BERKAHNYA ORANG YANG HIDUP HEPI (2)

Ada nuansa menggerutu, dalam cerita Mbak asisten rumah tangga pada kami. Beliau kerja bolak-balik ke rumah saya, dan satu sore bercerita pada saya dan istri tentang ekonomi keluarganya.

Yang menarik perhatian saya adalah dalam ceritanya itu nuansa yang saya “tangkep” adalah nuansa menggerutu akan hidupnya dan lalu menyalahkan banyak hal, utamanya suaminya.

Saya menunggu-nunggu apakah akan ada semacam nuansa “merayu” Tuhan, dalam ceritanya itu. Sayangnya belum ada.

Lalu saya tergelitik dan mengatakan pada beliau, “mau ga saya kasih tips Mbak?”

Beliau menjawab, “mau Pak”.

Lalu saya bilang pada beliau, “nanti mbak,” kami memanggilnya Mbak meski usia beliau jauh lebih tua. “pas sudah sampai di rumah, duduk santai di teras, nge-teh, nikmati sambil istirahat, dan pas hati sudah hepi baru mbak berdoa! Doa apa saja asalkan hatinya hepi!”

“Oh gitu ya pak?” jawab beliau

“Iya Mbak. Harus hepi.” saya jawab begitu.

“Ooooh gitu….” kata beliau.

Sebenarnya itu tips spontan saja dari saya. Karena saya teringat tips dari Bapak-bapak yang saya temui berapa tahun lalu di sekolah anak saya. Yang mana beliau mengajarkan untuk hidup dalam rasa syukur.

Sebenarnya, setiap orang mengakrabi Tuhan dengan cerita yang beda-beda. Misalnya kesulitan hidup dimaknai sebagai ujian, dan dijadikan bahan “obrolan” buat merayu Tuhan lewat doa. Maka dengan kesulitan jadi dekat pada Tuhan.

Tetapi belakangan saya lebih menyukai pintu kesyukuran. Yaitu menikmati anugerah Tuhan, dan dalam kesyukuran itu saya berdoa dan berterimakasih. Kehidupan jadi berwarna lebih cerah.

Makanya saya bilang pada Mbak asisten di rumah, cari saja jenak yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan rasa syukur, nikmati kebahagiaan itu, lalu pakai suasana bahagia dan syukur itu untuk berdoa pada Allah SWT. Agar Rahmaan dan Rahiim-Nya terasa.

Bisa saja, jenak kesyukuran itu didapat dari ngeteh sore-sore di teras. Atau mungkin bisa hal sesederhana nyanyi-nyanyi malem-malem sambil melepas penat. Yang jelas jenak yang menerbitkan kesyukuran. Karena semakin syukur, semakin lapang.

Pada pokoknya bisa melewati jalan kesyukuran, bisa melewati jalankesabaran nuansa merasa kerdil dan harap akan pertolongan. Bisa pilih antara dua itu.

Tetapi saya melihat beliau, dan bercermin dengan saya dahulu, mungkin juga masih banyak teman-teman yang punya jalan pandang serupa sekarang, kalau menggunakan jalan kesabaran, harus hati-hati agar hidup tidak terpandang selalu dalam nuansa yang buram. Dan kadang-kadang malah salah setting, larinya ke nggerundel dan komplen.

Maka itu saya ngajak beliau untuk nyari-nyari jenak yang memancing nuansa gembira dan syukur.

Karena selama ini saya kok ya merasa sudah keseringan memandang hidup dengan kacamata yang haru, lalu tiba-tiba tersadar nanti jangan jangan seolah Tuhan tidak tercitrakan welas asih. Jadi saya sekarang senang mencari-cari rasa syukur itu. Nah tema itu tiba tiba keceplos sama beliau.

Karena harta itu harus dinikmati dan dijadikan kendaraan syukur. Allah itu baik.

Seperti dulu waktu awal-awal kerja, saya memakai uang agak eman-eman. Bukannya hemat sih, hemat iya tapi ada semacam rasa memusuhi terhadap harta. Seolah-olah kalau memiliki harta itu adalah suatu kesalahan.

Padahal harta itu memang untuk melayani kebutuhan manusia. Jadi ya pakai saja selama itu berdaya guna dan manfaat. Yang lebih penting adalah saat memakai atau memanfaatkan harta kita “menangkap” rasa syukurnya itu. Dan dalam kesyukuran yang hepi itu, kita berdoa.

-debuterbang-

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *