BERJALAN KE PINTU BELAKANG

Baru saja pulang dari mengantar anak ke tempat favoritnya. Kolam renang. Setelah melewati semingguan hari kerja yang padat dan riuh. Mumpung ada sejenak waktu lowong.

Betapa hari-hari kerja yang padat seringkali membuat kita menjadi keluar ke “pintu depan”.

Ada sebuah perumpamaan mengenai pintu depan dan pintu belakang. -Dua istilah yang saya temukan dalam kajian Al Arif Ust. Hussien Abdul Latiff.-

Umpamanya hari hujan deras. Dan ada tiga orang terperangkap dalam shelter bus. Berteduh menanti hujan reda.

Orang pertama duduk bersandar dan seolah melamun. Melihat tetesan hujan yang sambung menyambung terjun dari atap. Dalam fikiran orang pertama itu, dia mengira-ngira berapa banyak debit air yang turun dalam setiap jam-nya? Jika hujan tak henti-henti, maka bisa-bisa kotanya akan tenggelam.

Orang kedua, duduk bersandar dan terlihat seolah merenung. Dia melihat tetesan hujan yang deras, dan mendengar petir bergemuruh. Teringat olehnya betapa kuasanya Tuhan yang mampu menurunkan hujan dan petir. Karena membayangkan sifat keuasaan Tuhan, maka bergetarlah orang tersebut dan menggigil ketakutan.

Orang ketiga, matanya terpejam. Dia melihat hujan dan mendengar rentak petir bertalu. Tetapi dalam pandangannya semua yang nampak mata itu sebenarnya tak punya wujud sejati. Dibalik semua yang nampak mata hakikatnya adalah dzat-Nya semata-mata. Maka dia sibuk mengingati sang pemilik dzat dan sifat-sifat yang tampak itu.

Orang pertama. Yang menghitung debit air. Adalah kebanyakan manusia pada umumnya. Mereka melihat benda semata.

Orang kedua. Adalah apa yang dibahasakan Qur’an sebagai Ulul Albab. Orang yang bertafakur dan melihat segala yang tampak mata sebagai cerita sifat-sifat Tuhan.

Tetapi orang ketiga. Adalah muqarrabin. Orang-orang yang didekatkan. Mereka tidak lagi sibuk menganalisa hal-hal empiris. Dan mereka tidak lagi sibuk mengingati “sifat-sifat”. Melainkan mereka tenang didalam ingatan padaNya. Sang Pemilik dari segala yang ada.

Orang ketigalah yang dimaksud dengan orang yang selalu masuk pintu belakang. Pandangan yang berbeda dari apa yang dilihat kebanyakan orang lewat pintu depan.

Memang seringnya sih, kesibukan kerja dan kesulitan hidup membuat kita mau tak mau menggunakan pendekatan pintu depan. Akan tetapi, menurut Sang Guru, alah bisa tegal biasa. Lancar kaji karena diulang.

Yang harus sering diulang rupanya adalah masuk dalam approach orang ketiga itu. Duduk di pintu belakang. Dan melihat sandiwaraNya. Orang-orang yang tenang. Yang masuk dalam jamaahNya.

Perjalanan yang panjang. Tetapi kita menjadi rileks juga karena mengetahui bahwa pada akhirnya DIA-lah yang menyampaikan kita. Bukan karena kita sendiri. Jadi harapan selalu ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *