JELAGA

Aku ingin menulis sajak buatMu, tapi kata-kataku jelaga.
Apalagi yang bisa disusun-susunkan untukMu “Cahaya”? Bila huruf rupanya sudah hitam keling.

Aku setengah lari.
Dari awalan yang buram dan rabun.
Aku susun sebait larik.
Yang meski menyajak kurasa tak,
meski jelaga kusurut tak.

Aku ingin menulis sajak buatMu, meski layak kukira tak.

Aku jelaga Engkau Cahaya.
Dan aku masih berjalan memohon-mohon: tunjukkan ufuk.

Aamiin.

—-

*) puisi lama nih, posting ulang