DI PELATARAN PERMAAFAN

Ada memang, sebagian orang yang begitu semangat mengoreksi tradisi meminta maaf lahir batin saat idul fitri. Dalam pandangan mereka, hal itu tiada dicontohkan.

Seloroh lucu-lucuannya ialah “kenal saja barusan, lalu kenapa minta maaf?”

Pandangan rekan-rekan yang berpendapat seperti itu ialah bahwa yang lebih ada tuntunannya ialah mendoakan agar ibadah kita diterima, aliha-alih meminta permaafan.

Saya sih menilai bahwa ada dimensi budaya dalam tradisi minta maaf di idul fitri. Selama “ritual” minta maaf, mudik, dan sebagainya itu lahir dari hati yang tulus dan tidak menganggap semua itu sebagai sebuah kemestian syariat; saya pribadi percaya banyak kebaikan di dalamnya.

Memang, sebagian pembaca blog ini belum pernah bertemu langsung dengan saya. Dan saya, begitu sedikit mengetahui siapa saja orang-orang yang sudah berbaik hati meluangkan secebis waktunya membaca celoteh-celoteh disini. Jadi saya rasa, sayalah yang paling dituntut untuk berterimakasih dan memintakan kerelaan permaafan rekan-rekan semua.

Untuk segala khilaf dan tak sopannya tulisan-tulisan selama ini, atau juga untuk tak sesuainya apa yang saya tulis dengan keseharian saya pribadi.

Saya mohon maaf.

Saya tidak ingat, saat saya menuliskan ini apatah malam ganjil atau malam genap ramadhan. Sekedar saya tidak bisa untuk tidak menyatakan harapan dan pelajaran yang saya terima, betapapun buruk dan suramnya masa lalu kita, jangan pernah sungkan untuk meminta permaafan pada Tuhan, pada Rabb jagadita semesta ini. Karena jikalah kita datang dengan dosa sepenuh lautan, Dia selalu menanti dipintu dengan ampunan sepenuh langit dan bumi.

Semoga kita kelak bersama-sama, bersimpuh di pelataran permaafanNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *