(BUKAN) WAKTU YANG MENJAWAB SEGALANYA

Ada sebuah ungkapan yang sangat masyhur, “Biar waktu yang menjawab segalanya”. Keren banget kan ya? Hehehe…. Tapi sebenarnya benarkah waktu menjawab segalanya?

Saya mensyukuri kebiasaan saya yaitu menulis dan mencatat pelajaran dan perjalanan, dari menulis ini seringkali kalau saya flashback dan melihat masa lalu, apa-apa yang saya gelisahkan di masa lalu, mestilah bertemu jawabannya di masa mendatang. Selalu begitu berulang-ulang. Sehingga saya tersadar bahwa benar juga, seiring waktu pertanyaan dalam hidup terjawab.

Satu contoh misalnya saya dulu sewaktu masih bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, di awal-awal, sempat merasa gamang. Mau kemana arah hidup ini? Pasalnya saya sebenarnya bekerja pada tempat yang tak terlalu nyambung dengan keilmuan perkuliahan saya. Tetapi bukankah dulu pun awalnya saya sempat merasa bingung juga semasa awal kuliah, ini perkuliahan saya akan menghantarkan saya kemana? Pendek kata, ada keinginan saya agar berkecimpung pada pekerjaan yang lebih banyak berkaitan dengan orang-orang ketimbang dengan batu dan bising alat pemboran, lebih banyak presentasi karena saya merasa “klik” saya disana.

Dan hari ini, pagi ini, saya mengetik ini dari ruangan kantor di salah satu sudut jakarta, sembari menunggu jadwal untuk presentasi. Dalam cerita hidup yang lain lagi, yang beda lagi. Apa yang dulu saya pertanyakan, bertahun kemudian bertemu jawabannya.

Para motivator, sering menasehati kita begini, “hati-hati dengan apa yang kau inginkan.” Pasalnya, keinginan itu boleh jadi terkabul di masa depan, jadi kita harus hati-hati menginginkan atau mencita-citakan sesuatu.

Setelah belajar dan menelaah kajian para arifin, saya menemukan cara pandang sebaliknya. Bahwa jawaban, dan pertanyaan itu sebenarnya satu paket. Karena Tuhan ingin memberi sesuatu, maka Tuhan kemudian mengilhamkan kepada hati manusia pertanyaan-pertanyaan dan rasa butuh itu.

Jadi…. Pertanyaan, kegelisahan, keinginan, sebenarnya adalah pertanda dari pemberian yang sudah disiapkan untuk terzahir di masanya yang tepat.

Tentu tak selalu begitu formulanya, akan tetapi, kalau kita jernih dan belajar selalu mengingati-Nya, akan ada jenak dimana pelan-pelan kita bisa bedakan mana yang keinginan-keinginan doang, mana yang keinginan yang dalam dan seakan turun begitu saja. tiba-tiba saja muncul dan menetap.

Maka dari itulah, barulah saya mengerti pentingnya do’a. Do’a, itu bukan dalam rangka memberitahu Tuhan. Akan tetapi do’a sebagai sarana menegakkan penghambaan. Seolah-olah kita memberikan hak-nya Tuhan.

Hak DIA-lah untuk dipandang oleh makhluq-Nya sebagai muara segala jawaban atas persoalan. Hak-Nya lah untuk dipandang sebagai hulu dari segala pertanyaan. Karena DIA ingin dipandang sebagai yang berkuasa atas makhluq-Nya, maka kita akan selalu diguyuri rasa butuh dan pertanyaan. Yang nanti semua akan terjawab, indah dan rapih sekali.

Permasalahannya, seringkali kita sendiri lupa dengan apa yang kita tanyakan. Kita lupa sendiri apa yang kita mintakan. Sehingga saat jawaban dari pertanyaan itu muncul, kita tidak bersyukur.

Barangkali, agar kita merasakan benar bahwa pertanyaan dan kegelisahan kita sebenarnya sudah ada jawabannya, bisa dimulai dengan cara menuliskannya. Supaya ada rekam jejak. Dan nanti betapa kita akan bersyukur bahwa jawaban itu sudah diatur untuk muncul pada waktunya sendiri. Dan pada waktu jawaban itu sudah muncul, kita bisa flashback karena kita terbiasa mencatat apa yang kita fikirkan.

Barangkali, kalau dulu kita memahami keinginan sebagai sesuatu yang harus diwaspadai, karena boleh jadi keinginan itu mewujud dalam bentuk pengabulan di masa depan. Sekarang kita mencoba merubah cara pandangnya. Saat ada keinginan, sadarilah bahwa keinginan pada manusia merupakan cara Tuhan mengajarkan bagaimana manusia memandang-Nya.

Keinginan adalah bahan bakar dari rasa butuh. Rasa butuh yang menyebabkan kita menunaikan penghambaan, dan memposisikan Rububiyah-Nya dengan sempurna.

Jadi, DIA-lah yang menghujamkan pertanyaan, dan DIA-lah yang menggoreskan jawabannya. Karena DIA ingin kita memandang-Nya begitu.

2 thoughts on “(BUKAN) WAKTU YANG MENJAWAB SEGALANYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *