BERSYUKUR ATAS ANUGERAH KECIL

Mempelajari tipikal diri sendiri, rupanya adalah suatu hal yang mengasyikkan. Dan salah satu yang saya pelajari dari diri saya sendiri adalah kecenderungan alon-alon waton kelakon. Biar lambat asal selamat.

Ini sih sebenarnya sedikit menghibur diri saja, hehehehe. Tetapi memang secara jujur saya mengakui bahwa saya bukanlah seorang yang “cepat”.

Untuk mengerjakan sesuatu yang besar, orang lain mungkin memerlukan waktu yang singkat, tapi saya bisa dua tiga-kalinya lebih lama.

Memang ternyata saya adalah orang dengan kebiasaan santai dan selow macam di pantai. Akibatnya, saya harus mentolelir kelemahan saya ini dengan memulai segala sesuatu lebih awal, dan menyicilnya sedikit demi sedikit demi sedikit sampai pekerjaan itu usai. Meskipun lama, tetapi cara ini berhasil untuk saya pribadi.

Di dalam berspiritual juga begitu. Dulu, saya pernah begitu ngoyo dalam hidup, dan serasa pengen jadi waliyullah. Akibatnya, saya sering kesal sendiri pada performa Ibadah saya yang hendak saya gas pollllll tetapi tak bisa melaju kencang. Karena tipikal pribadi yang butuh waktu lama untuk panas, akselerasi lambat.

Sampai saya bertemu Kebijakan berikutnya bahwa sejatinya bukan amal kita yang menyampaikan kita padaNya, melainkan dalam tanda kutip kalau DIA tuliskan kita untuk sampai, maka sampailah kita padaNya. Amal ibadah, hanyalah wujud dari pemberianNya itu sendiri.

Kalau betul-betul Allah ingin menyampaikan kita padaNya, menjadi orang-orang dekatNya, Seorang guru mengatakan -sebagai syarah atas keterangan Syaikh Abdul Qadir Jailani-, bahwa diri kita akan dihancur leburkan seperti tempayan yang tak mengandungi air sedikit juapun. Hancur lebur sampai “hilang” diri dan kehendakmu. Baru kemudian digantikan dengan pribadi baru.

Dihancurkan sampai hilang diri, ini bukan perkara kecil. Ini luar biasa bebannya.

Maka mensyukuri maqom saat ini, adalah lebih utama. Ketimbang meminta Allah menaikkan maqom kita, lewat jalan yang menghancurkan dan menghilangkan diri kita yang memiliki kehendak itu.

Akhirnya menapaki tangga spiritualitas dengan sikap tahu diri, dan peribadatan yang sebisa mungkin dijaga, meski sedikit tapi kontinu, dalam mentalitas yang sepenuh hati yakin bahwa anugerahNya-lah yang memampukan amalan untuk mewujud. Baik besar maupun kecilnya; adalah lebih indah.

Yang penting, hal-hal kecil apa dalam hidup kita yang bisa kita jaga untuk kontinu mengalir setiap harinya; kita dawamkan. Dan kita syukuri. Karena amal-amal kecil itu adalah anugerah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *