulingkan. Tapi semata urun terimakasih. Karena saya yang telah lancang untuk minim bertegur-tegur. Kepada mereka, dan kepada Tuhan yang telah mengaliri mereka dengan kejujuran yang manis sekali dikenang.

—–

note: gambar diambil dari sini