BERTEMU PARA PENCARI TUHAN

journeySekarang saya mengerti, perjalanan ini memang ditempuh “sendiri-sendiri”, tetapi hikmah dari perjalanan adalah untuk dibagi-bagi.

Metafora bahwa hidup adalah “perjalanan menuju Tuhan”, ternyata sudah dikatakan pula oleh Hujjatul Islam Imam Al Ghazali. Dalam salah satu bab di Ihya Ulumuddin, yaitu dalam bab Ajaib al Qalb, alias keajaiban hati, marvelous of the heart.

Dan dalam konteksnya sebagai sebuah “perjalanan” kita akan sering bertemu dengan sesama “pejalan” menuju Tuhan. Tentu kita “dewasa” dengan memahami bahwa “perjalanan” ini adalah metafor, mencari Yang Sejatinya Tak Kemana-mana.

Berkait dengan momen bertemu dengan orang-orang yang mencari tuhan, saya ingat dua tahun lalu, dalam sebuah sesi audit di kantor, saya berbincang dengan seorang auditor bule yang mengaku sebagai seorang yang tidak memeluk suatu agama tertentu. Tetapi dia percaya dengan sains.

Kami ngobrol ngalor ngidul, kemudian saya sedikit mengenalkan konsep spiritualitas islam yang saya dengar dari guru-guru yang arif. Kemudian di luar dugaan saya, dia mengatakan bahwa konsep “Tuhan” sebagai sumber segala sesuatu, dari-Nya berasal, kepada-Nya kembali, adalah sangat dekat dengan konsep sains. Darisana dia mengatakan tertarik untuk membaca Qur’an nanti jika dia kembali ke negara asalnya. Karena selama ini dia mengira konsep islam bahwa Allah itu adalah “person”, dia tak mengetahui bahwa Allah itu Laisa Kamislihi Syaiun.

Selang dua tahun kemudian, saya bertemu dengan auditor lainnya. Beberapa kali diaudit membuat saya sadar bahwa memasang “mode perang” pada auditor adalah langkah keliru. Maka saya dan rekan-rekan menganggapnya sebagai kawan dan mengakui bahwa masukan-masukan dari auditor adalah baik untuk tumbuh kembangnya sebuah perusahaan, berkaitan dengan manajemen sistemnya.

Dari sesi audit yang santai itu kemudian ngalor ngidul kembali ke obrolan makna hidup.

Pertamanya dari sebuah HP rekan saya yang berdering, dan melantunkan lagu Linkin Park. Lalu bergulir pada obrolan bahwa salah satu personnel linkin park ada yang bunuh diri. Kemudian beliau menyinggung bahwa banyak para pemikir ulung atau filosof yang juga berakhir dengan bunuh diri. Saya menyahut, saya katakan barangkali yang terjadi pada mereka adalah mereka mencoba menggapai “sesuatu” yang sejatinya tak tergapai nalar dan logika. Maka mereka bunuh diri untuk menggapai “pengalaman” yang lebih tinggi dari pencapaian logika mereka.

Padahal ujung dari perjalanan logika, adalah awal dari pengembaraan “rasa”. logika berhenti sebatas bukti, dan “rasa” menghantar kita masuk ke pintunya. “rasa” itu domain spiritualitas.

Dia katakan secara bercanda, pilihannya hanya ada dua, katanya, kalau tidak mau bunuh diri, maka melewati jalan menjadi seorang yang religius. Artinya memeluk suatu agama.

Saya lupa bertanya agamanya apa. Tetapi dia katakan dia tak memeluk suatu agama secara resmi. Tetapi dia suka membaca tentang spiritualitas.

Lalu saya menyinggung sedikit tentang Tao, sesuatu yang dia sudah familiar, dan saya sedikit kutipkan kemiripan definisi Tao tentang Tuhan, dan bagaimana Islam menjelaskan tentang Tuhan yang “bukan sesuatu, tak mirip apapun, tak bisa dipersepsi, dan dari-Nya segalanya berasal, kepada-Nya segalanya kembali.”

Saya melihat dia begitu berbinar dan tertarik dengan obrolan kami itu. Dari binar matanya, saya melihat seorang “pencari”.

Sore ini, di sebuah lounge menanti penerbangan malam. Saya kembali merenungkan bahwa benarlah kata Imam Ghazali, bahwa hidup ini “perjalanan” menuju Tuhan. Dan sebagai sebuah etape perjalanan, maka kehidupan di dunia ini harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, dengan memberi manfaat dan menebar hikmah untuk sesama, sebanyak-banyaknya yang kita bisa.

Didalam “perjalanan” seringkali kita bertemu dengan sesama manusia, yang juga “berjalan” menuju Tuhan. Mereka adalah teman. Tempat kita berbagi hikmah. Sebagian mereka menemukan hikmah yang belum kita temukan. Sebagian lainnya masih meraba-raba dalam kebingungan.

Kita tidak punya otoritas menghakimi mereka. Hanya saja, saya teringat seorang guru mengutip sebuah hadit Rasulullah SAW kepada seorang sahabat yang hendak berangkat ke pemukiman Yahudi, pesan beliau, kenalkan mereka pada Allah SWT………… lalu setelah kenal, baru ajarkan mereka shalat.

Mengenali Tuhan sebagai sumber dari kehidupan yang ada ini, adalah sesuatu yang lebih utama, dan pertama. Mendahului pengenalan akan syariat dan hukum-hukumnya. Kekeliruan kita adalah kita mengenalkan orang kepada hukum-hukum semata-mata, tanpa mengetahui bahwa kehausan spiritual manusia adalah pencarian untuk mengenali Sang Pemilik Hidup.

Setelah mengenali Sang Pemilik, maka syariat akan berjalan dengan mengalir. Karena sesuatu yang kosong di hati mereka sudah menemukan tambatannya.


*) Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *