BERKAHNYA ORANG YANG HIDUP HEPI

Saya ada seorang teman, yang kerjaannya selalu saja posting lucu-lucuan di facebook. Kadangkali, yang dia tulis itu hiperbola, agak-agak meninggi sedikit, lalu guyon. Kadang juga ndak penting-penting amat yang ditulis, tetapi memancing keriuhan aja. Keriuhan yang lucu dan dikomen pula sama teman-teman yang sudah sama-sama maklum bahwa rekan saya itu ya becandaan aja hobinya.

Kadangkali, ya namanya manusia, muncul juga di hati saya kepikiran “wah….ini orang caper melulu kerjaannya.” Hehehehe…. Sampai tiba-tiba saya tersadar. Eh….jangan-jangan, ini rekan saya yang lucu-lucuan ini, dia malah “diberkahi” karena hidup dengan gembira. Bisa jadi lho, karena gembira terus berkah.

Kenapa? Karena saya akhirnya menyadari bahwa tanpa ada orang seperti dia, kok kayanya ada yang kurang.

Begini contoh lainnya. Jadi saya ada kenalan yang dulunya manager saya, tapi sekarang sudah pensiun. Orangnya, tipikalnya ya hampir mirip dengan teman yang pertama saya ceritakan tadi. Periang, lucu dalam artian easy going dan selalu membawa ceria. Hobi cerita. Kalau ketemu ya asyik-asyik, nyanyi. Jalan-jalan sana sini, agak-agak pamer tapi ya pamernya lucu dan bikin geli. Pokoknya orang-orang tahu kalau beliau itu agak nyeleneh, tapi ga ada beliau ya ga rame. Dan pas beliau pensiun dari kantor, satu kantor diliburkan beberapa jam demi acara makan-makan yang khusus diadakan pimpinan kantor untuk beliau. Satu kantor lho, bukan Cuma satu divisi. Dan orang yang merasa kehilangan karena beliau pensiun, itu buanyaaaaknya ga karuan.

Saya tertegun waktu itu, eh…. Ini orang “biasa”, yang ndak spiritual-spiritual amat, tetapi meninggalkan kenangan yang baik di hati banyak orang, dan kalau tidak ada dia khalayak ramai merasa kehilangan. Bukankah itu sesuatu yang baik? Bukankah meninggalkan kenangan yang baik dan gembira itu berkah juga?

Jangan-jangan, orang model beliau ini, dan model rekan saya tadi. Yang simpel, hidup ceria, bodo-bodoan tapi happy, meski ndak filosofis-filosofi amat hehehe…. memberi kenangan pada orang-orang, itu malah lebih “berkah” ketimbang yang sibuk spiritual tetapi memandang hidup dalam kacamata yang murung terus. Nah…..

Sampai suatu hari, saya tertumbuk dengan ceramah Gus Baha di beranda facebook saya, yang ceramah beliau tiba-tiba membuat saya jadi paham apa maksud petuah lainnya dari Ust. Hussien Al Arif yang sudah disampaikan jauh-jauh hari dulu, tapi sayanya yang belum nangkep. Hehehe.

Dalam ceramah itu, Gus Baha memberikan perumpamaan shohibul bait, tuan rumah, yang mengundang tetamu untuk makan di rumahnya. Kira-kira, yang mana yang tuan rumah lebih senangi? Orang-orang yang kaku dan takut-takut kalau makan, diem di pojokan, makan dikit dan ndak habis. Atau….. orang-orang yang hepi, yang makan dengan lahap, yang keliatan betul kalau mereka senang dijamu, yang gembira. Tentu tuan rumah senang dengan orang yang gembira.

Begitulah perumpamaan yang menjelaskan Qur’an Surat Yunus: 58.[1] Dan beberapa ayat semakna, yang intinya adalah Allah suka dengan hamba yang hepi. Menikmati pagelaran hidup dan rejeki.

Al Arif Ust. Hussien, menjelaskan dari sisi sufistik, orang-orang seperti ini diistilahkan orang yang “simpleton”. Dalam satu penjelasan beliau, dikatakan bahwa hidup berlandaskan syariah, “simpleton” atau bodo-bodoan, hepi, itu sudah cukup –meski tidak masuk lebih dalam ke dunia spiritual-, karena syurga itu malah banyak isinya orang-orang yang simpleton seperti ini.

Saya baru paham sekarang lho. Bahwa hidup dengan simple, bahagia, lucu-lucuan, tidak melanggar syariat, itu malah lebih dekat kepada rahmat ketimbang orang yang hidup serius dan melulu memandang dunia dalam kacamata yang murung.

Kenapa? Karena, melulu memandang kehidupan dalam kacamata yang murung, ujung-ujungnya adalah putus asa dengan rahmat Tuhan, dan keliru menyifati Tuhan. Seolah-olah Allah SWT tidak memiliki sifat Rahman Rahiim.

Hidup bahagia dengan keadaannya, jalankan syariat, ini sudah cukup. Ini adalah keadaan yang “luhur” kata beliau.

Akan tetapi….ada kalanya seseorang terkeluar dari keadaan yang luhur, yang simpleton seperti ini. Yaitu saat seseorang merasa sesuatu kekurangan dalam hidupnya berkaitan dengan makna hidup atau arti hidup. Perasaan yang hampa itu, biasanya menarik seseorang untuk keluar dari keadaannya, mencari lebih dalam, dan meninggalkan “keluhuran” kehidupannya yang simple dan hepi tadi.

Atau…. Jika seseorang itu dihantam badai ujian. Biasanya juga mereka akan terkeluar dari keadaannya yang semula.

Tetapi yang indah adalah, jika seseorang dihantam badai ujian, atau merasakan sesuatu yang hampa dan memaksa mereka meninggalkan kondisi awalnya yang biasa, santai, hepi, lucu-lucuan….maka gonjang-ganjing ujian itu tidak akan lama. Karena tujuannya bukan buat menyiksa, melainkan merubah paradigma orang tersebut untuk naik lebih tinggi.

Kalau versi hidup simple-nya orang di peringkat pertama adalah hidup biasa, syariat ya ok dijalankan, hepi hepi gembira, lucu-lucuan, senang dengan keadaan dirinya.

Maka versi hidup simple-nya orang di peringkat kedua –setelah orang tersebut ditarik lewat tribulasi, ujian hidup yang membanting- adalah peringkatnya orang yang “simple” yang senang “duduk di pintu belakang” alias relax one corner. Santai di pojokan dan hepi-hepi melihat hidup ini sebagai drama. Sudah lebih spiritual.

Jadi dimanapun kita berada, pada posisi manapun kita. Perlu untuk simpel dan hepi, baik karena menikmati keadaan, ataupun karena sudah “melihat drama” dalam hidup.


[1] “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Terjemah QS Yunus: 58)

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *