BERIBADAH DAN MEMINTA TOLONG

Seorang teman di dalam team di kantor saya baru saja resigned. Otomatis resigned-nya teman tersebut mempengaruhi ritme kerja team, dan saya terkena imbasnya juga.

Beban kerja akan bertambah, dan penyesuaian lagi dibutuhkan untuk mencocokkan ritme dengan orang baru yang akan mengisi posisi rekan saya tersebut.

Pada momen-momen “butuh” seperti ini, terasa bahwa mengingati Tuhan menjadi lebih personal dan dekat. Karena ada “butuh”nya.

Saya jadi teringat ungkapan “pas butuh aja baru mau ingat Tuhan” hehehehe. Kadang membuat orang jadi takut berdoa.

Tetapi ada satu momen menarik yang mengingatkan saya dengan fakta penting bahwa sebenarnya inti peribadatan itu adalah “meminta pertolongan”, menghamba, ngawulo. Yaitu momen pas sholat Jumat minggu lalu.

Diantara jamaah yang membludak dan jarak shaf yang renggang karena protokol covid, sayup-sayup saya yang duduk di bagian belakang jamaah mendengar ustadz ceramah mengenai Al Fatihah. (Ndilalah pas dengar, biasanya ketiduran. Hehehehe)

Masuklah pada bagian arti dari ayat Iyya kana’budu wa iyya kanasta’in yang artinya kurang lebih “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”.

Dulu saya sering mendengar ceramah yang mengatakan maksud ayat itu adalah sebelum minta tolong, beribadah dulu yang bener. Dahulukan kewajiban. Jangan minta mulu, ibadah dulu baru minta. Begitu.

Tapi sang ustadz di jumatan kali itu menyampaikan pemaknaan yang bagi saya pribadi terasa lebih pas. Yaitu pemaknaan bahwa sesungguhnya inti peribadatan malah terletak pada “rasa butuh” atau “minta tolong” nya itu.

Jadi dalam banyak sekali jenak kehidupan kita sering disiisipkan rasa butuh akan pertolongan, lewat kejadian-kejadian hidup kita. Sebenarnya lewat momen itu kita sedang dititipi modal penting yang menjadi inti peribadatan. Justru saat butuh itulah kita mendapatkan momen personal meminta kepada Tuhan.

Memang ada segolongan orang yang sampai pada peringkat tinggi, orang-orang yang didekatkan (muqarrabin) dimana mereka sibuk mengingatiNYA sampai lupa meminta.

Tetapi jamaknya orang awam seperti saya, kita ada pada tahapan dimana harus dibantu dengan rasa butuh lewat permintaan – permintaan baru bisa merasakan dekatnya penghambaan dalam peribadatan.

Jadi tidak ragu meminta, meskipun peribadatan belum sempurna. Karena sesungguhnya Iyya kana’budu wa iyya kanasta’in

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

1 Response

  1. Artikel yang bagus, terimakasih sharingnya, silahkan kunjungi

    website kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *